
Hamparan ladang ilalang jadi ambang batas dua dunia.
Nafas kesatria memenuhi udara, deru pukulannya m3m3kakkan telinga.
Otot kawat balung besi. Keduanya tangguh tak tergoyahkan oleh takut dan derita.
– Pinutur Papat Pingpitu
____________________________________
Udara pagi itu dihiasi kabut tipis, langit berwarna nila menjelang munculnya matahari. Namun udara di perbatasan Kademangan Jati Asih terasa memanas, bergolak oleh percikan api yang seakan memancar dari dua orang laki-laki yang sama-sama berkemauan kuat.
“Raden Rangga... lama kita tidak bertemu, tampaknya ilmu panglimunan-mu semakin matang saja.” Laki-laki yang menghadang jalan Rangga membuka mulut.
“Heehee... bagaimana lagi ki, selama bertahun-tahun, setiap hari aku tidak ada kerjaan yang lain kecuali mengasah ilmu. Tapi nyatanya ilmu panglimunan-ku belum bisa bersembunyi dari tajamnya mata Ki Ageng Aras.”, jawab Rangga.
“Betul juga..., sepertinya Raden Rangga perlu mengasah ilmu lebih matang lagi. Bagaimana menurut raden? Apakah raden tidak berpikir demikian?” Laki-laki yang bernama Ki Ageng Aras itu menganggukkan kepala, menunjuk ke arah Kademangan Jati Asih.
Rangga menggelengkan kepala, “Aku ingin menengok Dimas Pangeran Puguh, sekalian nyekar ke makam Paman Prabu Anglang Bhuanna. Ki Ageng Aras tak perlu kuatir, setelah bertemu Dimas Puguh, sudah pasti aku akan kembali ke Jati Asih.”
“Jangan berkeras den, bukankah dulu Raden Rangga sendiri yang berjanji pada Baginda Prabu akan menghabiskan waktu di Jati Asih?” Ki Ageng Aras tak bergeming.
“Ki Ageng..., aku harap Ki Ageng tidak terlalu kaku menjalankan titah Pamanda Prabu. Dengan mangkatnya pamanda prabu, situasinya jadi berbeda saat ini. Ki Ageng tidak perlu kuatir, tidak ada niatan sedikitpun dalam hati ini untuk menuntut hak-ku atas tahta Kerajaan Watu Galuh. Jika aku sekarang pergi meninggalkan Jati Asih, tidak lebih hanya karena ingin menenangkan hati Adi Puguh. Aku rasa Ki Ageng pun tentu tahu, bagaimana sifat Adi Puguh.” Dengan tenang Rangga berusaha menjelaskan.
Ki Ageng Aras terdiam untuk beberapa lama. Sifat raja yang baru naik takhta ini memang sudah bukan suatu rahasia. Itu pula sebabnya beberapa menteri dan pejabat dalam istana, sempat berusaha agar adiknya Pangeran Adiyasa bisa menggantikan posisinya sebagai putera mahkota.
“Apa sekarang Raden Rangga berniat menelan ludah sendiri?” Ki Ageng Aras mengeraskan hati, rahangnya bergemeretak menahan kegalauan dalam hati.
“Bukankah waktu itu Ki Ageng Aras juga hadir? Atau mungkin Ki Ageng Aras lupa? Di depan pamanda dan sekalian adipati, aku mengucap sumpah tak akan menuntut balas atas kematian Ramanda Prabu Jaya Lesmana, dan selama pamanda memerintah Kerajaan Watu Galuh, aku akan mengasingkan diri. Setapak-pun tidak akan meninggalkan Kademangan Jati Asih ini.” Jawab Rangga atas tuduhan Ki Ageng Aras.
Ki Ageng Aras terdiam, terbayang kembali dalam benaknya peristiwa di masa lampau, ketika raja yang sah dari Kerajaan Watu Galuh mangkat di usia yang terbilang masih muda. Penyebab kematiannya pun mengundang tanda tanya.
---
Saat itu udara di Balairung Agung terasa pekat oleh ketegangan. Layon Prabu Jaya Lesmana masih terbaring di atas tandu kayu berhiaskan ukir-ukiran burung garuda. Bunga-bunga ditabur menutupi badannya dan di sekeliling tandu dibakar kayu gaharu.
Suasana hikmat yang harusnya mengiringi upacara pembakaran jenazah sang prabu, berubah menjadi suasana tegang bercampur kemarahan, ketika adik kandung sang prabu sendiri datang bersama sepasukan prajurit terpilih, mengajukan tuntutan atas takhta kerajaan.
Rangga yang waktu itu masih berusia dua belas tahun, berdiri dengan tegak, berhadapan dengan paman-nya Pangeran Israya, yang kemudian nantinya menjadi raja dengan gelar Prabu Anglang Bhuanna.
