
“Gagak Seta...”, Ki Lurah Basuki memanggil, dia hanya berdiri di depan pintu yang terbuka, entah kenapa kakinya tak mau disuruh melangkah.
Seorang dari prajurit yang berjaga di depan, berjalan masuk, “Ada apa ki?”
Ki Lurah Basuki menengok ke belakang dan dengan kesal bertanya, “Apa maksudmu ada apa? Kalian yang harusnya menjawab, apa ini yang kalian buat.”
Ki Lurah Basuki menunjuk ke arah ceceran makanan bercampur kotoran kuda di lantai, “Apa itu?”
Prajurit itu mengangkat bahu dan menjawab. “Kalau Ki Lurah merasa kami berlebihan, silahkan Ki Lurah laporkan pada atasan kami.”
Ki Lurah Basuki mendengus kesal, tapi tidak berani pula menekan lebih jauh. Di belakang prajurit-prajurit ini ada Senapati Glagah Wiru. Sejak kejadian bentrokan antara tiga orang prajurit dengan Gagak Seta, sudah terjadi beberapa kali bentrokan kecil lain. Bedanya kali ini ada Senapati Glagah Wiru dan Senapati Lesmana yang melindungi masing-masing pihak dari konsekuensi disiplin militer.
Suasana di Kadipaten Jambangan semakin memanas dengan konflik-konflik di dalam pasukan mereka sendiri.
Baru saja tadi pagi keluar peringatan keras, langsung dari Adipati Jalak Kenikir sendiri di depan ribuan prajurit, baik yang baru maupun yang lama. Sedikit banyak, kedua belah pihak menahan diri, namun permusuhan tidak sepenuhnya hilang.
“Gagak Seta... Kau tidak apa-apa?”, sekali lagi Ki Lurah Basuki memanggil.
“Aku tidak apa-apa ki.”, terdengar Gagak Seta menjawab dan Ki Lurah Basuki pun merasa lega.
Sebenarnya bukan hanya dia, prajurit yang menjaga bangunan itu pun sedikit banyak, merasa kuatir jika sampai terjadi sesuatu atas Gagak Seta, karena baru saja pagi ini Adipati Jalak Kenikir memberikan teguran kepada mereka semua.
“Hukumanmu sudah selesai Gagak Seta, keluarlah, aku akan mengantarmu kembali pada kesatuanmu.”, ujar Ki Lurah Basuki.
Gagak Seta berjalan keluar. Tiga hari tidak makan dan tidak minum, membuat dia terihat makin kurus.Garis-garis wajah pemuda itu menajam, demikian juga dengan tubuhnya, garis-garis tulang rusuk dan ototnya terlihat jelas.
Namun bukannya terlihat lemah, perubahan itu justru membuat dia terlihat lebih garang.
“Gagak Seta... kau... tidak apa-apa?”, tanya Ki Lurah Basuki terbata.
Gagak Seta memejamkan mata sebentar, dan menghirup udara dalam-dalam. Meskipun bau kotoran masih mengambang di udara, tapi udara di lorong masih jauh lebih segar dibandingkan ketika dia selama tiga hari ini berada di dalam ruangan yang tertutup rapat.
Melangkah ringan keluar, Gagak Seta tersenyum ramah, “Aku tidak apa-apa Ki Lurah.”
“Baguslah kalau begitu, sekarang kau ikuti aku, Adipati Jalak Kenikir telah menetapkan tempat yang baru bagi kalian, prajurit-prajurit yang baru bergabung.”, ucap Ki Lurah Basuki.
Sesaat setelah Gagak Seta dan Ki Lurah Basuki meninggalkan tempat itu, prajurit-prajurit yang berjaga bercakap-cakap di antara mereka sendiri.
“Pemuda aneh...”, ujar prajurit yang sempat ikut masuk ke dalam.
“Aneh?”, tanya rekannya.
“Ya... entah kenapa, tapi waktu melihat tatapan matanya, aku tiba-tiba merasa takut.”, jawab yang ditanya sambil bergidik ketika teringat tatapan mata Gagak Seta.
“Menurutmu dia ingin membalas dendam pada kita karena mencampur ransum makannya dengan kotoran kuda?”, tanya seorang prajurit yang lain.
“Entahlah...?', jawab rekannya terdengar ragu.
“Hmph, jangan kuatir, kalau dia berani cara gara-gara biar aku yang menghadapi. Aku justru gatal ingin mengukur ilmunya.”, Jawab prajurit yang memimpin penjaga-penjaga di tempat itu.
