
Di dalam tenda utama, Rangga dan para pengikutnya, termasuk Ki Demang mulai membahas dengan lebih seksama tentang rencana mereka untuk bedol desa.
“Ki Demang, aku tidak mau ada rakyat Kademangan Jati Asih yang ikut pindah karena terpaksa. Yang ingin tinggal, punya hak penuh untuk tetap tinggal. Harus benar-benar diingat yang menjadi cita-cita Ayahanda Prabu, satu kesatuan Bumi Adyatma, sebuah keluarga besar. Jadi jangankan mereka yang berbeda pilihan, bahkan yang saat ini menjadi lawan, pada saatnya nanti harus dirangkul sebagai saudara.”, Rangga mengingatkan Ki Demang dengan sungguh-sungguh.
“Akan aku sampaikan pesan Raden dengan sejelas-jelasnya.”, jawab Ki Demang.
“Persiapan harus dilakukan secepat-cepatnya, karena tidak mungkin kita bisa menahan berita ini terlalu lama.”, Rakryan Rangga Aswatama berkata.
“Paman Aswatama benar, aku harap Ki Demang bersama dengan penduduk kademangan yang bersedia pindah, bisa mempersiapkan perpindahan ini dalam waktu satu minggu. Lewat waktu satu minggu itu, siap atau tidak siap, kita harus memulai perjalanan yang cukup jauh ini.”, ujar Rangga.
Ki Demang dan para pamong Kademangan Jati Asih saling berpandangan sebentar.
“Kami akan lakukan yang terbaik den dalam waktu satu minggu itu.”, Ki Demang menjawab dengan alis berkerut.
Rangga menghela nafas, “Perjalanan ini akan sulit, apalagi ada orang yang sudah lanjut usia dan juga anak-anak. Setidaknya satu bulan perjalanan tanpa henti, mengitari kaki Gunung Awu dan menuju ke daerah di utara Kadipaten Dadapan.”
Beberapa senapati terdiam, sebelumnya mereka tidak setuju dengan rencana Rangga, karena dengan membawa penduduk Kademangan Jati Asih, pergerakan mereka jadi jauh lebih lambat, tapi dengan berbagai alasan kemanusiaan, Rangga berkeras untuk menawarkan pilihan itu pada mereka.
Tumenggung Widyaguna memecahkan keheningan itu, “Tidak ada yang tahu masa depan, tapi aku percaya kepada Raden Rangga.”
“Benar, Ki Tumenggung benar. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Segala sesuatu di masa awal satu perubahan, pasti perlu perjuangan.”, jawab Ki Demang dengan mantap.
Ketika mereka sedang berbicara lebih detail lagi seperti jumlah perbekalan yang harus disiapkan, bagaimana dengan orang tua dan anak-anak, adanya pelatihan bela diri bagi setiap laki-laki yang sudah matang, dan sebagainya; Senapati Hanggamurti datang menghadap. Dia berdiri menunggu dengan sabar.
Rangga menyelesaikan terlebih dahulu semua pembicaraan-nya dengan Ki Demang, tentang apa-apa saja yang perlu disiapkan oleh penduduk Kademangan Jati Asih.
“Paman Hanggamurti, bagaimana?”, ujar Rangga menyapa Senapati Hanggamurti, segera setelah mengantarkan Ki Demang meninggalkan tenda pertemuan.
“Semuanya tertangkap, tidak ada satu pun yang lolos. Saat ini mereka kami kumpulkan di pekarangan belakang.”, jawab Senapati Hanggamurti.
Rangga mengangguk puas, “Bagus.”
“Apakah raden ingin menemui mereka?”, tanya Rakryan Rangga Aswatama.
Para senapati ikut mendengarkan.
Rangga mengerutkan alis, “Hmmm ... tak perlu. Aku percayakan pada Paman Aswatama untuk menanyai mereka.”
“Tapi paman, tidak perlu terlalu menekan mereka. Aku rasa, apa yang mereka tahu juga tidak banyak yang penting, dan kita akan meninggalkan tempat ini sesegera mungkin.”, buru-buru Rangga menambahkan.
