
“Ki Suroto, Ki Badrawi, bagaimana hasil perjalanan kalian?”, kata Rangga sambil mempersilahkan mereka berdua untuk bergabung dengan gerakan tangannya.
Kedua orang setengah baya itu menjatuhkan diri di atas tanah yang dialasi kain seadanya sambil menghela nafas panjang.
“Silahkan Ki Suroto saja yang menyampaikan.”, ujar Ki Badrawi dengan ekspresi wajah lelah.
Ki Suroto melirik ke arah Ki Badrawi, tersenyum kecut dan menggelengkan kepala. Diawali dengan desahan nafas panjang dia memulai laporannya.
“Maafkan kami berdua raden, kami berdua gagal mengemban tugas dari raden untuk mengikat tali persahabatan dengan adipati-adipati di pesisir selatan ini.”, ucapnya lelah.
Rangga mendengarkan laporan kegagalan kedua orang itu dengan tenang, tanyanya, “Tidak ada satupun dari kelima adipati yang bersedia menerima uluran tangan kita?”
Ki Suroto dan Ki Badrawi menggelengkan kepala.
“Coba ceritakan dengan lebih detail.”, ujar Rangga tak terusik dengan kegagalan mereka itu.
“Baik raden.”, jawab Ki Suroto, sebelum kemudian menceritakan perjalanan mereka selama kurang lebih satu bulan itu, dari satu kadipaten ke kadipaten berikutnya.
Saat ini di daerah pesisir selatan, di sekitaran Alas Ankara Naga Loka, dikuasai oleh lima kadipaten. Tiga kadipaten berada langsung di sepanjang pantai laut selatan dan memiliki pelabuhan, sementara dua kadipaten lain, seperti sebuah gerbang terdapat di sisi timur dan barat, menjadi penghubung antara daerah pelabuhan dengan jalur darat menuju ke wilayah lain di Bhumi Adyatma.
Saat mereka baru sampai di tempat tujuan mereka, dengan alasan akan keadaan mereka yang masih sangat lemah di tempat yang baru itu, Raden Rangga menyatakan di depan para pengikutnya, keinginannya untuk mengirim utusan ke lima kadipaten tersebut.
Merasa kalah satu langkah dari ketiga rekannya yang lain, Ki Suroto dan Ki Badrawi yang ingin memperkuat kedudukan mereka dalam pemerintahan Rangga. Ketika mendengar Rangga ingin mengirimkan utusanm bergegas mereka mengajukan diri untuk menjadi utusannya menemui para adipati di pesisir Selatan tersebut.
Rangga dengan senang hati memberi kedua orang itu kesempatan.
Kedua orang pedagang itu pun berangkat dengan penuh semangat, sebagai pedagang besar, salah satu kemampuan yang dibutuhkan adalah diplomasi, utamanya dengan penguasa setempat untuk memuluskan usaha dagang mereka.
Namun keduanya mengalami kekecewaan, meskipun kelima orang adipati itu menerima mereka, tapi tidak sebagai utusan Rangga.
Meski tidak semua adipati bereaksi keras terhadap kehadiran Rangga di pesisir Selatan, tapi dari kelima adipati tak seorang pun yang bersedia menerima uluran persahabatan Rangga.
“Demikian raden, meskipun Adipati Surobledug dan Adipati Bajing Kuning bersikap ramah sepanjang pertemuan, tapi sampai akhir pertemuan pun kami tak berhasil mendapatkan janji, ataupun kesediaan mereka untuk menyambut uluran tangan kita.”, ujar Ki Suroto dengan wajah sedih.
Ki Badrawi menambahkan dengan suara kesal, “Ketiga adipati yang lain, bahkan sikapnya lebih tidak mengenakkan. Dengan jelas-jelas mereka menyatakan bahwa mereka tidak menerima keberadaan raden di wilayah pesisir Selatan ini.”
“Hmm... tepatnya apa yang mereka katakan?”, tanya Rangga dengan tenang.