Berjajar berdiri di belakang Rangga, deretan senapati, menteri dan pejabat-pejabat lain yang setia pada ayahnya. Sementara di belakang Pangeran Israya, berdiri mereka yang berpendapat bahwa Rangga terlalu muda untuk menjadi raja menggantikan ayahnya. Di luar balai, ratusan prajurit pilihan dipimpin senapati-senapati yang mumpuni berdiri dengan tangan menyentuh gagang senjata masing-masing.
Ki Ageng Aras yang waktu itu masih di puncak kematangannya, berdiri di sisi kanan Pangeran Israya. Meskipun dia pengikut setia Pangeran Israya, wajah Rangga yang masih belia itu menggetarkan hatinya.
“Tahan senjatamu!”, hardik Rangga muda, ketika para senapati yang sedang berduka itu melompat berdiri dengan tangan sudah meggenggam ujung keris masing-masing.
Tidak bisa dibayangkan kemarahan pejabat-pejabat yang setia pada Prabu Jaya Lesmana. Ketika jenazah sang prabu belum disempurnakan, tiba-tiba orang yang dicurigai membunuh sang prabu dengan cara yang licik, muncul dengan membawa pasukan lengkap. Apalagi ketika melihat banyak dari rekan-rekan mereka sendiri, justru berdiri di sisi kiri dan kanan orang tersebut.
Namun, dari seorang anak yang baru berumur dua belas tahun, terpancar wibawa yang mampu menahan tangan dan kaki mereka.
“Raden...” Seorang di antara mereka membuka mulut, tapi kata-kata yang hendak keluar segera terhenti, ketika melihat Rangga mengangkat tangannya.
Anak sedang beranjak dewasa itu, dengan tenang membalikkan badan, dan mengitarkan pandangan pada mereka yang setia pada ayahnya, “Jika kalian sungguh teguh dalam kesetiaan kalian terhadap Ramanda Prabu Jaya Lesmana, maka dengarkan baik-baik kata-kataku ini.”
“Kata-kata Rangga Wijaya, pewaris langsung dan satu-satunya dari Prabu Jaya Lesmana.” Suara Rangga yang masih belum pecah, terdengar jernih dalam keheningan balairung agung.
Setiap kata terdengar jelas, tidak terburu-buru, tidak pula terbata-bata. Di bawah sorot mata ratusan orang yang berusia jauh lebih dewasa dari dirinya, Rangga tidak terlihat gentar.
Selesai menegur mereka yang berdiri di belakangnya, Rangga berbalik menghadapi paman-nya, Pangeran Israya. Pada saat itu, untuk sekilas sorot matanya masih sempat beradu dengan pandang mata Ki Ageng Aras.
Sampai sekarang, setelah puluhan tahun berlalu, jantung Ki Ageng Aras masih berdegup keras, jika dia mengingat sorot tajam mata Rangga saat itu. Dia tidak menyangka, sorot mata seorang anak bisa mengguncang keyakinan-nya, untuk sesaat lamanya Ki Ageng Aras menjadi ragu atas pilihannya bersumpah setia pada Pangeran Israya.
“Pamanda Israya, aku tahu apa yang pamanda inginkan.”, kata Rangga.
Paman dan keponakan saling bertatap mata, keduanya berdiri dengan tegak dan pancaran mata yang teguh. Dua orang yang berbeda umur, berbeda keyakinan, tapi sama-sama teguh dalam keyakinannya masing-masing.
“Akan aku serahkan takhta Kerajaan Watu Galuh ini sepenuhnya pada Pamanda, dengan syarat Pamanda harus bersumpah untuk tidak menyakiti seujung rambut pun, mereka-mereka yang saat ini berdiri dalam kesetiaan mereka pada ayahanda prabu.”
Beberapa orang pejabat yang setia berusaha menyela ucapan Rangga, namun dengan satu tatapan yang tajam, Rangga membungkam mereka semua. Wibawa Rangga sebagai pewaris takhta dan rasa setia mereka pada Prabu Jaya Lesmana, membuat mereka tunduk sepenuh hati pada anak kecil itu. Jika ada sedikit keraguan dalam hati mereka, keraguan itu pupus setelah mendengar tutur kata Rangga yang dengan singkat menjelaskan secara tepat keadaan kerajaan mereka saat ini.
Meskipun terlihat rasa tak puas dalam sorot mata mereka, tapi tidak ada seorangpun yang bergerak di luar perintah Rangga, seorang anak yang baru berumur dua belas tahun.