Di wajah Rakryan Rangga Aswatama muncul senyuman, namun sorot matanya tak ikut tersenyum, “Baik Den, akan aku ikuti petunjuk Raden.”
Ketika Aswatama sudah menghilang dari pandangan, Rangga tanpa sadar bergidik dan menoleh ke arah Tumenggung Widyaguna.
Tumenggung Widyaguna tertawa kecil, “Ki Rangga Aswatama memang sedikit aneh, tapi percayalah, dia akan melaksanakan perintahmu dengan baik.”
“Tentu, tentu... ayahanda tidak pernah salah menilai orang.”, ujar Rangga sambil menghela nafas.
Ki Demang dan para pembantunya sudah pergi melaksanakan tugas mereka. Rangga dan para pengikutnya pun masing-masing sudah memiliki tugasnya sendiri.
Sejak hari itu, Kademangan Jati Asih sibuk dalam persiapan untuk meninggalkan kademangan mereka. Di luar dugaan Rangga, seluruh penduduk kademangan memutuskan untuk meninggalkan tempat tinggal mereka dan mengikuti dirinya ke tempat yang baru. Selain rasa percaya mereka pada Rangga, cerita Ki Demang tentang pembantaian yang terjadi di ibu kota juga menjadi salah satu sebab yang membuat mereka yakin untuk mengambil keputusan.
Hari-hari itu, ratusan kilometer jauhnya dari Kademangan Jati Asih, di ibu kota Kadipaten Banyu Urip, suasana yang menegangkan terasa di jalan-jalan, di sudut-sudut kota, dalam kedai-kedai makan dan rumah-rumah penduduk.
Kabar pembantaian yang terjadi di ibu kota Kerajaan Watu Galuh sudah sampai di Kadipaten Banyu Urip.
Kadipaten Banyu Urip merupakan kadipaten yang besar dan kaya. Jalur perdagangan dari dan ke Kadipaten Banyu Urip sangat padat dan ramai. Berita dari ibu kota Kerajaan Watu Galuh tak dapat dirahasiakan.
Perdagangan bergantung pada situasi politik dan kekuasaan. Ketika bau peperangan mulai tercium, seperti hiu-hiu yang mencium bau darah, pedagang-pedagang besar, dengan indera penciuman yang tajam sudah mulai berhitung dan mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan yang akan terjadi.
Ada yang mulai bersiap menaruh taruhannya pada salah satu pihak. Ada yang menaruh uang taruhannya pada semua kemungkinan. Ada pula yang bersiap untuk menarik diri dan diam, menunggu hingga keadaan mereda. Satu hal yang sama, mereka semua memasang mata dan telinga. Saling tukar menukar informasi, berusaha mendekati mata dan telinga yang mereka tanamkan di istana. Diam-diam mengunjungi “sahabat” lama yang sekarang berada dalam lingkaran dalam kekuasaan.
Ruang pribadi Ki Gading Kencana, Adipati Banyu Urip. Di luar ruangan, puluhan prajurit berjaga di berbagai titik. Di luar bangunan, beberapa kesatuan, berpatroli berkeliling.
Di dalam ruangan, duduk empat orang laki-laki setengah umur dan seorang pemuda yang sangat tampan. Pemuda yang tampan itu adalah Pangeran Adiyasa, tingkah lakunya sangat tertata, cara bicaranya lemah lembut, hampir kewanita-wanitaan.
Berbeda jauh dengan empat laki-laki yang menghadap dirinya. Mereka adalah empat orang adipati dengan wilayah kadipaten yang besar dan kekuatan militer yang kuat. Kadipaten Banyu Urip, yang berada dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Watu Galuh.
Kadipaten Lemah Abang, Kadipaten Penjaringan dan Kadipaten Bukit Batok, adalah tiga kadipaten besar yang tidak mengakui kerajaan mana pun, mereka berdiri bebas turun temurun, selama ratusan tahun, sejak jatuhnya Kerajaan Kuno Sangha yang menyatukan seluruh Bhumi Adyatma.
Empat kadipaten inilah kekuatan yang berdiri di belakang Pangeran Adiyasa.
