Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab XLIV. Teka-Teki Seribu Prajurit yang Menghilang.



Beberapa kilometer di depan tembok ibu kota Kadipaten Jambangan, pasukan Rangga berbaris dengan rapi, dipimpin oleh Rangga dan Tumenggung Widyaguna. Di sayap kiri ada Rakryan Rangga Aswatama, di sayap kanan ada Rakryan Rangga Wirapati. Tak kurang dari empat ribu orang pasukan berdiri di belakang mereka.


Menghadang di depan mereka adalah pasukan baru Adipati Jalak Kenikir yang dipimpin Senapati Lesmana. Tidak kurang dari dua ribu pasukan berbaris rapi di belakang senapati itu. Jumlah mereka lebih sedikit, namun mereka memiliki persenjataan yang lebih lengkap, perisai kecil, pedang pendek dan tombak.


Kemudian ada seribu orang prajurit berkuda yang bisa bergerak dengan cepat dari satu posisi ke posisi lain dalam medan peperangan. Satu ancaman besar bagi Rangga yang selain prajurit, juga membawa belasan ribu penduduk biasa yang terdiri dari orang tua, wanita dan anak-anak.


“Raden Rangga, aku tidak ingin bermusuhan denganmu, bagaimana kalau kalian mundur kembali ke Kademangan Jati Asih saja?”, seru Senapati Lesmana dari atas kudanya.


“Dengan siapa aku berbicara?”, tanya Rangga dari atas kudanya.


“Senapati Lesmana, dari pasukan Kadipaten Jambangan.”, jawab Senapati Lesmana dengan lantang.


“Ah... rupanya Ki Lesmana, aku pun tidak ingin bermusuhan dengan Kadipaten Jambangan, begini saja, bagaimana kalau kalian ijinkan kami lewat? Tidak perlu ada pertempuran.”, jawab Rangga dengan santai.


Senapati Lesmana pun menjawab, “Tak mungkin raden, perintah Prabu Jannapati, Raden Rangga dan pengikutnya tidak boleh meninggalkan wilayah Kerajaan Watu Galuh.”


“Ki Lesmana, cobalah Ki Lesmana lihat, jumlah pasukanku jauh lebih banyak dari pasukanmu dan jangan kira penduduk Kademangan Jati Asih yang ada di belakang kami ini tak bertaring, setiap orang sudah berlatih memanah semenjak kami mulai meninggalkan rumah kami.”, gertak Rangga.


“Raden Rangga, tak perlu menakuti kami, kalau memang kau yakin, kenapa tidak maju menyerang?”, tanya Senapati Lesmana.


Rangga menjawab sambil tertawa, “Karena aku ingin memberi kalian kesempatan untuk hidup Ki, sayang keluargamu kalau kau harus gugur demi ambisi Prabu Jannapati.”


Senapati Lesmana tidak menjadi marah, namun balas tertawa, “Hahahaha, Raden Rangga, jangan kau pikir kami bodoh. Kau punya pasukan pemanah, aku pun punya. Jadi silahkan maju, biar kubuat anak-anak muda Kademangan Jati Asih sebagai latihan memanah untuk prajurit-prajuritku yang baru.”


Seorang Senapati berlari maju beberapa puluh meter ke depan barisan dan berseru, “Lesmana, kalau kau pemberani, maju sini, hadapi aku, Tunggul Manikam.”


Senapati Lesmana tertawa mengejek, “Hahaha, apa kau kira ini permainan anak kecil? Di pihak kalian ada puluhan senapati, sementara di pihakku hanya ada aku sendiri dan ada ribuan pasukan yang butuh pimpinanku, lalu aku harus maju menghadapimu bertarung satu lawan satu? Cis... tidak tahu malu.”


“Lalu apa maumu?”, tanya Senapati Tunggul Manikam.


“Silahkan kalian maju kalau kalian memang pemberani.”, seru Senapati Lesmana tak mau mengalah.


Demikianlah mereka sudah saling berhadapan, tapi pertempuran belum dimulai. Di atas tembok kota, Adipati Jalak Kenikir dan tiga orang senapati yang lain mengamati.


“Apa yang mereka tunggu?”, tanya Adipati Jalak Kenikir.


Senapati Glagah Wiru menjawab, “Kukira, pertempuran yang sesungguhnya bukan di tempat ini. Kalau Ki Adipati perhatikan, informasi yang diberikan Prabu Jannapati benar. Di sini hanya terlihat belasan orang senapati dan ribuan anak-anak muda. Pertempuran yang sesungguhnya kukira terjadi di perbatasan Kadipaten Serayu.”


