
Rangga termenung, mencari-cari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya saat ini.
“Aku harap kalian tidak lupa, mengapa dua puluh tahun yang lalu, kita memilih untuk menyingkir dari keramaian.” Ujar Rangga memulai jawabannya.
“Apakah saat itu, keberanian dan keyakinan kita tak seteguh saat ini? Apakah waktu itu tinju-tinju kita tak sekeras sekarang?”, tanya Rangga, mengitarkan pandangannya ke para senapati yang hadir di sana.
“Kita menyingkir bukan karena takut. Kita mengalah bukan karena lemah.”
Setiap kata-kata yang terucap oleh Rangga menggetarkan dada mereka yang hadir di sana. Para senapati tercenung, diingatkan kembali akan apa yang paling penting dalam pilihan yang mereka ambil dua puluh tahun yang lalu.
“Kita semua di sini bukan orang yang berjiwa degil. Paman-paman sekalian yang ada di sini, juga para senapati yang mumpuni dalam ilmu keprajuritan. Matang dalam ilmu kemiliteran dan kenyang makan asam dan garam medan pertempuran. Sehingga tentunya bisa menimbang dengan pikiran yang terang, siapa yang akan muncul sebagai pemenang, seandainya waktu itu terjadi peperangan antara pihak kita dengan pihak Prabu Anglang Bhuanna.”, ujar Rangga setelah perasaan para senapati sudah mulai mengendap.
Tidak sedikit senapati yang menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafas kuat-kuat, mengusir pergi rasa pahit yang menyelip ke dalam dada. Namun tak ada yang menyanggah Rangga.
“Pamanda Prabu Anglang Bhuanna memang berbeda pendapat dengan Ayahanda Prabu Jaya Lesmana, tapi bila kita perhatikan apa saja yang sudah dia lakukan selama pemerintahannya, sesungguhnya cita-cita dan impian mereka berdua tak terlalu berbeda. Hanya jalan yang mereka tempuh untuk mencapai itu yang berbeda.”, Rangga melanjutkan.
Wajah para senapati terlihat muram, beberapa orang terlihata rahangnya mengeras. Sementara Ki Ageng Aras sebagai satu-satunya pengikut Prabu Anglang Bhuanna terlihat memejamkan mata, bibirnya tergetar menahan perasaan.
Tumenggung Widyaguna terlihat jauh lebih tenang dibanding para senapati, bahkan sekilas terlihat menganggukkan kepala dengan puas mendengar penjelasan Rangga. Sesungguhnya apa yang diutarakan oleh Rangga, tidak jauh berbeda dengan apa yang dia pikirkan.
Dari para senapati, mungkin hanya Watu Gunung yang sepikir dengan Rangga dan Tumenggung Widyaguna. Sementara raut wajah kedua Rakryan Rangga seperti permukaan danau yang tenang, tak terbaca apa yang ada di dalam hati mereka.
“Namun amat patut disayangkan, Prabu Jannapati tampaknya tak mewarisi semangat Pamanda Prabu Anglang Bhuanna.”, ujar Rangga dengan nada menyesal.
“Lalu apa yang harus kita lakukan den?”, Bayu Bayanaka tercetus bertanya.
Hatinya dari tadi sudah meluap-luap dengan berbagai macam perasaan. Bayu Bayanaka tak rela warisan Prabu Jaya Lesmana harus jatuh ke tangan orang lain. Perasaan yang sama juga bergelora di dada para senapati. Secara akal budi, mereka memahami uraian Rangga Wijaya. Namun hati mereka tak bisa menerima. Jika Prabu Jannapati masih memiliki kebijaksanaan dan kebesaran hati ayahnya, mungkin mereka masih bisa memaksa diri menelan pil yang pahit ini.
Kenyataannya Prabu Jannapati lebih memilih untuk mengamankan kedudukannya daripada menjaga keutuhan Kerajaan Watu Galuh.
“Kita gempur saja ibu kota, biar angan anak bau kencur itu kembali mendarat ke bumi. Biar kita wakili ayahnya, memberi didikan.”, sahut Gajah Petak, membuat beberapa senapati tertawa kecil dan beberapa umpatan terdengar.
“Bagaimana raden, apakah itu yang raden rencanakan?”, tanya Tumenggung Widyaguna setelah tawa para senapati mereda.
Sekali lagi perhatian para senapati tertuju pada Rangga.
“Tidak.”, jawabnya singkat.
“Apakah kita akan membantu Pangeran Adiyasa?”, tanya Rakryan Rangga Aswatama.
“Tidak.”, jawab Rangga singkat.