Tumenggung Nayottama, hanyalah seorang penghubung, orang yang menjadi perantara antara mereka dengan Pangeran Adiyasa, saat dia masih berada di ibukota.
Namun saat dia dalam keadaan bimbang dan ragu, dalam tekanan yang sangat besar seperti saat ini pun, setiap gerak-geriknya masih tertata.
Lahir dan besar dalam lingkungan kerajaan, Pangeran Adiyasa seperti sudah menyerap tata cara dan kehalusan sikap seorang bangsawan, sayangnya dia tidak memancarkan wibawa atau keyakinan yang harusnya ada dalam diri seorang pangeran atau raja.
Entah apa yang dirasakan oleh Prabu Anglang Bhuanna saat dia melihat kedua puteranya tumbuh besar.
Yang seorang tumbuh menjadi seseorang yang penuh ambisi, keras hati, dingin dan membuat orang yang berhadapan dengannya merasa takut.
Seorang yang lain tumbuh menjadi seorang laki-laki yang lemah lembut, kharismanya dengan mudah menggerakkan hati orang lain, namun tak memiliki ambisi maupun visi. Seperti bulu yang diterbangkan angin, melayang-layang sesuai keadaan.
“Raden jangan kuatir, kami pasti melindungi raden dari kakak raden.”, ucap Adipati Lemah Abang, Ki Guntur Aji.
“Tapi raden perlu menaikkan panji, tanpa raden memimpin di depan, maka kami pun tidak bisa menyatukan kekuatan kadipaten-kadipaten yang lain. Jika raden tidak mengumumkan sikap raden pada dunia. Siapa yang akan mengikuti raden?”, sambung Adipati Bukit Batok, Ki Panjalu.
Pangeran Adiyasa tecenung sebentar, tangannya berkali-kali mengusap dahinya yang tidak berkeringat. Ke empat adipati menunggu di depannya dengan tenang.
“Tapi jika aku mengumumkan perang pada Kakang Prabu Jannapati, dia akan semakin marah. Rakyat Kerajaan Watu Galuh akan melihatku sebagai pengkhianat. Bagaimana jika para adipati justru berbalik menentangku?”, tanya Pangeran Adiyasa.
“Tidak raden, mereka tidak akan berdiri menentang raden, karena raden bukanlah seorang pengkhianat. Raden mengangkat panji menantang kakak raden, karena dia sudah bersikap semena-mena, melakukan pembantaian di ibu kota kerajaan. Setiap orang mendengar tentang kekejaman yang dia lakukan.”, ujar Adipati Penjaringan, Ki Karangpandan.
Pangeran Adiyasa menoleh ke arah Adipatai Banyu Urip, Ki Gading Kencana, melihat ke arah tiga adipati yang lain, kemudian dengan suara yang pelan hampir-hampir berbisik dia bertanya pada Ki Gading Kencana, “Pamanda Gading Kencana...., orang akan mengatakan aku pengkhianat karena bekerja sama dengan pihak dari luar Kerajaan Watu Galuh.”
Ki Gading Kencana tertawa lembut, “Raden salah... mereka tidak akan mencela raden. Justru ini bukti kebesaran Ananda Raden Adiyasa, yang wibawanya mampu menaklukkan hati tiga kadipaten yang sudah dua raja tidak berhasil menundukkannya.”
Tiga adipati yang lain ikut tertawa dengan nada menghibur, “Benar sekali Raden.... baik paman raden, maupun ayahanda raden, mereka tidak mampu membuat kami tunduk sedikitpun, tetapi sikap dan pembawaan raden meyakinkan kami, bahwa raden adalah orang yang tepat untuk memimpin Kerajaan Watu galuh, bahkan menyatukan seluruh Bhumi Adyatma.”
Ucapan mereka membuat Pangeran Adiyasa merasa tersanjung, wajahnya sedikit bersemu merah, dan sesaat kemudian dia bertanya, “Apakah pamanda sekalian yakin bisa memenangkan peperangan melawan Kakang Prabu Jannapati?”
