Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab XLIX Rangga Terkepung



Pasukan Rangga berderap maju, langkah-langkah, mendekati dua puluh langkah dari posisi mereka sebelumnya berhenti, Rangga memberikan perintah, “Pasukan perisai! Angkat perisai! Maju menyebar!”


Setiap kali Rangga memberikan perintah, selalu diikuti oleh kode-kode tertentu dengan mengibarkan panji-panji yang berbeda.


Selain mengikuti perintahnhya, para pimpinan kesatuan juga harus memperhatikan panji apa yang dikibarkan.


Saat ini pasukan yang membawa perisai, bergerak menyebar, barisan yang tadinya rapat sekarang menyisakan jarak dua-tiga langkah antar prajurit. Mereka semua mengangkat perisai yang lebar ke atas kepala, membentuk sudut, melindungi tubuh dan kepala mereka dari serangan panah lawan.


“Pasukan Panah, berlindung di antara perisai!”, menyusul perintah berikutnya


Dan pasukan panah pun melebur dengan pasukan perisai yang ada di depan mereka, berlindung di antara barisan perisai. Pasukan Rangga masih bergerak maju ke depan dengan langkah kaki yang tetap.


------


Di balik tembok kota, di atas salah satu menara, Adipati Jalak Kenikir dan tiga senapati yang lain mengamati pertempuran di bawah. Dari posisi mereka, mereka bisa melihat garis besar seluruh medan pertempuran tanpa ikut terbawa suasana di bawah sana.


Senapati Glagah Wiru berdesis, “Gawat, Adi Lesmana termakan irama lawan.”


“Menurut Ki Glagah Wiru apa yang seharusnya dia lakukan?”, tanya Adipati Jalak Kenikir, dia sendiri tak bisa membayangkan berada di tengah pertempuran.


Senapati Glagah Wiru menjawab, “Harusnya Adi Lesmana mengirimkan satuan-satuan kecil untuk mengganggu pergerakan barisan pasukan lawan, tidak membiarkan mereka maju teratur dengan bebas.”


“Mungkin Adi Lesmana bukan tidak tahu, tapi tidak bisa.”, Senapati Rendra ikut memberikan pendapat.


Senapati Glagah Wiru bertanya, “Maksud kakang, karena keadaan prajurit-prajurit yang dia pimpin saat ini?”


Senapati Rendra mengangguk, “Benar, terlihat mereka tidak siap untuk terjun dalam pertempuran dengan gelar terbuka seperti sekarang. Seperti tadi, beberapa orang melepaskan panah sebelum mendapat aba-aba, dan yang lain dengan segera mengikuti.”


Senapati Glagah Wiru menghela nafas, “Justru itu, mengapa aku berkata Adi Lesmana terbawa irama lawan.”


“Maksud Adi Glagah Wiru?”, tanya Senapati Rendra terjejut.


Senapati Glagah Wiru menunjuk ke pertempuran di bawah sana, “Adi Lesmana, terbawa oleh sikap dan pergerakan pasukan Raden Rangga, seakan-akan dia harus memimpin pasukannya seperti Raden Rangga memimpin pasukannya. Dia lupa, prajurit yang dia pimpin tidak cocok bertempur seperti itu.”


“Kakang Glagah Wiru ada benarnya, kalau bertempur dengan cara seperti ini, pasukan Adi Lesmana justru tidak bisa menunjukkan kelebihan mereka.” ujar Senapati Nakula.


Senapati Rendra mendesah, “Kalau seperti itu, lalu apa bedanya dengan geromboan begal Gunung Awu...?”


“Masih ada kelebihannya dibandingkan gerombolan begal itu, di sini ada Adi Lesmana yang bisa memimpin dan mengarahkan mereka sebagai satu kesatuan, meskipun tidak serapi seperti yang ditampilkan pasukan Raden Rangga.”, jawab Senapati Glagah Wiru.


