Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab XXXVIII Kadipaten Jambangan Mulai Memanas



Di Kadipaten Jambangan, di dalam sebuah taman, terlihat dua orang yang sudah melewati masa paruh baya, duduk memancing di pinggir sebuah kolam ikan buatan.


“Jadi Adipati Seroja dan Adipati Talitaman memindahkan lokasi pasukan mereka mendekati perbatasan Kadipaten Jambangan?”, tanya Adipati Jalak Kenikir.


“Benar Ki...”, laki-laki yang kedua adalah Senapati Glagah Wiru.


Adipati Jalak Kenikir menghela nafas panjang, “Hahh.... ada kabar dari Prabu Jannapati? Dia dulu yang menjamin akan menjaga agar Adipati Gading Kencana dan sekutunya tetap terkonsentrasi di Kadipaten Serayu.”


Senapati Glagah Wiru mendengus kesal, “Nandini..., kata-katanya manis, tapi celaka orang yang percaya dengan dia.”


Adipati Jalak Kenikir tertawa kecil, “Prabu Jannapati sepertinya percaya seratus persen pada orang itu.”


Senapati Glagah Wiru membuka mulut untuk menyanggah, tapi beberapa saat kemudian dia hanya mendengus kesal dan Adipati Jalak Kenikir tertawa melihat Senapati Glagah Wiru terdiam.


“Baiklah, bagaimana dengan prajurit-prajurit yang baru?”, tanya Adipati Jalak Kenikir setelah tawanya mereda.


“Adi Lesmana sedang mengumpulkan mereka saat ini untuk pemilihan perwira-perwira tingkat bawah dan menengah.”, jawab Senapati Glagah Wiru.


Adipati Jalak Kenikir terdiam cukup lama, sebelum dia berkata, “Sebenarnya aku tak suka dengan cara ini.”


Senapati Glagah Wiru mengangkat bahu dan menggelengkan kepala menyerah, “Situasinya tidak mengijinkan kita menggabungkan prajurit yang lama dengan yang baru.”


“Menurutmu aku sudah mengambil keputusan yang salah?”, tanya Adipati Jalak Kenikir.


Senapati Glagah Wiru berpikir sejenak dan menjawab, “Tidak ada yang pasti dalam kehidupan. Sesekali kita harus bertaruh dengan nasib.”


Adipati Jalak Kenikir mengangguk setuju, lalu menambahkan, “Pastikan saja, titik-titik yang penting harus tetap berada dalam kontrol orang-orang yang bisa kita percaya sepenuhnya. Kalaupun pertaruhan ini gagal, jangan sampai kita kehilangan Kadipaten Jambangan.”


“Tentu, kami selalu berhati-hati untuk hal itu.”, Jawab Senapati Glagah Wiru.


-----


Puluhan kilo meter lainnya dari taman itu, di sebuah tanah lapang yang cukup besar untuk menampung ribuan prajurit yang baru. Sebuah panggung setinggi pundak orang dewasa dibangun di tengah-tengah tanah lapang itu.


Panggung itu dibangun sangat luas, kira-kira 12x12 m2. Senapati Lesmana berdiri di tengah-tengah panggung, ditemani oleh Senapati Rendra.


Ribuan prajurit baru berjalan ke arah tanah lapang itu, berkumpul dan membentuk barisan mengelilingi panggung tersebut.


Setelah hampir dua bulan lebih latihan baris-berbaris dan dikenalkan pada disiplin keprajuritan, mereka bersikap jauh displin dibandingkan ketika mereka baru bergabung. Namun sikap\=sikap sebagai orang dunia persilatan belum hilang sepenuhnya.


Meskipun mereka semua berdiri dengan tegak, dalam barisan yang rapi, tapi masih terlihat sesekali di sana-sini, ada yang bercakap-cakap dengan orang di sebelahnya.