-------


Di perbatasan Kadipaten Serayu, sedang terjadi pertempuran dalam gelar terbuka. Dari sisi pasukan Kerajaan Watu Galuh, ribuan prajurit dipimpin beberapa senapati bergerak menghentikan sayap-sayap pasukan gabungan para adipati yang mencoba bergerak maju.


Akan tetapi pasukan utama dari kedua belah pihak masih diam menanti.


Tak berapa lama kemudian, serangan dari pasukan para adipati terpukul mundur. Namun tidak banyak korban yang jatuh, karena mereka mundur dengan teratur. Sementara ketika pasukan Kerajaan Watu Galuh hendak mengejar, justru korban berjatuhan dari pihak mereka disambar panah-panah dari sisi pasukan para adipati.


Demikian beberapa kali, kedua pihak saling menjajagi lawan, puluhan prajurit gugur, ratusan yang terluka. Belum ada perwira yang jatuh korban. Dan kedua pimpinan utama pasukan belum bergerak.


Ke empat adipati yaitu Ki Gading Kencana, Ki Karangpandan, Ki Guntur Aji dan Ki Panjalu, memimpin pasukan utama bersama-sama.


“Belum juga ada tanda-tanda dari pasukan Raden Rangga.”, gumam Adipati Panjalu.


“Hmm...”, jawab Adipati Gading Kencana dengan wajah tegang.


“Bagaimana kalau Raden Rangga menipu kita?”, desis Adipati Karangpandan.


“Tidak mungkin, jangan kuatir, prajurit telik sandi barusan mengabarkan, saat ini pasukan mereka sudah berhadapan dengan pasukan Kadipaten Jambangan.”, ujar Adipati Panjalu.


“Lalu apa yang mereka tunggu?”, geram Adipati Karangpandan.


“Aku kira, kuncinya ada pada seribu pasukan yang diam-diam menyelinap pergi itu.”, kata Adipati Guntur Aji.


“Di mana mereka sekarang...”, gumam Adipati Gading Kencana sambil menajamkan mata, berusaha mencari-cari tanda keberadaan mereka, jauh di belakang garis pertahanan pasukan Kerajaan Watu Galuh.


-------


Di seberang sana, Prabu Jannapati duduk di atas kuda, di sisi kanan-nya ada Patih Nandini, berjajar tiga orang tumenggung dan beberapa senapati.


“Belum terlihat jejak seribu orang itu?”, tanya Prabu Jannapati.


“Belum...”, geram Patih Nandini tak kalah risaunya.


Menghilangnya seribu orang prajurit Raden Rangga dari pengamatan mereka membuat mereka harus membagi kekuatan di mana-mana. Meskipun Patih Nandini yakin pasukan mereka yang ada di medan pertempuran saat ini tidak akan kalah dari pasukan gabungan para adipati yang menjadi lawan mereka, tapi seribu prajurit yang bersembunyi dalam gelap ini yang justru menakutkan.


“Bagaimana dengan persiapan untuk menghadapi mereka?”, tanya Prabu Jannapati.


“Hamba sudah menyiapkan seribu orang prajurit berkuda, yang siap bergerak kapan saja.”, jawab Patih Nandini.


“Belum ada kabar dari perbekalan kita?”, tanya Prabu Jannapati.


“Belum ada kabar, tapi seharusnya seribu orang prajurit dari Kadipaten Jambangan selambat-lambatnya sudah bergabung dengan mereka hari ini.”, jawab Patih Nandini.


“Baik...”, Prabu Jannapati kembali memperhatikan medan pertempuran, tapi jelas kerisauan masih membayangi wajahnya.


-------


Mundur ke beberapa hari sebelumnya, Gagak Seta memimpin pasukannya dengan waktu istirahat yang minim, sampai mereka kira-kira satu hari perjalanan jauhnya dari iring-iringan perbekalan Kerajaan Watu Galuh.


“Berhenti...!”, Gagak Seta memberi perintah sambil mengangkat tangan.


“Berhenti..”


“Berhenti...”


Bersahut-sahutan satu demi satu para Lurah Prajurit menyampaikan perintah. Beberapa orang Bekel mengarahkan kudanya mendekat ke arah Gagak Seta.


Gagak Seta melompat turun dari kuda dan menjawab, “Aku lihat ini tempat yang baik untuk beristirahat, lihat di sana ada hutan kecil dan ada sungai juga, kita bisa coba mencari buruan di hutan itu, sementara kita bangun tenda-tenda di pinggiran sungai.”


