
Hembusan nafasnya membelai pipiku, anganku membara terbakar nafsu.
Nafasnya menyatu dengan nafasku. Detak jantungnya, detak jantungku.
Oleng sudah sendi-sendi keraton yang agung, dilanda ombak hawa nafsu.
Keluh kesah Papat Pingpitu
_______________________________
Percakapannya dengan laki-laki misterius itu masih berputar-putar dalam benak Patih Nandini saat dia menghadap Prabu Jannapati untuk melaporkan segala apa yang terjadi di hari itu.
Prabu Jannapati mendengarkan laporan Patih Nandini dari atas pembaringan. Tiga orang selir baru, hadiah seorang khan dari negeri seberang, dia biarkan menemani dia di pendapa itu. Dengan telaten mereka meladeni segala keperluan Prabu Jannapati. Meskipun ada Patih Nandini di depannya, baik Prabu Jannapati, maupun ketiga selir barunya tidak malu-malu menunjukkan sikap mesra.
“Cukup, cukup... tentang urusan sehari-hari Kerajaan Watu Galuh, aku percaya penuh padamu.” Prabu Jannapati melambaikan tangannya tak sabar, ketika Patih Nandini menyampaikan laporannya satu per satu. Hal itu sudah biasa terjadi, namun Patih Nandini tidak pernah berhenti menyampaikan laporan tersebut setiap harinya.
“Baik, baginda, hamba siap melaksanakan.”, jawab Patih Nandini dengan hormat.
“Bagaimana dengan persiapan rencana yang sudah aku perintahkan pada ke-empat adipati itu?”, tanya Prabu Jannapati.
Patih Nandini tidak segera menjawab, pandang matanya mengarah ke tiga selir yang ikut hadir di situ, lalu kembali menghadap ke arah Prabu Jannapati dengan tatap mata bertanya-tanya.
“Laporkan saja.”, kata prabu Jannapati singkat.
Patih Nandini dengan patuh menjawab, “Pasukan mereka sudah berkumpul di perbatasan ibu kota baginda. Hanya tinggal menunggu perintah terakhir dari baginda. Mereka ingin diberi kesempatan untuk bertemu dengan baginda sekali lagi, sebelum pergi menjalankan titah baginda.”
“Dasar penjilat mereka semua itu.”, dengus Prabu Jannapati kesal, “Malam ini juga, kau temui mereka, katakan perintahku tidak berubah. Jika mereka masih ragu, aku bisa meminta adipati yang lain untuk melaksanakannya.”
“Siap baginda...”, ada jeda keraguan dalam jawaban Patih Nandini.
Prabu Jannapati menangkap keraguan di mata Patih Nandini. Sebelum menjadi raja, Prabu Jannapati dikenal sebagai pangeran yang cerdas dan tegas, tapi angkuh dan keras kepala. Para pejabat istana dan adipati, tidak berani menentang apa yang menjadi keputusannya. Namun tidak demikian dengan Patih Nandini, Prabu Jannapati memperlakukan Patih Nandini sebagai orang yang berkedudukan sederajat dengan dirinya. Pendapat dan nasihat Patih Nandini, mendapatkan tempat khusus dalam pertimbangan-pertimbangan Prabu Jannapati.
“Nandini, kau tidak setuju?”, selidik Prabu Jannapati.
Patih Nandini mempertimbangkan apa yang sebaiknya dia sampaikan, pada akhirnya Patih Nandini memilih untuk menceritakan pertemuannya dengan lelaki misterius yang dia temui hari ini. Prabu Jannapati mendengarkan dengan seksama. Di tengah-tengah Patih Nandini bercerita, Prabu Jannapati menghentikan ceritanya sebentar. Dia usir pergi ketiga selirnya untuk kemudian meminta Patih Nandini melanjutkan.
“Demikian baginda.”, Patih Nandini menutup ceritanya.
Mata Prabu Jannapati berkilat-kilat, jarinya mengetuk-ngetuk tiang pendapa. Cerita Patih Nandini membuat dia bersemangat.
“Menurutmu, siapa orang itu?”, tanyanya.
“Mungkin salah satu pengikut almarhum Prabu Jaya Lesmana, bukankah mereka menghilang seiring dengan diasingkannya Pangeran Rangga Wijaya?”, Patih Nandini berkerut alis berusaha mengingat-ingat wajah laki-laki itu, namun ingatannya seperti tertutup kabut yang pekat.
Prabu Jannapati menggertakkan rahangnya, “Nandini... aku tidak suka ada orang yang mengancamku.”
“Baginda... selama ini mereka tidak pernah terlibat dengan politik kerajaan. Seperti yang dikiaskan--”, Prabu Jannapati memutuskan kata-kata Patih Nandini ketika dia berusaha mendebat Prabu Jannapati, di antara semua pejabat hanya dia yang berani melakukan hal itu.