-----
Sambil mengantarkan Gagak Seta ke tempat prajurit-prajurit yang baru bergabung sekarang dikumpulkan, Ki Lurah Basuki menjelaskan apa saja yang terjadi selama Gagak Seta berada di dalam kurungan.
“Jadi begitulah keadaannya. Aku harap kau tidak perlu menyimpan dendam dalam hatimu. Cobalah bersabar, aku yakin seiring dengan berjalannya waktu, segala sesuatunya akan menjadi lebih baik. Jangan sampai karena kemarahan sesaat, justru kau merusak masa depanmu.”, ujar Ki Lurah Basuki.
“Terima kasih untuk peringatanmu ki, jangan kuatir aku tidak akan berbuat bodoh dengan melanggar peraturan keprajuritan.”, jawab Gagak Seta dengan sopan.
“Baguslah kalau begitu..., kau yakin kau tidak perlu makan dulu? Tempat kalian yang baru, agak jauh di luar tembok ibu kota kadipaten.”, tanya Ki Lurah Basuki untuk kesekian kalinya.
“Tidak perlu ki, aku sudah merasa jauh lebih baik setelah minum degan tadi. Terimakasih banyak ki.”, jawab Gagak Seta.
“Hmm... tidak perlu sungkan-sungkan.”, ujar Ki Lurah Basuki.
“Selain ada teguran dari Ki Adipati, aku juga menerima berita dari beberapa rekan-rekanku yang bertugas jadi abdi dalem kadipaten. Ini kabar bagus untukmu, tapi jangan ceritakan pada orang lain, karena ini belum jadi pengumuman resmi.”, setelah terdiam beberapa saat Ki Lurah Basuki berkata.
“Berita apa itu ki?”, Gagak Seta merasa tertarik mendengar itu.
Ki Lurah Basuki tampak agak ragu-ragu, “Hmm... kau jangan ceritakan ini pada orang lain. Mengerti?”
Gagak Seta mengangguk, “Jangan kuatir ki, aku pasti menyimpan rahasia ini baik-baik.”
Ki Lurah Basuki tersenyum, “Sebenarnya juga bukan rahasia besar atau sesuatu yang perlu dirahasiakan, hanya saja sebelum diumumkan secara resmi, lebih baik kau jangan ceritakan hal ini pada orang lain.“
Gagak Seta tertawa kecil dan berkata, “Ki Lurah justru membuatku makin penasaran saja.”
“Hahaha... baiklah aku akan ceritakan padamu. Jadi menurut yang kudengar, satu bulan lagi dari sekarang, akan diadakan kompetisi bela diri antar prajurit baru. Dari hasil kompetisi itu nanti, Ki Adipati akan mengangkat Lurah dan bahkan Bekel, yang akan bertugas untuk membantu Ki Senapati Lesmana memimpin pasukan.”, akhirnya Ki Lurah Basuki membocorkan rahasia tersebut.
Dalam hatinya Gagak Seta berpikir, 'Kesempatan...!'
Namun dia berusaha menyembunyikan perasaan-nya tersebut, dengan alis sedikit berkerut dia bertanya, “Ada ribuan prajurit baru yang diterima, jika dilakukan kompetisi bela diri, bisa berhari-hari tak akan ada selesainya. Lagipula mengapa Ki Adipati tidak mengangkat perwira-perwira dari angkatan yang lama, untuk memimpin kesatuan yang baru dibentuk ini?”
Ki Lurah Basuki menghela nafas, “Kau tahu sendiri, saat ini antara angkatan yang baru dan angkatan yang lama, masih belum terbentuk ikatan yang baik. Malah terjadi banyak salah paham dan konflik. Sehingga Ki Adipati dan para senapati khawatir, kesatuan yang baru dibentuk ini justru tidak bisa bekerja dengan baik jika dipimpin oleh prajurit-prajurit lama.”
Gagak Seta mengangguk paham, “Tapi, tetap saja Ki, bagaimana akan melakukan pertandingan bela diri dengan ribuan orang peserta?”
Ki Lurah Basuki mengangguk setuju, “Soal itu aku juga tidak tahu, tapi menurut yang kudengar, mereka yang ingin mengikuti pertandingan ini, harus melewati ujian tertentu.”
“Ki Lurah tahu ujian apa yang harus kami lewati agar bisa mengikuti pertandingan itu?”, Gagak Seta merasa tertarik dan bertanya.