Senapati Lesmana menghela nafas panjang dan berbisik pada Senapati Rendra yang berdiri di sebelahnya, “Hhh.... aku benci memilih lurah, bekel dan senapati pengiring dengan cara ini, tapi orang-orang ini tidak akan bisa menerima dipimpin oleh orang yang lebih lemah dari mereka.”


Senapati Rendra tertawa pelan, “Yang paling penting dari mereka adalah tidak berlari saat bertemu lawan.”


Senapati Lesmana melihat ke sekelilingnya, dia sudah cukup mengenal secara sekilas karakter orang-orang ini dan mendengus pelan, “Hmph.... ada beberapa orang yang bisa dipercaya, tapi kukira cukup banyak yang bakal lari begitu melihat mereka tidak bisa memenangkan pertempuran.”


Senapati Rendra mendengus, “Penggal saja yang berani mundur, saat kau perintahkan mereka untuk maju.”


Senapati Lesmana mengangguk, “Hmm... aku harap aku bisa mengendalikan situasi, jika kami sampai pada titik itu.”


Ketika Senapati Lesmana melihat semuanya telah siap, dia berseru keras, “PERHATIAN!!”


Setelah suasana di tempat itu hening, Senapati Lesmana melanjutkan, “Hari ini kita akan memilih dan mengangkat perwira dari tingkat Lurah Prajurit, Bekel, sampai dengan satu orang Senapati Muda yang nanti akan menjadi senapati pengiringku.”


“Mereka akan dipilih berdasarkan kemampuan dan kekuatan merea, bukan senioritas ataupun berdasarkan suka atu tidak suka.”, ujar Senapati Lesmana disambut sorakan dari para prajurit itu.


Rahang Senapati Lesmana terlihat mengeras melihat ketidak disiplinan mereka, Senapati Rendra menahan tertawa melihat ekspresi rekannya yang lebih muda itu.


Menunggu sorak sorai itu sedikit mereda, Senapati Lesmana melanjutkan, “UJIAN PERTAMA!”


Dan tanah lapang itu pun kembali hening, setiap orang memperhatikan baik-baik, karena mereka semua berharap dan merasa punya cukup bekal untuk merebut setidaknya tingkatan Lurah Prajurit.


“Barangsiapa berhasil naik ke atas panggung ini, dia akan mendapat pangkat Lurah Prajurit.”, ujar Senapati Lesmana.


Untuk sesaat prajurit-prajurit itu saling memandang dengan heran? Namun beberapa saat kemudian, beberapa orang mulai berlari ke arah panggung. Dengan segera melihat itu, memancing prajurit yang lain untuk ikut berlomba menaiki panggung lebih dahulu dan dalam waktu yang singkat, ribuan orang itu mulai berebutan untuk mencapai panggung lebih dahulu.


Namun tiba-tiba mereka mendengar geraman rendah dari atas panggung, Sebelumnya saat Senapati Lesmana memberikan pengumuman, diam-diam Senapati Rendra memejamkan mata, merapal satu mantra dan ketika dia membuka matanya, sorot matanya terlihat membawa hawa yang mengerikan.


Ketika prajurit-prajurit itu mulai berlari menuju panggung, Senapati Rendra menggeram rendah, “GRRRRRRR.....!'


Seketika itu juga mereka semua berhenti di tempatnya masing-masing.


Barulah setarikan nafas kemudian terlihat perbedaan di antara prajurit-prajurit itu, hampir setengah perlahan-lahan mundur, atau diam membeku di tempatnya. Sementara setengah yang lain berhasil mendapatkan keseimbangan jiwa mereka kembali dan mulai kembali bergerak maju ke depan.


Gagak Seta berada di antara mereka yang berjalan maju ke arah panggung dengan berhati-hati. Malam sebelumnya, prajurit-prajurit telik sandi berkumpul kembali, untuk mendapatkan pengarahan terakhir dari Senapati Manggala dan Ki Ageng Aras. Mengetahui mereka akan menghadapi ujian esok harinya, Ki Ageng Aras sekali lagi menggunakan cadangan hawa murninya untuk membekali anak-anak muda Kademangan Jati Asih itu.


