
Satuan-satuan kecil tersebar di berbagai titik-titik strategis yang sudah dipetakan oleh Rangga. Setiap kelompok terdiri dari lima orang prajurit.
Ketika Rangga dan para pimpinan pasukan, mengadakan pertemuan dengan para pamong Kademangan Jati Asih. Suasana di kademangan yang biasanya terasa damai dan tenang, hari itu bercampur antara ketegangan dan semangat. Anak-anak kecil pun bisa merasakan ada sesuatu yang penting yang sedang terjadi.
Yang masih muda menanggapi situasi ini dengan bersemangat. Mereka yang lebih tua, tentu berpikir lebih jauh ke depan, dan menanti kabar dari Ki Demang dan para pamong praja dengan hati berdebar.
Para prajurit yang menyebar dan berjaga, masih membawa keganasan mereka semasa hidup di alam liar, membuat penduduk kademangan merasa seperti berhadapan dengan serigala. Meskipun mereka tidak merasa terancam karena tahu bahwa para prajurit itu berada di bawah pimpinan Rangga, tapi penduduk kademangan yang biasanya ramah-tamah, kali ini memilih untuk melihat para prajurit itu dari kejauhan saja.
Bagi para prajurit itu, sikap penduduk Kademangan Jati Asih justru sesuai dengan yang mereka inginkan.
Kademangan Jati Asih memang berada jauh dari pusat pemerintahan. Sebuah daerah perbatasan yang berbatas langsung dengan daerah yang masih liar. Namun sebagai sebuah kademangan, tetap ada beberapa orang luar yang keluar masuk untuk berdagang, ataupun menawarkan jasa mereka.
Setelah kedatangan Rangga dan rombongannya, maka pendatang dari luar ini tak bisa keluar dari kademangan. Para prajurit yang berjaga tak mengijinkan mereka keluar dari Kademangan Jati Asih.
Bukan itu saja, sempat ada seorang pedagang yang ketika melihat ada prajurit berjaga-jaga, memilih hendak kembali dari arah dia datang, ketika dia berbalik, yang dia temui adalah satuan prajurit yang berjaga di perbatasan Kademangan Jati Asih.
Cukup melihat wajah-wajah mereka yang garang dan sorot pandang mereka yang bagai serigala kelaparan, pedagang itu pun akhirnya meneruskan perjalanan memasuki pasar Kademangan Jati Asih dengan hati ciut dan kaki-tangan gemetaran.
Melihat pedagang itu sudah masuk ke dalam kademangan, masuk ke dalam lingkaran penjagaan rekan-rekan mereka. Satuan prajurit yang menjaga perbatasan kademangan ini pun segera kembali bersembunyi di sekitar gapura Kademangan Jati Asih.
Begitulah dengan ketatnya penjagaan di Kademangan Jati Asih dan sekitarnya. Seekor burung pun tidak mungkin lolos dari pengamatan mereka.
Sampai jauh tengah hari, tidak ada insiden yang berarti. Mereka mencatat ada tujuh belas orang dari luar kademangan, yang saat ini terjebak di dalam Kademangan Jati Asih. Beberapa orang dari tujuh belas orang itu sempat berdebat dan menuntut agar diijinkan meninggalkan Kademangan Jati Asih, tapi tidak sampai terjadi bentrokan di antara mereka.
Di salah satu lokasi penjagaan, angin silir-silir di antara panasnya matahari ditambah suasana yang sepi diselingi suara-suara sayup-sayup dari kejauhan, membuat orang merasa ngantuk. Namun kelima prajurit yang berjaga tak berani mengendorkan kewaspadaan.
Ketika matahari sudah mulai condong ke arah barat, seorang prajurit tiba-tiba menggamit temannya yang membawa busur panah dan menunjuk ke atas.
Rekannya dengan sigap menarik busur panah dan...
“SERRR....”
Sebatang anak panah meluncur dengan cepat, menembak mati seekor burung yang sedang terbang. Bergegas satu dari antara mereka lari ke tempat jatuhnya burung tersebut. Ketika dia kembali menemui teman-temannya, dia menunjukkan segulung kecil kulit binatang.
Pemimpin satuan kecil itu sambil menepuk pundak rekannya yang memanah, dia memuji, “Bagus... bagus...”
Lalu dia berkata pada rekannya yang membawa bangkai burung bersama pesan yang terikat di kaki burung itu, “Kau bawa itu ke Lurah Badri, lalu segera kembali. Kita harus tetap siaga sampai ada perintah berikutnya.”
