
Ketika Gagak Seta sedang dibawa ke tempat hukuman, di tempat lain, ke empat senapati utama dan Adipati Jalak Kenikir mengadakan pertemuan.
“Waktu yang hanya beberapa bulan, tidak cukup untuk menyatukan prajurit-prajurit lama dengan prajurit-prajurit yang baru.”, Senapati Glagah Wiru menutup laporannya.
Adipati Jalak Kenikir dengan ringan menjawab, “Tidak masalah, hal itu sudah termasuk dalam perhitungan kita semua. Kau sudah melakukan yang benar dengan menghukum prajurit baru itu. Setidaknya untuk waktu dekat ini, kesatuan prajurit yang sudah kita latih selama bertahun-tahun akan menjadi kekuatan inti dari kekuatan militer kita, karena itu kita harus benar-benar menjaga kesetiaan mereka.”
Senapati Glagah Wiru mengerutkan kening dan bertanya, “Tapi Ki Adipati, bagaimana kita bisa mengambil hati orang-orang yang punya potensi seperti Gagak Seta hari ini, jika kita bertindak dengan tidak adil? Sayang sekali, jika kita sampai kehilangan kesempatan untuk menampung pemuda-pemuda yang berbakat seperti dirinya.”
Adipati Jalak Kenikir tertawa kecil, “Hehehe, untuk itu aku ingin Ki Glagah Wiru untuk sedikit berkorban.”
Senapati Glagah Wiru tercenung sejenak, lalu dengan cepat menjawab, “Tentu saja, demi Kadipaten Jambangan, jangankan sedikit pengorbanan, jika Ki Adipati meminta aku mempertatuhkan nyawapun aku sudah siap.”
Adipati Jalak Kenikir bergegas menjawab, “Tidak, tidak, tenaga Ki Glagah Wiru sangat kami butuhkan, bagaimana mungkin kami meminta Ki Glagah Wiru berkorban sedemikian besar. Yang kami minta ini kecil saja, tidak akan membahayakan Ki Glagah Wiru, tapi mungkin Ki Glagah Wiru perlu berkorban perasaan.”
Senapati Glagah Wiru menjawab tanpa ragu, “Silahkan Ki Adipati jelaskan.”
“Kita perlu seseorang untuk menenangkan prajurit-prajurit yang lama, mengambil hati mereka, tapi juga mengekang mereka agar mereka jangan bertindak terlampau jauh. Peran itu sekarang sudah diambil oleh Ki Glagah Wiru dengan kejadian hari ini.”, Adipati Jalak Kenikir menjelaskan.
Mata Senapati Glagah Wiru berkilat, sambil menepuk lututnya dia berujar, “Ah... aku mengerti.”
Ke empat senapati utama ini, tidak seorangpun yang berakal pendek. Cukup Adipati Jalak Kenikir menjelaskan satu dan dua, mereka bisa meneruskan tiga, empat dan selanjutnya.
Senapati Lesmana pun bertanya, “Jika demikian, siapa yang Ki Adipati tugaskan untuk mengambil hati prajurit-prajurit yang baru?”
Adipati Jalak Kenikir berpikir sejenak, lalu baik bertanya, “Menurut kalian, siapa yang paling cocok untuk tugas ini? Ki Glagah Wiru sudah pasti tidak bisa.”
Ke empat senapati utama itu saling berpandangan, Senapati Rendra kemudian berkata, “Aku pikir Adi Lesmana yang paling sesuai dengan peran ini. Usianya yang paling muda di antara kita. Sifatnya pun tidak terlalu ketat dengan peraturan, sangat bersesuaian dengan latar belakang sebagian besar prajurit-prajurit yang baru kita terima.”
Senapati Nakula mengangguk, “Benar, jika aku atau Kakang Rendra yang menjadi pimpinan mereka, rasanya kami tidak tahan melihat sikap mereka yang petakilan.”
Adipati Jalak Kenikir mengelus-elus jenggotnya yang tebal dan sudah mulai beruban, “Tapi tidak boleh pula mereka bersikap terlalu lepas. Perlahan-lahan kita harus mengenalkan kedisiplinan militer pada mereka.”
Senapati Glagah Wiru menjawab, “Tugas itu biarlah aku yang mengembannya.”
Tiga senapati yang lain mengangguk setuju, Senapati Rendra menambahkan, “Kepalang basah, Adi Glagah Wiru saat ini sudah menanamkan kesan yang tidak baik dalam hati mereka. Baik juga sekalian dia menjadi momok yang menakutkan.”
