
Di perbatasan Kadipaten Serayu, pertempuran sudah berjalan setengah hari lamanya tanpa kemajuan yang berarti. Kedua pasukan secara bergantian, sesekali menyerang dari sayap pasukan.
Sesekali mereka mengirimkan satuan kecil untuk membuat gerakan-gerakan tipuan.
Namun tidak ada serangan yang benar-benar mengubah jalannya pertempuran di hari itu. Setelah berhari-hari menjalani situasi yang sama, kelelahan sudah mulai menguasai sebagian besar prajurit dari kedua pasukan. Kelelahan dari segi fisik, tapi lebih utamanya kelelahan dari segi mental.
Prabu Jannapati mengamati medan pertempuran dengan tegang. Perasaannya tak tenteram seharian ini. Jika biasanya dia masih turun ke garis depan, menantang lawan, atau sekedar berkuda sepanjang garis pertempuran untuk menyemangati pasukannya, kali ini dia tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya di garis belakang.
Prabu Jannapati menoleh ke arah Patih Nandini dan baru saja dia membuka mulut hendak bertanya ketika tiba-tiba dari sudut matanya dia menangkap kepulan asap di kejauhan.
Tiba-tiba saja jantungnya berdebaran keras.
“Nandini, kirim pasukan berkuda untuk memeriksa!”, serunya dengan suara terdengar sedikit gemetar.
Para senapati dan tumenggung memandang ke arah Prabu Jannapati dengan wajah terkejut. Sejak dia diangkat menjadi putera mahkota, sejak dia masih kanak-kanak, belum permah Prabu Jannapati menunjukkan sikap gentar di depan para abdinya. Baru kali ini, terlihat ada terbersit, Prabu Jannapati merasa yang namanya takut dan gentar.
“Jika diijinkan, hamba ingin memimpin langsung pasukan itu baginda prabu.”, jawab Patih Nandini tak kalah tegang dan cemas.
Para senapati dan tumenggung merasakan kejutan untuk kedua kalinya di hari yang sama dan dalam waktu yang berdekatan. Patih Nandini, sejak dia masih remaja dan dijadikan pembantu dan pengiring Prabu Jannapati yang masih seorang pangeran waktu itu, terkenal dengan ketenangannya. Yang berbeda hanyalah waktu remaja, Patih Nandini terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tertutup, tapi seiring bertambah dewasanya dia, sikap dingin dan tertutup itu mulai berubah menjadi hangat. Tanpa disadari ada banyak pejabat dan abdi dalem kerajaan yang mendapatkan sandaran kekuatan dari keberadaan patih yang masih muda ini.
Ketika dua pilar utama yang menjadi penyangga mereka terlihat goyah, goyah pula keyakinan para perwira yang hadir di tempat itu.
“Perhatikan medan tempur! Jangan sampai kehilangan kesiagaan kalian!”, tegur Prabu Jannapati seperti menggugah mereka dari alam mimpi.
Ketika mereka menengok ke arah Prabu Jannapati, wajahnya tak lagi terlihat tegang dan gentar, melainkan penuh keteguhan, mengamati lawan, menghadapi ribuan pasukan lawan yang berbaris rapi di seberang sana.
“Sudah ada Nandini yang mengurus. Sekarang tugas kita adalah mereka.”, ujar Prabu Jannapati dengan sorot mata tajam menatap pasukan gabungan para adipati yang mulai memperlihatkan gerakan-gerakan dalam barisan mereka.
Kepercayaan yang sempat goyah itu pun kembali dalam dada mereka.
'Benar, sudah ada Patih Nandini dan di sini masih ada Prabu Jannapati.', demikian pikir para perwira itu, dan tiba-tiba mereka menyadari, Prabu Jannapati yang menakutkan itu bisa mendatangkan rasa aman.
Rasa aman, karena kali ini tajamnya Prabu Jannapati mengacu ke lawan yang ada di seberang sana.
-----
Prabu Jannapati tidak salah, lawan mereka ada di depan mata. Adipati Gading Kencana dan para sekutunya tentu saja juga melihat kepulan asap dari arah utara mereka. Jauh di belakang garis pertahanan pasukan Kerajaan Watu Galuh.
