
Perlahan-lahan kesadaran Sabrang kembali, hidungnya mencium bau ramun obat-obatan yang menusuk hidung. Luka-luka di badannya terasa jauh lebih nyaman. Tubuhnya terasa jauh lebih segar, ditopang oleh tempat berbaring yang cukup empuk dan dilapisi kain.
Mungkin pembaringannya jauh lebih keras dan padat, dibandingkan kasur yang empuk.
Namun terasa sangat nyaman, setelah beberapa hari hampir selalu berada di atas punggung kuda, kalau pun tidur hanya beralaskan tanah, ditambah lagi kelelahan yang amat saat dia harus berpacu dengan waktu untuk sampai secepat-cepatnya ke tempat tujuan.
Sabrang masih menutup matanya agak lama, sambil menikmati istirahat yang dia rindukan, sebelum akhirnya dengan berat hati membuka mata.
“Kau sudah sadar?”, tiba-tiba dia mendengar suara seseorang yang sangat dia kenal.
Sabrang menoleh dan hendak membuka mulut, ketika dia melihat berdiri di depannya adalah Senapati Watu Gunung, tapi Senapati Watu Gunung yang saat ini memakai baju prajurit Kerajaan Watu Galuh. Sabrang berkedip-kedip sebentar, otaknya berputar, mencerna keadaaan. Dengan cepat dia mulai mengingat semua yang terjadi, siapa dia, di mana sekarang dia berada, sebagai siapa dan apa tugas yang dia emban.
“Kisanak ini...?”, tanya Sabrang ragu-ragu, berpura-pura tak mengenali Senapati Watu Gunung yang ada di depannya.
“Aku Senapati Mundingsari, yang bertugas memimpin pengawalan perbekalan dari ibukota ke perbatasan di selatan.”, jawab Senapati Watu Gunung membelakangi seseorang di belakangnya, dia mengedipkan sebelah matanya pada Sabrang.
“Bersama denganku ada Senapati Subangsana yang dikirimkan Prabu Jannapati untuk membantu pengawalan, beberapa hari sebelum Adipati Jalak Kenikir mengirimkan kalian untuk membantu juga.”, ujar Senapati Watu Gunung sambil menggeser badan, sehingga Sabrang bisa melihat orang di belakangnya.
Sabrang melihat ke arah orang yang ada di belakang Senapati Watu Gunung, seraut wajah yang tidak dikenal. Anak muda itu menganggukkan kepala.
“Baik Ki Senapati, aku mengerti.”, kata anak muda itu pada Senapati Watu Gunung.
“Sekarang sampaikan apa yang terjadi, sesingkat mungkin tanpa melupakan hal yang penting, agar kami dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.”, ujar Senapati Subangsana dengan nada tak sabar.
“Siap Ki...”, ujar Sabrang.
“Sesuai perintah dari pimpinan kami, Senapati Lesmana, kami berpacu dan hanya sesekali beristirahat untuk mengistirahatkan kuda-kuda kami. Pimpinan kami... Senapati Gagak Seta.. dia masih muda dan kurang pengalaman---”, Sabrang memulai ceritanya, tapi Senapati Subangsana menyela dia.
“Tidak perlu terlalu panjang menjelaskan, apa yang terjadi dalam perjalanan kalian menuju ke tempat ini?”, sela Senapati Subangsana.
“... pasukan Raden Rangga menyergap kami dan dalam keadaan kelelahan dan barisan yang tidak teratur karena memburu waktu, kami mengalami kekalahan.”, lanjut Sabrang dengan alis berkerut.
“Kenapa hanya ada kalian berdua? Bagaimana dengan sisa pasukan yang lain?”, tanya Senapati Watu Gunung.
