Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab XVI. Awal dari Perjalanan yang Panjang



Seratus orang prajurit berbaris dengan rapi di Balai Kademangan Jati Asih, tiga orang senapati berdiri di depan, memimpin barisan. Mereka berdiri dengan hikmat, mengawasi kelompok terakhir penduduk Kademangan Jati Asih meninggalkan Balai Kademangan.


Hari itu ribuan penduduk Kademangan Jati Asih, bersama-sama, membawa segala harta milik mereka yang bisa dibawa, memulai perjalanan yang panjang, meninggalkan semua yang pernah mereka kerjakan, menuju ke satu tempat yang baru, yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


Selama seminggu tepat, Rangga dan para pengikutnya menyiapkan segala sesuatu yang bisa mereka siapkan.


Jumlah prajurit yang mengikuti Rangga, sekarang genap seribu seratus orang. Setiap seratus prajurit dipimpin oleh tiga orang senapati, dan seratus orang prajurit pilihan dipimpin langsung oleh Tumenggung Widyaguna dan dua orang Rakryan Rangga. Seratus orang prajurit pilihan ini, berkuda dengan perlengkapan lengkap menggantung di masing-masing kuda. Ada busur dan panah, perisai bulat kecil dan juga pedang. Sementara itu sebilah keris terselip di pinggang dan sebatang tombak pendek selalu siap di tangan.


Pembagian seratus orang itu adalah empat puluh orang prajurit berada di bawah senapati utama, dan masing-masing senapati pembantu akan memimpin tiga puluh orang prajurit.


Saat mereka baru turun dari lereng Gunung Awu, mereka hanya membawa sekitar tujuh ratus orang prajurit. Dalam waktu satu minggu mereka bersiap, mereka membuka ujian keprajuritan bagi pemuda-pemuda di Kademangan Jati Asih.


Jumlah seribu seratus itu digenapi dari mereka yang terbaik yang mengikuti. Masih ada sekitar dua ratus orang pendaftar yang tidak diterima.


Rangga tidak menerima mereka masuk ke dalam kesatuan militernya, namun dia menugaskan Ki Demang dan Ki Jagabaya untuk membentuk kesatuan pwngawal kademangan. Selama satu minggu itu pula jumlah penduduk yang akan ikut pindah dihitung dan dicatat.


Kademangan Jati Asih melingkupi sebelas dukuh kecil dan dukuh utama. Tidak kurang dari tiga ribu keluarga. Seluruhnya ada dua delapan ribu tujuh ratus laki-laki, perempuan, anak-anak dan orang tua. Laki-laki yang mampu mengangkat senjata jumlahnya empat ribu lima ratus orang, tidak termasuk dua ratus orang yang menjadi pengawal kademangan dan seribu seratus orang pasukan Rangga.


Sehingga seluruh kekuatan yang bisa dikerahkan Rangga berjumlah lima ribu tujuh ratus orang.


Setelah orang terakhir meninggalkan Balai Kademangan, seratus orang prajurit yang berbaris dengan rapi itu pun perlahan berjalan mengikuti, menjadi ujung terakhir dari barisan yang amat panjang.


Perlahan berjalan mengejar masa depan. Banyak di antara rakyat Kademangan Jati Asih yang tak sadar, bahwa mereka sedang mengukir sebuah catatan bersejarah.


Tidak demikian dengan Rangga, Tumenggung Widyaguna, kedua rakryan rangga dan para senapati, serta prajurit yang mereka pimpin. Mereka percaya, mereka sedang menuliskan sebuah catatan sejarah, tentang sebuah perjuangan mencapai satu cita-cita yang mulia.


Jika darah mereka tumpah, maka itulah tinta yang membentuk kata dan kalimat dalam sejarah. Jika nyawa mereka selesai di sini, mereka percaya jiwa mereka akan terus hidup dalam cita-cita dan perjuangan, dalam hati dan semangat yang tak pernah padam, sampai orang yang terakhir meregang nyawa.


------


Rangga, Ki Ageng Aras dan Tumenggung Widyaguna dengan menunggang kuda, memimpin beberapa ratus langkah, jauh di depan barisan, meninggalkan Rakryan Rangga Aswatama dan Wirapati untuk memimpin barisan.


