Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
BAB XIV Kemarahan Prabu Jannapati



“Braak!!”


Prabu Jannapati menggebrak meja, buah-buahan yang ada di atasnya pun terlempar berjatuhan ke atas lantai. Cawan yang berisi tuak, terguling membasahi meja.


“Bagus... bagus... keparat banci itu punya nyali juga rupanya?”, geram Prabu Jannapati sambil membaca laporan dari telik sandi kerajaan yang dibawa Patih Nandini untuknya.


Patih Nandini mendengarkan kemarahan Prabu Jannapati dengan tenang. Beberapa orang senapati dan prajurit yang ikut menghadap di ruangan itu, sudah meneteskan keringat dingin. Mereka hanya menundukkan wajah, memandangi lantai, berharap kemarahan Prabu Jannapati tidak menyasar ke mereka.


“Bagaimana dengan Rangga? Kau sudah dengar kabar dari telik sandi yang kita kirimkan ke Kademangan Jati Asih?”, Prabu Jannapati bertanya.


Senapati yang bertugas untuk mengirimkan telik sandi ke Kademangan Jati Asih, masih menunduk tak berani mengangkat kepala. Saat itu dia berharap bumi bisa terbelah, dan menyembunyikan dirinya dari tatapan mata Prabu Jannapati yang berkeliling, menunggu jawaban dari salah seorang dari mereka.


Patih Nandini menghela nafas dalam hati sebelum menjawab, “Belum ada kabar baginda Prabu.”


“Belum ada kabar !? GOBLOK!”, seru Prabu Jannapati marah.


“BRAAK!”


Sekali lagi Prabu Jannapati dengan marah menghantam meja di depannya.


“KRAK....”


Meja itu tak kuat lagi menahan kemarahan demi kemarahan yang harus dia hadapi, dan pecah menjadi dua.


“Ampunkan kami baginda prabu..”, hampir serentak para senapati dan prajurit yang menghadap, semuanya berlutut sambil memohon ampun.


Hanya Patih Nandini yang masih menghadapi Prabu Jannapati dengan tenang dan sabar.


“Duang!!!”, sebuah cawan dari tembaga melayang terbang dan menghantam kepala salah seorang senapati yang hadir.


Dalam hati senapati itu mengeluh dan memaki kawannya. Bukan dia yang bertugas untuk mengatur telik sandi dan mencari berita ke Kademangan Jati Asih. Namun, gara-gara temannya tidak berani melapor, akhirnya kemarahan Prabu Jannapati justru melebar ke mana-mana.


“Mohon baginda prabu bersabar, bukan dia yang bertugas mengumpulkan informasi dari Kademangan Jati Asih.”, ujar Patih Nandini sedikit lelah dengan kemarahan junjungannya.


Senapati yang menerima lemparan cawan Prabu Jannapati, hatinya meluap dengan rasa berterima kasih mendengar pembelaan Patih Nandini.


“Kalau begitu siapa!?”, Prabu Jannapati tersenyum tapi dengan tatapan mata yang tajam menyala-nyala.


“Orangnya tidak di sini baginda, dia saat ini sedang dalam perjalanan ke Kademangan Jati Asih untuk mencari sendiri berita dari kademangan itu. Sekaligus mencari tahu, kenapa telik sandi yang dikirimkan ke sana, tidak memberi kabar sama sekali.”, jawab Patih Nandini dengan tenang.


Meskipun tahu persis bahwa orang yang dia maksud sedang berlutut gemetaran di belakangnya, wajah Patih Nandini terlihat biasa-biasa saja. Suaranya pun masih mengalir tenang, meskipun sedang berbohong pada Prabu Jannapati.


“Cis... baik...! Beruntung dia tidak ada di sini.”, dengus Prabu Jannapati.


Keringat senapati yang dimaksud sudah menetes-netes ke atas lantai. Patih Nandini saja yang masih berani menanggapi Prabu Jannapati dengan tenang.