Senapati Rendra terdiam sejenak dan akhirnya menganggukkan kepala, “Benar... kau benar Di... Adi Lesmana harusnya mengembangkan pertempuran ke arah yang sesuai dengan kelebihan pasukannya, yaitu dalam pertarungan satu lawan satu. Pertarungan yang rusuh dan menyulitkan Raden Rangga untuk membentuk formasi perang.”


Adipati Jalak Kenikir mengerutkan alis, “Jika dibiarkan terus seperti ini, apakah tidak berbahaya bagi Ki Lesmana?”


Ketiga orang senapati saling berpandangan untuk beberapa lama tidak ada yang berani menjawab. Senapati Rendra, yang tertua di antara mereka akhirnya membuka mulut.


“Adi Glagah Wiru, dalam hal strategi dan taktik pertempuran, kau yang paling mahir di antara kita semua.”, ujar Senapati Rendra.


Adipati Jalak Kenikir mengangguk, “Ki Glagah Wiru, tolong kau berikan pendapatmu.”


Senapati Glagah Wiru dengan hati-hati menjawab, “Untuk saat ini, keadaan Adi Lesmana belum begitu berbahaya. Meskipun hampir tidak mungkin menang, namun masih ada banyak kesempatan untuk mundur dari medan pertempuran. Bagaimanapun juga, jumlah pasukan kita tidak berada di bawah jumlah pasukan lawan dan begitu mereka mulai masuk dalam pertempuran jarak dekat, prajurit-prajurit kita punya banyak kesempatan untuk menunjukkan kelebihan mereka.”


Adipati Jalak Kenikir bertanya, “Jika kita mengirimkan bantuan sekarang bagaimana?”


Senapati Glagah Wiru mengalihkan perhatiannya ke medan pertempuran, beberapa kali dia menghela nafas sebelum akhirnya menjawab, “Kita belum tahu, di mana keberadaan seribu orang prajurit Raden Rangga yang menghilang itu. Bisa jadi mereka sedang bersembunyi dan menanti pasukan kita keluar dari kota.”


Adipati Jalak Kenikir berpikir keras, keputusan ada di tangannya.


“Kita tunggu. Bukankah dari awal kita tidak mengharapkan kesatuan yang baru ini untuk menang? Apakah saat ini perbandingan kekuatan di medan tempur sudah di luar perkiraan awal?”, akhirnya Adipati Jalak Kenikir mengambil keputusan, sembari bertanya mencari kepastian.


Senapati Glagah Wiru memperhatikan jalannya pertempuran di bawah sana, dan setelah cukup lama berpikir akhirnya dia menjawab, “Masih masuk dalam perhitungan awal.”


“Baik, kalau begitu kita tunggu.”, ujar Adipati Jalak Kenikir pendek.


------


Pada saat itu, di medan pertempuran, kedua pasukan saling bertukar anak panah. Pasukan Senapati Lesmana berada di posisi yang lebih baik, tetapi pasukan Rangga menang dari sisi semangat, moral dan kedisiplinan.


Korban satu per satu terus berjatuhan dari kedua belah pihak.


Terutama dari pihak pasukan Rangga, tapi dengan teguh prajurit-prajurit yang masih berusia muda itu terus melangkah maju, di bawah hujan anak panah. Setiap kali hujan anak panah turun seperti gelombang, puluhan bahkan mungkin ratusan orang prajurit jatuh menjadi korban. Entah luka, atau nyawa. Perisai-perisai yang menahan anak panah itu sudah compang-camping, dihiasi belasan anak panah.


“Pasukan penyerang! Bersiap!”, seru Rangga, jarak mereka sudah tinggal dua puluh atau belasan langkah dari lawan.


“Pasukan tombak! Bersiap!”, seru Senapati Lesmana.


“Serang!”, seru Rangga sambil memacu kudanya ke depan, diikuti oleh para senapati yang tidak memimpin kesatuan.


Tumenggung Widyaguna dan kedua rakryan, juga berseru, “Serang!”


