Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab XXXVII Permainan Memasuki Babak Pertengahan



Senapati Arya Pameling menyampaikan laporannya dengan dada berdebar. Butuh waktu beberapa minggu sebelum akhirnya dia mendapatkan kabar yang mungkin menjelaskan alasan Rangga akhirnya memutuskan bergerak menuju Kadipaten Jambangan.


Ketika dia sudah selesai menyampaikan laporannya, Senapati Arya Pameling menunggu tanggapan Prabu Jannapati.


Keringat perlahan terbentuk di dahinya dan menetes ke atas tanah.


“Bagus....”, ujar Prabu Jannapati perlahan.


Senapati Arya Pameling terkejut dan tanpa sadar melihat ke arah Prabu Jannapati. Dia berusaha menangkap kekesalan dari ekspresi wajah Prabu Jannapati, tapi tidak menemukannya. Justru sebaliknya Prabu Jannapati memuji dirinya sekali lagi.


“Bagus, kerja yang bagus.”, ujar Prabu Jannapati dengan sungguh-sungguh.


“Maaf, jika hamba terlambat mendapatkan kabar ini.”, ucap Senapati Arya Pameling ragu-ragu.


Prabu Jannapati melambaikan tangannya tak sabar, “Baik, lupakan saja. Lawan pasti berusaha agar rahasianya tak ketahuan, wajar jika butuh waktu untuk mendeteksi pergerakan mereka.”


“Nandini, sekarang yang penting memperkirakan rencana mereka dan menyiapkan rencana balasan, coba kau jabarkan pemikiranmu.”, Prabu Jannapati mengalihkan perhatiannya ke Patih Nandini.


Patih Nandini mengangguk hormat sebelum mulai menjelaskan pemikirannya, “Dari informasi yang didapat pasukan telik sandi kita, Raden Rangga sudah menjalin kerja sama dengan Adipati Gading Kencana. Pastinya ada hubungannya dengan keinginan Adipati Gading Kencana untuk meluaskan pengaruhnya ke dalam Kerajaan Watu Galuh dan rencana Raden Rangga dengan penduduk Kademangan Jati Asih.”


“Kalau Adipati Gading Kencana mudah saja ditebak. Dia menempatkan diri sebagai pengikut Pangeran Adiyasa yang sedang berusaha mencari legitimasi atas hak-nya sebagai penguasa Kerajaan Watu Galuh. Tidak mungkin ada dua matahari di atas langit yang sama. Sekarang dua pasukan sudah berhadapan, hanya jika dia bisa memenangkan pertempuran di perbatasan, maka dia bisa mempertahankan dukungan dari para sekutunya, bahkan mendapat lebih banyak dukungan.”, Patih Nandini menjelaskan dengan lancar, sebelum terhenti dan harus berpikir cukup lama.


Prabu Jannapati menyahut, “Hmm, tentang Gading bangkotan itu kita tidak perlu menebak-nebak. Bagaimana dengan Rangga? Kira-kira apa yang dia tawarkan sehingga mereka mau mengumumkan perjanjian untuk tidak saling menyerang?”


Patih Nandini tidak langsung menjawab, “Hmm... Raden Rangga... saat ini dia tidak punya kekuatan untuk mengincar kekuasaan, yang dia perlukan adalah bertahan hidup dan waktu untuk memperkuat kekuatan militernya.”


Prabu Jannapati tidak memotong analisa Patih Nandini, tidak seperti biasanya dia bisa bersabar.


Patih Nandini dengan hati-hati, sambil berpikir, melanjutkan penjelasannya, “Raden Rangga membawa pengikutnya pergi dari Kademangan Jati Asih, karena berada di tengah-tengah Kerajaan Watu Galuh, di timur tertutup oleh hutan dan pegunungan. Jika dia tidak bersedia mengabdi pada baginda prabu, memang pilihan satu-satunya adalah menyingkir.”


“Jika dia berhasil merebut Kadipaten Jambangan dari Adipati Jalak Kenikir, maka dia akan memiliki wilayah yang cukup luas dan kaya, di mana dia bisa memupuk kekuatannya perlahan-lahan. Dari sisi itu, tidak aneh jika Raden Rangga mengusahakan perjanjian untuk tidak saling menyerang dengan Adipati Gading Kencana.”, Patih Nandini berusaha menganalisa, tapi tidak ada keyakinan dalam nadanya saat menyampaikan penjelasan.


