Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab LXI. Lawan atau Mati. Tak Ada Kata Lari.



Bagi prajurit dan penduduk yang menjadi pengikut Rangga, hari-hari terasa berjalan dengan cepat, tak ada waktu untuk bertopang dagu. Peringatan tentang musuh yang bisa saja datang setiap saat disampaikan berjenjang dari lapisan pimpinan paling atas ke sampai ke lapisan yang terbawah.


Setiap orang, bahkan wanita dan remaja, bekerja sambil membawa-bawa senjata. 


Penduduk laki-laki bekerja dengan membawa senjata berupa tumbak tak pernah jauh dari tempat mereka bekerja, setiap sepuluh orang akan membentuk satu kelompok kecil yang dipimpin seorang prajurit. 


Sementara wanita dan anak-anak bekerja dengan, membawa busur dan sekantong penuh anak panah. Berbeda dengan mereka yang laki-laki, tidak ada prajurit yang khusus memimpin mereka, hanya ada intruksi khusus untuk berkumpul di tempat-tempat tertentu.


Di satu sisi ketegangan dan kecemasan mewarnai suasana kota yang sedang dalam pembangunan itu.


Di sisi lain, ancaman yang membayang itu menjadi pelecut dan penguat semangat mereka untuk menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin.


Pekerjaan rangkaian tembok dan menara benteng yang ada di atas bukit masih terus berjalan. Akan tetapi sebagian besar penduduk dialihkan untuk mengerjakan galian parit dan pagar kayu di beberapa titik sekitar kaki bukit.


Sementara pekerjaan membangun rumah-rumah penduduk untuk sementara ini tidak dilanjutkan. Bangunan-bangunan yang sudah ada, sudah cukup layak untuk ditinggali, meski satu rumah harus digunakan oleh beberapa keluarga.


Siang itu matahari sedang terik-teriknya, ketika tiba-tiba terdengar suara kentungan bertalu-talu.


Tanpa ragu, semua wanita dan anak-anak meninggalkan apa saja yang sedang mereka kerjakan saat itu, dan bergegas berjalan ke arah benteng di atas bukit dengan membawa busur dan anak panah.


Yang lelaki, mengikuti pimpinan prajurit yang mengepalai mereka, berkumpul di titik-titik yang sudah ditentukan.


Dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka semua sudah berbaris rapi di tempat masing-masing, dengan senjata siap di tangan.


Suasana yang tadinya ramai penuh suara orang bekerja, seketika itu juga jadi hening.


Dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara puluhan kuda menderap. Wajah-wajah yang berbaris terlihat menegang. Buku-buku jari terlihat mengeras, mengepal, menggenggam erat senjata di tangan. Tali-tali busur sudah dipasang. Satu tangan memegang busur dan sebatang anak panah sudah siap di tangan yang lain.


Barisan wanita dan anak-anak yang berkumpul di atas puncak bukit, bisa melihat kepulan debu yang mengiringi derap kuda.


Namun barisan prajurit dan laki-laki yang berada di lingkaran paling luar yang bertemu lebih dahulu dengan penunggang-penunggang kuda itu.


Dipimpin oleh Rangga, terlihat kedua rakryan dan beberapa orang senapati, diiringi puluhan prajurit bersenjata lengkap, melakukan inspeksi dari satu barisan ke barisan berikutnya. Ketegangan di wajah penduduk terlihat mereda, ketika mereka tahu tanda bahaya kali ini hanyalah sebuah latihan, sama seperti beberapa kali tanda titir sebelumnya.


Namun kelegaan itu tak mengurangi sikap tegak dan kesiapan mereka.


Di awal-awal latihan, terdengar teriakan-teriakan para senapati yang menggelegar karena melihat pergerakan yang lambat, atau sikap yang kurang waspada.


Di saat pertama kali tanda bahaya dibunyikan, tidak ada hukuman badan bagi mereka yang terlambat bergerak, atau tidak disiplin dalam berbaris menunggu aba-aba. Yang ada hanya peringatan keras dan pengulangan instruksi.


Saat kedua kalinya latihan dilakukan, tak ada lagi peringatan.


