
Gagak Seta tertidur cukup lama, setelah tiga hari menghabiskan waktu di dalam ruangan yang sempit dan pengap, merasakan udara yang segar rasanya seluruh organ-organ tubuhnya seperti diguyur air yang segar.
Ketika dia terbangun, hari sudah malam, sebagian besar rekan-rekan sesama prajurit sudah tertidur pulas.
Gagak Seta perlahan-lahan meninggalkan baraknya. Seorang prajurit terbangun, tapi kembali tidur tanpa banyak bertanya.
Di luar barak, terlihat prajurit-prajurit berjaga di berbagai titik, dalam kelompok-kelompok kecil. Namun sebagian besar dari mereka, hanya duduk-duduk di sekitar api unggun sambil makan dan minum, bercanda menunggu waktu berlalu.
Gagak Seta berdiri diam di luar baraknya untuk beberapa saat, mengamati keadaan dan memilih-milih, lewat mana dia akan keluar tanpa terlihat, sambil menunggu waktu yang tepat.
Dengan mudah Gagak Seta pergi keluar dari tempat itu tanpa terlihat oleh mereka yang bertugas berjaga. Tanpa membuang waktu dia berlari kecil menuju hutan yang sudah diberitakan Partajaya padanya. Gagak Seta memasang mata dan telinganya baik-baik. Sesekali dia akan berkelebat melompat dan bersembunyi di balik pohon, atau semak-semak, untuk beberapa lama. Mengamati keadaan di sekitarnya, sebelum melanjutkan perjalanannya ke hutan itu.
Semakin dekat dengan hutan itu, semakin dia berhati-hati.
Beberapa ratus meter jauhnya dari hutan itu, ketika Gagak Seta berdiri di bawah bayang-bayang sebuah pohon yang cukup besar dan dengan hati-hati mengamati keadaan, tiba-tiba terdengar, “Psssttt....”
“Dug..!”, jantung Gagak Seta berdebar keras, cepat dia menggeser kedudukannya sambil melihat ke atas.
“Pssttt... ini aku...”, terdengar bisikan dari salah satu dahan yang lebat.
Gagak Seta menajamkan matanya dan melihat seseorang nangkring di atas dahan itu, tersembunyi oleh lebatnya daun.
“Sabrang?”, tanya Gagak Seta sambil berbisik pula.
“Ya, cepat naik ke sini.”, jawab sosok yang bersembunyi di atas pohon itu.
Gagak Seta menghela nafas lega, lalu tanpa ragu dan dengan cekatan memanjat pohon itu. Hanya butuh beberapa saat saja bagi Gagak Seta untuk sampai di atas, dia memilih dahan lain di dekat tempat Sabrang bersembunyi, dahan yang juga sama tersembunyinya.
“Sudah berapa lama kau di sini?”, tanya Gagak Seta berbisik.
“Barusan saja.”, jawab Sabrang.
“Sudah ada berapa orang yang lewat?”, tanya Gagak Seta.
“Yang aku lihat baru tiga orang dengan dirimu, tapi bisa saja sudah ada yang lebih awal lagi dibanding aku.”, jawab Sabrang.
“Jadi menunggu apa kita sekarang?”, tanya Gagak Seta.
Sabrang tertawa tertahan dan menjawab, “Hehe, aku di sini menunggu dirimu, Kakang Partajaya bilang, dia lupa memberitahumu kode pertemuan malam ini.”
“Ah... begitu, pantas saja...”, gumam Gagak Seta.
“Hehe, kau bingung mau ke mana dan mau apa malam ini?”, tanya Sabrang.
Gagak Seta tertawa kecil, “Ya, aku cuma tahu harus pergi ke hutan ini, tapi tak tahu lalu mau apa.”
“Tiap beberapa saat akan terdengar bunyi burung hantu, jika kau mendengarnya dalam urutan bunyi dua kali, berhenti dua hitungan, lalu bunyi lagi dua kali, sebanyak tiga kali. Ke tempat sumber bunyi itu kita berkumpul.”, Sabrang menjelaskan dengan berbisik.
“Ah... baik, kau sudah mendengar kode itu?”, tanya Gagak Seta mengangguk-angguk paham.
“Sudah, kalau kau siap, kita pergi ke sana sekarang.”, jawab Sabrang.
“Baik, kita berangkat sekarang.”, jawab Gagak Seta sambil melompat ringan ke bawah.
Sabrang tertegun untuk sepersekian tarikan nafas, sebelum ikut melompat turun dengan suara yang lebih keras saat kakinya menyentuh tanah.
