
Ki Ageng Aras menoleh ke arah Senapati Manggala, “Ki Senapati, bisakah aku minta tolong kau untuk mengawasi yang lain? Aku ingin bercakap-cakap secara pribadi dengan Gagak Seta.”
Untuk sesaat mata Senapati Manggala berkilat, senapati itu mengangguk paham, “Tentu saja ki, jangan kuatir.”
Sebelum dia pergi mengamati anak-anak muda yang sedang duduk bersila di tempat pilihan mereka masing-masing, Senapati Manggala mengangguk ke arah Gagak Seta dan berkata, “Jangan sia-siakan kesempatan ini.”
Mendengar dan melihat percakapan antara Ki Ageng Aras dan Senapati Manggala, jantung Gagak Seta jadi berdebar-debar. Berbagai macam ide dan bayangan berkelebatan dalam benaknya. Perasaannya bercampur-campur antara melambung oleh harapan, dan rasa takut akan mengalami kekecewaan karena salah mengartikan apa yang dia lihat.
Anak-anak muda, prajurit telik sandi yang lain tidak menyadari apa yang terjadi, mereka sedang berkonsentrasi penuh untuk menguasai dan mengontrol hawa murni yang saat ini ada dalam tubuh mereka.
Ki Ageng Aras menepuk pundak Gagak Seta dengan ramah dan berkata. “Mari, kita cari tempat untuk bisa bercakap-cakap dengan bebas, tanpa mengganggu saudara-saudaramu.”
Gagak Seta yang biasanya tak memiliki rasa takut, kali ini hanya bisa diam dan mengikuti Ki Ageng Aras, mulutnya serasa terkunci, khawatir salah berucap.
Ki Ageng Aras berjalan mencari tempat yang tenang, dan Gagak Seta mengikuti dari belakang. Tak lama mereka berjalan, akhirnya Ki Ageng Aras memilih satu tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berkumpul.
Nyala api obor masih ada yang menyusup dan ikut menerangi tempat itu.
Ki Ageng Aras dengan lega menjatuhkan pantatnya, duduk di atas sebuah akar pohon besar yang menonjol di atas permukaan tanah, dan berkata pada Gagak Seta “Duduklah.”
Gagak Seta dengan cepat menemukan tempat untuk duduk di dekat Ki Ageng Aras.
Ki Ageng Aras tidak segera memulai percakapan, matanya memandang jauh ke depan ke arah prajurit-prajurit telik sandi yang lain masih bersila dan berkonsentrasi mengatur hawa murni. Gagak Seta tidak berani mengganggunya dan menunggu saja tanpa berucap apa-apa.
“Aku sudah tua...”, Ki Ageng Aras tiba-tiba berkata.
Gagak Seta masih diam, tak tahu harus berkata apa.
“Sebenarnya masalah usia tidak ada orang yang tahu, tapi mati itu pasti dan sepanjang-panjangnya usiaku juga tidak mungkin melewati seratusan tahun.”, ujar Ki Ageng Aras sambil mengalihkan perhatiannya kembali pada Gagak Seta.
Gagak Seta hanya mengangguk-angguk saja mendengarkan Ki Ageng Aras.
Ki Ageng Aras melihat ekspresi wajah Gagak Seta dan tertawa, “Hahaha, sebenarnya aku tidak suka berbelit-belit, atau berbicara berputar-putar, tapi rupanya setiap orang yang beranjak tua selalu suka berbicara panjang lebar.”
Gagak Seta ikut tertawa, “Hahaha, iya ki... dan seringnya berkata, kalian ini nggak ada apa-apanya, jaman dulu simbah...”
Ki Ageng Aras tertawa, “Hahahaha, ya ya ya, bagi kami memang kalian yang muda-muda ini terlalu lembek dan manja.”
Gagak Seta tertawa dengan lepas, melihat Ki Ageng Aras tidak tersinggung, dalam hati dia berpikir, 'Ki Ageng Aras ternyata mudah juga diajak bicara.'
“Tapi kau jangan kuatir, kalau kau mau menjadi muridku, akan aku dadar kau dengan latihan-latihan yang paling berat, berkali-kali lebih berat dari latihan yang kau jalani sekarang. Tidak akan ada orang yang bisa berkata seperti itu padamu.”, lanjut Ki Ageng Aras dengan kilatan di matanya, membuat Gagak Seta berhenti tertawa tiba-tiba.
Ki Ageng Aras menatap tajam Gagak Seta, dengan senyum simpul bertanya, “Bagaimana? Kau mau menjadi muridku?”