“Nandini, kekuatan Rangga berimbang dengan kekuatan Adipati Jalak Kenikir. Kekuatan Adipati Gading Kencana, kurang lebih masih berimbang dengan kekuatan kita. Bersatunya mereka tidak akan mengubah banyak keadaan, kecuali jika mereka menyatukan kekuatan untuk menyerang salah satu sasaran. Kadipaten Serayu, atau Kadipaten Jambangan. Kenapa sepertinya kau masih ragu?”, ujar Prabu Jannapati.


Patih Nandini menghela nafas, “Rasanya ada yang tidak sesuai. Kenapa perjanjian yang dibuat terlalu menguntungkan Adipati Gading Kencana? Apakah Raden Rangga sebodoh itu?”


Prabu Jannnapati mengangguk, “Memang terasa aneh, tapi jika menilik sifat Adipati Gading Kencana, tentu dia akan menuntut Rangga untuk bergerak membantu dia, bukan sebaliknya dia yang bergerak membantu Rangga untuk menguasai Kadipaten Jambangan.”


“Jika Raden Rangga menggunakan kekuatan militernya untuk membantu Adipati Gading Kencana untuk memenangkan pertempuran melawan kita, apa dia pikir dia akan masih memiliki cukup kekuatan militer untuk menguasai Kadipaten Jambangan? Akan terasa masuk akal, jika dalam perjanjian itu Adipati Gading Kencana menjanjikan bantuan bagi dia untuk menguasai Kadipaten Jambangan, setelah mereka berhasil merebut Kadipaten Serayu dari kita.”, Patih Nandini menjelaskan dasar keraguannya.


Prabu Jannapati menggelengkan kepala, “Jangan lupa, di antara kita berempat, situasi Rangga adalah yang paling terjepit. Baik kita, Adipati Gading Kencana, maupun Adipati Jalak Kenikir, memiliki cadangan makanan dan wilayah-wilayah yang bisa memasok makanan untuk pasukan kita, cukup untuk bertahan sampai setahun bahkan dua tahun. Rangga harus melakukan sesuatu untuk memecahkan kebuntuan.”


Patih Nandini masih terdiam dan tidak menyetujui, maupun menyanggah argumentasi Prabu Jannapati.


“Ini juga sesuai dengan informasi yang lain, bahwa ada seribu sampai dua ribu prajurit yang menghilang dari rombongan yang mengikuti Raden Rangga. Artinya Raden Rangga berencana membagi dua kekuatannya, satu untuk membantu Adipati Gading Kencana memenangkan peperangan melawan kita, dan satu lagi untuk merebut Kadipaten Jambangan dari Adipati Jalak Kenikir.”, sambung Prabu Jannapati ketika melihat Patih Nandini masih juga belum menjawab.


“Benar kata baginda prabu, tetapi dihitung seperti apa pun, dengan membagi pasukannya menjadi dua, apa mungkin Raden Rangga bisa menang melawan pasukan Adipati Jalak Kenikir?”, tanya Patih Nandini.


Prabu Jannapati termenung memikirkan sanggahan Patih Nandini. Cukup lama mereka semua terdiam, Senapati Arya Pameling hanya duduk merenungi tikar yang dia duduki. Dalam hati dia bersyukur, Prabu Jannapati tidak menanyakan pendapatnya, karena Senapati Arya Pameling sudah merasa pening hanya dengan mendengarkan percakapan mereka berdua.


“Nandini..., aku pikir kau ada benarnya, dua ribu prajurit yang menghilang itu, kita harus bisa menemukan jejak mereka. Jika tidak kita tidak bisa memastikan, apa tujuan Raden Rangga memisahkan mereka dari pasukan utama.”, ujar Prabu Jannapati setelah terdiam cukup lama.


Mendengar perintah Prabu Jannapati itu, Patih Nandini seperti tersadar, “Baginda prabu ada benarnya, bisa saja Raden Rangga dan Adipati Gading Kencana, dengan sengaja membuat kesan, seakan-akan mereka akan bersatu untuk menyerang Kadipaten Serayu. Padahal bisa saja, justru sasaran pertama mereka adalah menguasai Kadipaten Jambangan.”


Prabu Jannapati mengangguk dengan wajah serius, “Benar dengan informasi yang kita pegang saat ini, yang bisa kita pastikan hanyalah bahwa Rangga dan Adipati Gading Kencana bekerja sama. Itu aku rasa sudah suatu kepastian. Akan tetapi bagaimana mereka berencana menggerakkan kekuatan militer mereka, masih ada banyak kemungkinan.”