Senapati Nakula menimpali, “Sebenarnya Kakang Glagah Wiru tidak terlampau merugi. Benar memang namanya menjadi buruk bagi prajurit-prajurit yang baru, tapi di saat yang sama sikapnya ini akan merebut hati prajurit-prajurit lama.”
Adipati Jalak Kenikir tidak langsung setuju, dia masih berpikir dan kemudian bertanya, “Apakah cukup Ki Lesmana saja yang memimpin prajurit-prajurit yang baru? Jumlah mereka saat ini sudah hampir dua kali lipat lebih banyak dari prajurit-prajurit yang lama.”
Ke empat senapati utama itu terdiam untuk beberapa lama. Senapati Lesmana tidak berani mengemukakan pendapat, dirinya adalah yang termuda dari mereka berempat, jika kesatuan militer di bawah pimpinan-nya justru berjumlah lebih besar dari tiga senapati yang lain, bisa saja menimbulkan kesan yang tidak baik di hati ketiga orang rekannya.
Senapati Glagah Wiru yang memecahkan kebuntuan itu, sambil menepuk pundak Senapati Lesmana dia berucap, “Aku percaya pada kemampuan Adi Lesmana. Dia pasti mampu mengendalikan prajurit-prajurit yang baru kita rekrut itu.”
Ketika melihat Adipati Jalak Kenikir belum bisa mengambil keputusan, Senapati Nakula menambahkan, “Ki Adipati tidak perlu kuatir akan muncul ketidak seimbangan dalam kekuatan militer kita. Memang saat ini kita tidak bisa mengintegrasikan prajurit-prajurit yang baru ke kesatuan yang lama karena kita tidak memiliki cukup waktu. Tidak ada cukup waktu untuk menanamkan kedisiplinan, tidak cukup waktu untuk menyaring siapa yang bisa dipercaya, yang berani dan sebagainya.”
“Namun seiring dengan berjalannya waktu, kita bisa menyaring dari mereka, yang mana yang layak, untuk dipindahkan menjadi bagian dari kesatuan inti kita.”, ujar Senapati Nakula.
“Hmm.... Baiklah, kalau begitu, aku putuskan Ki Lesmana untuk menyatukan seluruh prajurit dan calon prajurit yang baru saja kita terima, menjadi satu kesatuan pasukan, di bawah pimpinan Ki Lesmana.”, ujar Adipati Jalak Kenikir memutuskan.
“Siap Ki Adipati, akan aku laksanakan sebaik mungkin.”, ucap Senapati Lesmana dengan hormat.
“Tapi dengan jumlah pasukan sedemikian besar, siapa yang akan membantumu mengendalikan mereka? Kau harus pikirkan itu baik-baik. Apakah kau ingin membawa sebagian pembantumu yang terpercaya?”, tanya Adipati Jalak Kenikir pada Senapati Lesmana.
Senapati Lesmana berpikir sejenak lalu menjawab, “Tidak Ki Adipati, mungkin hanya dua atau tiga orang bekel, selebihnya akan aku ambil dari prajurit-prajurit baru ini sendiri.”
Senapati Glagah Wiru mengangguk setuju, “Benar, aku rasa keputusan Adi Lesmana ini perlu didukung Ki Adipati. Dengan memberikan orang-orang yang berbakat kesempatan untuk naik tingkat dan menduduki jabatan yang penting, kita bisa menarik perhatian lebih banyak orang yang berbakat dan mempertahankan mereka yang sudah bergabung dengan kita.”
Adipati Jalak Kenikir tertawa, “Kau masih memikirkan pemuda yang bernama Gagak Seta itu Ki?”
Senapati Glagah Wiru tanpa ragu menganggukkan kepala, “Ya, sekilas kulihat pemuda itu memiliki ilmu yang cukup matang. Tapi lebih penting dari itu, dia punya rasa tanggung jawab pada tugasnya dan tahu pula menahan diri.”
“Hmm.... aku jadi ingin tahu seperti apa pemuda itu. Jangan kuatir Ki..., tentu saja kita harus berusaha mempertahankan prajurit-prajurit yang berkualitas, yang bisa dipercaya. Ki Lesmana, tentu punya cara untuk mengobati kekecewaan pemuda itu.”, jawab Adipati Jalak Kenikir.