Namun ketiganya tidak maju memapak musuh seperti Rangga dan belasan orang senapati yang maju jauh mendahului pasukan mereka. Ketiganya menjaga posisi, maju bersama pasukan.


Tumenggung Widyaguna mengambil alih pimpinan pasukan, sementara Rangga dan para senapati mengamuk di depan, seperti pusaran angin yang menyerap prajurit di sekitar mereka. Menyerap mereka masuk, dan memuntahkan mereka kembali dalam keadaan luka bahkan mati.


Namun tidak lama itu terjadi, tentu saja Senapati Lesmana tidak membiarkan mereka meraja lela di antara pasukannya.


Senapati Lesmana berteriak-teriak dari atas kudanya, “Tedja! Lakukan tugasmu!”


Kemudian memacu kudanya ke posisi lain dan memberi perintah pada beberapa orang Bekel, “Bagus! Pimpin kesatuan -mu menghadang senapati lawan!”


Demikian dia mengatur pasukannya, dari satu titik ke titik lain.


Tumenggung Widyaguna yang memimpin di depan berseru, “SERAANG!”


Pasukan Rangga meluruk maju, mereka maju sebagai kesatuan-kesatuan yang lebih kecil. Dengan cara begitu mereka bisa mengimbangi prajurit-prajurit Kadipaten Jambangan yang rata-rata lebih berpengalaman dan selapis-dua lapis lebih tinggi ilmunya dari mereka. Tapi karena jumlah kedua pasukan kurang lebih berimbang, maka Rangga, Tumenggung Widyaguna dan para senapati harus bekerja keras untuk menyeimbangkan keadaan.


Adipati Jalak Kenikir dan tiga orang senapati terus mengamati dari atas menara. Serangan pasukan Rangga yang awalnya seperti ombak yang menderas, sekarang tertahan di garis pertahanan pasukan Kadipaten Jambangan.


Adipati Jalak Kenikir menoleh ke arah Senapati Glagah Wiru dan berkata, “Kau benar, orang per orang, pasukan kita jauh lebih baik dari pasukan mereka.”


“Benar..., tapi Adi Lesmana harus bekerja keras mengatur pasukan. Ki Adipati lihat, Raden Rangga dan para senapati, terus bergerak memancing pasukan kita, berusaha mengacaukan barisan kita, sesekali meninggalkan lubang dalam garis pertahanan kita. Sementara Tumenggung Widyaguna dan kedua Rakryan Rangga di sayap pasukan memimpin pasukan mereka untuk bergerak merebut dan mengamankan posisi tersebut.”, Senapati Glagah Wiru menjelaskan sambil menunjuk ke tempat-tempat di medan pertempuran, di mana proses itu terjadi.


“Yang penting, kita harus bisa memastikan keselamatan Ki Lesmana.”, Adipati Jalak Kenikir dengan alis berkerut cemas.


“Tidak ada masalah, Adi Lesmana bisa menguasai keadaan dengan baik sekarang. Ki Adipati lihat? Adi Lesmana perlahan-lahan menguasai keadaan. Selama seribu pasukan yang menghilang itu tidak tiba-tiba muncul di sini, kita bisa memenangkan pertempuran hari ini.”, kata Senapati Rendra.


Senapati Glagah Wiru mengangguk, “Kakang Rendra benar, Adi Lesmana sampai saat ini masih berhasil menjaga sehingga pasukan Raden Rangga belum berhasil menerobos masuk.”


Di bawah sana, semakin lama waktu berjalan, ketika jumlah korban terus berjatuhan, kesatuan-kesatuan kecil mulai kehilangan anggotanya mereka pun semakin kesulitan dalam menghadapi prajurit-prajurit Kadipaten Jambangan yang perlahan-lahan mulai beradaptasi dengan medan pertempuran.