“Aku tidak tahu ki..., pada saat itu aku dan Kakang Partajaya mendampingi Senapati Gagak Seta memimpin di depan. Mereka menyerang dari sisi kiri, kanan dan belakang barisan. Kami bertempur sengit, tapi mereka sangat tangguh. Senapati Gagak Seta kemudian memerintahkan kami berdua untuk meninggalkan pertempuran dan mencari bala bantuan dari kalian.”, jawab Sabrang.
Senapati Watu Gunung melihat ke arah Senapati Subangsana dan Senapati Subangsana berkata. “Kita keluar dulu.”
Kedua senapati itu pun berjalan meninggalkan tenda.
“Bagaimana menurut Ki Subangsana?”, tanya Senapati Watu Gunung.
“Kau tahu? Kukira prajurit yang dikirimkan Adipati Jalak Kenikir, sudah pasti bukan pasukan utamanya. Melainkan sebagian dari prajurit yang baru beberapa bulan yang lalu diangkat menjadi prajurit.” jawab Senapati Subangsana.
Senapati Watu Gunung pura-pura berpikir agak lama dan kemudian dengan wajah prihatin, “Hmm..., maksud Ki Subangsana... mereka sudah kalah?”
“Hmph... melihat keadaan anak muda itu, kukira dia bukan diperintahkan mundur, tapi kabur. Kukira teman-temannya yang lain juga sudah tersebar-sebar, ada yang lari dan ada yang gugur.”, dengus Senapati Subangsana.
Senapati Watu Gunung terdiam untuk beberapa saat kemudian dengan tegas mengatakan, “Perbekalan ini tidak boleh jatuh ke tangan mereka.”
“Tentu saja.”, sahut Senapati Subangsana.
“Apa perlu kita mengambil jalan memutar? Jika benar mereka disergap ketika melalui jalan ini, jangan-jangan saat ini mereka juga sudah menunggu untuk menyergap kita pula.”, tanya Senapati Watu Gunung.
Senapati Subangsana berpikir cukup lama, sebelum kemudian menggelengkan kepala, “Tidak bisa Ki, satu-satunya jalan memutar ada beberapa hari perjalanan di belakang kita. Itupun akhirnya kita harus memutar cukup jauh. Kita akan membuang waktu terlalu lama, semangat pasukan di perbatasan bisa turun jika perbekalan tidak segera sampai.”
Mereka berdua sama-sama terdiam, Senapati Subangsana merasa pusing menghadapi masalah ini, sementara Senapati Watu Gunung hanya berpura-pura pusing. Ketika melihat Senapati Subangsana, tidak juga menemukan ide, Senapati Watu Gunung pun melontarkan rencana yang sudah Rangga buat jauh-jauh hari.
“Begini saja Ki, jika kita menggabungkan kekuatan pasukan kita, jumlahnya lebih dari seribu. Apalagi lawan juga baru saja bertempur mati-matian. Kita punya kesempatan besar untuk menang. Kenapa tidak kita satukan kekuatan kita? Dan bergerak cepat untuk menyergap mereka sekarang juga, ketika mereka masih belum siap!”, ujar Senapati Watu Gunung dengan sorot mata berapi-api.
“Tapi bagaimana dengan perbekalan yang kita bawa?”, tanya Senapati Subangsana ragu-ragu.
“Untuk sementara kita tinggalkan perbekalan itu di sini, dan akan aku tinggalkan dua ratus orang pasukanku untuk menjaga perbekalan itu.”, ujar Senapati Watu Gunung dengan berani.
Senapati Subangsana mulai merasa ikut bersemangat, “Kau yakin?”
“Tidak ada jalan lain, perbekalan itu lebih aman berada di sini sampai kita berhasil membereskan pasukan Rangga itu.”, Senapati Watu Gunung menjawab.
Ketika dia melihat Senapati Subangsana masih terlihat agak ragu-ragu, Senapati Watu Gunung menambahkan, “Aku nanti yang akan bertanggung jawab di depan Prabu Jannapati jika sampai terjadi sesuatu atas perbekalan ini.”