Salah seorang Bekel mengerutkan alis, “Tapi Gagak Seta, bukankah perintah dari Ki Lesmana supaya kita bergabung secepatnya dengan iring-iringan pengawal perbekalan itu?”


Gagak Seta menggelengkan kepala, “Jupri, kau bayangkan kalau kita bertemu dengan iring-iringan perbekalan itu hari ini. Apa kita bisa beristirahat? Bisa-bisa kita dipaksa lagi mengikuti mereka mengawal perbekalan dalam keadaan kelelahan.”


Sabrang yang ikut menjadi Bekel menyahut, “Aku pilih istirahat dululah. Pegal badanku beberapa hari ini hampir tidak pernah meninggalkan punggung kuda.”


Para bekel saling pandang dan berpikir, 'Benar juga...'


“Jupri, jangan sok rajin kau.”, goda seorang Bekel.


“Ah, kampret, tak usah banyak ngomong. Aku hanya takut Ki Lesmana marah pada kita.”, sahut si Jupri dengan mata melotot.


Gagak Seta tertawa, “Hahaha, sudah-sudah, Ki Lesmana tidak bakalan tahu asal kalian juga tidak bocor mulutnya, kalaupun dia tahu, nanti aku yang bertanggung jawab.”


“Benar kau yang bertanggung jawab?”, tanya Jupri menegaskan.


“Tentu saja, bukankah kita punya alasan yang kuat? Kita datang untuk bantu mengawal, bagaimana kita bisa membantu mengawal dalam kondisi kelelahan? Bayangkan kalau benar-benar pasukan Raden Rangga menyerang saat kita baru bergabung dalam kondisi kelelahan? Kau mau mengantar nyawa sia-sia?”, jawab Gagak Seta sambil mulai menuntun kudanya ke arah sungai kecil yang tidak jauh dari mereka.


“Dasar cerewet “, seru Sabrang ke arah Jupri sambil tertawa terbahak-bahak, kemudian melompat turun dari kudanya dan meregangkan otot-ototnya yang pegal dengan nikmat.


Jupri pun ikut melompat turun sambil bersungut-sungut. Tak lama kemudian perintah untuk beristirahat itu sudah menyebar dan disambut dengan gembira oleh pasukan yang dipimpin Gagak Seta itu. Meskipun sebagai prajurit mereka tidak disiplin, tapi sebagai orang yang biasa berkelana dalam dunia persilatan, dalam waktu singkat mereka sudah selesai menyiapkan tempat untuk beristirahat.


Kuda-kuda, sesuai perintah Gagak Seta dikumpulkan sedikit tersembunyi di dalam hutan yang kecil itu.


Hanya saja ketidak teraturan mereka masih terlihat dari cara mereka mengatur tempat perhentian sementara itu, tidak ada pengaturan yang jelas, mereka berkumpul sesuai keinginan masing-masing saja.


Gagak Seta sebagai pemimpin membiarkan hal itu terjadi, meskipun beberapa Bekel berusaha mengatur prajurit di bawah pimpinannya, tapi karena Gagak Seta dan beberapa Bekel yang lain tidak, usaha mereka pun jadi tidak efektif.


“Sabrang, kau dan Kakang Partajaya, setelah kalian cukup beristirahat, dului kami untuk menemui pasukan yang mengawal perbekalan itu. Beritahukan keadaan kita pada mereka, kita akan menunggu mereka di sini.”, setelah mereka beristirahat beberapa saat, Gagak Seta berteriak memberi perintah pada dua orang itu.


“Aish... sial, kenapa aku yang kena?”, dengus Sabrang sambil berdiri dengan kemalas-malasan, mengundang tawa dari rekan-rekannya yang lain.


“Nanti saja, kau beristirahat dulu, tapi jangan terlalu lama.”, ujar Gagak Seta sambil tertawa.


Bukan hanya Bekel, bahkan mereka yang pangkatnya di bawah Sabrang dan Partajaya juga ikut mentertawakan mereka berdua. Partajaya hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu merebahkan tubuhnya untuk tiduran di atas tanah. Sabrang yang kemudian jadi sasaran ejekan rekan-rekannya yang lain.


Demikian mereka bergurau dan beristirahat.


-----


Ketika prajurit-prajurit muda Kadipaten Jambangan sedang menikmati istirahat mereka, saat ini Partajaya dan Sabrang memacu kudanya. Saat ini penampilan mereka tidak seperti ketika mereka baru berangkat dari tempat rekan-rekan mereka beristirahat.