“Baik kakang”, ujar orang itu dan segera berlari cepat menuju ke lokasi yang sudah ditentukan.
Di salah satu ujung pekarangan rumah Rangga, didirikan sebuah tenda yang cukup besar. Terlihat puluhan prajurit berjaga di sekitarnya dengan wajah serius. Di dalam tenda, belasan orang prajurit terlihat menekuni selembar peta.
Lurah prajurit yang bernama Badri, dibantu sekelompok prajurit lain, sedang sibuk mengatur proses pengamanan Kademangan Jati Asih. Sebagai tempat Rangga diasingkan, mereka semua sudah menyadari bahwa pasti ada telik sandi dari berbagai pihak yang secara rutin mengamati keadaan di Kademangan Jati Asih. Apalagi dengan peristiwa mangkatnya Prabu Anglang Bhuanna. Jika di luar masih ada angin yang semilir, di dalam tenda panasnya siang hari terasa lebih panas dan gerah.
Prajurit yang bertugas di dalam sudah basah oleh keringat, tapi baik panas maupun keringat tak mereka rasakan, seiring masuknya laporan demi laporan.
Sepanjang hari itu, Lurah Badri sudah menerima beberapa bangkai burung dengan pesan yang terikat di kakinya. Dia tidak memusingkan pesan apa yang terikat di kaki burung itu. Lurah Badri lebih berkonsentrasi untuk menangkap orang-orang yang melepaskan burung-burung pembawa pesan tersebut.
“Bagus Ki Lurah, tidak ada satu pun yang lolos sampai jauh mencapai perbatasan kademangan.”, ujar salah seorang pembantu Ki Lurah Badri.
“Hmm.... “, Lurah Badri mengangguk-angguk sambil mengamati peta Kademangan Jati Asih.
Sesaat kemudian dia menoleh ke pembantunya tersebut dan berkata, “Jangan sampai ada yang lengah, kirimkan orang ke tiap satuan yang berjaga di batas terluar penjagaan. Sampaikan informasi yang ada dan ingatkan mereka. Meskipun penjagaan di lingkaran dalam berhasil dengan baik untuk menjaga kebocoran, tapi tugas mereka di garis terluar adalah faktor yang paling penting untuk memastikan tidak ada kebocoran.”
“Siap Ki Lurah.” Jawab pembantunya dengan tegas dan sigap, diapun segera keluar untuk mengatur prajurit-prajurit agar menyebar dan menyampaikan pesan Ki Lurah Badri.
“Ki Lurah, sepertinya kita sudah bisa memastikan siapa saja telik sandi yang menyusup di Kademangan Jati Asih. Apa kami sudah boleh mulai bergerak sekarang?”, salah seorang pembantu Ki Lurah Badri bertanya.
Ki Lurah Badri berpikir sebentar, lalu menjawab, “Jangan dulu, untuk sementara perketat pengamatan atas orang-orang ini. Jangan sampai kita kehilangan jejak mereka. Pesan Senapati Hanggamurti, jangan sampai ada telik sandi yang lolos. Kita harus menghindari terlalu cepat bergerak, menciptakan keributan dan membuat telik sandi yang belum bergerak bersembunyi.”
“Baik Ki Lurah.”, jawab orang tersebut tanpa banyak bertanya lagi.
Kesibukan di salah satu ujung pekarangan rumah Rangga itu pun berlangsung kembali cukup lama. Sebelum akhirnya Ki Lurah Badri menganggap sudah waktunya untuk bergerak.
“Jayadi, tolong kau berikan isyarat ke Rakryan Rangga Aswatama. Kemudian laporan lengkap ini, serahkan ke Senapati Hanggamurti.”, ujar Ki Lurah Badri sambil menyerahkan satu gulung lontar.
“Siap Ki Lurah!”, ujar Jayadi yang dengan sigap melaksanakan perintah Ki Lurah Badri.
Tanpa menunggu Jayadi menghilang dari tenda, Ki Lurah Badri, mengitarkan pandangan ke arah yang lain, “Yang lainnya, segera menyebar ke setiap lokasi yang ditugaskan pada kalian. Kawal ketat, bersiap menerima isyarat perintah setiap saat. Jangan sampai ada yang berhasil menghilang dari pengawasan kalian. Jika ada kemungkinan sekecil apa pun mereka akan lolos dari pengawasan, kalian aku berikan kuasa untuk bergerak tanpa menunggu perintah dari atas.”
“Siap Ki Lurah!”, ujar mereka dengan serempak.