“Haha... hatimu tergerak juga rupanya?', ujar Ki Lurah sambil tertawa.
Gagak Seta ikut tertawa sambil berusaha menenangkan perasaannya, lalu menjawab, “Tentu saja ki, siapa yang tidak ingin mendapatkan kedudukan yang lebih baik.”
Sebenarnya Ki Lurah Basuki tidak menaruh curiga sama sekali, hanya perasaan Gagak Seta sendiri sebagai prajurit telik sandi yang terlalu berhati-hati. Ki Lurah yang tidak memperhatikan perubahan wajah Gagak Seta berkata, “Bagus kalau kau punya keinginan seperti itu. Anak muda harus memiliki semangat untuk mengembangkan dirinya. Menurutku kau punya potensi yang besar untuk menjadi prajurit yang baik, jadi jangan sia-siakan itu dengan menanggapi hal-hal yang kecil dan tidak perlu.”
“Terima kasih ki untuk nasehatnya.”, jawab Gagak Seta dengan sopan.
Dalam hati Gagak Seta berpikir dan mengingatkan dirinya sendiri 'Aku terlalu tegang, wajar saja kalau seseorang ingin karier-nya menanjak, berusaha menyembunyikan itu justru mengundang rasa curiga.'
“Bentuk ujiannya seperti apa, aku sendiri tidak tahu, tapi yang pasti ujian ini akan menyingkirkan sebagian besar dari kalian dan menyisakan mungkin ratusan sampai puluhan orang saja.”, jawab Ki Lurah Basuki.
Ki Lurah Basuki menjawab, “Tentu saja, aku punya kesan baik tentang dirimu. Jika aku mendengar sesuatu, aku akan memberi tahu dirimu. Hanya sekali lagi aku harap kau mengingat baik-baik nasihatku. Tidak perlu terpancing oleh prajurit-prajurit lama yang mungkin memancing-mancing perkelahian.”
“Aku mengerti ki.”, jawab Gagak Seta yang dengan tulus berterima kasih.
Dalam hati Gagak Seta terselip rasa bersalah terhadap Ki Lurah Basuki, dalam hati dia beberapa kali mengingatkan dirinya sendiri, 'Ini tugasku sebagai prajurit telik sandi... aku bukan seorang pengkhianat, tapi seorang prajurit telik sandi.'
Ketika mereka sampai di tempat kesatuan yang baru sekarang ditempatkan, beberapa orang prajurit yang mengenal Gagak Seta menyapanya dengan ramah.
“Hai... kau sudah bebas?”
“Kau terlihat kurusan, keparat-keparat itu berusaha menyulitkan dirimu?”
“Aku melihatmu hari itu, sayang Ki Glagah Wiru menghentikan pertarungan itu, jika tidak kau tentu sudah menghajar mereka habis-habisan.”
Kedatangan Gagak Seta pun menarik perhatian lebih banyak prajurit-prajurit baru. Ki Lurah Basuki merasa tak nyaman, karena beberapa orang dari mereka, ada juga yang menatap dirinya dengan sikap bermusuhan.
Ki Lurah Basuki diam-diam menghela nafas, “Gagak Seta, kita sudah sampai dan tentu nanti akan ada rekan-rekanmu yang bisa mengantarmu. Aku akan kembali ke kesatuanku sendiri.”
Gagak Seta merasa kasihan dan sekaligus berterima kasih. Di depan rekan-rekannya, dia dengan sopan menjawab, “Terima kasih banyak Ki Lurah atas semua bantuanmu.”
Ki Lurah Basuki tersenyum dan dalam hati merasa lega dan senang dengan sikap Gagak Seta, “Sudah bagian dari tugasku sebagai sesama prajurit.”
Melihat dan mendengar bagaimana Gagak Seta bersikap pada Ki Lurah Basuki, sikap rekan-rekan Gagak Seta terhadap Ki Lurah Basuki pun ikut membaik. Ketika Ki Lurah Basuki sudah meninggalkan tempat itu, Gagak Seta berbalik pada rekan-rekannya dan berkata, “Tidak semua prajurit lama memusuhi kita.”
Beberapa orang mengangguk setuju, beberapa hanya mengangkat bahu, dan ada juga beberapa orang yang lain yang terlihat tidak senang.
“Gagak Seta, tak kusangka kau rupanya sejenis penjilat juga.”, dengus seorang prajurit.
