
“Bagaimana dengan keputusan raden mengenai pandangan Ki Ageng Aras, apakah sebaiknya kita bergerak cepat, untuk mendahului persiapan Prabu Jannapati?”, tanya Tumenggung Widyaguna.
Raden Rangga dengan tegas menggelengkan kepala, “Tidak, jika kita berusaha menerobos halangan yang ditempatkan Adi Prabu Jannapati dalam keadaan tidak siap, ini sama seperti bertaruh nasib. Jika ternyata kita sedang bernasib sial, maka akan jatuh banyak sekali korban di pihak kita. Aku memilih untuk mempersiapkan segala sesuatunya dan bergerak setelah memiliki perhitungan yang pasti.”
“Kami mengerti raden.”, jawab Ki Ageng Aras dan Tumenggung Widyaguna hampir bersamaan.
“Jadi ada dua hal yang harus kita lakukan. Pertama mengorganisasi kembali kekuatan militer kita dan yang kedua mencari informasi tentang Kadipaten Jambangan yang ada di depan kita.”, ujar Rangga membuat keputusan.
Barisan panjang itu kembali harus memutar arah, menghindari kemungkinan bahaya yang mengancam di jalur perjalanan yang ada di depan mereka.
Mereka sampai ke tempat tujuan yang baru keesokan paginya.
Dua hari kemudian, di sebuah tanah lapang, penduduk dan prajurit bekerja sama, membangun rumah-rumah sementara. Bukan itu saja kali ini Rangga juga menghendaki dibangun tembok pertahanan mengelilingi rumah-rumah tersebut.
Pekerjaan pembangunan dilakukan dengan menitik beratkan pada kecepatan dan dalam dua hari itu, pekerjaan pembangunan rumah-rumah sementara sudah delapan bagian selesai.
Tembok pertahanan sudah selesai dibuat mengelilingi seluruh bangunan-bangunan yang ada, meskipun masih dibangun apa adanya dan banyak kelemahan di sana-sini. Setidaknya tembok itu mempermudah penjagaan.
Sore itu lima orang anak muda Kademangan Jati Asih, baru saja kembali dari perburuan mereka. Dua orang anak muda, memanggul seekor kijang dengan kaki-kaki terikat menjadi satu dan meggantung di atas tongkat kayu. Sementara dua orang anak muda yang lain membawa busur panah di tangan mereka dan sebilah golok terselip di pinggang. Seorang yang lain hanya membawa sebuah pisau panjang yang terselip di pinggang.
Mereka berjalan dengan kepala tegap dan wajah berseri-seri.
“Kakang, Ki Sembadra akan senang melihat hasil buruan kita.”, ujar salah seorang pemuda yang memanggul hasil buruan mereka.
“Tentu saja, tapi jangan terlalu berpuas diri. Bayangkan ada berapa jumlah orang yang ada di tempat ini. Seekor kidang hanya cukup untuk beberapa keluarga.”, ujar pemuda yang memimpin mereka.
Seorang tiba-tiba mendengus, “Setidaknya masih lebih baik daripada pemalas yang hanya tahu melamun saja.”
Keempat pemuda yang lain menengok ke arahnya, pemuda itu pun menggerakkan kepalanya, menunjuk ke arah seorang pemuda yang nangkring di atas tumpukan potongan kayu bakar. Anak muda itu tampaknya menyadari tatapan mata mereka. Tidak merasa terintimidasi, pemuda itu balas menatap tajam.
“Apa kau lihat-lihat? Mau mengajak berkelahi? Ayo maju, sekalian saja berlima kalau takut.”, seru pemuda itu menantang.
“Gagak Seta! Jangan umbar mulut kau, siapa yang takut padamu?”, pemuda yang melotot ke arah Gagak Seta itu marah.
Dia melemparkan busur panah yang ada di tangannya itu ke tanah dan sudah siap melompat ke arah Gagak Seta yang juga sudah melompat turun dari tumpulan kayu bakar, tempat dia duduk melamun. Namun cepat pemuda yang membawa belati panjang itu menangkap lengan kawannya.
“Tahan!”, katanya dengan tegas.