“Paman Widyaguna, bagaimana dengan kejutan yang kita rencanakan? Apa mereka sudah siap?”, Rangga bertanya.


Tumenggung Widyaguna tersenyum, “Haha, sudah, sudah siap. Apa raden ingin melakukannya malam ini?


Raden Rangga menggelengkan kepala sambil tertawa, “Hahaha, sebaiknya kita tungguh barang seminggu. Semangat mereka semua masih cukup tinggi. Baiknya kita tunggu sampai beberapa hari lagi.”


Tumenggung Widyaguna berucap, “Aku jadi tidak sabar melihatnya.”


Rangga menganggukkan kepala dengan bersemangat, “Tentu saja, aku juga sudah menanti-nanti untuk menyaksikannya nanti.”


“Ha ha ha, aku pun sudah tak sabar ingin melihat bagaimana jadinya nanti.”, sahut Ki Ageng Aras.


“Benar... aku rasa rakyat Kademangan Jati Asih akan menyukainya.”, ujar Tumenggung Widyaguna.


“Sambil menunggu waktu yang tepat, minta para prajurit yang mendapatkan tugas itu untuk terus berbenah dan menyempurnakan.”, kata Rangga pada Tumenggung Widyaguna.


“Tentu, akan hamba sampaikan, dan raden tak perlu kuatir, tanpa diingatkan pun, mereka bersemangat dengan rencana ini.”, jawab Tumenggung Widyaguna.


Bertiga mereka membicarakan banyak hal, besar dan kecil, dua puluh tahun dalam pengasingan tidak membuat Rangga kehilangan semangat hidupnya. Dua puluh tahun dalam pengasingan justru membuat benaknya berisi dengan berbagai macam gagasan dan rencana.


----


Ketika langit mulai memerah, matahari sudah mulai beranjak pamit undur diri, barisan panjang rakyat Kademangan Jati Asih pun mulai membangun tenda-tenda sederhana untuk beristirahat. Baiknya di hari pertama ini, cuaca hari itu cerah, langit tidak berawan.


Sebagian prajurit berjaga, sebagian yang lain dengan sigap membantu banyak di antara warga yang baru pertama kali ini melakukan perjalanan jauh keluar dari desa mereka.


Anak-anak kecil tak mengenal lelah, berlarian dari satu tempat ke tempat lain. Sesekali terdengar orang memaki, “Biayayakan ae! Ojo ngrusuhi nang kene le!” (Biayayakan → tidak hati-hati! Jangan bikin rusuh di sini nak!)


Diikuti suara teriakan dan tawa anak-anak itu, bubar berlarian ke tempat lain, ketika dikejar dengan gagang sapu teracung. Jika di tempat-tempat istirahat sementara dibangun, terlihat suasana yang ramai, dan penuh kehidupan, maka di tempat lain, di sebuah tempat yang cukup lapang berbeda lagi suasananya.


Ratusan pemuda berbaris rapi, berpasangan, saling berhadapan dengan memegang perisai di satu tangan, dan sebilah pedang di tangan yang lain.


Setiap beberapa kelompok, terlihat prajurit yang lebih berpengalaman mengawasi latihan mereka. Bergantian para pemuda itu saling menyerang, dan saling bertahan, mengikuti aba-aba dari prajurit yang melatih mereka.


Dalam latihan itu, tidak dilatih beragam jurus dan kembangan. Hanya tiga macam serangan, menusuk, menyabet silang dari sisi luar, dan menyabet silang dari sisi dalam. Berikut tiga gerakan bertahan, untuk menggagalkan tiga serangan tadi. Berulang-ulang hanya tiga macam gerakan itu dilatih bergantian.


Perlahan langit makin gelap, ketika pekerjaan mereka semua telah selesai, dan keluarga-keluarga berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Menikmati makan malam mereka, sesuai jatah ransum yang dibagikan.


Bulan hampir purnama, menerangi langit yang cerah tak berawan, mereka yang seharian tadi harus berjalan kaki sekarang duduk sambil beristirahat. Beberapa saling memijit, atau ada juga yang memijit-mijit kaki mereka sendiri.