Gagak Seta menoleh ke arah prajurit yang mengejeknya itu, “Oh... rupanya kau Sabrang, apakah aku penjilat atau bukan, itu bukan urusanmu. Kalau tanganmu terasa gatal, kau tunggulah beberapa hari, biarkan tubuhku pulih lebih dahulu.”
“Sorang, kau tak usah cari perkara. Gagak Seta, apa mereka menyiksamu?”, salah seorang prajurit menengahi keduanya.
“Tidak, hanya saja mereka mencampurkan kotoran kuda pada ransum makananku, mau tidak mau, aku harus berpuasa selama tiga hari ini.”, jawab Gagak Seta mengundang kemarahan rekan-rekannya.
“Dasar binatang mereka.”
“Pengecut, mereka hanya berani main curang.”
Dan banyak makian lain.
“Kau tak apa-apa?”, tanya prajurit yang tadi menengahi.
“Aku tak apa-apa Kakang Partajaya. Hanya merasa sedikit lemas saja. Ki Lurah Basuki tadi sudah memberiku segelas degan, sebelum mengantarku ke mari.”, Jawab Gagak Seta.
Kemudian dia berbalik menghadapi rekan-rekannya yang lain, “Gagak Seta bukan penjilat, tapi aku juga tidak akan memusuhi orang yang sudah memperlakukanku dengan baik.”
“Sudahlah, tak usah kau ambil hati perkataan Sabrang, dia memang iri denganmu.” ujar salah seorang prajurit yang lain.
Prajurit yang bernama Sabrang mendengus mendengar komentar rekan-rekannya.
Namun tidak terjadi konflik yang berkepanjangan.
Prajurit yang dipanggil Partajaya menepuk pundak Gagak Seta dan berkata, “Mari kami antar kau ke barak kita yang baru.”
Keduanya pun berjalan meninggalkan rekan-rekan mereka yang lain dan berjalan menuju ke salah satu rumah panjang yang berbaris berjajar beberapa ratus meter dari gerbang masuk.
Ketika keduanya sudah cukup jauh dari prajurit yang lain, Partajaya berbisik, “Di... kebetulan sekali kau menyelesaikan kurunganmu hari ini.”
“Kenapa Kang?”, tanya Gagak Seta dengan suara berbisik pula.
“Ada perintah dari atas, malam ini kita semua diminta berkumpul.”, jawab Partajaya.
“Berkumpul? Kita semua?”
“Ya, kita semua. Di hutan kecil di barat barak ini.”, jawab Partajaya.
Gagak Seta mengerutkan alis, “Hmm....”
Partajaya tertawa kecil, “Jangan kuatir, kau tahu sendiri keadaan di sini, sama sekali tidak ada disiplin. Tentu saja kita tetap harus berhati-hati.”
Gagak Seta mengangguk, “Baiklah...aku mengerti.”
“Sekarang kau beristirahatlah baik-baik. Benar kau berpuasa penuh tiga hari tiga malam?”, tanya Partajaya.
“Ya, mereka mencampur kotoran kuda di ransum makanku.”, jawab Gagak Seta.
“Hmph... mereka memang keterlaluan.”, geram Partajaya.
“Hahaha... tapi bukankah itu yang kita mau?”, jawab Gagak Seta sambil tertawa kecil.
“Hehehe.... ya... Kemarin Adi Gandaru sempat berkelahi juga dengan salah satu dari mereka.”, ujar Partajaya.
“Mereka masih berani mencari gara-gara? Kudengar Adipati Jalak Kenikir sendiri sampai mengeluarkan teguran.”, tanya Gagak Seta.
“Oh, itu terjadi sebelum ada teguran dari Adipati Jalak Kenikir. Dan bukan mereka yang mencari gara-gara, memang Adi Gandaru yang memancing masalah.”, jawab Partajaya.
“Oh... begitu rupanya.”, gumam Gagak Seta.
Merekapun akhirnya sampai di barak tempat Gagak Seta ditempatkan.
“Kau beristirahatlah dulu, jangan lupa, nanti tengah malam.”, ujar Partajaya pada Gagak Seta.
“Siap kang.”, jawab Gagak Seta.
Dalam hati pemuda itu bertanya-tanya, karena ini pertama kali muncul perintah untuk berkumpul. Sempat terselip kekhawatiran dalam hati Gagak Seta, bagaimana jika perintah ini adalah jebakan dari pihak Kadipaten Jambangan, tapi segera dia menepis kemungkinan itu.
'Tidak mungkin Kakang Partajaya menipuku dan berkhianat...', pikirnya dengan segera.