“Mereka seperti sarang tabuhan yang tidak mengganggu, dan aku seperti orang bodoh yang mencari mati, mengganggu mereka, begitu? Begitukah maksudmu Nandini!?”, Prabu Jannapati menggeram marah.
Prajurit yang menjaga pendapa itu terlihat tegang. Wajah yang tak berubah sedikitpun mendengar percintaan Prabu Jannapati dan ketiga selirnya, berubah oleh nada kemarahan dalam geram Prabu Jannapati. Tangan-tangan mereka tanpa sadar menggenggam erat-erat tombak-tombak di tangan mereka.
Namun, Patih Nandini yang menjadi sasaran kemarahan Prabu Jannapati terlihat tenang, dia membungkuk dalam-dalam lalu berkata, “Demikianlah pendapat hamba, jika baginda tak berkenan, silahkan baginda cabut keris di pinggang baginda dan tebas leher hamba ini.”
“Nandini.... apa kau ingin mati!?, seru Prabu Jannapati gusar.
“Tentu saja tidak baginda.”, jawab Patih Nandini.
“Jadi mengapa kau menghalangiku untuk menghancur leburkan mereka yang berani menentangku Nandini !?”, tukas Prabu Jannapati dengan nada keras.
“Baginda sendiri tentu bisa menjawabnya, bahkan ayahanda baginda pun memilih untuk mengabaikan mereka. Pangeran Rangga terikat oleh sumpahnya, jika dia melanggar sumpahnya maka dia akan kehilangan dukungan dari para pengikut setia ayahnya. Sebaliknya jika kita melanggar titah yang sudah disabdakan ayah baginda, maka mereka yang selama ini dia bersembunyi entah di mana, akan bergerak, menimbulkan kekacauan di mana-mana.”, jawab Patih Nandini masih menundukkan kepala.
Ketika Patih Nandini merasa kemarahan Prabu Jannapati mereda, dengan hati-hati diangkatnya pandangannya melihat ke arah Prabu Jannapati.
“Aku tidak suka ada yang mengancam diriku Nandini.”, kembali Prabu Jannapati mengulangi kalimat itu, tapi kali ini nadanya tak lagi berapi-api.
Dalam ketenangannya, Prabu Jannapati justru lebih menyeramkan dibanding ketika dia dalam keadaan marah.
“Bagaimana jika Rangga Wijaya menggunakan kesempatan ini untuk mencoba merebut kembali takhta kerajaan Watu Galuh?” Prabu Jannapati bertanya.
“Untuk melakukan itu, Pangeran Rangga harus mengumpulkan terlebih dahulu para pengikutnya yang setia. Mereka akan kehilangan satu-satunya keuntungan mereka saat ini. Di saat yang sama baginda juga memiliki alasan yang kuat, untuk mengerahkan pasukan dan membabat habis Pangeran Rangga Wijaya bersama pengikutnya.”, jawab Patih Nandini dengan lancar.
Jauh sebelum bertemu dengan Prabu Jannapati, pertemuannya dengan laki-laki misterius itu membuat dia berpikir panjang tentang kedudukan Rangga dalam peta perpolitikan Kerajaan Watu Galuh.
“Apakah kau juga berpikir bahwa aku harus membatalkan rencana itu?”, tanya Prabu Jannapati, kemarahannya yang tadi meledak-ledak tersapu bersih oleh penjelasan Patih Nandini.
Patih Nandini menggelengkan kepala, “Tidak baginda, hamba setuju dengan pendapat baginda tentang masalah itu.”
“Kalau begitu, kau temui empat kura-kura itu, suruh mereka bergegas menyelesaikan tugas yang kuberikan pada mereka. Jika tidak …. hmm.... kalau kepala mereka tak bisa digunakan untuk berpikir, tak ada gunanya lagi kepala itu menghiasi pundak mereka.”, mata Prabu Jannapati kembali menyala oleh kemarahan.
“Hamba laksanakan.”, jawab Patih Nandini singkat dan tanpa membuang waktu dia pun pergi melaksanakan perintah Prabu Jannapati.
-----
Malam itu, dari empat penjuru ibu kota terdengar teriak dan isak tangis. Warna merah membara mewarnai langit ibu kota Kerajaan Watu Galuh. Gedung-gedung terbakar, bau anyir darah memenuhi udara.
Sejarah di kemudian hari mencatat, malam itu tidak kurang dari enam ribu orang tewas oleh pedang.
Puluhan kuil-kuil tempat pamujan Dewa Siwa dibakar habis hingga rata ke tanah. Mereka yang dicurigai mendukung Pangeran Adiyasa untuk menjadi putera mahkota, tidak ada satu pun yang dibiarkan hidup.