“Pamuji, apa kau sudah lupa nasehat Ki Jagabaya?”, seru pemuda itu sambil masih memegang lengan kawannya.
Ketika dirasa temannya itu sudah tenang, dia pun melepaskan lengan kawannya itu. Siapa sangka, justru di saat itu, pemuda yang bernama Gagak Seta tertawa dengan nada mengejek dan pandang matanya yang menatap Pamuji seperti mentertawakan pemuda itu.
“Puih... pengecut...”, gumam Gagak Seta sambil meludah ke tanah.
Sontak Pamuji yang sudah hampir berhasil menenangkan diri itu, meledak. Kakinya pun berlari dengan langkah-langkah panjang dan tangan sudah ditarik jauh ke belakang, mengumpulkan tenaga untuk meninju Gagak Seta yang membakar hatinya. Namun Gagak Seta sudah menunggu Pamuji menyerang, dengan sigap dia menyusup maju dan menutup jarak di antara mereka berdua. Tinjunya dengan cepat menghantam lambung Pamuji yang tak terjaga.
Tanpa bisa dicegah, Pamuji terhuyung mundur dan jatuh terduduk, tak mampu lagi melanjutkan pertarungan.
“Lemah...”, ejek Gagak Seta sambil menatap ke arah kawan-kawan Pamuji.
Kawan-kawan Pamuji yang sedang menolong Pamuji yang kesulitan bernafas akibat hantaman Gagak Seta, menjadi marah dan berlompatan berdiri hendak menyerang Gagak Seta. Mereka bukan berpikir untuk mengeroyok Gagak Seta, tapi karena emosi yang tak terkendali itulah yang akan terjadi. Namun pemuda yang menjadi pemimpin bagi kawan-kawannya dengan cepat berseru menghentikan mereka.
“Tahan!”, serunya menggelegar.
“Kalian bantu Pamuji memulihkan keadaannya, Gagak Seta biar aku yang memberi pelajaran.”, ujar pemuda itu.
Kawan-kawannya melototi Gagak Seta dengan marah, tapi mereka dengan patuh mengikuti perintah pemuda tadi.
“Beri dia hajaran yang telak kakang, supaya hilang kesombongannya.”, salah satu berujar.
Pemuda itu menganggukkan kepala, sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah Gagak Seta yang berdiri dengan kaki sudah membentuk kuda-kuda.
“Hehehee... Jaka Segaran, kau sekarang makin berwibawa saja. Aku jadi ingin menjajal ilmu Jaka Segaran, anak Dusun Randu yang berhasil diterima jadi prajurit Raden Rangga Wijaya. Kalau kulihat kalian berlatih, aku pikir tak ada hebatnya.”, ujar Gagak Seta dengan senyum meremehkan.
Jaka Segaran tidak meledak-ledak dengan emosi yang tinggi seperti kawan-kawannya yang lain, dengan tenang dia berjalan ke arah Gagak Seta.
“Kau sudah siap?”, tanyanya dingin.
Wajah Gagak Seta berubah, senyum di wajahnya menghilang, “Hmph...! Makin sok saja kau Segaran. Aku sudah siap sejak tadi, kau boleh memulai kapanpun kau mau.”
“Aku sebenarnya malas melayanimu Seta, tapi kalau kau terus merendahkan kesatuanku, sebagai prajurit aku tidak bisa berdiam diri.”, jawab Jaka Segaran.
“Tak usah banyak alasan Segaran.”, jawab Gagak Seta.
Keduanya menghadapi lawannya dengan serius. Meskipun mereka bercakap-cakap, tapi mata mereka tak pernah lalai untuk mengamati gerakan lawan. Jaka Segaran bergerak semakin lama semakin dekat. Sedangkan Gagak Seta, berdiri dengan kaki terpentang dan kuda-kuda yang kuat, diam menanti lawan, hanya sesekali memperbaiki kedudukan, menyesuaikan diri dengan pergerakan Jaka Segara.
Ketika selangkah lagi Jaka Segaran akan memasuki jangkauan serangan Gagak Seta, keduanya berkelebat cepat bergerak menyerang.