“Tentu saja, kami yakin sepenuhnya, begitu Raden Adiyasa menaikkan panji, belasan adipati dari berbagai penjuru Bhumi Adyatma akan menyatukan kekuatan di bawah Raden Adiyasa. Kakang raden, adalah seorang menakutkan, benar tidak?”, ujar Ki Gading Kencana balik bertanya.
“Benar, dia sangat menakutkan.”, jawab Pangeran Adiyasa setengah bergidik.
“Nah, raden sendiri tahu itu. Demikian juga para adipati, sekarang raden bayangkan diri raden sebagai mereka. Siapa yang raden pilih untuk menjadi junjungan raden?”, tanya Ki Gading Kencana membujuk Pangeran Adiyasa.
Pangeran Adiyasa menggigit bibir dan mengusap dahinya yang basah oleh keringat.
Cukup lama dia berpikir, akhirnya dia menjawab, “Baiklah paman, aku akan mendengarkan nasihat kalian. Tapi... tapi apa yang harus aku katakan nanti?”
Ki Gading Kencana menepuk-nepuk bahu Pangeran Adiyasa, “Soal itu raden tidak perlu kuatir, kami akan menyiapkan apa yang perlu raden katakan nanti. Raden pandai dalam menghafal bukan?”
“Tentu saja paman, aku bisa.”, jawab Pangeran Adiyasa sambil tersenyum.
“Raden sering melihat pertunjukan babad kisah-kisah jaman dulu bukan?”, tanya Ki Gading Kencana kembali.
“Benar paman.”, jawab Pangeran Adiyasa sedikit ragu.
“Nah, bayangkan saja nanti, raden sedang berada di atas panggung dan mengambil peran Sri Rama yang sedang membakar semangat pasukannya sebelum pergi menyerang Hastina Pura. Bagaimana, raden bisa bukan?”, ujar Ki Gading Kencana sambil tertawa kebapakan.
Tiga adipati yang lain, memperhatikan raut wajah Pangeran Adiyasa dengan rasa tertarik. Perubahan wajah Pangeran Adiyasa dari waktu ke waktu, mengikuti tuntunan Ki Gading Kencana, membuat mereka menghela nafas dalam hati.
“Tentu saja paman, ah... aku mengerti. Baiklah paman, aku siap.”, jawab Pangeran Adiyasa penuh semangat, membayangkan dirinya menjadi Sri Rama yang akan pergi memimpin jutaan pasukan, melawan Hastina Pura.
“Bagus... bagus... paman tahu kau pasti bisa.”, kata Ki Gading Kencana, membuat wajah Pangeran Adiyasa berseri-seri oleh rasa bangga.
Beberapa saat kemudian, di ruangan yang berbeda, ke empat adipati itu berkumpul tanpa Pangeran Adiyasa.
“Banci itu membuatku hampir meledak. Ingin aku gampar pipinya yang seperti pipi seorang gadis.”, geram Ki Guntur Aji dengan kesal.
“Ha ha ha, Adi Guntur tak perlu marah-marah. Ingat, justru sifatnya itu yang memberi kita kesempatan.”, sahut Ki Karangpandan sambil tertawa terbahak-bahak, diikuti tiga orang adipati yang lain.
Setelah tawa mereka mereda, wajah mereka berubah serius, Ki Gading Kencana yang tertua di antara mereka berempat berkata dengan sungguh-sungguh, “Ini kesempatan yang hanya terjadi sekali seumur hidup kita. Jangan ada yang mengacaukan kesempatan ini.”
“Tentu saja kakang.”, jawab Ki Guntur Aji dengan senyum meremehkan.
“Kakang tidak perlu kuatir, tidak ada orang yang bodoh di antara kita semua.”, ujar Ki Panjalu.
“Hmm...”, Ki Karangpandan mengangguk dengan wajah serius.
Ki Gading Kencana melihat berkeliling, menatap satu per satu sekutu yang telah dia pilih.
“Kita semua punya ambisi. Tapi lupakan ambisi pribadi, sampai takhta sudah benar-benar di tangan kita.”, ujarnya dengan dingin.