“Eh... tentang latihan yang berat itu...?”, Gagak Seta balik bertanya terbata-bata.
“Kau takut?”, tanya Ki Ageng Aras balik.
“Hmm... Ki Ageng Aras serius ingin mengangkatku menjadi murid?”, tanya Gagak Seta tidak buru-buru memberi jawaban.
Ki Ageng Aras mengangguk dengan yakin, “Tentu saja.”
Tanpa sadar Gagak Seta menegakkan badannya. Dia terdiam untuk beberapa lama dan kemudian menjawab dengan serius, “Jika Ki Ageng Aras mempercayaiku... dan berkenan,,,, tentu saja aku bersedia.”
Ki Ageng Aras memandangi pemuda itu dengan serius untuk beberapa lama, “Hmm..., tidak perlu upacara dan ***** bengek yang tidak perlu, tapi aku harap kau menyadari benar-benar, apa artinya bagimu menjadi murid dan apa artinya bagiku menjadi seorang guru.”
Gagak Seta terdiam untuk beberapa saat dan dengan berhati-hati dia bertanya, “Apa yang Ki Ageng Aras harapkan dari seorang murid?”
Ki Ageng Aras menghela nafas sebelum menjawab, “Tidak banyak, umurku sudah semakin tua dan aku ingin seseorang mewarisi ilmu-ilmuku sebelum aku meninggalkan dunia ini. Yang aku harapkan orang ini bisa melanjutkan dan mengembangkan ilmu yang sudah kupelajari supaya ilmu ini tidak lenyap begitu saja.”
Gagak Seta berpikir baik-baik sebelum menjawab, “Tapi Ki Ageng Aras tentu tahu dalam tugasku sebagai prajurit telik sandi, bisa saja aku justru meninggalkan dunia ini lebih dulu dari Ki Ageng Aras.”
Ki Ageng Aras tertawa kecil, “Ya... tidak ada yang pernah tahu, tapi batas umur itu suatu kepastian. Jadi kemungkinanmu untuk hidup lebih lama dariku itu lebih besar.”
Ki Ageng Aras tersenyum puas, “Bagus... bagus... justru itu syarat kedua yang aku tuntut dari muridku, punya jiwa kesatria dan tidak mempermalukan nama gurunya dengan bersikap pengecut. Tentu saja, bernai tidak sama dengan sembrono.”
Gagak Seta mengangguk, “Tentu, aku yakin aku bisa membedakan berani dan nekat, beda antara pengecut atau berhati-hati.”
“Bagus..., jadi bagaimana kau bersedia menjadi muridku?”, tanya Ki Ageng Aras.
Gagak Seta menggaruk-garuk kepalanya, “Apa tidak terbalik ya ki? Seharusnya aku yang memohon jadi muridmu.”
Ki Ageng Aras tertawa, “Hahahaha, apa aku terlihat murahan?“
Gagak Seta buru-buru menjawab, “Bukan seperti itu Ki, siapa yang tidak berharap menjadi murid Ki Ageng Aras. Justru kami-kami ini merasa tidak layak, makanya tidak berani meminta Ki Ageng Aras menjadi guru kami.”
Ki Ageng Aras masih diam menunggu dan Gagak Seta menyadari pendekar tua itu sungguh-sungguh dengan tawarannya.
“Ki... aku bukannya tidak tertarik untuk menjadi muridmu. Tapi aku tidak yakin apa bisa memenuhi harapan Ki Ageng Aras.”, ujar Gagak Seta berhati-hati.
“Namun jika hanya dua itu saja tuntutan Ki Ageng Aras... aku siap ki. Aku mohon terima aku sebagai muridmu.”, ujar Gagak Seta dengan serius, dan berlutut di depan Ki Ageng Aras.
Ki Ageng Aras memandangnya dengan puas dan berkata, “Bangunlah, hanya dua itu yang kuminta darimu. Pertama, berusaha semampumu untuk menyerap, meneruskan dan mengembangkan ilmu yang aku ajarkan padamu. Kedua, menjaga nama gurumu dengan hidup sesuai nilai-nilai seorang kesatria.”
“Siap guru,” jawab Gagak Seta singkat dan tegas.
“Bangunlah, duduk kembali, Kita tidak perlu terlalu banyak aturan, yang penting rasa penghormatan yang tulus dari dalam hati. Guru menghormati muridnya dengan mengajarkan apa yang benar-benar penting dan tidak membuang-buang waktu muridnya dengan hal yang tidak penting. Seorang murid menghormati gurunya dengan menggunakan apa yang diajarkan untuk hal-hal yang baik.”, ujar Ki Ageng Aras.