Ki Suroto dan Ki Badrawi saling pandang, terlihat ragu untuk menjawab.
Rangga menghela nafas, “Baiklah, tidak usah kalian sampaikan, kata-kata mereka secara persisnya bagaimana. Jadi intinya mereka menolak keberadaan kita di sini?”
“Benar raden.”, jawab Ki Suroto dan Ki Badrawi hampir bersamaan, terlihat lega karena Rangga tidak mendesak lebih lanjut.
“Apakah mereka mengancam akan menyerang kita?”, tanya Rangga lebih lanjut.
Ki Suroto menjawab dengan alis berkerut, “Adipati Sembiring tidak mengeluarkan ancaman, hanya menekankan dengan keras, bahwa tidak ada tempat bagi raden di pesisir selatan ini.”
“Adipati Bulak Lawu dan Adipati Aji Segara dengan terang-terangan mengatakan, bila raden tetap meneruskan pekerjaan raden membangun benteng di tempat ini, mereka tidak segan-segan untuk mengirimkan pasukannya untuk memorak-morandakan semua yang ada di sini.”, sambung Ki Badrawi.
Senapati Aryasuta mendengus marah, “Hmph! Tak sabar aku ingin berhadapan dengan mereka.”
“Jika hanya satu atau dua kadipaten, aku percaya Kakang Aryasuta dan para senapati sekalian tidak akan kesulitan untuk menahan serangan mereka. Yang kukhawatirkan apabila kelima orang adipati ini bekerja sama.”, setelah cukup lama terdiam, Rangga mulai mengungkapkan isi pikirannya.
“Akan tetapi, kalaupun hanya satu kadipaten yang menyerang, artinya pekerjaan kita membangun benteng dan kota ini akan terganggu.”, lanjutnya sebelum kembali terdiam dan merenung.
Tumenggung Widyaguna dan para senapati dengan tenang diam menunggu. Jika mereka yang sudah mengikuti Rangga sejak lama saja tidak berani mengganggu, apalagi Ki Bharata dan rekan-rekannya yang baru saja bergabung.
Sesekali Rangga menggelengkan kepala, lalu kembali diam berpikir. Setelah cukup lama terdiam berpikir sendiri, Rangga mengangkat wajahnya dan melihat berkeliling.
“Hehe, menurut kalian mengapa dua adipati bersikap lebih baik dari tiga adipati yang lain? Ada yang ingin menjelaskan?” Tanya Rangga dengan senyum simpul di wajah.
Senapati Aryasuta sempat membuka mulut hendak menjawab, tetapi dari sudut matanya dia melihat Tumenggung Widyaguna menggeleng perlahan ke arah dirinya. Senapati Aryasuta pun menahan diri dan melihat berkeliling.
Meskipun wataknya tak sabaran, tapi otak Aryasuta cukup encer, 'Ah... Raden Rangga ingin menguji Ki Bharata dan rekan-rekannya.”
Meski mereka tahu bahwa ini kesempatan untuk meningkatkan penilaian Raden Rangga, Ki Bharata dan ke-empat orang pedagang itu tidak ada yang berani buru-buru menjawab. Ketika Ki Waluyo dan yang lain masih berpikir, Ki Bharata justru melirik dan mengedip ke arah puterinya yang duduk sedikit di belakang dirinya.
Mata Rangga yang tajam sudah tentu melihat gerakan Ki Bharata dan perhatiannya pun beralih pada anak gadis Ki Bharata tersebut.
Meski awalnya terlihat sedikit ragu, tapi dengan cepat keraguan Sundari itu berlalu, gadis itu dengan suara yang lembut namun jelas berkata, “Menurut pendapat hamba raden, kedua adipati tersebut berharap keberadaan kita di pesisir selatan ini, bisa menggoncang keadaan di pesisir Selatan yang saat ini sudah stabil.”