Tanpa disadari, Rangga dan para senapati, terjebak masuk terlalu jauh ke dalam pasukan Kadipaten Jambangan. Tumenggung Widyaguna belum berhasil memimpin pasukan Kademangan Jati Asih untuk merebut rongga-rongga yang ditinggalkan Rangga, sebaliknya Senapati Lesmana menunjukkan kelebihannya dengan merebut kembali daerah yang terbuka.


Berbeda dengan Rangga dan para senapati yang terjun langsung bertarung dengan para prajurit lawan Senapati Lesmana lebih berfungsi sebagai pengatur pasukan. Dia tidak pernah terlibat langsung dalam pertempuran, tapi dengan jeli mengirimkan prajurit-prajuritnya sesuai dengan keadaan medan pertempuran.


Pada saat ini Rangga dikeroyok belasan orang prajurit yang bekerja sama dengan rapat, tak mudah bagi Rangga untuk melukai salah seorang dari mereka, tanpa mendapatkan serangan balik dari rekan yang lain. Prajurit-prajurit itu pun berkelahi dengan cerdik, mereka lebih berkonsentrasi untuk mengepung Rangga, sehingga dia tidak bisa bergerak ke lokasi lain dalam medan pertempuran.


Di belakang belasan prajurit itu, ada puluhan prajurit lain yang menyerang Rangga dengan senjata jarak jauh, baik panah maupun senjata rahasia.


Ketika Rangga berhasil melukai seseorang, dengan cepat prajurit lain menggantikan posisi prajurit yang terluka.


Senapati Lesmana dari waktu ke waktu, mengirimkan lebih banyak kesatuan memperketat kepungan terhadap Rangga. Membentuk berlapis-lapis kepungan, menjaga agar dia tidak bisa lepas kembali pada pasukannya.


Melihat pertempuran semakin berat, beberapa orang senapati sudah mulai terluka, Raden Rangga berseru, “Para senapati! Mundur! Bergabung dengan pasukan!”


Tidak seperti Senapati Lesmana yang dengan berani memerintahkan kesatuan-kesatuan dalam pasukannya untuk melakukan tugas tertentu, Tumenggung Widyaguna dan kedua Rakryan Rangga tidak berani mengirimkan kesatuan-kesatuan di bawah pimpinannya bergerak lepas dari barisan utama. Akibatnya mereka tidak bisa mengirimkan bantuan bagi para senapati dan Rangga yang berada di antara barisan lawan.


Para senapati harus berjuang sendiri, untuk melepaskan diri dari kepungan lawan.


Rangga berusaha mengamati keadaan medan pertempuran, kemudian berseru “Paman Widyaguna! Jangan terpancing! Pertahankan garis pertempuran!”


Melihat rekan-rekan seperjuangannya yang harus berjuang di depan tanpa bantuan, mata Tumenggung Widyaguna memerah, jenggot putihnya berkibaran saat dia mengamuk dan memukul mundur belasan prajurit lawan yang ada di depannya.


Namun dia tidak berani memburu mereka ke depan, karena barisan pasukan mereka akan menjadi tidak beraturan jika dia melakukan hal itu.


“Gunakan sayap untuk membebaskan para senapati!”, seru Rangga pada Tumenggung Widyaguna.


Mendapatkan perintah dari Rangga, Tumenggung Widyaguna pun mengubah formasi pasukan, kedua Rakryan Rangga di sayap kiri dan kanan, memimpin sekelompok kecil satuan prajurit mendesak maju pasukan lawan.


Senapati Lesmana dengan segera mengatur kembali barisannya, seperti seekor harimau yang sudah berhasil menggigit leher lawan dan tak mau melepaskan gigitannya, meski mendapat serangan dari kiri dan kanan.


Senapati Lesmana memilih untuk memundurkan barisan di sayap kiri dan kanan, tanpa mengendurkan kepungannya atas para senapati dan Rangga yang terjebak di tengah-tengah pasukannya. Melihat tanggapan Senapati Lesmana, Rangga pun berpikir keras mencari jalan lain.


