
Agak lama Gagak Seta berpikir, sementara Senapati Lesmana menunggu jawabannya dengan sabar, ingin tahu pula bagaimana Gagak Seta akan memutuskan.
Akhirnya pemuda itu menjawab, “Aku ingin mencoba meneruskan Ki Senapati, siapa tahu pula lawanku nanti juga dalam kondisi terluka? Dan juga sebelum memasuki putaran berikutnya, masih ada tujuh pertarungan lain, aku masih memiliki kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan diri. Jika nanti ternyata aku mendapat lawan yang terasa berat, belum terlambat untuk mengaku kalah. Aku tidak ingin mundur sebelum memastikan situasinya. Mundur karena takut pada sesuatu yang belum tentu.”
Senapati Lesmana mengangguk puas, dan semakin kagum dengan sikap dan watak pemuda itu, “Bagus, baiklah, sekarang kau bergeser ke pinggir sana.”
“Ki, kau rawat lukanya sampai selesai, pastikan dia sejauh mungkin bisa memulihkan tubuhnya, sebelum memulai pertarungan yang berikutnya.”, ujar Senapati Lesmana pada tabib yang merawat Gagak Seta.
Demikianlah maka sayembara itu pun kembali berlangsung. Gagak Seta duduk bersila di pinggiran panggung, seluruh luka-lukanya sudah dibersihkan, diolesi obat dan dibebat dengan rapi.
Sementara Tapakdara sudah digotong pergi ke salah satu barak yang memang disiapkan untuk prajurit-prajurit yang terluka, untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.
Senapati Lesmana dan Senapati Rendra kembali bercakap-cakap sambil mengamati pertarungan yang terjadi di depan mereka. Namun setelah menyaksikan pertarungan antara Gagak Seta dan Tapakdara, pertarungan yang berikutnya jadi terlihat sedikit membosankan.
Bukan hanya kedua senapati itu saja, di bawah panggung pun, prajurit-prajurit yang menonton masih juga membicarakan pertarungan antara Gagak Seta melawan Tapakdara. Apalagi nama Tapakdara sudah dikenal sebagai seorang pendekar yang pilih tanding, setidaknya di sekitaran Kadipaten Jambangan.
“Kakang, kulihat pemuda tadi tidak menyembunyikan sesuatu, atau memiliki suatu rahasia. Mungkin dia memang seorang pengelana saja.”, ujar Senapati Lesmana pada Senapati Rendra.
“Hmm... aku juga merasa begitu, tapi kau harus tetap berhati-hati.”, ujar Senapati Rendra.
“Tentu saja, hanya saja, sekarang dengan terlukanya Tapakdara, aku tidak tahu siapa lagi yang pantas menempati posisi sebagai Senapati Pengiringku. Kalau dari segi kemampuan dan sikap, sepertinya pemuda itu, Gagak Seta, justru orang yang paling pantas untuk menempatinya.”, jawab Senapati Lesmana.
Senapati Rendra hanya bisa mengangkat bahu, “Ya... dengan kalahnya dan terlukanya Tapakdara, sekarang kita hanya bisa menyerahkan hasilnya pada nasib.”
Senapati Lesmana memandangi mereka-mereka yang sudah memenangkan pertarungan, dan yang masih menunggu gilirannya, dan akhirnya berkata, “Benar Kang, kali ini siapapun yang menang, aku tidak punya keyakinan penuh mereka itu aman untuk dipercayai.”
Untuk sesaat lamanya, Senapati Rendra memejamkan mata, dia merasa ada bayangan gelap yang sekilas menaungi rasa batinnya.
Ketika dia membuka matanya lagi, Senapati Rendra melihat rekannya yang masih muda, sedang mengamati pertarungan yang sedang terjadi. Senapati yang berusia cukup lanjut itu menekan perasaannya dan ikut menyaksikan pertarungan dalam diam.
'Kuharap Ki Adipati tidak mengambil keputusan yang salah.', pikir Senapati Rendra dalam hati.
Pertarungan putaran pertama berakhir dengan empat orang prajurit telik sandi Rangga berhasil lolos ke putaran kedua.
Gagak Seta akhirnya memutuskan untuk mengikuti putaran yang kedua dan berhasil menang melawan lawannya. Perebutan gelar pangkat Senapati Muda sepertinya mencapai puncaknya justru pada pertarungan antara Gagak Seta melawan Tapakdara.