Senapati Lesmana tersenyum, “Jangan kuatir Kang, aku akan perhatikan pemuda yang namanya Gagak Seta itu, kalau-kalau memang dia layak untuk mendapatkan pangkat tertentu.”
------
Bukan hanya di pihak Kadipaten Jambangan yang terjadi percakapan yang serius, di pihak Rangga Wijaya pun sedang terjadi pertemuan yang serius. Saat itu hanya ada Rangga Wijaya, Ki Ageng Aras, Tumenggung Widyaguna dan Rakryran Rangga Aswatama.
Rakryan Rangga Aswatama menyampaikan laporan hasil dari berita-berita yang dikumpulkan oleh pasukan telik sandi yang tersebar di berbagai tempat.
“Jadi seperti demikian keadaan-nya, kondisi di perbatasan Kerajaan Watu Galuh mulai memanas, tapi belum terjadi pertempuran besar-besaran. Sementara di Kadipaten Jambangan Adipati Jalak Kenikir menerima prajurit baru secara besar-besaran.”, ujarnya menutup laporan.
“Jadi menurut Paman Aswatama ini kesempatan terbaik bagi prajurit-prajurit telik sandi kita untuk mencari kedudukan dalam pasukan Kadipaten Jambangan?”, tanya Rangga.
“Benar raden, ini kesempatan yang terbaik, apalagi berdasarkan setiap laporan yang masuk dari pasukan kita yang sudah berhasil menyusup di sana, kondisi pasukan yang baru ini masih belum terorganisasi dengan baik.”, jawab Rakyran Rangga Aswatama.
“Menurut paman apa mereka memiliki kesempatan yang bagus?”, tanya Rangga.
“Secara kedisiplinan dan sikap keprajuritan, mereka memiliki kelebihan. Namun dari kemampuan olah kanuragan, terus terang ada banyak pesaing yang cukup berat untuk mereka.”, jawab Rakyran Rangga Aswatama.
Untuk sesaat Rangga terdiam, kemudian dia menoleh ke arah Ki Ageng Aras, “Paman Ki Ageng Aras, aku harap paman tidak keberatan jika aku meminta paman untuk memberi mereka yang saat itu bertugas menyusup ke Kadipaten Jambangan sedikit bekal dalam menunaikan tugas mereka.”
Ki Ageng Aras berpikir sejenak sebelum menjawab, “Tentu saja aku akan mengusahakan yang terbaik, tapi waktu yang hanya beberapa bulan, tentu sangat terbatas apa yang bisa aku lakukan.“
“Tentu saja paman, kita semua di sini menyadari keterbatasan waktu yang ada.”, jawab Rangga.
“Baiklah, tentu saja aku akan mengusahakan yang terbaik.”, jawab Ki Ageng Aras.
“Yang kedua, kalian semua tentu sudah tahu, kondisi kita saat ini. Menurut perhitungan Paman Wirapati, simpanan bahan pangan kita hanya cukup sampai 2 bulan ke depan. Artinya Adi Prabu Jannapati, tidak perlu mengirimkan pasukan mendatangi kita, cukup menahan kita di sini selama dua bulan dan setelah itu dia bisa menyuruh Adipati Jalak Kenikir dan pasukannya datang untuk mengumpulkan mayat kita semua.”, ujar Rangga sambil melihat berkeliling.
Rangga tersenyum, “Aku punya rencana...”
Mendengar perkataan Rangga dan melihat ekspresi-nya yang tenang, untuk sejenak Tumenggung Widyaguna, Ki Ageng Aras dan Rakryran Rangga Aswatama saling berpandangan, sebelum kemudian mengalihkan pandangan mereka ke arah Rangga dengan rasa ingin tahu terpancar dari sorot mata mereka.
Satu kalimat saja dari Rangga, sudah berhasil mengusir pergi awan gelap yang menaungi hati mereka.
----
Sementara itu di sebuah perkemahan militer yang besar, masih di dalam wilayah Kadipaten Serayu, di tenda utama, terlihat Prabu Jannapati bersama dengan Patih Nandini, beberapa orang tumenggung dan senapati.
Beberapa orang senapati baru saja menyampaikan laporan, yang seorang melaporkan situasi di perbatasan, yang seorang lagi menyampaikan laporan tentang situasi di Kadipaten Jambangan dan seorang yang lain melaporkan situasi di perhentian Raden Rangga.