Gagak Seta duduk kembali, sebagian dari dirinya masih tidak bisa percaya apa yang baru terjadi, “Guru... guru tidak sedang bercanda kan?”
“Hahahaha, tentu saja tidak.”, Ki Ageng Aras tertawa.
Gagak Seta ragu-ragu dan bertanya, “Guru.... kalau teman-temanku... juga ada yang ingin menjadi murid guru."
Ki Ageng Aras dengan cepat menggelengkan kepala, “Tidak, tidak, tidak... aku lebih suka mengamati dan memilih siapa yang akan aku angkat sebagai murid.”
“Apakah aku perlu merahasiakan kalau aku ini murid guru?”, tanya Gagak Seta.
Ki Ageng Aras menggelengkan kepala, “Tidak perlu juga, tapi juga tidak perlu menyiarkannya ke mana-mana juga kan?”
Gagak Seta mengangguk, “Mengerti guru.”
“Hmm... baik sekarang kita jangan membuang waktu lagi. Tentang Aji Braja Apsara aku tidak bisa menambah apa-apa lagi selain dari yang tertulis di gulungan lontar yang kalian terima. Ilmu itu berasal dari Raden Rangga. Yang akan aku ajarkan padamu lebih dalam adalah Silat Sembilan Cakar Garuda.”, kata Ki Ageng Aras setelah menengok sebentar ke arah prajurit-prajurit lain yang masih dengan tekun duduk bersila.
“Kebetulan sekali guru, dari tiga ilmu yang menjadi bekal kami itu, memang Silat Sembilan Cakar Garuda yang aku sukai.”, jawab Gagak Seta dengan bersemangat.
Ki Ageng Aras terlihat puas, “Hmm hmm... bagus kalau begitu. Jadi perlu kau ketahui, Silat Sembilan Cakar Garuda itu bukan ilmu yang lengkap, hanya sebagian dari sebuah sistem bela diri yang lengkap. Tapi saat ini waktu kita tidak terlalu banyak, jadi aku hanya akan melengkapi apa yang kurang dari Silat Sembilan Cakar Garuda yang kalian terima.”
Ki Ageng Aras kemudian berdiri dan berkata, “Sekarang kau cepat duduk bersila dan ikuti seperti yang tadi aku jelaskan pada rekan-rekanmu. Namun kali ini bukan titik pusat energi Aji Braja Apsara yang aku bukakan, melainkan titik pusat energi yang akan menunjang Silat Sembilan Cakar Garuda yang tertulis di gulungan lontar yang sudah kau terima.”
“Siap guru.”, jawab Gagak Seta dan cepat-cepat, antara tak ingin membuang waktu dan bersemangat karena tadinya ada juga sedikit rasa kecewa, mengira dirinya tidak akan mendapat hasil apa-apa malam ini.
Ki Ageng Aras meletakkan telapak tangannya di atas ubun-ubun Gagak Seta dan mulai mengalirkan hawa murninya dengan hati-hati.
“Jangan dilawan, aku akan melancarkan garis-garis energi yang menghubungkan pusat-pusat energi yang sudah kau aktifkan sendiri.”, ujar Ki Ageng Aras dan Gagak Seta merasakan aliran energi mengalir dalam tubuhnya.
Sesekali Gagak Seta bisa merasakan ada bagian-bagian yang tersumbat dan dipaksa terbuka oleh hawa murni Ki Ageng Aras yang menerobos dan menggempur sumbatan-sumbatan itu. Peluh pun mulai menetes di dahi Gagak Seta, setiap kali ada sumbatan yang dibuka, pemuda itu merasakan rasa nyeri yang tidak bisa dia jelaskan seperti apa rasanya.
Beberapa saat kemudian, tubuh Gagak Seta terasa ringan dan penuh dengan tenaga. Lima pusat energi yang sudah dia aktifkan sendiri, terasa berdenyut-denyut penuh tenaga, hawa murni yang dialirkan Ki Ageng Aras dengan lancar bergerak membentuk satu siklus putaran dari satu titik ke titik yang lain.
“Sekarang aku akan mengaktifkan satu titik pusat energi dan enam titik pusat energi kecil yang lain. Kau perhatikan baik-baik, kau ingat-ingat di mana letaknya dan bagaimana hawa murni ini dialirkan.”, kata Ki Ageng Aras beberapa saat kemudian.
Gagak Seta pun kali ini merasakan tekanan yang lebih berat lagi pada tubuhnya. Sekali lagi terasa energi mengaliri dirinya, memaksa jalur yang masih tertutup agar terbuka.