Meskipun pertarungan-pertarungan berikutnya sesekali menarik perhatian mereka yang menonton, tapi percakapan mereka tak pernah lepas dari pertarungan Gagak Seta dan Tapakdara.
Di putaran kedua itu, kemenangan Gagak Seta diikuti oeh kemenangan rekan-rekannya yang lain, mereka berhasil lolos seluruhnya ke putaran ke-tiga, sehingga dari lima orang yang lolos ke putaran ke-tiga, empat orang adalah prajurit telik sandi Rangga.
Dengan jumlah yang tidak genap tersebut, Senapati Lesmana mengistirahatkan Gagak Seta.
Dalam pertarungan antara Hambali, salah seorang rekan Gagak Seta, melawan satu-satunya peserta yang masih tersisa, yang bukan merupakan prajurit telik sandi Rangga, Hambali dengan susah payah berhasil memenangkan pertarungan itu.
Senapati Lesmana diam-diam berhitung, dari segi kemampuan sebenarnya Gagak Seta dan Tapakdara adalah yang terbaik, dan Gagak Seta berhasil mengalahkan Tapakdara.
Namun kondisi Gagak Seta tidak memungkinkan untuk memenangkan sayembara itu, Partajaya dan Sembara, dua prajurit lain selain Gagak Seta dan Hambali, masih dalam keadaan yang relatif baik, tanpa luka berat, seperti Gagak Seta dan Hambali.
“Agar pertandingan berikutnya berimbang, kau lawan dia.”, ujar Senapati Lesmana menunjuk Partajaya dan Sembara.
“Kemudian kau, melawan kau.”, ujar Senapati Lesmana menunjuk Gagak Seta dan Hambali.
Mereka berempat saling berpandangan, apapun hasil dari pertarungan berikutnya, bagi mereka berempat tak terlalu penting lagi.
Hambali membuka mulut, “Maaf, Ki Senapati, aku memutuskan untuk mundur dari sayembara ini. Lukaku cukup berat dan setelah melihat pertarungan antara Gagak Seta melawan Ki Tapakdara, sebenarnya aku merasa kepandaianku jauh di bawah mereka berdua. Sehingga setelah aku pertimbangkan dengan masak, rasanya tak pantas aku memaksakan diri, seakan-akan aku bertarung hanya untuk menjegal Gagak Seta agar gagal menjadi juara.”
Wajah Senapati Lesmana terlihat puas, “Ah... begitu? Bagus.. bagus... aku terima alasanmu.”
“Kalau begitu tinggal kalian berdua sekarang, mari kita lanjutkan.”, ujar Senapati Lesmana ke arah Partajaya dan Sembara.
Kedua pemuda itu saling memandang dan tersenyum kecut, kemudian Partajaya berkata pada Senapati Lesmana, “Maaf Ki, sebenarnya kata-kata Hambali tadi mungkin mewakili kita semua. Sekalian teman-teman yang menyaksikan sayembara ini pun rasanya tidak akan rela jika salah satu dari kami berdua yang nantinya menang.”
“Benar Ki, karena jika mau jujur, rasanya semua akan setuju bahwa yang terbaik dari kami, mungkin adalah Ki Tapakdara dan Kakang Gagak Seta. Sayangnya undian justru mempertemukan mereka bukan di pertarungan terakhir.”, sambung Sembara.
Senapati Lesmana mengangguk-anggukkan kepala senang, kemudian dia berbalik ke arah ribuan prajurit yang masih menonton dan bertanya dengan suara keras, “Apa kalian juga berpikir seperti itu? Menurut kalian apakah Gagak Seta yang layak menjadi Senapati Pengiring-ku?”
“Pilih Gagak Seta!”, seorang di bawah panggung berseru keras.
“Gagak Seta jadi Senapati Muda!”, di arah yang lain menyusul terdengar seruan yang serupa.
Siapa lagi mereka ini, kalau bukan prajurit-prajurit telik sandi Rangga sendiri yang diam-diam menyebar di berbagai tempat. Namun karena memang pertarungan antara Gagak Seta dan Tapakdara sebelumnya sudah merebut hati mereka semua, maka cukup dengan sedikit pancingan saja, ribuan prajurit itu pun tergerak.
Seruan demi seruan, sambung menyambung, sampai akhirnya secara serempak mereka berseru-seru, “Gagak Seta! Gagak Seta! Gagak Seta!”