Sambil tersenyum dia berkata, “Baginda prabu, sebenarnya tidak ada berita, itu pun sudah merupakan satu berita.”


Prabu Jannapati mengangguk-anggukkan kepala, “Bagus, coba kau jelaskan. Biar terbuka otak orang-orang dungu ini. Kalau masih tidak juga bisa berpikir, lain kali bukan meja yang aku pecahkan. Tapi kepala mereka itu yang akan aku pecahkan, biar aku belek, aku lihat seperti apa otaknya!?”


Sambil berkata demikian, mata Prabu Jannapati menatap tajam senapati yang bertugas mencari berita dari Kademangan Jati Asih. Meskipun masih menundukkan kepala dan matanya menatap lantai, senapati itu merasa seluruh tubuhnya dingin gemetaran.


“Pertama, jika tidak ada yang menghalang-halangi petugas telik sandi kita untuk melaporkan, saat ini pasti sudah ada berita yang masuk. Apa pun isi berita itu. Nyatanya hingga sekarang tidak ada berita yang masuk, kesimpulannya, pasti ada yang sedang terjadi di Kademangan Jati Asih.”, Patih Nandini dengan sederhana menjelaskan.


Senapati yang terdiam menatap lantai itu, dalam hati membodoh-bodohkan dirinya sendiri, mengapa kesimpulan yang semudah itu tidak bisa dia pikirkan.


“Kedua, tidak mungkin Rangga seorang diri bisa membungkam beberapa petugas telik sandi yang kita kirimkan. Bukan masalah tinggi-rendahnya ilmu kanuragan, tapi masalah jumlah. Setinggi-tingginya ilmu kanuragan Raden Rangga, dia tidak bisa berada di beberapa tempat dalam waktu yang sama. Jadi bisa disimpulkan, pasti ada orang-orang yang membantu Raden Rangga.”, ujar Patih Nandini melanjutkan.


“Hmm... dan tidak mungkin hanya satu-dua orang. Kademangan Jati Asih itu terlalu luas. Bagaimana mau menghentikan berita yang dibawa burung pembawa pesan? Paling tidak harus ada seratusan lebih orang yang berjaga. Begitu jumlahnya sudah terhitung sebanyak itu, apa pula yang masih membuat ragu-ragu untuk menyimpulkan, bahwa Rangga sedang menghimpun kekuatan?”, lanjut Prabu Jannapati dengan suara rendah menggeram.


Geram karena kebodohan bawahannya. Untuk masih ada Patih Nandini yang bisa membuat dia sedikit terhibur. Jika tidak ada Patih Nandini, mungkin balai itu sudah dibasahi darah.


“BRAAK!!”


Ketika melihat senapati yang ditugasi memata-matai Kademangan Jati Asih masih terdiam, Prabu Jannapati menggebrak meja yang sudah patah itu sekali lagi.


“GOBLOK MASIH MENUNGGU APA LAGI KAU!?”, bentak Prabu Jannapati sambil meraih kerisnya.


Senapati itu pun terlompat dari duduknya, “Baik baginda... baik... hamba...--”


“PERGI SEKARANG! KERJAKAN TUGASMU!”, suara Prabu Jannapati terdengar menggelegar sampai keluar ruangan.


Senapati itu pun kabur terbirit-birit meninggalkan tempat pertemuan. Melihat senapati itu ketakutan, rasa marah Prabu Jannapati makin memuncak. Hampir saja dia melompat dan menusukkan keris ke punggung senapati itu, jika Patih Nandini tidak dengan segera melangkah dan berdiri menghalangi.


Senapati-senapati yang lain, meskipun tidak ikut jadi sasaran kemarahan Prabu Jannapati, tapi punggung mereka pun ikut basah dengan keringat. Sebagian dari mereka dipanggil karena harus melaporkan tugas tertentu, dan sebagian yang lain karena akan mendapatkan tugas tertentu. Melihat nasib senapati tadi, mau tidak mau, hati mereka terasa mengerut di dalam dadanya, dan usus di dalam perut pun seperti dipelintir-pelintir.