“Hanya ini yang bisa kau laporkan?”, tanya Prabu Jannapati pada senapati yang bertugas mengumpulkan berita tentang situasi di tempat Raden Rangga.
“Maaf Prabu, keamanan mereka sangat ketat, dari sekian banyak orang yang dikirimkan, beberapa tidak berhasil kembali dari tugas.”, ujar senapati tersebut dengan suara sedikit bergetar dan kepala tertunduk.
Di luar dugaan senapati tersebut, Prabu Jannapati tidak marah seperti biasanya. Senapati itu diam-diam memberanikan diri mengangkat kepala dan melihat ke arah Prabu Jannapati. Dilihatnya, Prabu Jannapati sedang membaca dengan tekun gulungan lontar yang berisi semua keterangan yang bisa dia kumpulkan.
Prabu Jannapati melemparkan lontar itu ke arah Patih Nandini sambil bertanya, “Kau tentu sudah membaca laporan itu dengan lengkap. Bagaimana menurutmu?”
“Pasukan telik sandi kita memang mengalami kesulitan untuk mengumpulkan keterangan, hal ini wajar saja terjadi karena Raden Rangga dan pengikutnya memang berada dalam lingkungan yang tertutup rapat, tidak mengadakan komunikasi dengan dunia luar.”, ujar Patih Nandini menjawab Prabu Jannapati.
Patih Nandini pun lanjut menjelaskan, “Di saat yang sama, dengan kebijakan itu, mereka pun tentu akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Jadi rasanya perhitungan Senapati Ekasatya tentang simpanan bahan pangan mereka itu tidak terlalu meleset jauh. Mudah saja dihitung berapa yang dibawa keluar dari Kademangan Jati Asih, berapa kira-kira konsumsi mereka setiap harinya dan berapa lama mereka bisa bertahan.”
Prabu Jannapati mengangguk puas dan menoleh ke arah Senapati Ekasatya, “Bagus, kau bisa memakai otakmu. Sekarang aku tugaskan padamu, terus ganggu mereka, pertahankan situasi saat ini, di mana mereka tidak berani berkeliaran terlalu jauh dari garis pertahanan mereka. Dengan begitu cadangan makanan mereka pun akan menipis dengan lebih cepat.”
Senapati Ekasatya pun dengan hati lega menjawab, “Siap baginda prabu.”
Prabu Jannapati mengibaskan tangannya tak sabar, “Kau pergi dan laksanakan tugasmu sekarang.”
“Siap baginda prabu.” Melihat Prabu Jannapati mulai tak sabar, Senapati Ekasatya pun tak berani berlama-lama, buru-buru dia bangkit berdiri dan pergi melaksanakan tugas yang diberikan.
Prabu Jannapati tertawa terkekeh, “Hahaha, Rangga... Rangga..., mari kita lihat, sampai berapa lama kau bisa bertahan.”
Tapi sesaat kemudian dia mengerutkan alis, meraih cawan di dekatnya dan membanting cawan itu ke lantai, “Sialan!”
“Nandini, kalau terus menerus seperti ini, jadinya kita hanya memberi kesempatan Jalak Kenikir memperkuat pasukannya!”, seru Prabu Jannapati pada Patih Nandini.
Patih Nandini mengangguk sabar, “Kalau memang Raden Rangga terus bertahan, memang demikian. Tapi apa mungkin Raden Rangga akan diam saja menerima nasib?”
Prabu Jannapati menggelengkan kepala, “Tidak mungkin.”
“Karena itu, cepat atau lambat, Raden Rangga pasti bergerak ke arah Kadipaten Jambangan, dan pada saat itu terjadi, bila sampai Raden Rangga berhasil memenangkan pertempuran. Pasukan kita cukup dekat untuk segera mengejar dan membasmi mereka.”, jawab Patih Nandini.
Prabu Jannapati mengangguk puas, “Bagus... bagus... Sekarang, bagaimana dengan si Tua Gading itu?”
Pertemuan pun dilanjutkan dengan membahas situasi di perbatasan selatan Kerajaan Watu Galuh, di mana pasukan Adipati Gading Kencana dan sekutunya sudah berkumpul, siap berhadapan dengan pasukan Prabu Jannapati.
