Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab XXI. Tuntutan Adipati Jalak Kenikir



Kadipaten Jambangan, Adipati Jalak Kenikir duduk di kursi kebesarannya dengan wajah guram. Utusan dari Prabu Jannapati duduk bersila di depannya. Ada empat orang perwira setingkat senapati yang mengabdi pada Adipati Jalak Kenikir.


Senapati Nakula, Senapati Rendra, Senapati Glagah Wiru dan Senapati Lesmana, ke empatnya ikut hadir dalam pertemuan itu.


“Perintah Prabu Jannapati aku terima, tapi aku tidak yakin apa pasukan Kadipaten Jambangan cukup kuat untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Prabu Jannapati.”


Utusan yang dikirim Prabu Jannapati adalah satu dari belasan senapati yang mendapatkan bimbingan khusus dari Patih Nandini.


Senapati Dwipangga menjawab dengan sabar, “Patih Nandini dan Baginda Prabu Jannapati, sudah memperhitungkan kekuatan Kadipaten Jambangan, sebelum mereka memberikan tugas ini pada Ki Adipati. Tentunya kepercayaan ini jatuh ke tangan Ki Adipati karena mereka melihat kemampuan Ki Adipati.”


Adipati Jalak Kenikir menoleh ke Senapati Nakula, “Kemarin ada laporan dari pasukan telik sandi kita kan? Coba bacakan kembali, supaya Senapati Dwipangga ikut mendengarnya.”


“Dua hari yang lalu, pasukan yang dipimpin Raden Rangga Wijaya, berhasil mengalahkan sekitar dua ribu gerombolan perampok yang turun dari Gunung Awu. Jumlah pasukan yang dipimpin Rangga setidaknya ada empat ribu orang.”, Senapati Nakula dengan ringkas melaporkan.


Adipati Jalak Kenikir menatap Senapati Dwipangga, seakan bertanya, 'Kau dengar itu?'


Senapati Dwipangga dengan sabar menjawab, “Kebetulan Patih Nandini juga mengirimkan telik sandi untuk mengikuti Raden Rangga Wijaya dan pengikut-pengikutnya.”


Senapati Dwipangga mengambil segulung lontar dan memberikannya ke Adipati Jalak Kenikir. Adipati Jalak Kenikir menerima gulungan lontar itu, lalu dengan malas-malasan membaca isinya.


“Silahkan Ki Adipati bisa baca di sana, jumlah pasukan Rangga yang benar-benar berpengalaman tak lebih dari seribu orang. Sisanya adalah anak-anak muda dari Kademangan Jati Asih sendiri. Mereka baru tahu sedikit bagaimana menggunakan senjata.”, kata Senapati Dwipangga sambil masih tersenyum sabar tak terpengaruh gerak-gerik Adipat Jalak Kenikir.


“Jika bukan karena begal-begal itu terlalu ceroboh, tak tahu bagaimana berperang dengan benar, hanya mengandalkan, hari ini mungkin kita tidak perlu bertemu.”, mata Senapati Dwipangga menatap lurus ke arah Adipati Jalak Kenikir dengan tajam, tapi senyuman tak pernah menghilang dari wajahnya.


Di luar kontrolnya, Adipati Jalak Kenikir merasa dadanya tergetar melihat tatapan mata Senapati Dwipangga yang seakan membawa perbawa ghaib. Buru-buru dia berusaha menutupi kegugupannya dengan mengalihkan pandangan ke arah gulungan lontar yang ada di tangannya, dibacanya laporan itu dengan lebih teliti.


Adipati Jalak Kenikir memang bukan seorang adipati yang berilmu tinggi, kedudukan-nya sebagai adipati adalah warisan yang dia dapatkan dari ayahnya. Tentu dia memiliki beberapa ilmu simpanan, tapi kedudukannya menjadi kuat, lebih karena dukungan para pengikutnya. Lagipula Adipati Jalak Kenikir cukup licin dalam berpolitik dan tahu perlunya untuk menjaga kesetiaan orang-orang yang mengabdi padanya.


Senapati Rendra berdehem biasa saja, seperti orang yang sedang membersihkan tenggorokan yang gatal. Namun suara itu mengusir sesuatu yang membayangi batin Adipati Jalak Kenikir. Debaran di dada Adipati Jalak Kenikir pun menghilang.


Senapati Dwipangga menengok ke arah Senapati Rendra sambil tersenyum masam. Senapati Rendra menganggukkan kepala dan tersenyum sopan.


Adipati Jalak Kenikir menghela nafas panjang mengusir sisa-sisa perasaan yang menekan batinnya, lalu berkata, “Dari laporan ini tersirat juga kehebatan ratusan orang prajurit itu. Pula laporan perang ini mengingatkanku pada kisah tiga puluh tiga orang panglima yang selalu mengikuti mendiang Prabu Jaya Lesmana dalam setiap pertempuran.”