Setiap kelompok yang gagal menunjukkan kewaspadaan yang tinggi, mendapatkan hukuman fisik. Bahkan bagi wanita dan anak-anak. Tiba-tiba sosok para senapati dan prajurit tua yang selama ini tampil mengayomi, berubah menjadi momok yang menakutkan.


Mereka yang berlambat-lambat karena tahu titir tanda bahaya itu kemungkinan besar hanyalah sebuah latihan, mendapatkan buah yang pahit atas kelambatan mereka.


Ketika beberapa hari kemudian, suara titir kembali terdengar, sikap asal-asalan pun sudah tidak ada lagi. Meskipun di sana-sini masih terdengar beberapa orang senapati menegur dengan suara menggelegar, tapi sudah tidak ada seorang pun yang sampai harus menerima hukuman fisik.


Kali ini di antara derapan kuda yang memeriksa dari satu pasukan ke pasukan berikutnya, tidak terdengar lagi kemarahan para senapati.


Yang terdengar berkuda dari satu barisan ke barisan berikutnya adalah pujian pendek dari Rangga dan kedua Rakryan.


Demikian rombongan itu berkuda dari satu titik pertahanan, ke titik pertahanan yang lain, memeriksa kesiapan dan kesigapan tiap kesatuan, perlahan dari lingkar pertahanan paling luar sampai ke lingkar pertahanan yang paling dalam, di atas bukit, di mana wanita dan anak-anak berkumpul dengan membawa busur dan panah.


Ketika sampai di titik pertahanan yang terakhir, Rangga duduk di atas kudanya dengan tegap, menatap tajam ke sekian ribu orang di hadapannya.


Ada wanita setengah baya, gadis-gadis muda, anak-anak remaja menjelang dewasa, bahkan ada anak-anak yang terlampau muda untuk dianggap remaja. Berbagai macam emosi terlihat di raut-raut wajah mereka, tegang, kuatir, takut dan gentar.


Namun tidak ada yang bergeming dari tempatnya.


Di bagian benteng yang terdalam, ada orang tua yang sudah terlalu renta dan anak-anak yang terlalu kecil untuk mengangkat senjata.


Mereka pun tidak menggendong tangan, menyangga dagu, mereka siap dengan perbekalan makanan dan obat-obatan, untuk diantarkan ke tempat mana nantinya diperlukan. Termasuk bersiap untuk merawat mereka yang luka di barisan depan.


Di keheningan itu, suara Rangga terdengar jelas, jauh sampai ke bawah kaki bukit, “Bagus! Aku tak bisa meminta yang lebih baik dari latihan kali ini.”


Dalam suasana yang hening itu, suaranya sedikit bergema dan merambat sampai jauh ke bawah bukit, terdengar oleh semua yang hadir di tempat itu.


Sesaat kemudian Rangga melanjutkan, “Karena itu, ini adalah latihan yang terakhir. Tanda titir yang berbunyi berikutnya, akan menjadi tanda peperangan yang sesungguhnya dan ingat, satuan-satuan prajurit yang terlatih sudah tersebar di berbagai titik.


Rangga diam sejenak, memberi waktu agar mereka semua yang hadir itu meresapi apa yang baru dia sampaikan, “Jadi ketika kalian mendengar tanda titir, persiapkan hati kalian, ikuti dengan sungguh-sungguh apa yang sudah diajarkan dan dilatihkan selama ini, karena nyawa kalian yang jadi taruhannya.


Keselamatan keluarga kalian... 


Jadi taruhannya.


Impian kalian untuk memulai masa depan di tempat ini, nasib anak cucu kalian...


Jadi taruhannya.”


Lagi-lagi keheningan menguasai bukit itu, ketika Rangga diam menatap wajah-wajah di depannya, anak-anak, wanita, tua dan muda.


Tiap-tiap kata Rangga menghunjam hati mereka yang mendengar. Bagi para prajurit, apalagi yang sudah mengikuti Rangga selama puluhan tahun, mentalnya sudah terpapar pada ancaman kematian puluhan bahkan ratusan kali.


Namun bagi prajurit yang masih muda, apalagi bagi penduduk yang selama ini selalu berada di bawah perlindungan prajurit-prajurit, ancaman kematian tidak pernah terasa lebih dekat daripada waktu-waktu ini.