Senapati Subangsana memandangi Senapati Watu Gunung dalam-dalam, “Apa aku bisa pegang kata-katamu itu?”
“Tentu saja, jika tetap pada rencana semula, lalu kita disergap dan terjadi sesuatu atas perbekalan itu. Bukankah aku juga yang akan dituntut pertanggung jawabannya secara hukum keprajuritan? Karena itu aku memilih rencana ini.”, jawab Senapati Watu Gunung dengan yakin.
Bergegas kedua orang senapati itu menyiapkan pasukan mereka, ketika Senapati Subangsana sudah siap, dia menemukan Senapati Watu Gunung masih mengatur pertahanan di sekeliling perbekalan yang ditinggalkan.
“Ki Mundingsari, kau belum siap?”, tanya Senapati Subangsana tak sabar.
Senapati Watu Gunung berpura-pura merasa malu, “Sebentar lagi Ki, aku harus memastikan dua ratus orang itu bisa bertahan bila ternyata pasukan Rangga entah dengan cara bagaimana, berhasil melewati kita dan menyerbu.”
Senapati Subangsana terlihat tak sabar, “Jika kau terlalu lama, mereka akan keburu pergi.”
“Eh... bagaimana kalau Ki Subangsana berangkat sekarang juga? Aku akan menyusul secepatnya.”, Senapati Watu Gunung dengan ragu dan sungkan menjawab.
Senapati Subangsana terlihat ragu, tapi ketika melihat prajurit-prajurit Senapati Watu Gunung masih sibuk memindahkan dan mengatur beberapa gerobak agar membentuk tembok pertahanan, akhirnya dia mengambil keputusan.
“Baiklah aku akan memimpin pasukanku lebih dulu, tapi kau secepat mungkin menyusul.”, tegas Senapati Subangsana.
“Tentu saja, aku hanya akan mengarahkan mereka, begitu mereka sudah paham yang aku mau, aku akan segera memimpin pasukanku menyusul Ki Subangsana.”, jawab Senapati Watu Gunung.
“Baik, aku pergi sekarang.”, ujar Senapati Subangsana yang dengan segera memacu kudanya ke arah pasukannya yang sudah menunggu.
Senapati Watu Gunung berpura-pura melanjutkan pekerjaannya mengatur pertahanan. Namun ketika pasukan Senapati Subangsana sudah tak terlihat, Senapati Watu Gunung dan prajurit-prajuritnya pun berhenti bekerja. Sambil saling berpandangan mereka tertawa kecil.
“Hehehe, kita berhasil Di”, ujar salah seorang prajurit.
“Hmm... tapi kita belum boleh berpuas diri Kakang, kita baru berhasil setengahnya.”, jawab Senapati Watu Gunung dengan senyum terkulum.
“Kau benar, ayolah kita jangan membuang waktu lagi. Aku akan berangkat sekarang untuk menemui Gagak Seta, kalian atur sendiri bagaimana yang di sini.”, ujar prajurit tadi, dia adalah Senapati Bayu Bayanaka.
“Baik kakang, cepatlah, sebelum Senapati Subangsana terlalu dekat dengan pasukan Gagak Seta.”, jawab Senapati Watu Gunung.
“Hmm..”, jawab Bayu Bayanaka singkat, sebelum mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan berkelebat pergi.
------
Dua puluh lima orang senapati yang dikerahkan Raden Rangga untuk tugas rahasia ini. Jauh sebelum Prabu Jannapati mengirimkan Senapati Subangsana untuk membantu pengawalan, pasukan Raden Rangga yang diam-diam menghilang, sudah memanfaatkan waktu ketika kepergian mereka belum diketahui, untuk secepat-cepatnya menyerang perbekalan Prabu Jannapati di tengah perjalanan.
Kemudian alih-alih melarikan perbekalan itu, atau membakarnya, pasukan Rangga berpura-pura menjadi pengawal perbekalan itu dan melanjutkan perjalanan, membawa perbekalan menuju ke selatan, ke arah Kadipaten Serayu.