“Seorang senapati sama seperti seratus prajurit. Seorang rakryan rangga sama seperti lima ratus prajurit. Dan seorang tumenggung yang dengan mudah bisa menghadapi seribu orang prajurit. Tiga puluh tiga orang, yang setiap orangnya seharga sebuah kota.”, Senapati Nakula berujar.


Adipati Jalak Kenikir menganggukkan kepala, “Benar, mungkin Ki Senapati Dwipangga masih terlalu muda hingga tak pernah mendengar kalimat itu. Tapi yang sudah cukup usia dan pernah hidup di masa Prabu Jaya Lesmana masih hidup, tentu pernah mendengarnya.”


“Lagipula Senapati Dwipangga tentu tahu betul batasan yang dikeluarkan mendiang Prabu Anglang Bhuanna, setiap kadipaten tak boleh membentuk pasukan tempur lebih dari lima ratus orang.”, Senapati Lesmana menyambung.


Senapati Dwipangga tersenyum masam, tampaknya tugasnya kali ini tidak semudah yang dia harapkan. Namun hal ini tidak lepas dari perhitungan Patih Nandini.


“Jadi apa Adipati Jalak Kenikir memutuskan untuk melawan perintah dari Prabu Jannapati?”, tanya Senapati Dwipangga dingin, senyuman itu akhirnya menghilang juga dari wajahnya.


“Apakah Prabu Jannapati akan menggunakan kekuasaannya, untuk memaksa sebuah kadipaten bunuh diri?” Adipati Jalak Kenikir bertanya balik, sambil tersenyum dingin, dalam hati dia masih merasa sedikit marah karena Senapati Dwipangga berani coba-coba menggunakan ilmu kebatinan untuk menekan dia.


“Adipati Jalak Kenikir tentu punya cara untuk mengumpulkan dan membentuk pasukan. Jika Raden Rangga yang tidak memiliki kedudukan dan kekuasaan saja, bisa membentuk pasukan dari anak-anak muda Kademangan Jati Asih, apalagi Ki Adipati.”, jawab Senapati Dwipangga.


“Bagaimana dengan tiga puluh senapati yang digdaya itu?”, tanya Adipati Jalak Kenikir.


“Ki Adipati bisa meminta bantuan pendekar-pendekar dari dunia persilatan untuk membantu, kalau perlu menarik perhatian mereka dengan janji uang dan kedudukan.”, jawab Senapati Dwipangga.


“Aku tak punya cukup uang untuk itu.”, Adipati Jalak Kenikir menggelengkan kepala dengan sedih.


Senapati Dwipangga tertawa dengan nada sumir, jika Adipati Jalak Kenikir bisa disebut miskin, tidak bisa dibayangkan seperti apa yang namanya kaya. Namun ini sudah masuk dalam perhitungan Patih Nandini.


“Prabu Jannapati siap mengirimkan 400 keping uang emas sebagai bantuan bagi Ki Adipati, tentunya apabila Ki Adipati bersedia menerima tugas ini.”, jawab Senapati Dwipangga.


“1000 keping uang emas.” ujar Adipati Jalak Kenikir singkat.


“500 keping uang emas.”, balas Senapati Dwipangga.


Pertemuan yang menyangkut mati hidup orang banyak itu pun dalam sekejap menjadi tak ubahnya percakapan dua orang pedagang yang bertemu di pasar ikan. Setelah beberapa kali tawar menawar, akhirnya mereka sepakat bahwa Prabu Jannapati akan mengirimkan 700 keping uang emas.


“Tapi...”, Adipati Jalak Kenikir tiba-tiba mengerutkan alis.


Adipati Jalak Kenikir tersenyum lebar, “Tentu saja, sungguh menyenangkan berbicara dengan orang yang bijaksana seperti Ki Senapati Dwipangga ini.”


“Silahkan...”, ucap Senapati Dwipangga singkat.


“Selain membutuhkan uang untuk mengundang pendekar-pendekar dari dunia persilatan, sebuah perang tentu akan membutuhkan persiapan lain seperti makanan, tenda, perlengkapan perang dan sebagainya. Jadi aku harap Prabu Jannapati membebaskan Kadipaten Jambangan dari kewajiban untuk mengirimkan upeti selama 10 tahun lamanya.”


Senapati Dwipangga memejamkan mata sambil menarik nafas panjang-panjang, berusaha mendinginkan hatinya yang panas.


“2 tahun.”, ujarnya sambil menggertakkan gigi.


Sekali lagi tawar menawa pun terjadi, dan mereka sepakat pada jangka waktu 6 tahun lamanya.


“Ada lagi?”, Senapati Dwipangga bertanya dengan nada lelah.


“Jika Prabu Jannapati ingin Kadipaten Jambangan untuk mempertaruhkan nyawa dan bertempur mati-matian melawan Raden Rangga Wijaya, maka batasan 500 orang pasukan tempur dan 1000 orang penjaga keamanan tidaklah cukup. Aku menuntut dikeluarkannya keputusan resmi bahwa Kadipaten Jambangan boleh membangun kekuatan militer sampai dengan sejumlah 2000 pasukan tempur dan 5000 pasukan cadangan.”, ujar Adipati Jalak Kenikir dengan tenang tapi tegas.