“Itukah sinyal dari pasukan Raden Rangga?”, Adipati Karangpandan berseru sambil menunjuk ke arah kepulan asap itu.
“Itu bukan dari arah Kadipaten Serayu...”, ujar seorang adipati.
“Tapi kalian lihat, Patih Nandini meninggalkan barisan. Sesuatu yang penting pasti tejradi.”, kata Adipati Guntur Aji, matanya menyipit, menajamkan pandangan, berusaha melihat ke barisan lawan yang ada di kejauhan.
Adipati Karangpandan dengan pandangan ragu-ragu, memandang ke arah Adipati Gading Kencana, “Kakang, bagaimana menurut kakang? Raden Rangga memenuhi janjinya? Atau sebaiknya kita menunggu ada kepastian?”
“Kita tidak boleh ragu-ragu, kalian ingat perjanjian yang kita buat dengan Tumenggung Widyaguna, mereka akan melakukan sesuatu yang memberi kita kesempatan untuk menang melawan Prabu Jannapati. Tapi bisa atau tidaknya kita memanfaatkan kesempatan itu, itu bukan tanggung jawab mereka.”, sahut Adipati Panjalu.
Adipati Gading Kencana mengangguk, “Benar, jika kita tidak bergerak sekarang dan kesempatan ini lepas karena kita tidak bergerak, maka mereka akan beralasan baha ini kesalahan kita, bukan kesalahan mereka.”
“Hmm.... licik... dengan kata lain, Raden Rangga memaksa kita untuk bergerak. Bagaimana jika setelah kita mengerahkan pasukan, ternyata kepulan asap itu tidak berarti apa-apa?
”, desis Adipati Karangpandan.
Adipati Gading Kencana tidak mau banyak menanggapi Adipati Karangpandan, “Kita tidak punya pilihan, siapkan pasukan. Adi Panjalu, Adi Guntur Aji, kali ini aku minta kalian memimpin serangan. Ki Adipati Bayu dan Ki Adipati Cakrawahyu, aku minta kalian ambil alih memimpin pasukan di sayap kiri dan kanan. Kali ini waktunya kita bertempur dengan sungguh-sungguh.”
“Siap”
“Siap”
Mereka bersahut-sahutan menyahut, sambil bergegas bersiap ke posisi masing-masing, tanpa banyak cakap.
Beberapa saat kemudian, pertempuran pun mulai mengganas, dari tempatnya Prabu Jannapati melihat lawan bergerak dalam jumlah yang lebih besar. Seperti ombak di lautan, ribuan prajurit bergerak maju.
Adipati Guntur Aji, memimpin tak kurang dari lima ribu orang prajurit maju sebagai ujung tombak dari serangan. Seluruh pasukan gabungan pun bergerak menaikkan garis pertahanan mereka, bersiap mendukung kesatuan yang dipimpin oleh Adipati Guntur Aji.
Prabu Jannapati tidak terburu nafsu memapak serangan lawan.
“Pasukan panah bersiap!”, seru Prabu Jannapati pada mereka yang berdiri di belakangnya.
Seorang prajurit meniup sangkakala, dan seorang prajurit yang lain mengibarkan panji-panji khusus yang menjadi perintah.
Begitu mereka mendengar suara sangkakala, maka sudah menjadi tugas para senapati yang memipin pasukan untuk menengok ke arah Prabu Jannapati dan mengamati tanda perintah apa yang diberikan. Dengan sigap, sesuai dengan perintah yang mereka lihat, beberapa orang senapati memimpin pasukannya untuk maju ke posisi yang diperintahkan.
Belasan ribu prajurit yang terlatih untuk memanah, dengan serentak sudah memasang anak panah di busur mereka, bersiap menunggu perintah, sasaran mereka adalah pasukan yang dipimpin Adipati Guntur Aji.
Adipati Gading Kencana dari tempatnya mengamati, memberikan perintah baru, “Ki Adipati Seroja, siapakan pasukan berkudamu. Cari celah untuk menyerang dan mengganggu pasukan pemanah itu. Beri kesempatan pada pasukan pembuka kita untuk mendekat.”