Dari luar pasukan dari empat kadipaten bergerak masuk dengan cepat dan rapi, menutup semua jalan untuk kabur. Dari dalam, pasukan chakra bhirawa yang berada langsung di bawah pimpinan Patih Nandini bergerak cepat membantai habis keluarga dan pengikut Rakryan Tumenggung Nayottama. Pemimpin dan tiang utama penyangga para pejabat yang mendukung Pangeran Adiyasa.
Malam itu Patih Nandini membuktikan kemampuannya dalam olah kanuragan. Tumenggung Nayottama dibantu dua orang senapati kepercayaan-nya tak mampu mengalahkan Patih Nandini yang bertarung sendirian.
Empat adipati yang mendapatkan kepercayaan dari Prabu Jannapati pun berlomba, secepat mungkin menyelesaikan pengikut-pengikut Pangeran Adiyasa yang lain, sesuai dengan daftar tugas yang mereka miliki masing-masing.
Mereka berharap dapat merebut hati Prabu Jannapati dengan menangkap Tumenggung Nayottama yang terkenal kesaktiannya, atau setidaknya membantu Patih Nandini menangkapnya.
Namun, ternyata ketika empat adipati itu sampai di tempat kediaman Tumenggung Nayottama, semuanya telah usai. Patih Nandini sedang duduk membelakangi kediaman Tumenggung Nayottama yang dihiasi lidah-lidah api menyala-nyala. Di depannya, berjajar rapi tiga buah kepala, kepala Tumenggung Nayottama dan dua orang senapati pengawalnya.
“Selesai?”, tanya Patih Nandini singkat.
Berdebar dada ke empat orang adipati itu. Patih Nandini jauh lebih muda dari mereka, tapi perbawa-nya mampu membuat mereka merasa gentar. Patih Nandini yang biasanya terlihat tenang, malam itu berubah seperti jelmaan Rahwana, garang, haus darah.
“Selesai Ki Patih.”, jawab Adipati Banyubiru, dia yang paling cepat mendapatkan kembali ketenangannya.
“Bagus... ikuti aku. Kita temui baginda prabu.”, Patih Nandini bangkit berdiri, tangannya dengan cekatan meraih ketiga butir kepala yang ada di depannya.
Sambil menenteng kepala Tumenggung Nayottama dan dua kepala yang lain, Patih Nandini melompat ke atas kudanya dan menderap menuju ke Taman Nawa Kamma. Ke empat adipati saling berpandangan sejenak, sebelum bergegas mengikutinya.
----
Saat itu semua terjadi, Rangga sendiri sedang berlari kembali ke Kademangan Jati Asih. Laki-laki misterius yang menemui Patih Nandini itu tentu saja adalah dirinya.
Setelah menemui Patih Nandini, Rangga segera pergi meninggalkan ibu kota. Malam itu, ketika di ibu kota terjadi pembantaian besar-besaran, Rangga sudah berada jauh di luar ibukota. Namun dari kejauhan dia masih bisa melihat, langit di ibu kota yang menyala merah membara.
“Gila... Dimas Puguh benar-benar sudah menjadi gila.”, desisnya menyaksikan hal itu.
Terkenang dia akan Pangeran Puguh yang masih kanak-kanak. Sejak kecil, wataknya keras, tak mau mengalah pada siapapun. Dalam hal itu, dia mewarisi watak ayahnya.
Rangga memandangi langit di atas ibu kota Watu Galuh yang berpendar merah dan mendesis, “Tapi Pamanda Israya, tidak akan pernah melakukan hal ini...Puguh.. kau bodoh!”
Sambil menggeram marah, Rangga membalikkan badan dan kembali berlari ke arah Kademangan Jati Asih. Tindakan Prabu Jannapati malam itu, meyakinkan Rangga, dirinya tak mungkin bisa menjejak bumi yang sama dengan sepupunya itu.
Selama dia masih hidup, Prabu Jannapati tidak akan tenang dalam tidurnya. Selama Prabu Jannapati hidup, maka dirinya dan orang-orang yang penting bagi dirinya, berada dalam bahaya. Ada banyak pertanyaan berkecamuk dalam benak Rangga.
Apa peran Patih Nandini dalam pembantaian malam ini? Seperti apa hubungan Patih Nandini dengan Prabu Jannapati? Apakah dia hanya seorang patih yang tahu mengikuti perintah rajanya? Atau Patih Nandini dengan aktif membisikkan rencana-rencana ke telinga Jannapati?
Apa pula yang akan dilakukan Jannapati setelah ini?
Pikiran-pikiran itu berputaran dalam benak Rangga, tanpa bisa dia hentikan.