“Gila!”, tanpa sadar Senapati Dwipangga berseru.


“Tidak mungkin...”, geram Senapati Dwipangga.


“Jika tidak, lalu bagaimana aku akan melawan Rangga?”, tanya Adipati Jalak Kenikir dengan tenang.


Senapati Dwipangga diam cukup lama, berpikir keras, kemudian menjawab, “2000 orang pasukan tempur dan 3000 orang pasukan cadangan. Kebijakan itu berlaku, sampai tugasmu selesai.”


Adipati Jalak Kenikir menggelengkan kepala, “Jumlahnya aku bisa menerima, tapi tidak dengan jangka waktunya.”


“Apa kau bepikir untuk memberontak?”, geram Senapati Dwipangga.


Adipati Jalak Kenikir menggelengkan kepala, “Aku tidak sebodoh itu. Jumlah itu hanya cukup untuk mempertahankan kedaulatan Kadipaten Jambangan. Siapapun yang punya otak bisa melihat, keadaan akan menjadi memanas. Bakal pecah perang di mana-mana.”


Setelah mengambil nafas, Adipati Jalak Kenikir berkata dengan nada tegas yang tak bisa ditawar, “2000 orang pasukan tempur dan 3000 orang pasukan cadangan, keistimewaan khusus untuk Kadipaten Jambangan. Atau tidak usah sama sekali.”


Senapati Dwipangga terdiam cukup lama.


“Kalau kau tak bisa memutuskan, boleh kau kembali dahulu menemui Prabu Jannapati dan Patih Nandini. Aku tidak terburu-buru.”, ujar Adipati Jalak Kenikir.


Senapati Dwipangga tidak menjawab, untuk beberapa lama ruang pertemuan itu hening tanpa suara.


“Baik, atas nama Prabu Jannapati, Raja Kerajaan Watu Galuh, aku terima semua syarat-syaratmu.”, ujar Senapati Dwipangga dengan mata menyala-nyala.


Senapati Dwipangga masih berdiskusi dengan Adipati Jalak Kenikir dan para senapatinya untuk beberapa lama. Selain membicarakan syarat-syarat dan tanggung jawab bagi masing-masing pihak. Mereka juga perlu membicarakan lebih lanjut mengenai strategi militer untuk menghadapi situasi di sekitar perbatasan saat itu.


Adipati Jalak Kenikir meminta pihak kerajaan untuk memperlambat laju perjalanan Rangga, sehingga dia memiliki waktu untuk mengumpulkan pasukan. Juga kepastian bahwa Adipati Gading Kencana dan sekutunya tidak memiliki kesempatan untuk menyerang Kadipaten Jambangan.


Ada banyak detail lain yang mereka diskusikan, ketika Senapati Dwipangga bersama beberapa orang pengawal, memacu kudanya menuju ke tempat Patih Nandini dan Prabu Jannapati menunggu, matahari sudah tenggelam.


Meskipun saat dia berada di depan Adipati Jalak Kenikir, dia terlihat marah, namun di atas kuda, dalam perjalanan, wajah Senapati Dwipangga terlihat puas.


Syarat-syarat yang diajukan Adipati Jalak Kenikir sudah berada dalam perhitungan Patih Nandini, jika tidak tentu dia tidak berani menyanggupi. Selain itu, diam-diam Senapati Dwipangga sudah berhasil menawar dengan baik, sehingga syarat yang mereka sepakati semuanya masih di bawah batas yang diperbolehkan oleh Patih Nandini.


Di lain tempat, Adipati Jalak Kenikir dan senapati-senapatinya juga sedang berdiskusi dengan penuh semangat. Seluruh tuntutan mereka sudah dipenuhi oleh pihak kerajaan, itu artinya mereka bisa melangkah lebih jauh dengan rencana-rencana mereka.


“Yang paling penting di sini adalah keluarnya keputusan keistimewaan untuk Kadipaten Jambangan. Dengan keputusan ini, kita bisa memiliki kekuaan militer yang tak kalah besar dibandingkan kadipaten-kadipaten yang merdeka.”, ujar Senapati Glagah Wiru.


“Benar dan keistimewan ini bisa menjadi dasar bagi jayanya Kadipaten Jambangan sampai jauh ke masa depan.”, kata Adipati Jalak Kenikir dengan mata menyala-nyala.


Adipati Jalak Kenikir mungkin bukan orang yang digdaya dengan ilmu kanuragan atau ilmu kebatinan, namun pandangan dan ambisinya jauh ke depan, tak kalah dengan tokoh-tokoh semacam Adipati Gading Kencana ataupun Prabu Jannapati sendiri.


Sasaran utamanya adalah keistimewaan atas Kadipaten Jambangan, uang dan harta benda, dia sudah menyimpan cukup banyak untuk membangun sebuah pasukan yang besar.


Tuntutan-tuntutan yang menyangkut harta benda itu tak lebih hanya selubung untuk menyelimuti tujuan yang utama, dan sekarang dia sudah mendapatkannya.