Tentu saja Prabu Jannapati dengan cepat juga mengirimkan instruksi pada kesatuan-kesatuan yang ada, sesuai dengan perkembangan yang terjadi.
Demikianlah situasi di medan perang, dengan cepat terus berubah-ubah. Prabu Jannapati dan Adipati Gading Kencana seperti dua orang pemain catur yang secara bergantian berusaha menekan posisi lawan, mengambil posisi yang lebih baik, mengantisipasi gerakan lawan dan juga berusaha memancing lawan untuk melakukan keputusan yang salah.
Belasan ribu prajurit bergerak mengikuti perintah-perintah mereka. Para senapati yang memimpin pasukan, bukan hanya harus menghadapi lawan, tapi juga memastikan bahwa apa yang mereka lakukan, sesuai dengan perintah dari pimpinan besar mereka.
Korban pun mulai berjatuhan, pasukan gabungan para adipati sebagai pihak yang menyerang, mau tidak mau harus merasakan tajamnya anak panah pasukan Kerajaan Watu Galuh. Meskipin Adipati Seroja dan pasukan berkudanya berusaha mengurangi tekanan pada pasukan Adipati Guntur Aji, tapi merekapun harus melewati kesatuan lawan untuk mencapai pasukan pemanah itu.
Tentu saja sebagai pasukan pendobrak, prajurit-prajurit yang dipimpin oleh Adipati Guntur Aji juga memiliki perlengkapan yang tepat, dengan perisai dan baju pelindung, korban bisa ditekan sesedikit mungkin.
Bagaimana pun juga, sebagai pasukan yang bertahan, pasukan Kerajaan Watu Galuh memiliki keuntungan dalam memilih posisi yang mereka inginkan dalam pertempuran ini. Pasukan Adipati Gading Kencana harus mendatangi mereka, mengambil resiko dan mengorbankan prajuritnya untuk merebut posisi yang lebih baik bagi pasukan mereka untuk melancarkan serangan.
Beruntung bagi pasukan Adipati Gading Kencana, karena Prabu Jannapati tidak berani mengerahkan seluruh kesatuan yang dia miliki untuk menghadapi pasukan mereka. Dia masih menyimpan dua kesatuan, untuk berjaga-jaga terhadap serangan tiba-tiba dari pasukan Raden Rangga yang bagi dia, belum jelas ada di mana.
-----
Ketika Patih Nandini dan pasukan yang dia pimpin sampai di tempat kepulan api itu berasal, mereka melihat kobaran api yang besar dan dengan cepat merambat, membakar rumput dan semak kering, bahkan pepohonan di sekitarnya.
Begitu mereka mendekat untuk memeriksa, panasnya kobaran api yang menyengat kulit wajah dan bau daging yang terbakar, menyambut mereka. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Tidak juga dari pelaku pembakaran itu.
Dari tebalnya asap dan kobaran api, Patih Nandini melihat gerobak-gerobak perbekalan di tengah api yang berkobar itu. Ribuan mayat-mayat prajurit bergelimpangan. Tidak mungkin untuk melihat keadaan di tengah kobaran itu dengan jelas, tapi apa yang mereka lihat sudah memberitahukan Patih Nandini apa yang terjadi beberapa saat yang lalu.
Atau setidaknya, apa yang dia pikir telah terjadi.
Patih Nandini tidak berlama-lama di tempat itu, apalagi ketika dia menangkap tubuh Senapati Subangsana yang tergeletak di antara tumpukan mayat lainnya.
“Kembali! Kembali! Pacu kuda kalian!”, ujar Patih Nandini tanpa mengatur kembali pasukannya.
Dengan perasaan tidak karuan, Patih Nandini memacu kudanya secepat mungkin untuk menyampaikan kabar itu pada Prabu Jannapati. Pasukan mereka tidak akan bisa bertahan lebih dari beberapa hari tanpa tambahan pasokan perbekalan.
Di atas kudanya yang berderap dengan cepat, otak Patih Nandini pun dipaksa untuk berputar tidak kalah cepatnya.