“Jadi, kita tidak melakukan apa-apa? Kembali bersembunyi?”, tanya Bayu Bayanaka.
“Tentu saja tidak, apakah ada di antara kalian yang ingin kembali menjalani kehidupan kita selama dua puluh tahun ini?”, tanya Rangga sambil memandang berkeliling.
Para senapati saling pandang. Tumenggung Widyaguna dan Ki Ageng Aras memusatkan perhatian mereka pada Rangga. Sedikit banyak dua orang tua ini sudah bisa meraba apa rencana Rangga, tapi menduga-duga berbeda jauh dengan mendengar langsung dari Rangga, dan mereka ingin mendengar langsung dari mulut Rangga.
“Kita akan meneruskan cita-cita ayahanda prabu, menyatukan Bhumi Adyatma.”
Mereka yang mendengarnya terdiam. Dua puluh tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengikis batu karang sekalipun. Apalagi budi dan rasa manusia yang tak sekeras karang.
“Membuatnya berdaulat atas nasibnya sendiri. Tidak terpecah-pecah dan saling berbaku hantam, hingga menjadi permainan dan bahan tertawaan dari negara-negara seberang lautan.”
Kekecewaan dan rasa malu yang pernah mereka rasakan tapi sudah lama dilupakan, kembali muncul ke permukaan. Kemarahan dan sumpah yang pernah mereka ucapkan, kembali menggelora di dalam dada mereka.
“Berdiri tegak dengan martabat. Memiliki adab, dan juga kekuatan untuk menegakkannya.”, ujar Rangga dengan jelas, kata demi kata, satu kalimat demi satu kalimat.
Dan suasana pertemuan itu pun pecah oleh gerungan dan seru-seruan puluhan pendekar yang berilmu tinggi. Lereng Gunung Awu seperti bergetar, suara mereka bahkan membuat para penjaga yang berada paling jauh pun berguncang isi dadanya.
Peristiwa itu terjadi dua hari yang lalu, dan ketika hari ini rombongan Raden Rangga Wijaya datang dalam segala kebesarannya, perasaan mereka seakan mendapatkan sebuah jawaban.
Kembali ke perkemahan besar, saat ini, Tumenggung Widyaguna dengan sabar mejnelaskan apa saja yang sudah terjadi di ibu kota Kerajaan Watu Galuh, dan ketetapan hati Raden Rangga untuk membangkitkan kembali kejayaan Trah Prabu Jaya Lesmana.
“Jadi begitulah Ki Demang, Ki Jagabaya dan sekalian yang hadir di sini. Raja yang baru diangkat, Prabu Jannapati sudah mengangkat senjata untuk menangkap, bahkan mungkin membunuh adiknya sendiri. Pangeran Adiyasa yang sudah lebih cepat menghindarkan diri ke Kadipaten Banyu Urip, sudah tentu tidak akan tinggal diam.”, ujar Tumenggung Widyaguna.
“Jadi perang akan pecah di Kerajaan Watu Galuh...”, keluh Ki Demang Jati Asih.
Untuk beberapa saat mereka semua terdiam. Ki Jagabaya dan para tetua Kademangan menundukkan kepala. Akan pecah perang saudara di kerajaan mereka. Tidak ada perang yang paling menyakitkan dibandingkan perang saudara. Seperti menusuk-nusuk badan sendiri, karena mereka akan berperang melawan teman-teman mereka sendiri. Yang serharusnya bersatu, berdiri dalam barisan yang sama, menghadapi ancaman dari luar, sekarang akan saling membunuh,
Rangga membiarkan mereka termenung dalam kegalauan, karena dia berpikir wajar saja jika berita ini mengejutkan mereka. Sebaliknya dia bersyukur bahwa mereka terguncang mendengar berita itu.
Jika perasaan seperti itu sudah hilang, jika saudara sebangsa sendiri sudah dianggap setan, mungkin negara seperti itu memang sudah waktunya punah, karena apa makna satu negara dan satu bangsa, jika itu tidak menyatukan orang-orang yang ada di dalamnya?
“Lalu jika Raden Rangga tidak ingin berpihak ke siapa pun, apakah yang akan kita lakukan? Kami siap mendukung apa pun rencana Raden Rangga. Kademangan Jati Asih siap jika diminta untuk menjadi pusat pertahanan Raden Rangga sekalian.”, kata Ki Demang dengan tegas.
Diikuti seruan-seruan persetujuan dari Ki Jagabaya dan para tetua Kademangan Jati Asih yang lain.
