Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab XXXIX Gagak Seta vs Tapakdara



Diam-diam Gagak Seta dan beberapa rekan-rekannya saling bertukar pandang, bagaimana mereka membagi kelompok?


Ada tiga puluh tujuh orang prajurit telik sandi Rangga yang sekarang menyusup ke dalam kesatuan militer Adipati Jalak Kenikir. Mereka semua berhasil bertahan sampai mereka mencapai panggung. Partajaya yang tertua di antara mereka, dan sering mengambil posisi sebagai pemimpin berbisik pada Gagak Seta, “Bagaimana?”


Karena Senapati Lesmana memerintah mereka untuk membentuk sendiri kelompok-kelompok kecil, maka saat ini cukup banyak prajurit yang saling bertukar pendapat, sehingga tidak terlalu mencurigakan ketika Partajaya mengajak Gagak Seta berdiskusi.


Otak Gagak Seta bekerja keras, berpikir dengan cepat, “Kita bagi orang kita jadi tujuh kelompok. Jika perlu bekerja sama dalam kelompok, kita menjadi mayoritas di dalam kelompok. Jika perlu kerja sama antar kelompok, kita bisa punya tujuh kelompok yang berbeda untuk bekerja sama.”


Partajaya berpikir sebentar dan segera menyetujui pemikiran Gagak Seta, “Hmm... kau benar, baik, aku akan sampaikan ke yang lain.”


Ketika semuanya sudah berakhir dalam 34 kelompok-kelompok kecil beranggotakan sepuluh orang, dengan sebagian kelompok berisi sebelas orang, prajurit-prajurit telik sandi Rangga sudah terbagi di tujuh kelompok yang berbeda.


Senapati Lesmana melihat bekeliling, menatap mata mereka satu per satu, dan berkata, “Hmm... bagus, sekarang masing-masing kelompok, silahkan memilih satu orang dari kelompok kalian untuk menjadi pemimpin. Mereka yang terpilih akan mendapat pangkat Bekel.”


Para prajurit di atas panggung pun saling pandang dengan macam-macam pikiran dalam kepalanya.


Senapati Lesmana kemudian menambahkan, “Aku tidak peduli bagaimana caranya kalian memilih satu di antara kalian, mau berkelahi, mau saling keroyok, mau kalian bicarakan baik-baik, itu terserah kalian. Yang perlu kalian ingat, orang yang terpilih nanti akan menjadi Bekel yang akan bertanggung jawab memimpin Lurah-Lurah Prajurit yang ada di kelompoknya itu.”


Gagak Seta kebetulan berada di kelompok dengan sebelas orang anggota, dengan enam orang dari mereka adalah prajurit telik sandi Raden Rangga.


Gagak Seta menatap ke mereka satu per satu sambil berkata dengan lambat dan tegas, “Aku akan menjadi pemimpin kelompok ini. Kalian yang tidak setuju, aku persilahkan untuk maju bertarung dengan tangan kosong, satu lawan satu denganku.”


Mereka pun saling tatap dengan ragu-ragu, seorang prajurit berkata, “Aku tidak keberatan.”


Disusul dua-tiga orang prajurit yang lain, menyatakan hal yang sama.


Tiba-tiba seorang prajurit maju selangkah ke depan. “Aku ingin mencoba ilmumu dulu Gagak Seta.”


“Silahkan kakang.”, jawab Gagak Seta sambil mundur selangkah.


Prajurit-prajurit yang lain pun bergerak mundur, menyisakan ruang bagi keduanya untuk bertarung. Di tempat lain, hal yang kurang lebih sama terjadi. Tidak ada kelompok yang memilih pemimpinnya tanpa melalui pertarungan. Bedanya ada di jumlah prajurit yang ingin bersaing untuk menjadi Bekel. Di tiap kelompok selalu ada mereka yang menyadari kemampuannya tidak cukup, dan puas dengan pangkat Lurah Prajurit, tapi juga selalu ada dua sampai empat orang yang merasa diirnya punya kemampuan untuk menjadi Bekel.


“Awas serangan!”, prajurit yang menantang Gagak Seta dengan cekatan melompat sambil menendang ke arah kepala.


Gagak Seta dengan lincah, menggeser sedikit kedudukannya sehingga tendangan lawan hanya berdesir lewat di depan mukanya. Kemudian ketika lawan masih dalam keadaan melayang, Gagak Seta sedikit merendahkan tubuh dan balas menendang rendah, menyapu kaki lawan.


Tanpa bisa dihindari, tubuh lawan pun berputar di udara.


Namun lawan Gagak Seta bukan orang yang tidak punya kepandaian, dia berani menantang karena memiliki bekal yang cukup. Cepat dia memutar tubuhnya mengikuti arah putaran, sehingga sebelum Gagak Seta bisa menyusulkan serangan yang kedua, salah satu tangannya sudah mencapai tanah. Dengan menggunakan tangan sebagai penopang, dia menggeliat dan mengirimkan tendangan susulan.


Kedua kaki berputaran seperti baling-baling, menyerang pinggang dan kepala Gagak Seta secara berturut-turut.