Bukan berarti rasa bangga itu hilang begitu saja, tapi Gagak Seta masih bisa menempatkannya di tempat yang tepat.
“Terima kasih.”, ucapnya pada ketiga rekannya yang juga ikut merasa senang karena berhasil menjalankan tugas dengan baik.
Tiga puluh tujuh orang menyusup, seorang dari mereka berhasil menjadi Senapati Muda, jabatan kedua tertinggi setelah Senapati Lesmana sendiri. Tujuh orang lain berhasil mendapatkan pangkat Bekel, sementara sisanya yang lain berhasil mendapatkan pangkat Lurah Prajurit.
Jika mereka berhasil memainkan peran mereka dengan baik, kesatuan baru yang berada di bawah Senapati Lesmana, bisa jadi senjata makan tuan saat pasukan Kadipaten Jambangan berhadapan dengan pasukan Rangga nanti.
Wajah Gagak Seta pun berubah jadi serius ketika mulai memikirkan hal itu. Rasa tanggung jawab yang berat, terasa membebani pundaknya, menggantikan euforia yang sesaat dia rasakan.
Ekspresi wajah Gagak Seta tak lepas dari pengamatan Senapati Lesmana, yang membuat senapati itu semakin yakin dia tidak salah memilih. Begitulah, seorang senapati yang berpengalaman pun tidak bisa lepas dari kelemahan sebagai manusia yang seringkali menilai sesuatu secara subyektif.
Seruan dari prajurit-prajurit di bawah mereda, ketika Senapati Lesmana mengangkat tangannya, kemudian dengan suara yang jelas Senapati Lesmana mengumumkan, “Bagus, aku bangga melihat kejantanan kalian semua, bisa mengakui kelebihan seseorang tanpa harus merendahkan diri sendiri.”
“Dengan ini aku nyatakan, Gagak Seta aku angkat sebagai Senapati Pengiring-ku.”, seru Senapati Lesmana disambut sorak sorai yang membuat panggung itu serasa akan rubuh.
Menunggu mereka mereda, Senapati Lesmana mengumumkan kembali, “Dan menilik bahwa Tapakdara juga tidak kalah digdaya-nya dengan Gagak Seta, maka aku putuskan, setelah Tapakdara nanti pulih dari cederanya, aku juga akan mengangkatnya sebagai Senapati Pengiring.”
Kali ini terdengar sorak-sorai, namun tak seramai sebelumnya. Bagaimana pun juga Tapakdara sangat dikenal di Kadipaten Jambangan, dan tidak sedikit prajurit-prajurit yang hadir di situ mengaguminya. Juga memang kenyataannya bisa dikatakan ilmu Tapakdara sebenarnya justru selapis atau setengah lapis lebih tinggi dari Gagak Seta.
Jika saja dia tidak terpancing oleh taktik Gagak Seta yang mengorbankan dirinya sendiri, kemungkinan besar dia akan menang, kalaupun kalah tentu tidak akan kalah setelak itu.
----
Hari itu Senapati Lesmana menutup semua acara dengan acara singkat berupa pengangkatan mereka-mereka yang terpilih sebagai Lurah Prajurit, Bekel dan Senapati Pengiring.
Sekaligus mengorganisasi pasukan yang baru itu, berdasarkan jumlah perwira yang ada. Tiap Lurah Prajurit mengepalai 10 sampai 12 orang prajurit. Kemudian setiap Bekel akan mengepalai 10 orang Lurah Prajurit.
Gagak Seta sebagai senapati berhak memiliki pasukan khususnya sendiri dengan dua Bekel dan dua puluh Lurah Prajurit. Artinya Gagak Seta sendiri memiliki dua ratus orang prajurit yang sepenuhnya berada di bawah pimpinannya.
Penugasan itu sendiri masih membutuhkan waktu yang tidak singkat, tapi setidaknya prajurit-prajurit telik sandi dari pasukan Rangga itu sudah memililki bayangan, bagaimana mereka nanti bisa berperan.
----
Malam itu, prajurit-prajurit telik sandi pasukan Rangga diliburkan dari latihan malam hari mereka. Hanya beberapa orang yang datang menemui Ki Ageng Aras dan Senapati Manggala untuk melaporkan hasil yang mereka capai di hari itu.