Beberapa luka dengan darah masih mengucur, menghiasi tubuh mereka.


Bukan hanya mereka berdua, demikian juga kuda yang ditunggangi terlihat kelelahan karena terus menerus dipacu tanpa henti.


“Lihat kakang, itu mereka.”, ujar Sabrang tiba-tiba.


Partajaya yang kondisinya lebih buruk dari Sabrang, mengangkat kepala dan melihat ke arah yang ditunjuk Sabrang. Terlihat di kejauhan debu tipis mengepul, lamat-lamat Partajaya bisa mendengar suara derit gerobak dan derap langkah kaki kuda.


“Bagus... Kau pacu kudamu lebih cepat, aku akan menyusul sebisaku.”, jawab Partajaya dengan suara lemah.


“Bagaimana dengan kondisimu kakang?”, tanya Sabrang dengan cemas.


“Tidak masalah, tidak ada luka di tempat yang penting bukan? Hanya terasa pening dan lemas saja. Sudahlah, cepat kau temui mereka, semakin cepat kau berhasil meyakinkan mereka, semakin cepat pula mereka menolongku.”, jawab Partajaya sebelum kemudian memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya ke atas leher kuda yang terus berpacu.


“Baiklah, kau hati-hati kakang, jangan sampai jatuh.”, jawab Sabrang sebelum kemudian melepaskan pegangannya dari tali kekang kuda Partajaya dan memacu kudanya sendiri secepat mungkin menuju ke rombongan pengawal perbekalan yang ada di depan.


“Tahan...!”, tiba-tiba terdengar suara dari sisi jalan, beberapa puluh merter sebelum Sabrang sampai ke tempat tujuannya.


Beberapa orang prajurit terlihat berlompatan menghadang jalan, salah seorang dari mereka bertanya, “Siapa kalian?”


Sabrang menghentikan kudanya dan menjawab. “Apakah kalian prajurit Kerajaan Watu Galuh? Aku Sabrang salah seorang prajurit dari Kadipaten Jambangan. Kami diperintahkan untuk membantu mengawal perbekalan, tapi di tengah jalan kami disergap oleh pasukan Raden Rangga.”


“Kalian bertemu dengan pasukan Raden Rangga?”, tanya prajurit yang menghadang Sabrang dengan cemas dan tegang.


“Tunggu, jika kau pasukan Kadipaten Jambangan, tunjukkan tanda pengenalmu.”, salah seorang prajurit yang lain menyela.


Sabrang mengambil medali pangkat yang dia selipkan di pinggang, penanda sebagai Bekel dari pasukan Kadipaten Jambangan.


“Kalau benar kalian pasukan Kerajaan Watu Galuh, cepat tolong rekanku, dia ada di belakangku. Laporkan juga pada pemimpin kalian.”, ujar Sabrang sambil melemparkan tanda pangkatnya ke salah seorang prajurit yang menghadang dirinya itu.


Pada saat mereka masih bercakap-cakap, kuda yang membawa Partajaya sudah menyusul pula dengan kecepatan yang jauh lebih rendah. Sementara Partajaya terlihat terayun-ayun di atas kuda tunggangannya, kedua lengannya memeluk erat leher kuda itu.


Pimpinan dari para prajurit yang menghadang Sabrang segera menggamit salah seorang anak buahnya dan berseru, “Cepat kau tolong orang itu.”


Kemudian menoleh ke arah Sabrang dan bertanya, “Itu rekanmu?”


“Benar”, Jawab Sabrang dengan rasa lelah yang tiba-tiba menyerbu tubuhnya.


Sepanjang perjalanan darah mereka tidak berhentinya mengucur dan pemuda itu tiba-tiba merasa kepalanya ringan, dan sesaat kemudian pandangannya menjadi gelap.


--------


Siapa yang menyerang Sabrang dan Partajaya? Benarkah seribu orang prajurit Raden Rangga yang memisahkan diri dari pasukan utama itu menyerang bantuan yang dikirim oleh Adipati Jalak Kenikir untuk mengamankan perbekalan Kerajaan Watu Galuh?


Jika benar, mengapa mereka melukai rekan-rekannya sendiri? Apakah mereka tidak tahu bahwa Sabrang dan Partajaya adalah prajurit telik sandi pasukan mereka sendiri?


Inikah arti firasat buruk yang dirasakan Gagak Seta?