----------
Kedatangan Patih Nandini membuat para pimpinan pasukan Kerajaan Watu Galuh geger. Memacu kudanya dengan kecepatan tinggi, Nandini tidak melompat turun bahkan sebelum kudanya berhenti. Tanpa membuang waktu dia berlari ke tempat Prabu Jannapati menunggu.
“Baginda! Rangga membakar perbekalan kita!”, serunya tanpa melihat kiri dan kanan.
Untuk beberapa saat Prabu Jannapati terlihat hendak meledak amarahnya, tapi kemarahannya itu menghilang, ketika dia melihat ekspresi wajah Patih Nandini yang terlihat cemas dan panik untuk pertama kalinya dalam sekian tahun mengabdi.
“Nandini, apakah tepat dan layak menyampaikan laporan seperti itu?”, tanya Prabu Jannapati dengan tenang.
Ketenangan Prabu Jannapati seperti air dingin yang mengguyur kepala mereka semua yang hadir di situ. Menyadarkan mereka dan mengembalikan mereka berpijak pada kedudukan mereka sebagai pemimpin pasukan.
Patih Nandini terbata dan akhirnya menunduk malu, ujarnya, “Hamba bersalah...”
“Berapa lama pasukan kita bisa bertahan dengan perbekalan yang ada?”, tanya Prabu Jannapati dengan tenang.
“Empat atau lima hari.”, jawab Patih Nandini.
“Kadipaten mana saja yang bisa mengirimkan pasokan perbekalan dengan cepat?”, tanya Prabu Jannapati.
“Kadipaten Sendang Ayu, Kadipaten Rawa Biru, Kadipaten Salaka, Kadipaten Asemrawa dan Kadipaten Punggung. Tapi secepat-cepatnya mereka mengumpulkan dan mengirimkan pasokan perbekalan, setidaknya butuh waktu satu sampai dua minggu.”, jawab Patih Nandini dengan cepat.
Prabu Jannapati diam berpikir, tidak ada yang berani mengganggu dia. Kali ini Patih Nandini pun tidak.
Setelah beberapa saat akhirnya Prabu Jannapati memberikan perintah, “Kirimkan pesan ke Kadipaten Sendang Ayu, kita akan mundur ke sana dan membentuk garis pertahanan yang baru.”
Seorang senapati dengan cepat memanggil seorng prajurit untuk menyampaikan pesan. Belum sampai prajurit itu berangkat, Prabu Jannapati menyampaikan perintah berikutnya.
“Pada keempat kadipaten yang lain, kirimkan perintah untuk mengirimkan perbekalan. Seberapa yang mereka bisa kumpulkan dan kirimkan ke Kadipaten Sendang Ayu dalam waktu empat hari.”, ujar Prabu Jannapati.
“Bagaimana dengan Kadipaten Serayu?”, tanya Patih Nandini.
“Katakan pada para Adipati Arum Amerta, kita mundur. Terserah padanya apakah hendak menyerah pada Adipati Gading Kencana, atau mau membawa pasukannya mengikuti kita. Pasukan kita tidak mungkin bisa mempertahankan Kadipaten Serayu.”, jawab Prabu Jannapati dengan tenang.
“Bagaimana dengan pasukan Raden Rangga?”, tanya Patih Nandini dengan hati-hati.
Untuk sekilas, terlihat mata Prabu Jannapati berkilat marah. Namun hanya sejenak saja.
“Hmm... kirimkan utusan pada Adipati Gading Kencana, sampaikan jika dia menahan serangan dan tidak mengejar, maka pasukan kita akan mundur dari Kadipaten Serayu. Apa gunanya mengorbankan pasukan, untuk kemenangan yang sudah pasti?”, jawab Prabu Jannapati sambil tersenyum tipis.
Patih Nandini tertegun dan kemudian berseru, “Bagus! Radeng Rangga boleh saja merusak rencana kita. Kita bisa balas merusak rencananya. Jika mereka sudah menang di Kadipaten Serayu, artinya pasukan Adipati Gading Kencana bisa bergerak untuk merebut Kadipaten Jambangan dari tangan Raden Rangga!”