Sambil bercakap-cakap, mereka yang sudah dewasa tidak hanya berdiam diri, tiap-tiap keluarga menyerut batang-batang kayu, memasang mata anak panah, memasang bulu dan mengumpulkan anak-anak panah itu dalam bumbung-bumbung bambu.


Ketika waktu makin larut malam, satu per satu, keluarga demi keluarga pergi beristirahat, sampai akhirnya tinggal tersisa mereka yang mendapatkan tugas untuk berjaga-jaga. Mereka yang berjaga-jaga adalah gabungan antara prajurit dan rakyat Kademangan Jati Asih sendiri.


Perlahan jarak yang tadinya ada, sedikit demi sedikit menghilang. Hubungan antara prajurit dan rakyat, mulai terjalin. Bagaimanapun prajurit-prajurit itu bukan berasal dari Kademangan Jati Asih. Apalagi dengan sorot mata mereka yang terkadang terlihat liar, membuat penduduk kademangan merasa jeri.


Saat dipaksa bertugas bersama-sama, warga biasa, penduduk Kademangan Jati Asih dipaksa untuk berada dekat dengan prajurit-prajurit itu dan akhirnya melihat sisi kemanusiaan dari mereka.


----


Perjalanan sudah berlangsung selama beberapa hari. Suasana di perkemahan jauh lebih sepi dari hari-hari kemarin. Sudah tidak ada hal yang baru yang bisa diceritakan, pemandangan yang sama dan rutinitas yang sama, Membayangkan hari-hari dan malam-malam yang harus dilalui sebelum mereka sampai di tujuan, semangat penduduk kademangan tak setinggi di awal perjalanan, untuk bercakap-cakap pun rasanya tak ada tenaga.


Di tengah keheningan itu, tiba-tiba terdengar bunyi gamelan ditabuh. Menyusul di tempat lain sayup-sayup terdengar suara gamelan.


Penduduk Kademangan Jati Asih yang sedang beristirahat sambil menikmati hangatnya api unggun, saling pandang dengan orang di kiri dan kanannya. Yang sudah berada di dalam tenda, berjalan keluar dan mencari tahu.


Seperti memiliki daya tarik yang magis, perlahan-lahan orang-orang berjalan ke arah suara gamelan terdekat berbunyi. Di sana sudah siap prajurit untuk mengatur tempat duduk bagi mereka yang datang. Tak lama kemudian di banyak titik di perkemahan yang luas itu, terbentuk kelompok-kelompok orang yang duduk berdekatan sambil menonton pemandangan yang baru kali ini mereka lihat.


Ketika penonton sudah duduk di tempat, maka tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dengan suara bergetar rendah mengalun indah, “Heeemm.........hoooo..... Ada cerita dari jaman dulu kala, ketika manusia baru belajar makna dan kata. Naga dan raksasa masih berkuasa, hutan dan binatang buas di mana-mana.”


*Di cerita silat ini wayang kulit belum ada saat itu. Cerita ini 100% fiksi.


Bayang-bayang hitam dengan berbagai bentuk, berkelebatan di layar yang putih terang, imajinasi penonton dibawa terbang, pada suatu masa yang penuh dengan ancaman.


Anak-anak kecil terpana, tanpa sadar menyandarkan tubuh kecil mereka ke ayah atau ibu mereka, mencari kehangatan dan rasa aman. Para pemuda duduk dengan tegak, dada mereka berdeburan dengan semangat berpetualang. Yang sudah dewasa dan yang lanjut usia pun terhisap oleh daya tarik dan imajinasi yang ditampilkan di depan mereka. Rasa lelah yang tadi menyelimuti perkemahan, terusir pergi oleh daya magis imajinasi manusia.


Rangga, Tumenggung Widyaguna, Ki Ageng Aras, dua rakryan rangga, Ki Demang Jati Asih dan Ki Jagabaya, perlahan-lahan, berjalan dari satu tempat ke tempat lain, mengamati reaksi penduduk kademangan terhadap “kejutan” yang sudah mereka siapkan.