Gagak Seta bisa saja menghindar tapi tadi ketika mereka mulai bergebrak, pemuda itu sempat berpikir, 'Aku harus menunjukkan kelebihanku, supaya bisa menaklukkan hati mereka.'


Karena memiliki pemikiran seperti itu, maka Gagak Seta kemudian melakukan sesuatu yang tak terduga. Diam-diam sejak tadi dia sudah mulai menggerakkan hawa murni dalam tubuhnya dan sekarang dia sudah siap. Maka ketika tendangan kaki lawan meluncur ke arahnya, Gagak Seta tidak menghindar, melainkan dengan tenang memapak tendangan lawan dengan kedua telapak tangannya.


Prajurit yang menjadi lawan Gagak Seta terkesiap, ketika kedua tangan Gagak Seta memapak tendangannya dengan gerakan melingkar, tenaganya seperti tiba-tiba terserap dan dengan mudah Gagak Seta menangkap kedua kakinya.


Belum hilang rasa kagetnya, dia merasa kaki Gagak Seta dengan ringan menyentuh lehernya yang terbuka lebar, tanpa pertahanan.


“Aku menang kakang.”, ujar Gagak Seta melepaskan kuncian di kaki lawan, mendorongnya menjauh dan bergerak menyurut mundur beberapa langkah.


Prajurit itu dengan gesit, melenting dan melompat berputaran beberapa kali mundur ke belakang, sebelum berdiri dengan tegak.


Dia terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Kau menang, aku siap menerimamu sebagai pimpinan.”


“Ada yang lain?”, Tanya Gagak Seta dengan tenang.


Melihat bagaimana dengan mudah Gagak Seta mengalahkan lawannya, seorang prajurit lain, yang tadinya juga ingin mencoba menantang Gagak Seta dan menjadi Bekel berpikir dua kali. Ketika dia mendengar beberapa prajurit lain menerima Gagak Seta sebagai Bekel, keinginannya untuk menjadi Bekel pun menghilang.


Demikianlah Gagak Seta dalam satu hari yang sama, berhasil menjadi Lurah Prajurit dan kemudian mendapatkan promosi kedua kalinya dan sekarang menjadi seorang Bekel.


Di kelompok-kelompok yang lain, satu per satu juga akhirnya terpilih seorang Bekel, di antara beberapa orang yang bersaing untuk menduduki posisi itu. Namun tidak semua prosesnya semudah yang dilewati Gagak Seta.


Beberapa orang menjadi Bekel, setelah memeras tenaga untuk mengalahkan saingan-saingannya.


Ada beberapa juga yang mendapatkan luka dalam pertarungan itu.


“Kulihat kalian semua sudah berhasil memilih seorang Bekel di dalam kelompok kalian. Sekarang semua lurah prajurit, maju ke depan, ambil medali yang menunjukkan pangkat kalian ini, lalu turun dari panggung.”, kata Senapati Lesmana, di satu tangannya ada kantong kain.


Setelah tinggal 34 orang Bekel yang tinggal berdiri di atas panggung, Senapati Lesmana menatap mereka semua satu per satu, “Bagus, selamat, kalian sudah menjadi seorang Bekel. Sekarang siapa yang masih ingin terus mencoba, tetap tinggal di atas panggung, yang sudah puas dengan kedudukan bekel, silahkan ambil medali pangkat kalian dan turun ke bawah.”


“Berikutnya aku akan mengadu kalian, satu lawan satu, sampai tersisa satu orang saja. Satu orang yang terkuat dan dia akan mendapatkan pangkat Senapati Muda, bertugas menjadi senapati pengiringku dalam tiap pertempuran yang kupimpin.”, lanjut Senapati Lesmana menjelaskan.


Maka para Bekel itu pun saling pandang, dan saling mengukur, mengira-ngira seberapa besar kesempatan yang mereka miliki. Beberapa orang yang sudah kehabisan tenaga dan memiliki luka, menghela nafas kecewa. Mereka melihat Bekel-Bekel yang berdiri dengan nafas masih teratur, tanpa luka sedikitpun.


Beberapa orang bekel memilih mengambil medali pangkatnya dan turun dari atas panggung, satu per satu, sampai akhirnya tersisa dua puluh orang yang masih tetap tinggal di atas panggung.


Senapati Lesmana menunjuk-nunjuk, “Kau, lawan tandingmu dia. Kau dengan dia.”


Demikian dia dengan cepat mengatur, mereka menjadi sepuluh pasangan yang akan bertarung satu lawan satu. Dari dua puluh orang yang berdiri di atas panggung itu, tujuh orang berasal dari kesatuan telik sandi Raden Rangga.


Hal ini tidak lepas dari strategi yang diusulkan Gagak Seta, karena hampir di tiap kelompok mereka memilili jumlah terbanyak, akhirnya dengan relatif mudah mereka berhasil memajukan seorang yang terkuat dari antara mereka untuk menjadi Bekel.


Kali ini kebetulan Gagak Seta berhadapan bukan dengan rekannya. Dalam hati pemuda itu merasa senang, dalam pertarungan yang sebelumnya dia tidak bisa bertarung dengan puas, karena tingkatan lawan yang cukup jauh di bawah dirinya.