“Gagak Seta... kau... apa kau berhasil mempelajari Aji Braja Apsara?”, Sabrang bertanya hati-hati.
“Hehe... hanya kulit luarnya saja.”, jawab Gagak Seta sambil tertawa kecil.
“Kampret...! Kadal, kambing! Demit... Setan Alas! Curut!”, Sabrang memaki-maki tertahan sambil tak hentinya memandangi Gagak Seta tak percaya.
“He, tutup mulut busukmu itu, ayo cepat jalan.”, ujar Gagak Seta sambil mendorong Sabrang.
Sabrang pun bergerak menuju ke arah bunyi burung hantu itu terdengar, tapi tiap beberapa langkah, mulutnya mengeluarkan kata makian. Setelah beberapa lama mereka berlari kecil, terdengarlah suara burung hantu berkukuk dua kali, berhenti dua tarikan nafas dan berulang lagi, demikian suara itu terdengar tiga kali.
Arah mereka sudah benar dan dari kerasnya suara itu, rasa-rasanya mereka sudah cukup dekat. Tiba-tiba Sabrang menoleh ke arah Gagak Seta dan bertanya, “Benar, kau sudah berhasil mempelajari Aji Bajra Apsara?”
“Hee... sudah kubilang juga.”, jawab Gagak Seta.
“Hmm... tiga hari di dalam kurungan itu kau berpuasa.”, kata Sabrang,
“Benar.”, jawab Gagak Seta.
Terdengar Sabrang memaki sekali lagi, lalu berkata, “Kau orang pertama yang berhasil, kau tahu itu?”
Gagak Seta mengangkat bahu, “Entahlah, mungkin saja ada sedulur lain yang juga sudah berhasil.”
Sabrang menggelengkan kepala dengan yakin, “Tidak, aku yakin tidak, kita semua sudah sempat mencoba, bahkan Kakang Kartapati sudah mencoba tiga kali dan tidak berhasil.”
“Kebetulan saja, mungkin situasi di penjara itu juga membantu.”, jawab Gagak Seta.
“Ceritakan bagaimana kau bisa berhasil.”, desis Sabrang.
“Psst... lihat kita sudah sampai.”, jawab Gagak Seta tertahan, beberapa puluh langkah di depan mereka, terlindung oleh lebatnya hutan, terlihat satu tempat yang diterangi beberapa obor.
“Ah sial. Baiklah, tapi nanti kau harus cerita.”, ujar Sabrang tak sabar.
“Tentu, tentu, tidak ada rahasia antara saudara sendiri.”, jawab Gagak Seta sambil tertawa geli.
Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di tempat tujuan. Di tanah yang bisa dikatakan cukup lapang, untuk sebuah tempat yang ada di tengah hutan, sudah berkumpul sekitar tiga puluh sampai empat puluh orang laki-laki, membentuk setengah lingkaran kecil.
Di depan barisan itu berdiri dua orang yang sudah mereka semua kenal.
“Bagus, semuanya sudah berkumpul.”, ujar Senapati Manggala.
Tanpa suara mereka yang berkumpul di tempat itu serempak memberi hormat pada Senapati Manggala dan Ki Ageng Aras.
Mereka semua berdiri dengan tegak dalam postur tubuh siap siaga, berbaris cukup rapi dan diam tidak mengeluarkan suara.
Senapati Manggala dengan suara yang cukup jelas, tanpa berteriak, menjelaskan, “Sebagian dari kalian mungkin sudah bisa merasakan kondisi pasukan Kadipaten Jambangan saat ini. Tidak ada disiplin, tidak terorganisasi dengan baik. Kami para pimpinan berpendapat, situasi saat ini adalah kesempatan yang baik bagi kalian, untuk mencari kesempatan untuk mendapatkan kedudukan yang baik dalam pasukan Kadipaten Jambangan.”
Senapati Manggala diam sejenak, sambil mengamati pemuda-pemuda yang berbaris rapi di sekitarnya.
“Jadi sekarang ini adalah tugas kalian untuk berusaha memberikan kesan yang baik, pada pimpinan pasukan kalian, dan juga melebarkan pengaruh kalian di antara prajurit-prajurit yang baru saja diterima menjadi pasukan Kadipaten Jambangan. Sebisa mungkin, sebelum pertempuran antara kita dan mereka terjadi, kalian sudah berhasil mendapatkan kedudukan dalam kesatuan yang baru dibentuk oleh Kadipaten Jambangan.”, Senapati Manggala melanjutkan penjelasannya.