Tiba-tiba dari salah satu kepungan terdengar sorakan keras, “Kena!”


“Kakang Dalawangsi!”, terdengar Senapati Trimukti berseru marah sambil berusaha menerobos prajurit yang mengepungnya dan bergerak menolong Senapati Dalawangsi yang terluka cukup parah.


Tiba-tiba terdengar Tumenggung Widyaguna berseru, “Wirapati! Ambil alih pimpinan pasukan! Aswatama! Ikuti aku untuk membebaskan saudara-saudara kita dari kepungan!”


Raden Rangga yang mendengar seruan Tumenggung Widyaguna segera memahami maksud tumenggung tua itu, sambil menggerung keras dia menerobos kepungan yang ada di sisi kanannya, “Paman Widyaguna ke timur! Aku bereskan yang barat! Para senapati berkumpul! Kalian yang di sisi timur bergerak ke arah Paman Widyaguna! Yang di sisi barat bergerak ke arahku!”


Ketika melihat Tumenggung Widyaguna dan Rangga mengamuk dan korban mulai berjatuhan, Senapati Lesmana pun berteriak, “Hindari mereka, jangan keras lawan keras!”


Kemudian berkuda ke garis lain, dia memberikan perintah untuk menyerang ke arah pasukan Rangga yang kehilangan dua orang pimpinannya.


Sayap kiri dan kanan dari pasukan Rangga yang sekarang kehilangan pemimpin, terpukul mundur dan Rakryan Rangga Wirapati pun harus memundurkan garis perlawanan dan memendekkan garis pertempuran, agar barisan mereka tidak terputus.


Namun sebagai imbal balik, Rangga dan Tumenggung Widyaguna berhasil mengumpulkan para senapati menjadi dua kelompok kecil yang saling membantu di tengah kepungan lawan. Sehingga setidaknya, senapati-senapati yang terluka bisa mengambil nafas sejenak.


“Bertahan! Bertahan! Sesaat lagi saudara-saudara kita akan bergabung dan kita balikkan keadaan!”, seru Rangga menyemangati pasukannya.


“Bantuan yang kalian tunggu tidak akan pernah datang!”, seru Senapati Lesmana berusaha melemahkan semangat mereka.


“Lesmana, kalau kai berani jangan bersembunyi di belakang pasukanmu!” Seru Rakryan Rangga Aswatama.


“Hahahaha! Kita sedang berperang, bukan berduel!”, jawab Senapati Lesmana tertawa mengejek.


“Terobos kepungan! Kembali pada barisan!”, seru Rangga dan Tumenggung Widyaguna.


“Pasukan maju, bebaskan Raden Rangga dari kepungan lawan!”, seru Rakryan Rangga Wirapati berusaha mendesak mundur barisan lawan.


Senapati Lesmana pun menggerakkan pasukannya mmperketat tekanan atas pasukan Rangga.


Demikian kedua belah pihak saling melontarkan tantangan dan ejekan, saling bermanuver, saling mementahkan strategi lawan, mengiringi korban yang terus berjatuhan dari kedua belah pihak.


Di saat yang sama, seorang Bekel dari pasukan Kadipaten Jambangan memimpin pasukannya dengan hati tak menentu, memandangi korban yang berjatuhan dari pihak pasukan Rangga, dia berpikir, 'Kapan perintah bagi kami tiba?'


Di atas menara Senapati Glagah Wiru mengitarkan pandangannya ke garis-garis cakrawala di kejauhan, 'Apakah seribu orang prajurit itu akan datang bergabung? Kapan...? Dari mana?'


Mereka semua menanti, Rangga menanti, Adipati Jalak Kenikir menanti, para senapati, juga para prajurit telik sandi yang tersebar di antara pasukan Kadipaten Jambangan.


Tiba-tiba Senapati Rendra menunjuk ke satu kepulan debu yang perlahan terlihat semakin membesar di kejauhan, “Ada yang datang!”