'Semoga kali ini bisa bertemu lawan yang tangguh.', Pikir Gagak Seta dalam hati, bukannya jumawa, tapi sejak dia menerima tuntunan langsung dari Ki Ageng Aras, Gagak Seta merasa mendapat kemajuan yang cukup pesat.


Sekarang dia ingin melihat, sampai di mana batas kemampuan dirinya dalam pertarungan yang sesungguhnya.


Pertandingan pertama berjalan dengan ketat, tapi akhirnya Partajaya berhasil mengalahkan lawannya.


Pertandingan kedua berlangsung agak lama, sepertinya keras, tapi luka dan memar yang terjadi hanyalah luka luar, maklum keduanya adalah prajurit telik sandi yang dikirim Raden Rangga untuk menyusup.


Pertandingan ketiga, Gagak Seta maju melawan prajurit yang bernama Tapakdara, seorang pendekar yang cukup terkenal dari Kadipaten Jambangan sendiri. Orang-orang di Kadipaten Jambangan memberi dia julukan, Pendekar Golok Emas.


Ketika sampai pada giliran mereka bertarung, dia menengok ke arah Senapati Lesmana, “Ki, apa boleh aku menggunakan senjata?”


Senapati Lesmana tak langsung menjawab, karena dia tahu Tapakdara terkenal karena permainan goloknya, tapi semua pertandingan, atau pertarungan sebelumnya menggunakan tangan kosong.


Tapakdara menyambung, “Maaf ki, tapi aku punya kelebihan dalam permainan golokku, jika aku bertarung dengan tangan kosong maka aku tidak bisa menunjukkan kemampuanku sepenuhnya. Kalah pun aku tidak merasa yakin akan kelebihan lawan.”


Senapati Lesmana menengok ke arah Gagak Seta, “Bagaimana menurutmu?”


Gagak Seta pun tak berani langsung menjawab, ragu-ragu dia berkata, “Tapi Ki, sehebat-hebatnya ilmu tangan kosong seseorang, bersenjata pasti memiliki keunggulan dibandingkan tanpa senjata.”


Tapakdara menyahut, “Kalau begitu, kau boleh menggunakan senjata. Jika kau tak punya senjata unggulan, maka ya itulah kelebihanku. Apa mungkin kau melarang lawan untuk bersenjata dalam sebuah pertempuran?”


Senapati Lesmana tertawa kecil dan bertanya pada Gagak Seta, “Dia ada benarnya, bagaimana menurut pendapatmu?”


Gagak Seta tak dapat memikirkan alasan lain untuk mendebat, kemudian mengangguk dengan tekat, “Baik Ki, aku setuju dengan perkataan Ki Tapakdara, tak ada alasan untuk tidak menggunakan senjata.”


“Bagus, kalau begitu silahkan kalian menggunakan senjata pilihan kalian. Ingat keputusan ini kalian sepakati sendiri, aku akan berusaha menghentikan pertarungan agar tak ada jatuh korban, tapi aku tidak menjamin. Kalian siap dengan resiko yang kalian hadapi?”, tanya Senapati Lesmana pada Tapakdara dan Gagak Seta.


“Siap Ki”, jawab Gagak Seta singkat.


Tapakdara mengangguk, “Tentu saja, aku yang meminta, jadi aku siap. Ini bukan pertama kalinya aku bertarung mempertaruhkan nyawa.”


“Baik silahkan kalian mulai.”, Senapati Lesmana berujar lalu mundur memberi mereka ruang untuk bertarung.


Tapakdara menengok ke bawah, seseorang melemparkan Golok Emas andalan Tapakdara ke atas. Dengan cekatan Tapakdara menangkap golok itu. Senapati Lesmana dan Senapati Rendra, sekilas saling melihat, mereka sudah paham, ada kelompok-kelompok kecil yang terbentuk dalam kesatuan prajurit yang baru ini. Itu sebabnya Senapati Lesmana mengijinkan mereka untuk membentuk kelompok-kelompok sendiri untuk membentuk kesatuan di bawah pimpinan satu Bekel.


Gagak Seta menunggu Tapakdara maju ke tengah, sementara dia mencabut keris yang ada di pinggangnya.


Tapakdara berdiri dengan tegak kira-kira tiga langkah jauhnya dari Gagak Seta dan bertanya, “Kau sudah siap?”


Gagak Seta mengangguk, “Aku sudah siap.”


Tapakdara pun mengambil kuda-kuda dengan kaki sedikit ditekuk dan golok menyilang di depan dada. Gagak Seta mengambil kuda-kuda, dengan tangan yang memegang keris, berada di depan dada sementara tangan yang lain di sisi pinggang.


“Menurutmu siapa yang akan menang?”, tanya Senapati Lesmana berbisik ke Senapati Rendra.


Senapati Rendra berpikir sambil mengamati keduanya, Gagak Seta dan Tapakdara masih saling bergerak, mengintai mencari kesempatan.


“Terlalu cepat untuk menilai.”, ucap Senapati Rendra.