
Sebatang panah meluncur dan meraung di atas sebuah hutan bambu di timur barisan. Rakryan Rangga Aswatama memimpin 30 pasukan berkuda, menderap ke arah hutan bambu itu. Rakryan Rangga Wirapati memberi tanda pada pasukan untuk berhenti.
Tumenggung Widyaguna dan Ki Ageng Aras saling berpandangan.
Seperti berjanji mereka menoleh ke arah Rangga yang mengamati arah perginya Rakryan Rangga Aswatama sambil mengerutkan alis.
“Ini sudah untuk ke-lima kalinya dalam dua hari ini.”, kata Tumenggung Widyaguna.
“Mereka bukan sekedar bandit biasa.”, sambung Ki Ageng Aras.
Rangga mengangguk, “Hmm....”
Wajahnya terlihat keruh, selama dua hari ini terjadi serangan kecil-kecilan terhadap pasukan pengintai yang bertugas mengamankan barisan. Tidak ada upaya serangan ke barisan utama. Seminggu yang lalu, mereka baru saja memenangkan pertempuran mereka yang pertama. Moralitas seluruh barisan, prajurit dan penduduk biasa, terangkat tinggi.
Sepertinya dewi keberuntungan benar-benar menaungi mereka. Ada banyak korban luka-luka, mulai luka ringan, sampai luka yang cukup parah. Namun tidak ada korban meninggal ataupun cacat tetap.
Mereka memutuskan untuk kembali ke tempat perhentian sebelumnya, sambil merawat korban yang masih luka parah. Setelah beberapa hari berlalu, ketika setiap orang sudah cukup pulih untuk melanjutkan kembali perjalanan, Rangga memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Siapa sangka, sejak hari pertama, terjadi serangan-serangan kecil yang membuat perjalanan mereka terhambat. Lebih buruk lagi, kali ini korban mulai berjatuhan dari antara prajurit Rangga.
Baiknya tidak ada korban yang jatuh dari antara anak-anak muda kademngan. Yang menjadi sasaran adalah prajurit-prajurit yang menjadi bagian dari pasukan pengintai. Mereka mengincar kelompok-kelompok kecil yang berisi lima sampai sepuluh orang prajurit. Orang-orang ini berkepandaian tinggi, bukan sekedar bandit biasa.
Dari empat kali serangan sebelumnya, tujuh orang prajurit Rangga gugur dalam pertarungan.
Tujuh orang bisa dikatakan jumlah yang kecil bagi sebuah pasukan besar yang jumlah totalnya mencapai ribuan. Namun moral dan semangat anak-anak muda Kademangan yang baru saja bangkit, sedikit banyak mengalami ujian.
Prajurit-prajurit yang sudah berpengalaman, menunjukkan keteguhan hati mereka dan baik secara langsung, lewat nasehat-nasehat, maupun secara tidak langsung dengan menunjukkan ketenangan mereka, menguatkan hati anak-anak muda Kademangan Jati Asih.
Setelah beberapa lama menunggu, terlihat kepulan debu dari kejauhan dan sayup-sayup terdengar suara pasukan kuda berderap mendekat.
Rangga, Ki Ageng Aras dan Tumenggung Widyaguna tidak diam menunggu, perlahan mereka menghentakkan kaki mereka ke perut kuda yang mereka tunggangi dan menderap ke arah datangnya Rakryan Rangga Aswatama.
Tumenggung Widyaguna menoleh dan berteriak pada Rakryan Rangga Wirapati, “Kau pimpin pasukan, awasi keadaan, pastikan semua aman.”
“Siap kakang!”, ujar Rakryan Rangga Wirapati dengan tegas.
Ketika dia menengok ke arah pasukan, dilihatnya wajah para senapati.
“Kendalikan keadaan, ingatkan para prajurit, tugas kita bukan hanya menjaga keamanan saja, tapi juga menguatkan semangat para penduduk. Utamanya anak-anak muda yang suatu saat nanti akan menjadi penerus kita.”, ujar Rakryan Rangga Wirapati.
“Siap !”, seru para senapati.
Tidak berapa jauh dari barisan yang panjang itu, Rangga, Ki Ageng Aras, Tumenggung Widyaguna dan Rakryan Rangga Aswatama mengamati sesosok mayat.
“Tanda ini, orang ini prajurit pilihan Kerajaan Watu Galuh, dahulu Prabu Anglang Bhuana, memang menyiapkan satuan khusus untuk perang-perang gerilya seperti ini.”, kata Ki Ageng Aras, sambil menunjukkan gelang tangan yang melingkar di lengan atas mayat tersebut.
Tumenggung Widyaguna dan Rakryan Rangga Aswatama saling berpandangan. Prajurit-prajurit mereka memiliki pengalaman panjang hidup di hutan-hutan dan gunung-gunung. Namun dasar-dasar latihan keprajuritan mereka adalah sebagai pasukan yang bertempur di medan terbuka.