“Hasilnya jauh melampaui bayangan kita den.”, ujar Ki Ageng Aras.


Rakryan Rangga Aswatama dengan rasa humornya yang nyeleneh pun kali ini mengangguk-anggukkan kepala dengan ekspresi wajah yang hikmat.


“Rasanya ingin ikut duduk di salah satu barisan penonton itu.”, ujar Ki Jagabaya, matanya lekat menatap layar yang sedang menampilkan beberapa sosok bayang-bayang.


“Hahaha, Ki Jagabaya silahkan ikut menonton, secara garis besar kita sudah bisa melihat reaksi penduduk dengan adanya pertunjukan ini.”, sahut Rangga.


“Hehe... Den Rangga, kalau begitu, apa saya boleh ikut menonton juga?”, Ki Demang menyeletuk.


“Hahaha, tentu saja ki, tentu saja. Monggo silahkan.”, ujar Rangga sambil tertawa.


Sesaat kemudian, Ki Demang dan Ki Jagabaya pun berpamitan pergi, dan berjalan ke arah salah satu barisan penonton yang masih mengikuti permainan wayang kulit yang digelar dengan penuh perhatian. Sambil berjalan ke arah penonton, Ki Jagabaya dan Ki Demang pun bercakap-cakap.


“Kang, aku jadi tak enak, aku kan hanya bercanda saja, mengapa Kakang Demang malah ikut-ikutan.”, keluh Ki Jagabaya.


“Hehe, tak perlu sungkan Di... justru aku berterima kasih padamu. Aku sendiri sudah mencari-cari waktu yang tepat untuk berpamitan.”, jawab Ki Demang.


“Lho, apa pertunjukan ini sebegitu menariknya Kang?”, tanya Ki Jagabaya terheran-heran.


“Hahaha, pertunjukan ini memang menarik dan kita mesti bersyukur bisa menikmati pertunjukan ini. Tapi bukan itu masalahnya.”, jawab Ki Demang.


“Lalu kenapa Kang?”, tanya Ki Jagabaya masih belum mengerti.


Ki Demang menghela nafas, “Di, kita ini hanya pamong sebuah kademangan. Memang Raden Rangga, Ki Tumenggung dan yang lain tidak mempermasalahkan itu. Namun ada baiknya kita tahu diri. Apakah Adi Jagabaya tidak menangkap atau merasa, bahwa sesungguhnya Raden Rangga sedang meletakkan dasar-dasar bagi berdirinya sebuah kerajaan?”


“Oh...”, Ki Jagabaya terdiam cukup lama, pikirannya pun mulai terbuka.


“Jangan berpikir terlalu jauh, mungkin ini perasaanku saja. Pada waktunya nanti, tentu Raden Rangga akan memberi tahu kita.”, ujar Ki Demang sambil menepuk-nepuk bahu Ki Jagabaya.


“Jangan kuatir Kang, aku ini hanya tahu berkelahi. Aku tidak mau pusing, Raden Rangga bilang ke timur, aku ke timur, dia bilang ke barat, aku ke barat.”. Sesaat kemudian Ki Jagabaya menjawab dengan ringan, tak mau ambil pusing dengan rumitnya rencana Rangga.


Rangga dan yang lain melanjutkan perjalanan mereka, mengamati keadaan dari satu tempat ke tempat lain. Di sekeliling perkemahan, di tempat-tempat yang terlihat dan tak terlihat, prajurit-prajurit dan para senapati mengamankan keadaan di sekeliling mereka. Memastikan tak ada begal atau rampok yang mencari peluang. Memastikan tak ada binatang buas yang menyasar dan mengacaukan keadaan.


Rakryan Rangga Aswatama yang pertama membuka mulut, “Aku tak tahu, apa para prajurit bisa bertahan berapa lama. Wilayah yang harus diamankan terlalu luas.”


Rangga bertanya, “Bagaimana dengan anak-anak muda dari Kademangan Jati Asih sendiri?”


Rakryan Rangga Wirapati menjawab, “Mereka berlatih dengan tekun, tapi belum bisa dilepas sendiri, untuk saat ini jumlahnya sudah tepat. Tiap kesatuan terdiri dari tujuh sampai delapan bagian prajurit yang berpengalaman dan dua sampai tiga bagian anak-anak muda itu.”