Setelah menunggu setengah harian di dalam tenda yang panas dan bau keringat, mereka menerima tugas itu dengan penuh semangat. Setiap kali ada laporan masuk tentang seorang atau sekelompok telik sandi, Ki Lurah Badri dengan segera sudah coba menghitung kekuatan mereka dan menugaskan satu atau lebih kesatuan untuk menangkap mereka.
Ki Lurah Badri tidak mengikuti mereka pergi, sebaliknya dia bergegas menuju ke jalan masuk yang mengarah ke tenda utama. Di situ dia berdiri menunggu.
Tak perlu lama Ki Lurah Badri menunggu, Senapati Hanggamurti berjalan keluar dari tenda, diikuti tiga orang Lurah kepercayaannya, rekan-rekan Ki Lurah Badri juga.
“Pasukan sudah saya perintahkan untuk mengawasi mereka dengan ketat. Kami siap menangkap mereka setiap saat, sesuai perintah Ki Hanggamurti.”, jawab Ki Lurah Badri.
“Bagus...”, Senapati Hanggamurti berpikir sebentar, lalu menengok pada empat lurah yang lain, “Kalian kumpulkan anak buah kalian, semuanya harus dalam keadaan siap untuk mengirimkan bantuan.”
“Siap Ki Senapati!', seru mereka berempat.
Empat orang lurah prajurit itu pun bergegas pergi menyiapkan kesatuan yang ada di bawah mereka.
Senapati Hanggamurti mengamati kepergian mereka, lalu menengok ke Ki Lurah Badri, “Kita pergi sekarang ke tempat pengamatan. Apakah kau sudah menyiapkan panah isyarat?”
Ki Lurah menunjukkan busur dan anak panah yang dia bawa, “Sudah siap Ki Senapati.”
“Bagus”, ujar Senapati Hanggamurti singkat, lalu berjalan pergi ke tempat yang sudah ditentukan.
Rupanya tempat yang sudah ditentukan oleh Rangga, adalah salah satu rumah yang dibandung dua lantai, milik penduduk terkaya di Kademangan Jati Asih. Namun jangan salah, yang dijadikan tempat pengamatan bukan salah satu ruangan di rumah itu, melainkan atap rumah itu.
Senapati Hanggamurti menunjukkan kemampuannya dalam ilmu meringankan tubuh. Dari antara tiga puluh senapati, ada beberapa yang ilmu meringankan tubuhnya jauh melampaui senapati-senapati yang lain. Seperti Senapati Bayu Bayanaka yang sebelumnya ditugaskan menyebarkan panggilan oleh Rangga, demikian juga Senapati Hanggamurti. Mereka berdua adalah senapati-senapati yang diandalkan dalam olah meringankan tubuh.
Dengan ringan Senapati Hanggamurti melompat sampai ke atap rumah itu. Penduduk kademangan yang melihat, tidak ada yang berani menghentikan, hanya berani menonton saja dari jauh.
Lagipula penduduk kademangan tidak memiliki pikiran buruk terhadap prajurit yang dibawa Rangga masuk ke dalam kademangan. Yang ada hanyalah rasa jeri dan juga hormat.
Ilmu meringankan Ki Lurah Badri tak setinggi Senapati Hanggamurti, dia menunggu di bawah sampai Senapatai Hanggamurti sudah ada di atas.
“Mari!”, seru Senapati Hanggamurti pada Ki Lurah Badri.
Ki Lurah Badri pun mengambil sebatang panah, yang di ujungnya sudah diikat segulung tali tampar yang tidak terlalu tebal namun kuat. Tanpa ragu Ki Lurah Badri membidik dan melepaskan anak panah itu ke arah Senapati Hanggamurti.
“SREET....”, cepat anak panah itu melesat sambil membawa ujung tali.
“WETT...”, dengan sigap Senapati Hanggamurti menangkap anak panah itu dengan mudah.
Kemudian Senapati Hanggamurti dengan kuat menarik tambang itu, sementara di ujung yang lain Ki Lurah Badri melompat mengikuti tenaga sendalan Senapati Hanggamurti. Sambil melayang ke atas, Lurah Badri menggulung tali tampar itu dan tiap kali tenaga lompatnya sudah mulai melemah, dia akan menggunakan tali itu sebagai pegangan untuk melontarkan dirinya ke atas.
Dengan satu-dua kali tarikan, tubuh Ki Lurah Badri pun berkelebat terbang ke atas atap dan mendarat dengan ringan di sisi Senapati Hanggamurti.
“Kita tunggu sebentar.”, ujar Senapati Hanggamurti.
“Baik Ki Senapati.”, jawab Lurah Badri.