Patih Nandini tiba-tiba teringat sesuatu, “Sebaiknya kita mengirimkan utusan pada Adipati Jalak Kenikir untuk berhati-hati. Jangan terburu bergerak, lebih baik mereka menunggu pasukan Rangga datang, daripada maju manyambut mereka.”


“Jalak Kenikir tentu tidak sebodoh itu, dia tahu ada Adipati Gading Kencana yang bisa mengambil keuntungan jika dia menggerakkan pasukannya terlalu jauh meninggalkan Kadipaten Jambangan.”, ujar Prabu Jannapati.


Namun kemudian menambahkan, “Tapi tidak ada salahnya kau mengirimkan utusan untuk membagi apa yang kita ketahui dengan dia. Belum tentu dia tahu tentang seribu-duaribu prajurit yang menghilang dari rombongan Rangga.”


Prabu Jannapati tidak lupa memberikan perintah pada Senapati Arya Pameling, “Dan kau Pameling, tugasmu belum selesai, Amati pergerakan pasukan Adipati Gading Kencana dan Rangga. Jangan lupa, kau juga masih harus mencari jejak prajurit Rangga yang menghilang itu.”


“Siap baginda.”, jawab Senapati Arya Pameling merasa lega karena pertemuan sudah hampir selesai.


Patih Nandini menggelengkan kepala, “Untuk sementara ini tidak ada baginda.”


Prabu Jannapati berpikir sebentar lalu menambahkan, “Dalam dua sampai tiga minggu, Rangga akan memasuki perbatasan Kadipaten Jambangan. Semuanya akan terjadi dengan cepat begitu mereka sudah mulai memasuki wilayah Kadipaten Jambangan, karena itu persiapkan pasukan, tingkatkan kewaspadaan dan kesiapan mereka.”


Prabu Jannapati masih memberikan beberapa perintah, sebelum pertemuan itu pun ditutup.


-------


Di tempat Adipati Gading Kencana dan sekutunya berkemah, terjadi pertemuan yang berbeda lagi.


Tumenggung Widyaguna sedang melakukan pertemuan terakhir dengan para adipati dan Prabu Jayabhuanna.


“Jadi kalian akan kembali bergabung dengan Kakang Rangga hari ini?”, tanya Prabu Jayabhuanna.


“Benar sekali baginda.”, Jawab Tumenggung Widyaguna dengan sopan.


“Kalau begitu sampaikan salamku pada Kakang Rangga, aku harap kalian berhasil memenangkan pertempuran melawan Adipati Jalak Kenikir. Aku tidak sabar menunggu kita menjadi dua negara tetangga.”, kata Prabu Jayabhuanna dengan tulus.


Terdengar suara mendengus dari arah Adipati Karangpandan, membuat wajah Prabu Jayabhuanna tersipu malu. Anak muda itu pun menggertakkan rahang, dan berusaha berpura-pura tidak mendengar dengusan Adipati Karangpandan.


“Terima kasih baginda, kami pergi sekarang.”, ujar Tumenggung Widyaguna dengan sikap hormat.


Ketika Tumenggung Widyaguna dan kedua senapati akhirnya pergi meninggalkan tenda besar pertemuan itu, dari raut wajah Prabu Jayabhuanna terlihat ekspresi kehilangan. Sementara ekspresi para adipati berubah jadi lebih serius, tak ada lagi basa-basi.


“Kakang Gading Kencana, apa rencana kita selanjutnya, menunggu saja?”, tanya Adipati Panjalu.


Adipati Gading Kencana berpikir sejenak kemudian bertanya pada salah seorang sekutu mereka, “Prajurit pengintaimu bertugas mengawasi pergerakan pasukan Raden Rangga bukan? Bagaimana situasi di sana?”


“Mereka sudah bergerak sejak dua minggu yang lalu, dengan kecepatan mereka saat ini, mereka akan memasuki Kadipaten Jambangan dalam 12-14 hari.”, jawab adipati tersebut.


Kemudian sebelum ada yang sempat bertanya lebih lanjut, adipati itu menambahkan, “Kami juga melihat pasukan Adipati Jalak Kenikir sudah mulai bersiap. Dari beberapa orang prajurit telik sandi yang menyusup ke kesatuan itu, ada pengumuman bahwa Adipati Jalak Kenikir akan mengadakan semacam sayembara untuk memilih perwira-perwira tingkat bawah dan menengah yang akan memimpin satuan-satuan kecil dari kesatuan yang baru itu.”