Mereka sudah bersiap-siap, selama penyamaran mereka tidak terbongkar, mereka akan meneruskan perjalanan, membawa perbekalan, sebagai pasukan Kerajaan Watu Galuh.
Namun jika sampai penyamaran mereka terbongkar, maka jalan kedua akan mereka ambil, yaitu membakar perbekalan dan kembali menghilang, untuk terus mengganggu pengiriman perbekalan untuk pasukan Prabu Jannapati yang sedang berada di medan perang.
Rupanya dewi keberuntungan memilih untuk berpihak pada Rangga Wijaya. Penyamaran mereka tidak terbongkar, beberapa orang utusan yang dikirim, tidak mengenal Watu Gunung. Maklum saja, pasukan yang dibawa Prabu Jannapati untuk melawan gabungan pasukan para adipati, juga berasal dari berbagai kadipaten di Kerajaan Watu Galuh, sehingga banyak di antara mereka yang tidak saling kenal.
Berbekal kata sandi yang mereka dapatkan dengan cara menyiksa prajurit pengawal perbekalan yang asli, akhirnya pasukan Rangga ini bisa lolos tak terdeteksi sampai saat-saat yang paling penting sekarang ini.
Lalu siapa yang melukai Sabrang dan Partajaya? Mereka berdua yang saling melukai diri mereka sendiri, agar seakan-akan mereka baru saja lolos dari pertempuran yang berat.
Apa tujuannya? Ya untuk memancing Senapati Subangsana.
--------
“Baik kakang, jadi bagaimana pembagiannya? Siapa yang akan membawa perbekalan dan siapa yang maju menyerang?”, tanya Watu Gunung pada beberapa orang senapati yang ikut berkumpul.
“Aku ingin bertarung, beberapa hari ini terlalu membosankan.”, ujar Senapati Gajah Petak disambut tawa senapati yang lain.
Senapati Respati yang lebih tenang pembawaannya berkata, “Sudahlah, biar aku, Adi Trengganu dan Adi Arcayama yang mengawal perbekalan. Aku tahu kalian semua sudah gatal untuk bertarung.”
“Hahahaha.... bagus-bagus, itu baru saudara yang baik.”, sahut Senapati Gajah Petak sambil menepuk-nepuk pundak Senapati Arcayama dengan puas.
Tidak terlihat ketegangan di wajah-wajah mereka, baik para senapati itu, maupun prajurit yang mereka pimpin.
Dalam waktu singkat, tanpa membuang waktu mereka sudah membagi pasukan mereka menjadi dua bagian. Sebagian besar menaiki kudanya dan menyusul Senapati Subangsana yang sedang memimpin pasukannya ke arah Kadipaten Serayu, menuju ke pasukan Kadipaten Jambangan yang dipimpin oleh Gagak Seta.
Sementara sisanya yang lebih sedikit, dengan bergegas mengarahkan gerobak-gerobak berisi perbekalan yang disiapkan untuk pasukan Prabu Jannapati selama beberapa bulan ke depan, menyusul di belakang mereka dengan perlahan-lahan. Partajaya dan Sabrang yang dalam kondisi luka-luka, ikut juga bersama dengan rombongan yang membawa perbekalan itu.
--------
Sekarang apa yang akan terjadi nanti ketika pasukan Senapati Subangsana bertemu dengan pasukan yang dipimpin Gagak Seta?
Bagaimana pula kelanjutan rencana Rangga? Apakah mereka berhasil mengelabui Prabu Jannapati?
Lalu bagaimana dengan pertempuran antara pasukan Kadipaten Jambangan yang dipimpin Senapati Lesmana, melawan pasukan Raden Rangga? Akan berhasilkah Rangga merebut Kadipaten Jambangan? Bagaimana dia akan memanfaatkan sisa pasukan telik sandinya yang masih berada dalam pasukan Senapati Lesmana?