----


Malam itu, Senapati Manggala sebagai pimpinan mereka berpesan, “Ingat semua latihan yang sudah kalian terima dari Ki Ageng Aras. Teguhkan semangat kalian, dalam sebuah pertarungan, terkadang menang atau kalah bukan ditentukan oleh kemampuan dan tehnik, tapi semangat.”


Setelah mereka semua bubar, Ki Ageng Aras secara khusus memberi nasihat-nasihat pada Gagak Seta. Baik nasihat yang berkaitan dengan bela diri, maupun bagaimana Gagak Seta harus bersikap. Dengan tekun dan hormat, Gagak Seta mendengarkan Ki Ageng Aras.


“Ingat, sekarang semua orang sudah tahu, kau adalah muridku, murid tunggal Ki Ageng Aras. Jangan kau permalukan nama gurumu. Aku tidak memintamu memenangkan sayembara besok pagi, tapi tunjukkan semangat seorang ksatria. Berani menghadapi tantangan, pantang menyerah, tapi juga tidak malu mengakui kekurangannya. Tidak malu mengakui kekalahan secara jujur dan terbuka.”, uap Ki Ageng Aras di akhir nasihatnya yang cukup panjang.


“Hmm.... aku mengerti guru.”, jawab Gagak Seta dengan hormat.


Ki Ageng Aras memandangi muridnya itu dengan rasa sayang, meski hanya beberapa minggu dia mengenal dan mengangkat pemuda ini sebagai murid, tapi sikap pemudai ini membuat dia puas dan bangga. Ki Ageng Aras yang tidak memiliki keturunan, memandang Gagak Seta sebagai puteranya sendiri.


“Bagus kalau kau mengerti. Sebisa mungkin kau mencapai peringkat teratas dalam sayembara besok pagi. Namun kau juga harus ingat, sayembara besok pagi bukanlah pertempuran yang paling penting. Jaga dirimu, karena peranmu masih dibutuhkan nanti saat pertempuran yang sesungguhnya. Jangan mengambil resiko yang sia-sia.”, ujar Ki Ageng Aras sambil menepuk-nepuk pundak Gagak Seta dan mengirimnya pergi.


-----


Gagak Seta merasakan tekanan dari arah panggung, bukan tekanan yang terasa secara fisik, namun kekuatan yang menyerang batin dan perasaan-nya.


Meskipun sempat terkejut, mundur selangkah sambil mengambil sikap bertahan, tapi dia dengan cepat menguasai dirinya kembali. Ketika meyadari serangan tersebut bersumber dari tengah panggung, di mana Senapati Lesmana dan Senapati Rendra berdiri, Gagak Seta menyadari serangan ini adalah bagian dari ujian.


'Hmm.... pintar juga, dengan cara ini mereka bisa melihat siapa yang benar-benar bernyali dan siapa yang hanya bermulut besar.', pikir pemuda itu sambil mengamati ratusan, bahkan mungkin seribu lebih rekan-rekannya yang terdiam atau memilih mundur.


Sambil menenangkan hati, Gagak Seta pun berjalan kembali ke arah panggung. Ketika dia melihat prajurit-prajurit yang lain, tidak lagi berlari dan berlomba untuk mencapai panggung secepatnya, Gagak Seta memutuskan untuk melangkah ke depan dengan waspada.


Semakin mereka mendekati panggung itu, tekanan yang mereka rasakan pun semakin besar.


Senapati Rendra perlahan-lahan meningkatkan tekanan, sambil mengamati jumlah mereka yang berjalan maju ke atas panggung. Dari catatan yang mereka miliki, ada tiga ribu dua ratus orang prajurit yang baru bergabung.


Mereka membutuhkan setidaknya ratusan Lurah Prajurit, puluhan Bekel dan sesuai keputusan Senapati Lesmana, satu orang Senapati Muda untuk membantu dia mengatur pasukannya.