“Selama ini kami, para prajurit, selalu berdiri di depan, memastikan tak ada ancaman yang bisa menyentuh kalian, tapi kali ini … , lawan kita jauh lebih kuat dari yang sebelum-sebelumnya.


Dan selama kalian tidak mendengar suara titir tanda bahaya, artinya kami masih berhasil membendung ancaman itu.


Tapi ketika kalian mendengar suara titir itu …”


Rangga selama ini memberikan rasa aman, sepanjang perjalanan tak sekali dua kali ancaman datang, tapi dia dan para perwira yang mengikuti dia, selalu berhasil memimpin pasukan mereka untuk menyingkirkan ancaman itu. Kali ini, Rangga pun tak mampu memberikan jaminan.


Untuk sejenak rasa takut menyelip di hati sebagian orang.


“Ketika kalian mendengar suara titir itu, itulah waktunya kalian maju ke depan, berdiri berdampingan dengan kami, untuk mempertahankan diri, nyawa, kehormatan dan masa depan kalian semua.


Karena kalian bukan kambing yang tak punya taring!


Ingat semangat kalian ketika kalian memilih mengikutiku, menempun perjalanan melewati gunung dan menerabas hutan!


Lihat senjata-senjata di tangan kalian! Lihat kedua tangan dan kaki kalian! Lihat kiri dan kanan kalian! Kalian tidak sendirian!


Lihat kami dan para prajurit yang berada jauh di bawah kaki bukit sana, kami tidak lari! Kami berjuang bersama kalian!


Apakah kalian siap berjuang bersama kami!?”, suara Rangga semakin lama semakin menggelegar, membakar semangat dan menggelorakan dada mereka.


Seketika itu juga bergemuruh suara puluhan ribu orang yang berkumpul di tempat itu.


“SIAAP! SIAAP!”


“Rawe-rawe rantas! Malang malang putung!”


Tak berapa jauh dari tempat Rangga dan pengikutnya membangun kota mereka, terlindung dalam rapatnya pepohonan di hutan, sekelompok orang berdiri mengamati. Suara yang bergemuruh terdengar jauh menyusup sampai jauh ke dalam hutan tempat orang-orang itu bersembunyi. Gelora semangat dan tekad terasa memenuhi udara.


“Gila...”, ujar salah seorang dari laki-laki itu.


“Hmm... kita harus melaporkan ini ke Ki Adipati, Rangga dan orang-orangnya bukan makanan yang empuk.”, ujar salah seorang yang lain.


“Raden Rangga mungkin bisa membakar semangat orang-orang itu, tapi nanti saat pertempuran yang sesungguhnya terjadi, apa mereka masih bisa menatap kematian dengan berani?”, seorang yang lain bertanya dengan nada mengejek.


“Tikus-pun kalau terpojok akan menggigit.”, jawab rekannya yang pertama.


“Heh! Dan akhirnya mati.”, debat rekannya tak mau kalah.


“Tidak perlu berdebat, bukan tugas kita untuk menimbang dan memutuskan. Tugas kita adalah mengamati dan melaporkan.”, jawab pemimpin kelompok itu.


Di tempat lain yang tak kalah tersembunyinya, ada kelompok lain yang juga mengamat-amati situasi Rangga dan para pengikutnya.


“Nama Raden Rangga bukan cuma bualan kosong...”, ujar seorang dari mereka, tubuhnya tinggi besar, wajahnya terlihat keras dengan rahang yang kuat dan mata berkilat tajam.


“Tentu saja, jika dia tidak punya kemampuan, namanya tidak akan menggetarkan Kerajaan Watu Galuh dan kadipaten-kadipaten di sekitarnya. Tak perlu melihat bagaimana tandangnya di medan perang, cukup dengan kemampuannya membuat setiap pengikutnya bisa menyatu dan berdiri menghadapi kematian saja sudah bisa meruntuhkan satu kadipaten kecil.”, jawab seorang yang lain.


Rambutnya sudah mulai memutih, tubuhnya ramping tak terlalu berotot, tapi raut wajahnya memancarkan wibawa yang tidak kalah dari lawan bicaranya, “Jadi bagaimana menurut Adi Surobledug?”


“Kalau menurut Kakang Bajing Kuning?”, Adipati Surobledug balik bertanya.