Pikiran keduanya sama, mengacaukan irama lawan, mendadak mengubah selisih jarak di antara mereka berdua dan menyerang. Namun karena keduanya bergerak di saat yang bersamaan, perhitungan keduanya pun jadi meleset.
Jika anak muda lain yang berkelahi, mungkin mereka akan memilih mundur dan mengatur kembali jarak di antara mereka dan lawan. Menciptakan jeda waktu untuk mencari kesempatan yang berikutnya.
Jaka Segaran dan Gagak Seta berbeda jalan pikirnya, mereka sekali lagi berpikiran sama, mengira lawan akan mundur dan memilih untuk menempel ketat posisi lawan dan menekan lawan dengan serangan-serangan yang membabi buta.
Seandainya lawan mereka orang lain, saat ini tentu mereka akan berada di atas angin, karena ketika lawan sibuk menghindar, mereka akan terus menekan dengan serangan, tidak membiarkan lawan mendapat kesempatan untuk bernafas.
Sayangnya sekali lagi mereka salah perhitungan, lawan mereka tidak mundur menghindar.
Pukulan dan tendangan dilancarkan silih berganti, satu dua kali mereka masih berhasil menangkis serangan lawan. Namun dalam pertarungan jarak dekat itu, tanpa terelakkan satu-satu serangan mendarat. Sesekali serangan itu mendarat dengan telak, di lain waktu mereka masih sempat mengegos menghindar atau menangkis.
Kedua pemuda itu akhirnya hanya mengandalkan liatnya otot dan kerasnya tulang untuk menahan serangan. Pertarungan berubah menjadi liar tak lagi mengenal jurus dan taktik.
Dalam sebuah kesempatan, tinju Jaka Segaran secara kebetulan mendarat dengan telak di rahang Gagak Seta. Gagak Seta merasakan dunianya tiba-tiba menjadi gelap. Tubuhnya jatuh ke tanah tanpa tenaga. Jaka Segaran berdiri dengan mata nanar, perlu beberapa tarikan nafas sebelum dia sadar bahwa dia sudah menang.
Gagak Seta pun butuh waktu beberapa tarikan nafas sebelum kesadarannya kembali. Ketika dia menyadari dirinya terbaring di atas tanah, pemuda itu menghela nafas. Sudah beberapa hari ini dia merasa kesal, karena gagal terpilih ketika mengikuti ujian keprajuritan.
Gagak Seta merasa keputusan itu tidak adil, karena dia merasa tak kalah kuat, tak kalah cepat dengan beberapa orang pemuda lain yang justru lolos dari ujian. Perkelahiannya dengan Jaka Segaran serasa menjadi saluran atas kemarahannya.
Gagak Seta dan Jaka Segaran saling berpandangan.
Jaka Segaran berpikir sejenak, tapi dia tidak merasa menang, di akhir-akhir pertarungan mereka hanya saling menyerang membabi buta. Pukulannya memang mendarat dengan telak di rahang Gagak Seta, tapi dia tidak pernah terpikir untuk mengincar rahang Gagak Seta saat melancarkan pukulan itu.
Jaka Segaran pun menggelengkan kepala, sambil menawarkan tangannya untuk membantu Gagak Seta bangun dia berkata, “Tidak, aku belum menang. Pukulan tadi masuk dengan tidak sengaja.”
Gagak Seta menyeringai lebar, dia tidak menolak uluran tangan Jaka Segaran.
“Bagus kalau kau mau mengakui. Lain kali kita harus bertarung sekali lagi.”, kata Gagak Seta sambil bangkit berdiri dibantu oleh Jaka Segaran.
“Plok...plok...plok...plok...”, tiba-tiba mereka mendengar suara seseorang bertepuk tangan.
Kedua pemuda itu menengok ke arah suara tersebut dan sadar, mereka sudah terkepung oleh sepasukan satuan kecil prajurit yang dipimpin oleh seorang perwira yang sering mereka lihat bersama Raden Rangga Wijaya, Rakryan Rangga Aswatama.