Para prajurit telik sandi yang sebagian besar masih muda itu, mendengarkan dengan penuh disiplin. Meskipun terasa ketegangan, terasa mereka tak setenang sebelumnya, namun semuanya tetap mendengarkan dengan tenang dan tak mengeluarkan suara sedikitpun.
Senapati Manggala mengamati mereka dan mengangguk puas, lalu melanjutkan penjelasannya, “Untuk membantu kalian dalam menjalankan tugas kalian saat ini, Raden Rangga Wijaya telah mengeluarkan keputusan, mulai malam ini, sampai saat yang tidak ditentukan, selama situasi memungkinkan. Kalian akan berkumpul di tempat ini, untuk mendapatkan pelatihan khusus dari Ki Ageng Aras.”
Terdengar desahan nafas tertahan dari mereka yang berkumpul di tempat itu. Tidak ada yang berbicara, semua tetap menunggu dalam diam, namun bisa terasa semangat mereka terbakar dan bangkit mendengar berita itu. Mereka semua sudah mengenal siapa itu Ki Ageng Aras, seorang pendekar tua yang ilmunya tak kalah tinggi dari Tumenggung Widyaguna.
“Ki Ageng Aras, aku persilahkan.”, ucap Senapati Manggala sambil tersenyum kecil, melihat semangat prajurit-prajurit di bawah pimpinannya itu terbakar oleh berita yang dia bawa.
Senapati Manggala melangkah mundur selangkah dan mempersilahkan Ki Ageng Aras untuk maju ke depan.
Ki Ageng Aras maju selangkah dan setelah mengitarkan pandangan matanya ke pemuda-pemuda yang berbaris rapi di depannya, dia bertanya, “Di antara kalian, siapa yang sudah berhasil mempelajari setidaknya tahap pertama dari gulungan lontar yang berisi Aji Braja Apsara?”
Seketika itu juga terdengar suara gemerisik suara baju dan gerakan badan, karena mereka semua yang berbaris itu saling pandang, melihat ke kiri dan ke kanan, ingin tahu siapa dari mereka yang sudah berhasil. Untuk beberapa saat tidak ada yang mejawab, sampai akhirnya seseorang mengangkat tangan.
“Aku... rasanya sudah sedikit berhasil ki.”, terdengar suara Gagak Seta memecahkan kesunyian.
Serentak semua mata memandang ke arah Gagak Seta. Gagak Seta menurunkan tangan sambil setengah cengar-cengir melihat ke kanan dan ke kiri. Dari wajah teman-temannya Gagak Seta bisa menangkap rasa penasaran ingin bertanya memastikan, tapi di saat yang sama harus menahan diri karena mereka masih berada dalam barisan.
Senapati Manggala dan Ki Ageng Aras berpandangan sekilas, dalam hati Senapati Manggala merasa terkejut, ternyata ada di antara mereka yang berhasil menguasai Ajian Braja Apsara, meski menurut pengakuannya, hanya selapis saja.
Ki Ageng Aras sebaliknya merasa tergerak hatinya, usianya sudah lanjut dan selama dua puluh tahun dia dipaksa hidup dalam kesendirian karena tugas. Sebagai seorang pendekar, dalam hatinya ada rasa tak rela jika harus mati sebelum bisa mewariskan ilmu-ilmu yang dia pelajari pada seseorang.
Melihat Tumenggung Widyaguna yang seumuran dengan dirinya, namun sudah memiliki beberapa orang murid resmi, salah satunya Senapati Watu Gunung, Ki Ageng Aras pun menyimpan keinginan yang sama.
Sayangnya dia belum menemukan orang yang tepat. Saat dia mendapatkan tugas dari Rangga, diam-diam Ki Ageng Aras menyimpan harapan.
“Maju.”, ujar Ki Ageng Aras singkat.
Gagak Seta pun maju dengan hati sedikit berdebar. Ki Ageng Aras berjalan hingga berdiri berhadapan dengan jarak dua langkah jauhnya dari Gagak Seta.
“Kau merasa sudah menguasai sebagian dari Aji Braja Apsara?”, tanya Ki Ageng Aras menegaskan.
Dengan hormat Gagak Seta menjawab, “Benar Ki, tapi hanya selapis tipis saja.”
“Sudah berapa lama kau berhasil mempelajarinya?”, Tanya Ki Ageng Aras.
“Baru saja ki, baru hari ini aku menuntaskan syarat berpuasa tiga hari lamanya, dan kira-kira kemarin, di hari kedua, aku merasa menguasai tahap pertama dari Aji Braja Apsara.”, jawab Gagak Seta dengan lancar.
“Hmm.... seberapa banyak yang kau ingat dari isi gulungan lontar itu?”, tanya Ki Ageng Aras lebih lanjut.