“Aku tidak punya keinginan untuk menumpahkan darah putera-putera terbaik Kerajaan Watu Galuh, tapi apa jaminannya bahwa mereka tidak akan berusaha memberontak, atau menjegal kebijakan-kebijakan yang aku titahkan sebagai seorang raja?”, Pangeran Israya menjawab dengan tenang, tidak ada nada menghina ataupun merendahkan.
Sikap Pangeran Israya yang menghadapi Rangga selayaknya lawan yang sepadan dan sederajat, bukan seorang anak kecil, membuat kesan para pengikut setia almarhum Prabu Jaya Lesmana kepadanya membaik. Suasana tegang di balairung agung itu pun perlahan menurun. Sikap Rangga sudah jelas tergambar dari ucapannya. Sebagai pewaris takhta, dia tidak menghendaki terjadi pecah perang saudara di dalam negerinya sendiri. Sikap Pangeran Israya yang memberikan ruang untuk berdiplomasi juga menyiratkan hal yang sama.
“Apakah Pamanda mempercayaiku?”, tanya Rangga.
“Aku mempercayaimu.” Jawab Pangeran Israya tegas tanpa ada terbersit keraguan sedikitpun.
Rangga pun mengucapkan sumpah di hadapan semua yang hadir. Sumpah yang membuat dia menghabiskan hampir dua puluh tahun di pengasingan. Seorang keturunan bangsawan, bahkan sejatinya seorang putera mahkota, namun harus hidup jauh dari kemewahan dan kemudahan. Memiliki puluhan dan mungkin ratusan pengikut yang setia, namun harus hidup dengan kerja tangan-nya sendiri.
----
Perlahan angan-angan Ki Ageng Arsa mengendap. Kulit Rangga yang gelap terbakar matahari, telapak tangannya yang kasar oleh pekerjaan di ladang, tak lepas dari pandang mata Ki Ageng Aras yang tajam. Tanpa bisa dicegah, hati Ki Ageng Aras merasa terenyuh, membandingkan Rangga dua puluh tahun yang lalu, dan Rangga yang sekarang ada di hadapannya.
Pikirannya pun mulai membandingkan Rangga dengan Pangeran Puguh dan Pangeran Adiyasa, dua putera Prabu Anglang Bhuanna yang paling menonjol di antara saudara-saudaranya.
“Ki Ageng, biarkan aku lewat.” Kata-kata Rangga memecahkan lamunan Ki Ageng Aras.
Untuk beberapa lamanya Ki Ageng Aras tak bisa mengambil keputusan, hatinya terombang-ambing antara gejolak rasa dan tanggung jawab pada tugasnya.
Pada akhirnya, keutamaan-nya sebagai seorang kesatria-lah yang menang, “Tidak Raden, sumpah raden pada Prabu Anglang Bhuanna memang terbatas sampai Sang Prabu tutup usia.”
“Namun, tidak demikian dengan tugas yang diembankan Sang Prabu padaku. Titahnya padaku tegas mengatakan, setapak kaki saja Raden Rangga meninggalkan kademangan ini, maka Raden Rangga harus berhadapan denganku. Sebaliknya siapa saja yang berniat buruk pada raden, dia harus berhadapan pula denganku.” Ki Ageng Aras mengucapkan kata demi kata dengan mantap, setiap kata dia ucapkan dengan keyakinan.
Ki Ageng Aras menambahkan pula, “Silahkan Raden Rangga kembali ke rumah. Jangan khawatirkan Prabu Jannapati, jika sang prabu lupa akan janji ayahanda-nya, aku yang bertanggung jawab untuk mengingatkan dia.”
Rangga tersenyum tipis, “Aku megerti sekarang, mengapa pamanda begitu menaruh kepercayaan pada Ki Ageng.”
Mendengar nada suara Rangga, Ki Ageng Aras menghela nafas panjang, “Raden tetap berkeras untuk pergi ke ibu kota?”
Raden Rangga menganggukkan kepala, jawabnya, “Aku dengan ketetapan hatiku. Ki Ageng dengan kesetiaan Ki Ageng pada nilai-nilai seorang kesatria.”
“Apa Raden Rangga tidak mau memikirkan lagi keputusan raden?” Ki Ageng Aras masih berusaha membuat Rangga membatalkan niatnya.
Sebagai jawaban, Raden Rangga mengambil kuda-kuda dan sikap bersiap, “Ki Ageng, bersiaplah.”
“Hmm... Jika raden berkeras. Silahkan raden yang memulai, selama raden tidak beranjak melewati batas kademangan, bukan tugasku untuk menghentikan langkah raden.” Jawab Ki Ageng Aras, kedua kakinya sedikit ditekuk dan matanya mengawasi setiap gerak-gerik Rangga dengan tajam.