Setelah seluruh perhatian mereka terserap pada pertarungan, barulah mereka sadar, ternyata pertarungan mereka ini telah menarik perhatian pasukan pengamanan.
“Mengharukan sekali... dua orang pemuda saling bertatap mata dan … jatuh cinta?”, jengek Rakryan Rangga Aswatama.
“Ti—tidak.”, Jaka Segaran menjawab terbata.
“Diam! Tangkap mereka berdua!”, sergah Rakryran Rangga Aswatama dan prajurit yang mengepung itu dengan sigap menangkap kedua pemuda itu.
Gagak Seta dan Jaka Segaran tidak melawan, mereka mengenal betul siapa yang memberikan perintah. Lagipula dalam hati mereka mengaku bersalah telah membuat keributan.
Rakryan Rangga Aswatama melihat berkeliling dan berkata dengan tegas pada mereka yang ikut menonton keramaian itu, “Ingat! Siapapun juga harus menjaga ketertiban umum. Jangan pikir karena kalian sudah terpilih untuk jabatan tertentu, maka kalian bebas berperi laku!”
Salah seorang kawan Jaka Segaran memberanikan diri, “Ma-maaf Ki... t-ta-tapi, teman kami tidak bersalah.”
Rakryran Rangga Aswatama menoleh dan menatapnya dengan tajam, pemuda itu pun terbungkam diam melihat tatapan matanya.
“Aku kebetulan sedang berpatroli ketika melihat kalian masuk membawa kidang, apa kau bisa mengatakan siapa yang sesungguhnya memulai ini semua?”, tanyanya dengan seulas senyum yang tak selaras dengan tatapan matanya yang dingin.
Pemuda itu pun meneteskan keringat dingin, di antara banyak pengikut Rangga, mungkin Rakryan Rangga Aswatama adalah orang yang paling ditakuti oleh penduduk kademangan. Bukan karena dia sering menindas mereka, hanya saja pengikut Rangga yang satu ini, bisa dikatakan aneh dan memiliki hawa yang misterius.
“Ka-- eh.. aku-- hamba yang--”, pemuda itu dengan wajah pucat dan terbata-bata hendak mengaku salah.
Jaka Segaran menghela nafas dan berseru, “Sudahlah Pamuji...”
“Rakryan Rangga Aswataman, hamba yang bersalah.”, ucap Jaka Segaran hampir serempak dengan Gagak Seta.
Di luar dugaan Jaka Segaran dan kawan-kawannya, Gagak Seta ternyata juga berniat untuk menanggung kesalahan tersebut. Rakryan Rangga Aswatama mengangguk, untuk sesaat wajahnya melembut. Meski hanya sesaat, namun nafas para pemuda itu pun jadi sedikit lega.
“Bagus kalau kalian memiliki jiwa ksatria, namun kesalahan tetap kesalahan.”, ujar Rakryan Rangga Aswatama pada pemuda-pemuda itu.
Dia lalu memberi perintah pada prajuritnya, “Bawa mereka.”
Tanpa ada perlawanan sedikit pun, Jaka Segaran dan Gagak Seta dibawa pergi. Kawan-kawan Jaka Segaran memandang mereka pergi dengan rasa sesal. Salah seorang dari beberapa orang penduduk yang juga ikut menonton, menepuk pundak Pamuji, “Hee... kapok kalian, makanya lain kali jangan gampang berkelahi antar sesama warga sendiri. Sudah, jangan kuatir, kulihat prajurit tadi juga tidak akan memberi hukuman yang berat.”
“Benar, Rakryran Rangga Aswatama mungkin terlihat dingin, tapi seperti semua prajurit yang setia pada Rangga, beliau pun sangat mengagumi sifat ksatria. Bagusnya kalian berani mengakui kesalahan kalian, jika saat itu kalian saling melempar tanggung jawab, aku yakin setidaknya beberapa cambukan akan kalian dapatkan.”, ujar seorang yang lain.
“Apa kawanmu itu baru saja diterima menjadi bagian dari pasukan Raden Rangga?”, salah seorang yang sudah cukup tua bertanya.
Kawan-kawan Jaka Segara menganggukkan kepala, “Benar Ki.”