Senapati Manggala dan Ki Ageng Aras mendengarkan laporan mereka dengan wajah berseri-seri, bagaimana tidak? Hasil yang mereka dapatkan sudah sangat maksimal. Meskipun hanya tujuh orang dari mereka menjadi Bekel, tapi tiap Bekel mengepalai 10 orang Lurah Prajurit, artinya setidaknya ada 700 orang prajurit yang berada di bawah kepemimpinan mereka. Belum termasuk 29 orang Lurah Prajurit dan Gagak Seta.
Jika mereka ditempatkan menyebar, setidaknya kurang lebih ada 1200 orang prajurit yang berada di bawah pimpinan mereka., sejelek-jeleknya, ada 700 orang prajurit.
Setelah prajurit-prajurit itu kembali ke baraknya masing-masing, dalam gelapnya malam, hanya ditemani api unggun yang kecil, Senapati Manggala dan Ki Ageng Aras membahas hasil yang mereka capai hari itu.
“Hmm.... tentang bagaimana Senapati Lesmana mengatur siapa di bawah pimpinan siapa, itu di luar jangkauan kita.”, ujar Ki Ageng Aras.
“Benar, tapi mungkin Gagak Seta sebagai senapati, masih punya suara untuk memilih, siapa dua Bekel yang akan dia jadikan tangan kanan dan tangan kirinya. Menurut Ki Ageng Aras, bagaimana sebaiknya?”, sahut Senapati Manggala.
Ki Ageng Aras terdiam beberapa lama, “Hmm.... jika seluruh Lurah Prajurit dan Bekel yang berada di bawah pimpinan Gagak Seta adalah orang-orang kita, maka kecil kemungkinan 200 orang prajurit yang ada di bawah Gagak Seta akan melawan perintah Gagak Seta.”
“Benar, akan tetapi ada masalah waktu, apakah dalam waktu yang singkat ini, mereka bisa menanamkan ketaatan mutlak dari prajurit-prajurit yang mereka pimpin? Jika tidak, lebih baik mereka menyebar, dengan demikian meskipun tenaga mereka tidak bisa digunakan secara langsung untuk kepentingan kita, tapi mereka bisa menimbulkan kekacauan yang besar dalam organisasi pasukan Senapati Lesmana.”, sahut Senapati Manggala.
“Benar juga...”, gumam Ki Ageng Aras sambil berpikir.
Senapati Manggala dengan hati-hati berkata, “Atau mungkin Ki Ageng Aras merasa khawatir dengan keselamatan Gagak Seta?”
Ki Ageng Aras menghela nafas, memandang rekannya yang jauh lebih muda, tapi punya pandangan mata yang tajam itu.
Sambil tersenyum pasrah Ki Ageng Aras menjawab, “Ya... mungkin ini keegoisanku sebagai seorang guru. Jika dua Bekel yang membantu Gagak Seta adalah orang kita sendiri, tentu kedudukannya jadi lebih aman.”
Senapati Manggala mengangguk maklum, “Aku mengerti perasaan Ki Ageng Aras..., namun sebagai pimpinan pasukan, tentu kita memikirkan yang terbaik bagi pasukan kita secara keseluruhan, terutama pada keberhasilan kita mencapai tujuan.”
Ki Ageng Aras mengangguk dengan berat hati, “Ki Manggala benar, biarlah untuk hal ini, aku serahkan pada Ki Manggala, karena terus terang, sepertinya perasaanku belum cukup mengendap untuk dapat mengambil keputusan tanpa terpengaruh oleh perasaanku sebagai seorang guru.”
Ki Manggala berpikir sejenak, kemudian menjawab. “Mungkin kita ambil jalan tengahnya saja, jika memang Senapati Lesmana memberikan kesempatan pada Gagak Seta untuk memilih siapa yang menjadi Bekel pembantu utamanya, dia bisa memilih yang seorang dari orang kita untuk membantu dia.”
“Hmm.... baiklah aku kira itu yang terbaik.”, Ki Ageng Aras menerima usualan Senapati Manggala.
“Ijinkan aku menemui Gagak Seta malam ini, untuk menilik keadaannya, sekaligus menyampaikan keputusan Ki Manggala.”, ujar Ki Ageng Aras kemudian.
“Silahkan Ki, silahkan.”, ucap Senapati Manggala dengan hormat.
Tak lama kemudian, Ki Ageng Aras pun menghilang, bersembunyi dalam gelapnya malam, menyusup ke dalam markas pasukan Kadupaten Jambangan. Entah kenapa, Ki Ageng Aras merasa tak tenang dengan semakin dekatnya mereka dengan pertempuran yang akan terjadi.