Ketika prajurit-prajurit itu sudah kira-kira sepuluh langkah jauhnya dari panggung, jumlah yang masih berjalan ke arah panggung sudah jauh berkurang, kira-kira lima ratusan orang yang masih bisa berjalan. Beberapa orang terlihat masih bisa berjalan dengan mantap, sementara sebagian besar dari mereka harus berjuang keras untuk melawan rasa takut yang makin lama makin besar, mencengkeram dada mereka dan berusaha menguasai hati mereka.


Senapati Lesmana masih mengamati tanpa banyak bicara, dalam hati dia cukup merasa puas dengan nyali sebagian besar dari prajuritnya ini. Setidaknya setengah dari mereka, mendekati dua ribu orang bisa dipercaya untuk tidak lari mundur ketika tekanan pertempuran mulai berat.


Ratusan orang yang sekarang masih berjalan maju, bisa diangkat menjadi Lurah Prajurit yang akan menjaga agar prajurit di bawah pimpinan mereka akan tetap bertempur, tidak lari dari medan pertempuran.


Senapati Lesmana sangat menyadari apa tujuannya pasukan ini dibentuk, mereka disiapkan untuk dikorbankan. Jika da sepertiga saja dari mereka yang maish bertahan setelah pertempuran dengan Raden Rangga selesai, dia sudah cukup puas.


Semakin dekat dengan panggung, semakin terlihat perbedaan antara seorang prajurit dengan prajurit yang lain.


Satu per satu mulai ada prajurit yang berhasil memanjat naik ke atas panggung, Senapati Lesmana diam-diam menghitung jumlah mereka.


Senapati Lesmana sudah menghitung 320 orang berhasil naik ke atas panggung, ketika dia masih melihat belasan orang yang berusaha maju ke depan. Untuk sesaat dia sedikit ragu, tapi akhirnya memutuskan untuk memberi orang-orang itu kesempatan.


Ketika akhirnya tidak ada lagi prajurit yang masih berusaha melangkah maju dan naik ke atas panggung, Total berdiri 346 orang prajurit di atas panggung.


“Cukup..!”, suara Senapati Lesmana terdengar jelas di tanah lapang yang sekarang sunyi senyap itu.


Tekanan yang tadi terasa pun menghilang, begitu Senapati Rendra menarik kembali ilmunya. Setelah mereka merasakan ilmu Senapati Rendra, tidak ada prajurit yang bersikap meremehkan sayembara ini dan bercakap-cakap dengan prajurit lain. Mereka mungkin tidak punya kedisiplinan seorang prajurit, tapi sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia persilatan, mereka tahu pentingnya bersikap hormat terhadap orang yang berilmu tinggi.


Bersikap kurang ajar pada orang yang berilmu tinggi dalam dunia persilatan, bisa berakhir dengan luka parah, cacat seumur hidup bahkan kematian.


“Semua orang yang berhasil naik ke atas panggung, saat ini juga akan mendapatkan pangkat Lurah Prajurit.”, ujar Senapati Lesmana.


“Sekarang kalian yang berada di atas panggung, bentuk kelompok-kelompok, masing-masing kelompok berisi sepuluh orang.”, sambung Senapati Lesmana.


Mereka yang gagal naik, memandang dengan rasa iri, melihat dalam satu hari saja, rekan-rekan mereka tiba-tiba sudah naik pangkat. Namun mereka bisa menerima hasil ujian ini, karena benar-benar yang diuji dan berhasil lolos memiliki kemampuan untuk itu.


Tanpa disuruhpun, perlahan-lahan mereka yang berada di bawah panggung, membentuk barisan dan menonton apa yang terjadi di atas panggung dengan rasa tertarik.


Sifat lain dari orang-orang dunia persilatan, yang mendapat kesenangan dengan menonton pertarungan antar pendekar. Tanpa diumumkan pun, mereka bisa merasakan ketegangan yang mulai meningkat di atas panggung sana.