“Raden, pasukan di bawah Sentanu, Branjangan dan Galah Cemani mengalami kesulitan menghadapi orang-orang ini. Hampir saja jatuh korban lagi.”, ujar Rakryan Rangga Wirapati.
“Jika raden mau, kita bisa mengatur ulang organisasi kesatuan kita dan membentuk kesatuan pengintai yang lebih kuat, terisi hanya dengan prajurit-prajurit yang berpengalaman dan memiliki ilmu yang dibutuhkan.”, kata Tumenggung Widyaguna.
“Kita perlu mencari tempat perhentian lagi, kalau tidak salah, ada satu tempat yang sudah pernah dipetakan oleh Paman Bayu Bayanaka di dekat sini.”, jawab Rangga.
“Benar, jadi apa Raden memutuskan untuk bergerak ke sana?”, tanya Tumenggung Widyaguna.
Rangga mengangguk, “Begitulah Paman, tak ada pilihan lain. Kita membutuhkan satuan khusus untuk menghadapi situasi saat ini. Mau tidak mau harus mengumpulkan prajurit-prajurit yang berpengalaman ke dalam satu satuan, dan melemahkan satuan-satuan yang lain. Aku tidak ingin berhadapan dengan pasukan Kadipaten Jambangan dalam situasi seperti ini.”
“Jika demikian, artinya kali ini kita akan berhenti cukup lama.”, ujar Tumenggung Widyaguna.
“Benar...”, jawab Rangga.
Hari itu juga mereka segera mengubah arah, untuk sementara Rangga dan Tumenggung Widyaguna memutuskan untuk menarik mundur pasukan Senapati Sentanu yang tadinya bertugas menyebar dan mengamankan wilayah di sekitar barisan.
Kemudian Rakryan Rangga Aswatama, memimpin dua puluh orang senapati, sekarang bertugas menjadi pasukan pengintai untuk memastikan mereka bisa sampai ke tujuan mereka berikutnya dengan aman. Pasukan yang ditinggalkan, diserap oleh sepuluh orang senapati yang tinggal bersama barisan, dipimpin oleh Rakryan Rangga Wirapati, mereka bertugas menjadi tembok pertahanan bagi rombongan besar ini.
“Prabu Jannapati secara tidak langsung sudah menyatakan perang, dengan mengirimkan Satuan Darespati untuk menganggu perjalanan kita.”, ujar Ki Ageng Aras.
“Darespati, itukah nama kesatuan yang menyerang kita?”, tanya Rangga.
“Ya... itulah nama mereka, ada lambang di gelang itu, Raden Rangga bisa melihatnya, gambar Burung Dares menggondol tengkorak manusia.”, jawab Ki Ageng Aras.
Rangga memperhatikan ukiran pada gelang yang mereka ambil dari lawan mereka tadi, kemudian memberikan gelang itu kepada Tumenggun Widyaguna yang ikut mempelajari ukiran pada gelang itu.
Setelah mengamati beberapa saat, Tumenggung Widyaguna mengembalikan gelang itu kepada Rangga sambil berkata, “Sesungguhnya tidak sulit bagi kita untuk mengumpulkan seratus orang prajurit dan membentuk kesatuan yang setara dengan kesatuan khusus ini. Hanya saja, kekuatan kesatuan yang lain akan menurun banyak.”
“Berapa besar kesatuan khusus ini paman?”, tanya Rangga pada Ki Ageng Aras.
“Saat Prabu Anglang Bhuanna masih berkuasa, kesatuan ini berisi tiga ratus prajurit, tiga puluh lurah, tiga bekel dan seorang senapati.”, jawab Ki Ageng Aras.
Wajah Tumenggung Widyaguna semakin muram, dengan berat hati dia berkata, “Mengumpulkan tiga ratus orang bukan masalah.”
Rangga berpikir sejenak kemudian berkata, “Tugaskan Pamanda Rakryan Rangga Aswatama untuk memimpin satuan ini, dibantu tiga orang senapati.”
Tumenggung Widyaguna menghela nafas dengan berat hati dia menyanggupi, “Siap raden.”
“Maafkan aku tidak dengan segera menyampaikan informasi yang penting ini.”, kata Ki Ageng Aras merasa bersalah.
Rangga menepuk tangan pendekar tua itu dan berkata, “Bukan salah paman, kami pun tidak pernah bertanya dan sesungguhnya aku juga tidak menduga, Adi Prabu Jannapati memandang kita sebagai ancaman yang sedemikian besar, hingga mengirimkan satuan khususnya untuk menghalang-halangi perjalanan kita ini.”
“Dari bentrokan-bentrokan yang terjadi, pasukan yang dikirimkan, tidak sampai seratus orang. Kemungkinan besar, seperti yang sudah Raden Rangga perhitungkan, sebagian besar kekuatan mereka saat ini sedang dikerahkan untuk memenangkan perang melawan pendukung-pendukung Pangeran Adiyasa.”, ujar Tumenggung Widyaguna.