“Bagaimana dengan pemuda yang jadi lawannya?”, tanya orang tua itu lebih lanjut.
“Dia tidak lolos ujian, sejak itu selalu saja mencari gara-gara.”, jawab salah seorang kawan Jaka Segaran.
“Kalau begitu kawanmu akan menerima hukuman. Seorang prajurit tidak boleh dengan gampangnya membuat keributan. Apalagi melawan penduduk biasa.”, ujar orang tua itu sambil tersenyum.
“Tapi--”
“Tidak ada tapi-tapian. Peraturan dan hukum bagi seorang prajurit itu tegas. Jika tidak demikian, sebagai orang-orang yang dilatih secara khusus, mereka bisa bersikap adigang-adigung, membuat resah masyarakat di sekitarnya.”, ujar orang tua itu dengan tegas, tubuhnya yang renta terlihat menegak, untuk sesaat terlihat sikap keprajuritan memancar dari raut wajahnya.
“Sudahlah, kalian tidak usah khawatir, percayakan saja pada Ki Rakryan Rangga Aswatama.”, ujar orang tua itu.
“Benar, sudah-sudah. Ayo bubar, kembali pada pekerjaan masing-masing.”, ujar seorang yang lain.
Perlahan kerumunan itu pun bubar, kembali pada kegiatan mereka sebelumnya, tentu kali ini sambil menjadikan apa yang baru saja terjadi sebagai bahan obrolan. Kawan-kawan Jaka Segaran dengan hati kecut, membawa buruan mereka ke tempat di mana bahan makanan dikumpulkan, untuk kemudian dibagi-bagikan.
Orang tua yang tadi menasehati kawan-kawan Jaka Segara dan beberapa orang ternyata bekerja tak jauh dari tempat itu, bertugas memperkuat tembok pertahanan yang sedang dibangun. Sambil bekerja mereka bercakap-cakap.
“Kau lihat pemuda-pemuda tadi? Hehe tidakkah membuat kalian teringat pada masa lalu, ketika masih menjadi prajurit bagi Prabu Jaya Lesmana?”
“Ha, benar, menyenangkan melihat mereka punya jiwa ksatria, sedikit bengal itu tak apa, asal jangan jadi pengecut.”
“Tahu tidak? Kalau kupikir-pikir, gelaran wayang yang sering dilakukan itu, punya pengaruh baik pada anak-anak muda kademangan ini.”
“Hmm.... kurasa kau benar, dalam tiap cerita, tersirat ada nilai-nilai kerajuritan yang disampaikan meski dalam bentuk cerita.”, jawab seorang yang lain.
“Bukan hanya nilai-nilai keprajuritan, tapi juga nilai-nilai kemanusiaan.”
“Tentang kemuliaan hidup.”, ujar yang lain.
Sambil bekerja mereka bercakap-cakap dan perlahan menyadari, ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekedar hiburan dalam gelar wayang yang mereka tonton.
“Raden Rangga sungguh bijaksana.”, ujar salah seorang dari mereka.
“Benar, kita sudah tidak salah pilih, memilih untuk mengikutinya.”, sahut yang lain.
Suasana seperti ini bukan hanya terjadi di satu tempat. Tersebar di antara penduduk Kademangan Jati Asih, perasaan yang serupa. Kesulitan-kesulitan dalam perjalanan mereka, tidak membuat mereka patah semangat, justru membuat mereka semakin dekat.
Dalam menghadapi lawan, pasukan Rangga tampil sebagai benteng pertahanan dan bilah pedang yang tajam, yang menebas habis setiap ancaman.
Ketika tidak ada ancaman, mereka hadir membawa ketertiban dan teladan.
Kepercayaan penduduk pada Rangga dan pasukannya, bersambut baik dengan kebijakan dan tindakan-tindakan yang mereka lihat muncul dari Rangga dan pasukannya. Sehingga kesatuan dan ikatan batin itu pun terbentuk semakin erat, antara yang dipimpin dengan yang memimpin.
“Kira-kira bagaimana dengan nasib dua orang pemuda tadi?”, salah seorang dari mereka menyeletuk.