“Tetap pada rencana semula baginda. Kekuatan kita tidak bisa dipecah menjadi dua. Laporan dari Senapati Rawengan cukup jelas, Adipati Gading Kencana menjalin kerja sama dengan tiga kadipaten besar lainnya. Itu kekuatan yang cukup berbahaya, jangan kita menambah musuh dengan mengganggu Rangga.”, jawab Patih Nandini.


“Apa kau tidak khawatir, Rangga akan menggunakan kesempatan ini untuk mengambil kembali takhta kerajaan?”, tanya Prabu Jannapati.


“Hamba yakin baginda. Kekuatan yang dimiliki Rangga terlalu kecil untuk menimbulkan ancaman, baik bagi baginda, ataupun bagi Adipati Gading Kencana dan sekutunya. Kemungkinan yang terbesar, dia akan melarikan diri keluar dari wilayah Kerajaan Watu Galuh dan perlahan-lahan menyusun kekuatan di sana.”, jawab Patih Nandini.


Prabu Jannapati diam untuk beberapa saat, kemudian mendesis kesal, “Hmm.... benar... mumpung kedua tangan kita terikat.... Hmph... kalau saja Adiyasa punya otak setengah saja dari otak Rangga.”


“Nandini... Rangga adalah ancaman yang lebih besar dari Adipati Gading Kencana.”, ujar Prabu Jannapati kemudian.


“Benar baginda.”, jawab Patih Nandini.


Untuk beberapa lamanya, suasana di ruang pertemuan itu pun hening tanpa suara. Mereka semua menunggu keputusan dari Prabu Jannapati. Dalam hal kegiatan sehari-hari, urusan pemerintahan kerajaan memang selalu dikerjakan oleh Patih Nandini, tapi setiap keputusan yang besar, selalu berasal dari Prabu Jannapati sendiri.


“Nandini, setiap gerak-gerik Rangga harus selalu diawasi. Jika senapati goblok tadi tidak mampu melaksanakan tugasnya, kau pancung dia sebagai peringatan, dan tugaskan orang lain untuk menggantikan kedudukannya.”, ujar Prabu Jannapati dengan dingin.


“Siap baginda.”, jawab Patih Nandini singkat.


“Yang kedua, seperti yang kau katakan, kemungkinan besar Rangga akan membangun kekuatan di luar wilayah Kerajaan Watu Galuh. Meskipun kita tidak bisa mengerahkan pasukan untuk membasminya, tapi bukan berarti tidak ada jalan lainnya bukan? Gunakan jalan dipomasi, kau yang atur persisnya bagaimana. Tapi aku ingin kau gunakan adipati-adipati di Bhumi Adiyatma ini untuk menghalangi niatnya. Lebih bagus lagi kalau mereka berhasil membinasakan dia.”, Prabu Jannapati memberikan perintah yang kedua.


“Siap baginda.”, jawab Patih Nandini dengan sigap.


Prabu Jannapati masih terlihat berpikir keras, “Nandini.... kau perhatikan sungguh-sungguh pergerakan Rangga, jika perlu kau tangani sendiri masalah ini. Perasaanku mengatakan, dia jauh lebih berbahaya dari adipati tua itu.”


Patih Nandini terdiam untuk beberapa saat, “Hamba mengerti... dan hamba setuju dengan pendapat baginda prabu. Sayangnya...”


Prabu Jannapati tertawa, “Hahahaha, sayangnya aku tidak mau mendengarkan nasihatmu untuk merangkul Adi Adiyasa dan tetap pada rencanaku membantai habis Tumenggung Nayottama dan pengikutnya?”


Patih Nandini tidak menjawab, namun dalam diamnya sudah mengandung jawaban.


Prabu Jannapati menggelengkan kepala sambil mengeluh, “Hanya kau yang berani mendebatku.”