Adipati Karangpandan menyahut, “Kalau prajuritmu berhasil mendapatkan kedudukan dalam kesatuan Adipati Jalak Kenikir, mereka mungkin akan berguna pada saat kita bergerak untuk menyerang Kadipaten Jambangan.”


“Tentu saja, aku sudah menyampaikan hal yang sama pada mereka.”, jawab adipati tersebut.


“Hmm... kuharap mereka cukup tangguh untuk itu.”, ujar Adipati Karangpandan sambil tersenyum mengejek.


“Kenapa tidak kau kirimkan pula prajurit telik sandimu ke sana kalau kau tak yakin pada kemampuan prajuritku?”, jawab adipati itu tak senang.


“Sudah, cukup.”, Adipati Gading Kencana menggeram.


Kemudian dia bertanya kembali pada adipati yang bertugas mengumpulkan informasi tadi, “Apakah ada kabar tentang strategi yang akan diambil Adipati Jalak Kenikir? Apakah mereka akan menunggu dan bertahan, atau mereka memilih strategi yang lebih agresif?”


“Dari kabar yang mereka dengar, ada dua pendapat. Senapati Glagah Wiru menyarankan untuk menunggu dan bertahan dari balik tembok pertahanan. Sementara Senapati Lesmana yang lebih muda dan memimpin kesatuan yang baru, beberapa kali menginginkan strategi yang lebih agresif, dan beberapa kali terdengar meminta Adipati Jalak Kenikir untuk mempercayai kesatuannya untuk menyongsong pasukan Raden Rangga sebelum mereka memasuki Kadipaten Jambangan.”, jawab adipati tersebut.


Adipati Gading Kencana mengerutkan alisnya, “Hmm.... kita butuh pasukan Raden Rangga untuk menciptakan kesempatan bagi kita menyerang Kadipaten Serayu. Jika Senapati Lesmana memimpin kesatuannya untuk menyongsong pasukan Raden Rangga sebelum mereka sempat melakukan sesuatu untuk melemahkan pasukan Prahu Jannapati, kesempatan kita akan hilang.”


“Kakang, kita bisa berpura-pura menggeser beberapa kesatuan kita ke arah Kadipaten Jambangan. Dengan demikian saran Senapati Glagah Wiru akan memiliki dasar yang lebih kuat, daripada saran Senapati Lesmana.”, ujar Adipati Guntur Aji.


“Kenapa tidak benar-benar menempatkan kesatuan dari satu atau dua kadipaten, supaya saat Raden Rangga menyerang Kadipaten Jambangan, mereka bisa terlebih dahulu merebut Kadipaten Jambangan.”, sela Adipati Karangpandan dengan senyum licik.


“Aku tidak setuju, prioritas utama kita harus tetap pada memenangkan pertempuran melawan pasukan Prabu Jannapati yang berjaga di perbatasan. Jangan sampai kita gagal mencapai tujuan utama, karena tergoda keuntungan yang lebih kecil.”, jawab Adipati Guntur Aji dengan tegas.


Sebelum Adipati Karangpandan sempat berargumen, Adipati Gading Kencana menegaskan, “Adi Guntur Aji benar. Saat ini fokus utama kita harus pada pasukan Prabu Jannapati.”


Kemudian dia menoleh ke arah Adipati Karangpandan, “Adi Karangpandan tak perlu kuatir, jika kita berhasil memaksa pasukan Kadipaten Jambangan untuk bertahan, maka tak akan mudah bagi Raden Rangga untuk merebut Kadipaten Jambangan. Jumlah pasukan mereka tidak jauh berbeda, sesakti-saktinya Raden Rangga dan Tumenggung Widyaguna, mereka tidak akan bisa merebut Kadipaten Jambangan dalam hitungan hari.”


Tanpa menunggu jawaban dari Adipati Karangpandan, Adipati Gading Kencana menoleh ke salah seorang adipati, “Adi Seroja dan Talitaman, kalian atur bagaimana caranya, supaya seakan-akan kalian memimpin pasukan kalian ke arah Jambangan, tanpa benar-benar membawa kekuatan inti kalian ke sana.”


Adipati Seroja dan Adipati Talitaman saling berpandangan, kemudian dengan yakin Adipati Sroja menjawab, “Jangan kuatir Kakang, kami akan mengatur semuanya.”


Adipati Gading Kencana mengangguk puas, “Bagus.”