“Seluruhnya sudah saya hafal ki. Isi tiga gulungan lontar itu sudah saya hafalkan di luar kepala.”, jawab Gagak Seta tanpa keraguan.
Bagus... bagus... nah sekarang bersiaplah. Aku akan menguji seberapa jauh kau menguasai Aji Braja Apsara.”, ujar Ki Ageng Aras setelah menganguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Gagak Seta.
Tanpa banyak cakap, Gagak Seta segera mengambil kuda-kuda dan mengumpulkan semangat dan berkonsentrasi penuh. Orang tua di hadapannya ini adalah seorang pendekar besar, tidak ada sedikitpun keraguan dalam hati Gagak Seta mengenai hal itu. Berhadapan dengan Ki Ageng Aras, Gagak Seta tak berani meremehkan orang tua itu sedikit pun.
Ki Ageng Aras tersenyum melihat kesigapan Gagak Seta, dalam hati dia memuji. Diamatinya sikap Gagak Seta, tidak ada rasa takut atau gentar yang terlihat.
Kuda-kudanya terlihat mantap, tanpa kehilangan keluwesan untuk bergerak. Sorot mata Gagak Seta tajam mengamati setiap gerak-gerik Ki Ageng Aras.
“Awas serangan.”, seru Ki Ageng Aras sebelum kesepuluh jari tangannya mengembang dan menyerang.
Gagak Seta mengenali jurus serangan itu, jurus kedua dari Silat Sembilan Cakar Garuda. Serangan Ki Ageng Aras datang dengan cepat, tapi Gagak Seta tak kalah sigap. Dengan gesit dia menghindar sambil menangkis serangan.
Belum sempat Gagak Seta melakukan hal lain, serangan yang berikutnya sudah menyusul kembali. Lagi-lagi serangan yang sama, jurus kedua dari Silat Sembilan Cakar Garuda, namun dari sudut yang berbeda dan menggunakan tangan yang berbeda.
Gagak Seta sekali lagi bergerak menghindar, namun ketika kakinya bergeser, Ki Ageng Aras dengan gesit merendahkan badan dan satu kakinya bergerak menyapu kuda-kuda Gagak Seta.
Gagak Seta pun melompat menghindar, dia mengenali sapuan kaki itu, sapuan kaki itu adalah sebagian gerakan dari jurus ke-empat dari Silat Sembilan Cakar Garuda. Belum sempat kakinya mendarat, Ki Ageng Aras sudah kembali menyerang. Tubuh Ki Ageng Aras menggeliat dan tangannya menyerang ke arah Gagak Seta yang posisinya berada di belakang tubuhnya.
Jurus kelima dari Silat Sembilan Cakar Garuda.
Cepat tangan Gagak Seta bergerak menangkis serangan Ki Ageng Aras, sekaligus menggunakan tenaga benturan itu untuk menyurut mundur, menjauh dari Ki Ageng Aras.
“Dess!”
Tangan Gagak Seta terasa sedikit kesemutan akibat benturan itu. Namun pemuda itu mengeraskan hatinya dan mencoba balas menyerang. Dengan gesit dia melompat maju, sambil melontarkan sebuah pukulan.
Namun, belum sampai tangannya mengenai sasaran, Gagak Seta dipaksa menarik pukulan, karena Ki Ageng Aras dengan cepat sudah mengubah kedudukan dan menyusup maju mendekat, mengancam pinggangnya yang terbuka.
Lagi-lagi dengan jurus kedua dari Silat Sembilan Cakar Garuda. Sebat gerakan Ki Ageng Aras, selapis lebih cepat dari serangan sebelumnya, menyerang dari sudut yang tidak terduga.
Rekan-rekan Gagak Seta menonton pertarungan itu dengan hati berdebar-debar, tak terasa ikut membayangkan diri mereka berada di posisi Gagak Seta. Serangan Ki Ageng Aras hanya menggunakan tiga jurus yang sama, namun cara dia mengambil sudut serangan, mengombinasikan ketiga jurus itu dan menempatkan diri, membuat Gagak Seta kerepotan.
Sekian lama mereka bertarung, pemuda itu belum menemukan kesempatan untuk balas menyerang.
Serangan Ki Ageng Aras pun semakin mengganas dan membuat Gagak Seta beberapa kali harus menyurut mundur, berlompatan kian kemari dan memeras seluruh konsentrasinya untuk menghindar.
Otak Gagak Seta berputar dengan cepat, sorot matanya menyala-nyala, darah mudanya menggelegak menghadapi alotnya perlawanan Ki Ageng Aras.