“Tapi untuk apa Prabu Jannapati mengganggu perjalanan kita?”, Ki Ageng Aras bergumam dengan alis berkerut.
“Melihat jumlah kekuatan yang tidak cukup besar, ada dua kemungkinan.”, kata Rangga sambil berpikir.
“Yang pertama mereka hanya bertugas mencari-cari celah dan menciptakan kesempatan, sementara pasukan yang lebih besar bersiap untuk menyerang.”, ujar Rangga sambil mengacungkan satu jarinya.
“Yang kedua, mereka hanya bertugas untuk membuat kita merasa tak aman dan memperlambat kecepatan kita.”, sambungnya lagi.
“Kemungkinan pertama rasanya kecil sekali terjadi, Prabu Jannapati tidak akan mempertaruhkan keselamatan kerajaan, hanya untuk menghabisi kita.”, kata Tumenggung Widyaguna menggelengkan kepala.
Rangga mengangguk setuju, “Kemungkinan besar yang kedua, Adi Prabu Jannapati sedang mempersiapkan kejutan untuk kita, dan membutuhkan waktu sebelum kejutan itu siap.”
“Kalau memang demikian, apakah tidak sebaiknya kita justru mempercepat perjalanan kita, meninggalkan perbatasan kerajaan, sebelum Prabu Jannapati berhasil mematangkan rencananya?”, tanya Ki Ageng Aras sambil mengerutkan alis.
“Tapi jika kita mempercepat kecepatan dalam kondisi saat ini, akan ada semakin banyak korban yang berjatuhan. Di antara rombongan masih ada ratusan yang belum pulih benar setelah pertempuran melawan begal-begal dari Gunung Awu.”, kata Tumenggung Widyaguna tak setuju
“Tetapi jika kita terlambat, ada kemungkinan akan jatuh korban lebih banyak lagi dari antara penduduk Kademangan jati Asih ini ketika terjadi pertempuran melawan kekuatan yang sedang disiapkan oleh Prabu Jannapati saat ini.”, Ki Ageng Aras mengajukan argumen yang kuat.
Tumenggung Widyaguna mengerutkan alis, dia bisa memahami argumen Ki Ageng Aras, lalu dia berkata, “Tergantung siapa lawan yang nanti kita hadapi, dan sebaik apa kita bisa memanfaatkan waktu sebelum kita melanjutkan perjalanan.”
Ki Ageng Aras menoleh ke arah Rangga dan bertanya, “Bagaimana menurut pertimbangan Raden Rangga?”
“Aku kira, yang sedang disiapkan Adi Prabu Jannapati untuk menghadang jalan kita sekarang adalah pasukan Kadipaten Jambangan. Pertama tidak mungkin kita keluar dari perbatasan Kerajaan Watu Galuh, tanpa melewati Kadipaten Jambangan. Yang kedua, Adi Prabu Jannapati tidak mungkin mempertaruhkan Kerajaan Watu Galuh dengan membagi perhatian, saat ada ancaman dari kadipaten luar.”, jawab Rangga sambil berpikir.
Tumenggung Widyaguna menjawab, “Aku rasa raden benar.”
“Jika mengikuti aturan yang ditetapkan Prabu Anglang Bhuanna, satu kadipaten tidak mungkin bisa mengerahkan pasukan lebih besar dari seribu lima ratus orang. Kemungkinan besar Prabu Jannapati memerintahkan Adipati Jalak Kenikir untuk memperkuat pasukannya sebelum kita mencapai perbatasan.”, ujar Ki Ageng Aras.
Tumenggung Widyaguna mengangguk setuju, “Aku rasa Ki Ageng Aras benar, jika diberi cukup waktu, Adipati Jalak Kenikir bisa saja mengumpulkan sejumlah besar pasukan, tapi menurut perhitunganku tidak akan lebih dari 3500 orang pasukan. Memelihara 2000 pasukan saja, sudah menjadi beban yang berat bagi satu kadipaten kecil seperti Kadipaten Jambangan.”
“Ada kemungkinan Prabu Jannapati juga ikut membiayai pembentukan pasukan ini?”, Ki Ageng Aras ragu-ragu mengajukan pertanyaan.
“Bisa saja, dalam masa perang seperti ini, emas dan permata, masih jauh lebih murah dibandingkan sebuah pasukan yang terlatih.”, gumam Tumenggung Widyaguna.
“Kita perlu mengirimkan orang ke Kadipaten Jambangan untuk menyelidik.”, ujar Rangga setelah berpikir beberapa lama.
“Bagaimana dengan keputusan raden mengenai pandangan Ki Ageng Aras, apakah sebaiknya kita bergerak cepat, untuk mendahului persiapan Prabu Jannapati?”, tanya Tumenggung Widyaguna.