Beberapa saat kemudian, empat kesatuan yang dipimpin oleh empat orang Lurah kepercayaan Senapati Hanggamurti, sudah sampai dan bersiap di sekeliling rumah tersebut.
“Lepaskan panah isyaratmu sekarang.”, ujar Senapati Hanggamurti.
“Siap!”, ujar Lurah Badri dan sejenak kemudian maka meluncurlah sebatang anak panah jauh tinggi ke atas langit, dengan membawa suara yang mengaung ke seluruh Kademangan Jati Asih.
Maka di berbagai titik di Kademangan Jati Asih pun terjadi pertempuran kecil-kecilan. Misalnya di salah satu kedai makan, dua orang pemuda sedang makan bersama seorang laki-laki setengah umur. Mereka sedang makan dengan nikmatnya ketika suara isyarat panah yang dilepaskan Lurah Badri bergaung. Mendengar suara itu, wajah ketiganya langsung terlihat tegang.
Dua orang pemuda itu pun dengan wajah panik memandang ke arah laki-laki setengah umur di depan mereka. Laki-laki setengah umur itu, diam sejenak dengan rahang mengeras dan jantung berdebar-debar.
“Kita pergi!”, desisnya setelah berpikir beberapa saat.
Maka ketiga orang itu pun buru-buru membayar makanan mereka dan berjalan keluar meninggalkan kedai makan itu. Namun baru saja nereka berjalan beberapa langkah jauhnya, dua orang laki-laki berseragam prajurit menghadang jalan mereka. Mata kedua orang prajurit itu menatap mereka dengan tajam, di tangan keduanya masing-masing ada sebilah golok yang berkilauan ditempa cahaya matahari.
Ketiga laki-laki itu menengok ke belakang, dan menemukan sudah ada tiga orang prajurit menutup jalan mundur mereka.
Dalam hitungan singkat, ketiga laki-laki itu menemukan di jalan itu hanya tinggal mereka bertiga yang dikepung rapat oleh sepuluh orang prajurit. Penduduk kademangan, hanya terlihat di kejauhan, menonton ramai-ramai, menanti ganasnya pertarungan yang akan terjadi.
“Menyerah saja. Kalian tidak punya harapan.”, ujar seorang di antara sepuluh prajurit itu.
Untuk beberapa lama, laki-laki setengah umur itu tampak mencekal gagang sanjata yang terselip di pinggangnya kuat-kuat. Batinnya bergejolak, antara menyerah atau melawan, Matanya mengamati sepuluh prajurit yang mengepung dirinya.
Yang dia lihat adalah wajah-wajah keras dan sorot mata liar. Mereka hanya menatap tajam dengan dingin dan tenang. Yang menyala hanya sorot mata mereka. Tidak ada umpatan, atau pameran kekuatan. Namun ketenangan mereka itu yang justru mencekam hingga ke sumsum tulang. Jantungnya tak mau disuruh diam, terus saja berlompatan di dalam dadanya.
Akhirnya laki-laki itu menarik senjatanya dan melemparkannya ke tanah, “Aku menyerah. Kami menyerah.”
Mereka yang menonton di kejauhan, diam-diam meleletkan lidah, kagum melihat kesigapan prajurit-prajurit yang dibawa Rangga, sekaligus kecewa karena tak melihat tontonan akan kedigdayaan mereka.
Namun tidak semua kepungan berakhir tanpa pertarungan. Beberapa telik sandi yang lain nekat melawan, dan pertarungan pun tak terhindarkan. Dua kali terdengar raungan panah dari penjuru yang berbeda dalam Kademangan Jati Asih dan Senapati Hanggamurti pun harus mengirimkan bantuan ke arah suara panah tersebut.
Ketika semuanya berakhir, Senapati Hanggamurti memimpin anak buahnya kembali ke rumah Rangga. Bersama dengan mereka, ikut pula dua puluhan lebih laki-laki yang terikat erat, dengan berbagai macam kondisi.
Ada yang terluka parah, ada pula yang tidak terluka sama sekali. Namun semuanya dalam keadaan terikat erat dan tak mampu berbuat apa-apa, hanya bisa berjalan mengikuti para prajurit yang dipimpin Senapati Hanggamurti.
Sementara prajurit yang dipimpin Senapati Hanggamurti, memang ada beberapa yang terlihat luka, tapi tidak ada satupun yang terluka parah. Hanya luka-luka goresan luar, yang mungkin cukup dalam dan harus dibebat agar tidak terus mengucurkan darah, tapi tidak membahayakan jiwa.