“Adipati Sembiring menguasai kota pelabuhan terbesar di Selatan, sementara kedua adipati yang lain menguasai sisi Barat dan Timur, ketiganya, bersama-sama saling menopang menjadi penguasa di pesisir Selatan ini.
Adipati Surobledug dan Adipati Bajing Kuning, masing-masing menguasai dua kota pelabuhan lain, tapi keduanya jauh kalah besar dibandingkan kota pelabuhan di bawah Adipati Sembiring. Sekedar cukup untuk mempertahankan wilayah mereka sendiri, tapi tidak cukup besar untuk mengembangkan kekuasaan mereka lebih besar.
Bagi kedua orang adipati itu, kedatangan kita adalah kesempatan yang mereka butuhkan. Sementara bagi ketiga orang adipati yang lain, keberadaan kita adalah bibit-bibit ancaman di masa depan.”, Ni Sundari tidak terlihat canggung berbicara di depan tokoh-tokoh itu, dengan lancar tanpa ragu dia menjelaskan.
Rangga mendengarkan penjelasan Sundari dengan penuh perhatian, pandangan matanya melekat pada tiap gerak-gerik dan ekspresi gadis itu.
“Tapi kenapa mereka menolak uluran tangan kita? Mengapa tidak bersama-sama, menyatukan kekuatan dengan kita untuk menguasai pesisir selatan?”, Ki Badrawi bertanya dengan nada kesal.
Apa yang diutarakan Ni Sundari, bukannya tak terpikirkan oleh dia dan Ki Suroto. Mereka tidak menaruh banyak harapan pada tiga orang adipati yang sudah mapan kekuasaannya di pesisir Selatan, tapi terhadap dua adipati yang lain mereka menaruh harapan besar akan berhasil menunaikan misi dan mengikat persekutuan.
Perlakuan kedua orang adipati yang hangat, tapi hanya berupa basa-basi tidak bersedia memberikan satu kepastian, jauh lebih mengecewakan mereka daripada perlakuan tiga orang adipati yang kasar, merendahkan dan bermusuhan.
Mendengar pertanyaan Ki Badrawi, Ni Sundari tersenyum lembut, sepasang dekik muncul di pipinya. Sekilas matanya menangkap tatapan mata Rangga yang memandangi dirinya penuh perhatian. Seulas rona merah menjalar di wajahnya, membuat Rangga mengulum senyum.
Ni Sundari berdehem kecil, menenangkan jantungnya yag berdetak lebih kencang dari biasanya dan mengalihkan perhatiannya untuk menjawab pertanyaan Ki Badrawi, “Karena mereka berharap bisa mengail ikan di air yang keruh.
Mengapa harus ikut terlibat dalam peperangan yang akan memperlemah angkatan perang mereka? Bukankah lebih baik menyimpan kekuatan, sambil menonton ketiga adipati yang lain bertempur dengan kita, lalu baru bergerak ketika yang lain sudah menguras kekuatannya masing-masing?”
Ki Badrawi dan Ki Suroto terdiam.
Ni Sundari menjelaskan lebih lanjut, “Lagipula, jika mereka mengikat perjanjian dengan kita, maka kekuatan di pesisir Selatan akan menjadi kurang lebih cukup berimbang. Jika demikian, akankah tiga orang adipati yang lain berani bergerak untuk menyerang kita? Sebelum keberadaan kita di sini pun, ketiga adipati yang lain tidak berani menyerang dua kadipaten itu, apalagi jika kekuatan mereka bertambah dengan kekuatan kita.
Kedua adipati itu justru berharap keadaan menjadi tidak stabil dan di situ mereka berusaha mengambil keuntungan. Mengikat persekutuan akan menguntungkan kita, tapi tidak menguntungkan bagi mereka berdua.”
Penjelasan Ni Sundari membuat wajah beberapa orang yang hadir di situ jadi sedikit muram. Sebagai pihak yang paling lemah di wilayah ini, akankah mereka menjadi tumbal bagi kedua adipati yang sedang menunggu kesempatan itu?