“Tidak Nandini, aku tidak menyesali keputusanku. Rangga memang berbahaya, tapi aku lebih benci lagi pada banci macam Adiyasa! Lebih benci lagi pada ular bercabang lidah macam Nayottama! Adiyasa adalah adikku, jika sekarang dia berani datang untuk mohon ampun, akan aku ampuni dia. Tapi dia justru jadi boneka adipati-adipati tamak!”, suara Prabu Jannapati mulai meninggi.


“Justru karena aku saudaranya, akan aku hajar dia! Justru karena dia adikku, akan aku penggal kepala mereka-mereka yang berani-beraninya mencoba-coba menjadikan keturunan Prabu Anglang Bhuanna sebagai boneka!”, tegas Prabu Jannapati dengan mata menyala-nyala.


Patih Nandini menghela nafas panjang, “Hamba mengerti paduka, tapi banyak pula orang yang salah paham.”


Prabu Jannapati menyeringai lebar, “Itu tugasmu untuk membereskan hal itu Nandini.”


Patih Nandini hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala, pasrah pada sifat junjungannya, “Siap laksanakan paduka.”


Para senapati yang hadir di ruangan itu, ikut mendengarkan pembicaraan mereka dengan perasaan tertarik. Prabu Jannapati terlalu mudah marah, dan hanya dengan Patih Nandini saja bisa bercakap-cakap panjang lebar, hingga banyak dari senapati dan tumenggung yang kesulitan untuk memahami sifat Prabu Jannapati.


Penjelasan yang tersirat dari percakapan itu mendatangkan berbagai macam perasaan di hati mereka masing-masing.


Satu hal yang sama, Prabu Jannapati tidak segila yang mereka bayangkan.


Mungkin mengabdi pada Prabu Jannapati adalah keputusan yang tepat.


Prabu Jannapati tiba-tiba bertanya, “Oh ya, siapa itu Senapati Rawengan?”


“Hamba paduka.”, jawab Senapati Rawengan dengan hati berdebar.


“Hmm.. kerjamu bagus, kau lanjutkan tugasmu untuk mengawasi tingkah polah adiku Adi Adiyasa. Bila kau merasa ragu, kau mintalah nasihat pada Patih Nandini.”, ujar Prabu Jannapati dengan berwibawa.


“Siap paduka!”, dada Senapati Rawengan terasa mekar, dipuji di depan sekian banyak senapati yang lain.


“Nandini”, Prabu Jannapati berbalik ke arah Patih Nandini.


“Siap paduka.”, jawab Patih Nandini singkat.


“Kau ambil dari bendahara kerajaan, kau tentukan kira-kira keris apa yang cocok dari ruang penyimpanan pusaka kerajaan. Hadiahkan pada Senapati Rawengan.”, kata Prabu Jannapati kemudian.


Wajah Senapati Rawengan pun memerah karena perasaan yang meluap-luap, dengan setulusnya dia berlutut, “Terima kasih baginda... terima kasih baginda...”


Hadiah keris pusaka itu pasti berharga, namun setelah menyaksikan salah seorang rekannya dicaci maki habis-habisan. Setelah menyaksikan kemurkaan Prabu Jannapati yang menggerigisi, maka pujian dari Prabu Jannapati terasa seperti harta yang tak ternilai harganya.


“Siap baginda.”, ujar Patih Nandini sambil tersenyum puas.


Prabu Jannapati mungkin laki-laki yang berangasan, dingin, licik dan ambisius. Namun dia juga memiliki sisi-sisi yang mengagumkan sebagai seorang prajurit, pahlawan dan pendekar. Bukan tanpa alasan Prabu Anglang Bhuanna menetapkan dia untuk menjadi putera mahkota. Keputusan Prabu Anglang Bhuanna tak pernah goyah sedikitpun, bahkan ketika beberapa abdi dalem kerajaan berusaha mengusulkan Pangeran Adiyasa untuk menggantikan kedudukannya sebagai putera mahkota.