“Jika hanya untuk membuka jalan dan mengamankan perjalanan ini dari binatang buas dan kumpulan begal kecil, jumlah kita sudah mencukupi. Masalahnya kita semua dalam satu perjalanan, setengah pasukan yang tidak sedang bertugas pun, tidak bisa sepenuhnya beristirahat. Apalagi pekerjaan membuka jalan sangatlah berat. Yang kami kuatirkan adalah bila tiba-tiba kita harus menghadapi serangan dari sebuah pasukan yang cukup besar.”, Tumenggung Widyaguna menjelaskan.


Rangga mengangguk, “Paman-paman benar, sampai saat ini kita masih beruntung, belum bertemu dengan ancaman yang terlalu besar. Namun semakin lama kita di perjalanan, semakin sulit untuk merahasiakan keberadaan kita.”


“Termasuk juga jalur dan tujuan yang kita pilih. Cepat atau lambat, kita akan menghadapi lawan yang menyiapkan pasukan untuk menyergap.”, kata Rakryan Rangga Aswatama.


“Siapa yang bertugas jadi pasukan pengintai dan mengawasi keadaan di sekitar kita?”, tanya Rangga.


“Kesatuan yang dipimpin Bayu Bayanaka, yang saat ini bertugas untuk mengamati keadaan.”, jawab Rakryan Rangga Aswatama.


“Berapa jauh mereka menyebar?”, tanya Rangga.


“Setidaknya seluas beberapa hari perjalanan. Untuk sementara ini, kabar dari mereka tidak pernah terputus. Belum ada tanda-tanda bahaya.”, jawab Rakryan Rangga Aswatama.


Tumenggun Widyaguna melanjutkan laporan Rakryan Rangga Aswatama, “Kami pikir, ada baiknya kita mencari tempat untuk beristirahat beberapa hari lamanya. Selain untuk mengistirahatkan pasukan, juga untuk melatih lebih banyak warga kademangan agar bila kita perlukan, mereka juga bisa digunakan dalam pertempuran.”


Rangga mengerutkan alis, dia tidak ingin melibatkan penduduk biasa dalam pertempuran.


Rakryan Rangga Aswatama berujar, “Raden, jika raden tak ingin tangan mereka terciprat darah sedikitpun, sebaiknya raden perintahkan mereka untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.”


“Aswatama, jangan kurang ajar!”, tegur Tumenggung Widyaguna.


“Hmph..”, Rakryan Rangga Aswatama mendengus.


Rakryan Rangga Wirapati diam-diam menggamit tangan Rakryan Rangga Aswatama, mengingatkan.


“Maafkan aku Den Rangga...”, ujar Rakryan Rangga Aswatama setelah sebelumnya lebih dahulu melototkan matanya ke Rakryan Rangga Wirapati.


Rangga dengan ramah menepuk pundak Rakryan Rangga Aswatama, “Tidak apa-apa paman, tidak perlu minta maaf. Aku memerlukan kalian semua untuk mengingatkanku, bila aku melakukan kesalahan. Jadi tidak perlu paman minta maaf.”


Rakryan Rangga Wirapati melaporkan lebih lanjut, “Dari segi persenjataan, hanya seratus orang prajurit yang lengkap memiliki kuda tunggangan dan persenjataan mulai dari busur panah, perisai, pedang dan tombak. Sisa prajurit yang lain hanya membawa satu senjata dan sebagian besar tidak membawa perisai. Pasukan cadangan yang terdiri dari penduduk kademangan, mengadakan senjata sendiri-sendiri. Aku lihat cukup banyak yang hanya bersenjatakan tongkat kayu.”


Mereka akhirnya sudah sampai di ujung perkemahan, berjalan sedikit lebih jauh lagi, ke dataran yang sedikit lebih tinggi, mereka berdiri memandangi perkemahan yang beristirahat dalam gelapnya malam, dihiasi nyala api-api unggun.


Tumenggung Widyaguna bertanya pada Rangga, “Jadi bagaimana menurut pendapat Raden Rangga?”