-----
Beberapa hari kemudian, di perkemahan tempat Adipati Gading Kencana dan pasukannya mendirikan markas, Adipati Gading Kencana dan sekutu-sekutunya juga sedang berkumpul. Setelah upacara pengangkatan Pangeran Adiyasa yang sekarang bergelar Prabu Jayabhuanna, akhirnya terkumpul sembilan kadipaten yang bersedia memberikan dukungan padanya.
Saat ini ke sembilan adipati itu berkumpul untuk membahas situasi mereka, sementara Prabu Jayabhuanna duduk mendengarkan.
“Hmm.... tak kusangka Prabu Jannapati tanpa ragu, menggerakkan hampir semua kekuatan militernya ke selatan.”, ujar seorang adipati yang baru bergabung dalam persekutuan mereka ini.
“Tidak masalah, jangan dikira pasukan yang dikerahkan ini sudah merupakan seluruh kekuatan Kerajaan Watu Galuh, terlampau meremehkan jika kita berpikir demikian.”, jawab Adipati Gading Kencana.
Beberapa adipati yang baru bergabung saling memandang dengan wajah khawatir. Salah seorang dari mereka memberanikan diri bertanya, “Jika benar demikian, apa kita punya kemungkinan untuk memenangkan peperangan ini?”
“Hmph.., apa kau takut?”,, jengek Adipati Karangpandan.
“Hee... apa kau menghinaku!?”, adipati yang diejek itu pun merasa panas.
“Tenang semuanya.”, Adipati Gading Kencana menggeram.
“Apa perlunya berkelahi di antara kita sendiri? Ki Adipati Janaka harap tak perlu berkecil hati, bukan tanpa alasan kenapa Prabu Jannapati tidak bisa mengerahkan seluruh pasukannya ke selatan. Bukankah di utara dan barat sudah ada juga kekuatan-kekuatan yang mengincar wilayah Kerajaan Watu Galuh?”, ujar Adipati Gading Kencana mendamaikan mereka.
“Peperangan ini akan menjadi peperangan yang cukup panjang, tidak akan selesai dengan satu-dua pertempuran. Saat ini kita harus bersabar menunggu, jangan menyia-nyiakan kekuatan pasukan kita, sehingga muncul orang ketiga untuk mengambil keuntungan.”, Adipati Gading Kencana meneruskan penjelasannya.
“Kalau begitu mengapa kita mengumpulkan pasukan kita di perbatasan Kerajaan Watu Galuh?”, tanya seorang adipati yang lain.
Adipati Gading Kencana buru-buru menjawab, karena melihat Adipati Karangpandan sudah siap-siap memaki lagi, “Dengan kita mengumpulkan pasukan kita di perbatasan mereka, mau tidak mau Prabu Jannapati harus mengirimkan pasukannya pula ke selatan. Sehingga pertahanan di utara dan barat, tentu jadi melemah. Inilah umpan bagi agar ada kekuatan lain yang berani bergerak menyerang Kerajaan Watu Galuh.”
Adipati Panjalu yang dari tadi diam pun menimbrung, “Dan bukan berarti kita akan diam saja. Jika tiba-tiba muncul kesempatan untuk memperluas wilayah kita, atau memperkuat posisi kita, kenapa tidak?”
“Benar, yang penting, kita hanya menyerang ketika kesempatan itu sudah benar-benar matang. Tidak perlu terburu-buru.”, kata Adipati Gading Kencana membenarkan.
Saat mereka masih hendak melanjutkan diskusi mereka, tiba-tiba datang seorang senapati dengan wajah tegang membawa kabar, “Hormat pada Prabu Jayabhuanna. Hormat pada para adipati sekalian, ada seorang utusan datang membawa pesan, memohon ijin agar bisa bertemu dengan Prabu Jayabhuanna dan para adipati sekalian secara langsung.”
Adipati Karangpandan mendengus, “Siapa utusan yang tidak tahu diri itu? Memangnya utusan siapa dia ini, hendak meminta menghadap langsung?“
Adipati Guntur Aji pun mengerutkan alis, “Masa Prabu Jannapati mengirimkan utusan?”
Senapati itu buru-buru menjawab, “Bukan utusan dari Prabu Jannapati.”
Sebelum senapati itu menjelaskan, tiba-tiba terdengar suara yang lirih, seperti desiran angin menyusup masuk ke tenda itu, lirih namun terdengar jelas oleh mereka semua yang ada di dalam tenda, “Aku Tumenggung Widyaguna, apa menurut kalian aku tidak pantas untuk menghadap?”