Raden Rangga menganggukkan kepala, kali ini dia sendiri yang menjawab pertanyaan Ki Demang Jati Asih, “Yang kuminta, mungkin lebih berat dari itu Ki Demang.”
“Raden, sejak awal, bahkan sebelum Kademangan ini ada, kami ini adalah pengikut setia ayahanda raden. Bukan hanya berhutang harta benda, kami berhutang kehidupan. Jadi bahkan jika Raden Rangga memerlukan nyawa kami, kami tidak akan ragu den.”, jawab Ki Demang tak kehilangan ketetapan hatinya.
“Benar den.”, ujar Ki Jagabaya diikuti yang lainnya.
Rangga mengangguk sekali lagi, “Baiklah jika itu ketetapan hati kalian semua. Aku memang berharap rakyat Kademangan Jati Asih akan sepenuhnya berada di belakangku, mendukung apa yang menjadi rencanaku. Tapi bukan di Kademangan Jati Asih ini.”
“Maksud raden!?”, tanya Ki Demang terkejut dan bingung.
“Aku bermaksud mengajak kalian semua, bedol desa, kita pindah ke satu wilayah, jauh di luar perbatasan Kerajaan Watu Galuh. Di satu tempat yang sudah aku pilih jauh-jauh hari sebelumnya.”, jawab Rangga, matanya lekat memperhatikan reaksi Ki Demang Jati Asih.
Mendengar jawaban Rangga itu, Ki Demang tercenung tak percaya untuk beberapa saat. Menengok ke kanan dan ke kiri, mereka saling berpandangan. Pandang mata mereka perlahan-lahan jatuh ke arah Rangga yang melihat mereka dengan pandangan yang sabar dan penuh pengertian. Sulit bagi mereka untuk menjelaskan, tapi mereka merasa perbawa seorang raja terpancar dari diri anak muda itu.
Ketenangan dan keyakinan dalam dirinya menyapu bersih keraguan yang sempat muncul di dalam hati. Rasa takut untuk meninggalkan tanah yang sudah menghidupi mereka selama berpuluh-puluh tahun, bahkan sampai mereka memiliki anak cucu.
“Kami siap den.”, jawab Ki Demang dengan mantap.
“Bagus, aku senang mendengar jawaban kalian.”, ujar Tumenggung Widyaguna dengan senyum cerah.
“Sebenarnya, banyak dari kami yang tidak setuju dengan rencana Raden Rangga untuk membawa kalian semua. Namun Raden Rangga berkeras, bahwa seluruh penduduk Kademangan Jati Asih harus ikut pindah bersama pasukan, tahukah kalian mengapa dia berkeras?”, tanya Tumenggung Widyaguna pada Ki Demang dan yang lainnya.
Mereka saling berpandangan, sebelum akhirnya Ki Demang balik bertanya, “Apakah alasannya Ki Tumenggung?”
“Saat ini Prabu Jannapati akan disibukkan dengan adiknya sendiri, namun setelah peperangan di antara mereka selesai. Menurut kalian apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh pemenang pertarungan tersebut?”, tanya Tumenggung Widyaguna, tak memberikan jawaban secara langsung.
Wajah Ki Demang dan Ki Jagabaya berubah pucat mendengar pertanyaan itu. Mereka toh adalah orang yang sudah cukup tua dan sudah melihat banyak hal.
Ki Demang berdesis, “Berikutnya adalah melenyapkan ancaman-ancaman yang masih tersisa. Termasuk melenyapkan Raden Rangga, dan jika Raden Rangga tidak ada, sasaran berikutnya adalah orang-orang yang terdekat dengannya. Termasuk Kademangan Jati Asih ini pun tidak akan luput dari tangan mereka.”
“Kapan kita akan mulai meninggalkan kademangan den?”, tanya salah seorang tetua Kademangan Jati Asih dengan suara bergetar.
“Secepatnya, namun bukan berarti tanpa persiapan yang memadai. Kita tidak boleh berleha-leha, namun waktu kita cukup banyak. Pangeran Adiyasa akan menjadi lawan yang cukup alot bagi Prabu Jannapati.”, jawab Rangga dengan tenang.
Pada saat itu, tiba-tiba seorang prajurit memasuki tenda, kemudian memberi kode pada Rakryan Aswatama, yang duduk di samping Tumenggung Widyaguna. Seulas senyum muncul di wajahnya. Tumenggung Widyaguna menoleh ke arah pembantu kepercayaannya tersebut, dengan alis terangkat, bertanya tanpa suara.
“Ada juga beberapa tikus yang perlu ditangkap.”, ujar Rakryan Rangga Aswatama sambil tersenyum kecil.