
“Kami mengucapkan terima kasih atas kebaikan Ki Waluyo, pada waktunya nanti tentu kami akan mengembalikan sesuai apa yang kami pinjam hari ini. Lunas berikut dengan bunganya. Silahkan Ki Waluyo simpan surat yang sudah ditanda tangani oleh Raden Rangga.”, ujar Senapati Kalapati, satu dari tiga puluh senapati Rangga Wijaya.
Saat itu Senapati Kalapati datang bersama ratusan prajurit, “mengunjungi” rumah Ki Waluyo, hartawan terkaya di Kademangan Asemrawa.
Ki Waluyo tersenyum kecut, menerima selembar surat dari tangan Senapati Kalapati.
“Ki Waluyo tidak mau membaca dulu isi surat itu?”, tanya Senapati Kalapati dengan berwibawa.
“Tentu... tentu...”, Ki Waluyo dengan setengah hati membaca isi surat itu.
“Silahkan Ki Waluyo bandingkan daftar barang yang tercantum dalam surat itu, dengan barang yang kami pinjam dari Ki Waluyo. Pastikan jangan sampai kami mengambil lebih dari yang dicantumkan. Supaya jangan orang menyangka, Raden Rangga dan pasukannya adalah perampok dan pencuri.”, keras suara Senapati Kalapati terdengar jelas oleh semua yang hadir di tempat itu.
Jantung Ki Waluyo pun berdebar-debar mendengar wibawa yang terpancar dari suara Senapati Kalapati. Perasaan kesal yang sempat muncul, cepat-cepat dia telan kembali. Ketika Ki Waluyo menengadahkan kepala, dia melihat Senapati Kalapati ternyata sedang memandangi dirinya dengan tajam.
“Eh... sudah...sudah aku periksa ki, jumlahnya sesuai.”, ujar Ki Waluyo terbata-bata.
Senapati Kalapati berkata dengan tegas, “Periksa lagi Ki, bandingkan dengan fisiknya, sesuai yang kami bawa. Jika ada yang salah bawa, aku pribadi yang akan meminta maaf dan meluruskan kesalahan.”
Di bawah tatapan mata Senapati Kalapati, Ki Waluyo menurut tanpa banyak bicara. Mengajak beberapa orang abdinya, bersama-sama mereka memeriksa barang-barang yang sudah diangkat ke atas pedati dan siap dibawa pergi.
Beberapa saat kemudian, Ki Waluyo menghadap ke Senapati Kalapati dan dengan hormat berkata, “Sudah sesuai Ki, jumlahnya tepat seperti yang tercantum dalam surat hutang ini.”
Senapati Kalapati mengangguk puas, “Baik, ingat kau simpan baik-baik surat itu, saat kami sudah berhasil menetap dan membangun kerajaan kami. Hutang ini pasti kami lunasi.”
“Pasukan, kita kembali!”, tanpa menunggu jawaban dari Ki Waluyo, Senapati Kalapati melompat ke atas kudanya dan memberi tanda pada pasukan yang dia pimpin untuk membawa pergi perbekalan yang mereka ambil dari gudang Ki Waluyo, kembali ke tempat rombongan mereka berada.
Meninggalkan Ki Waluyo, keluarganya dan para pegawai yang bekerja untuk juragan beras itu, memandangi kepergian pasukan kecil itu dengan berbagai macam ekspresi di wajah mereka masing-masing.
Salah seorang pegawai Ki Waluyo bergumam, “Wah... orang minjem sekarang bawa golok...”
Ki Waluyo tersenyum kecut mendengar ujaran pegawainya itu, “Hei... hati-hati kalau bicara, apa kau tidak dengar kejadian di kademangan sebelah? Mereka tak segan memberi hajaran ketika ada yang bicara sembarangan.”
“Benar kata Ki Waluyo, kudengar ada dua orang laki-laki yang dihajar sampai tak bisa bangun dari tempat tidurnya selama dua-tiga hari, karena bicara sembarangan tentang rombongan dari Kademangan Jati Asih itu.”, kata seorang yang lain.
Pegawai yang diingatkan mengerutkan alis dan berkata, “Jadi apa bedanya mereka ini dengan perampok kalau begitu?”
Ki Waluyo baru saja membuka mulut hendak menegur, ketika terdengar suara tertawa dingin dari atas atap salah satu bangunan yang ada di dekat mereka. Seketika itu juga meremang bulu kuduk Ki Waluyo dan sekalian orang yang ada bersama dengannya. Hampir serentak mereka menoleh ke arah suara tawa itu.
Di atas atap, terlihat beberapa orang duduk, nangkring di sepanjang bubungan atap rumah.
“Aku... aku...”, pegawai Ki Waluyo yang sejak tadi mengomel, memucat wajahnya melihat lima sosok orang yang muncul dengan tiba-tiba seperti hantu.
“Kalian... anak buah... Raden Rangga?”, tanya Ki Waluyo terbata-bata.
“Benar ki, tapi jangan takut, keberadaan kami di sini justru untuk menjaga keamanan kalian.”, ujar salah seorang dari mereka yang duduk di atas bubungan rumah.
“Hei, kau yang banyak bicara. Tahukah kau kenapa dua orang di kademangan sebelah itu kami hajar sampai tak bisa bangun dari pembaringan?”, salah seorang yang lain bertanya dengan suara keras.
”Ti..tidak...”, jawab pegawai Ki Waluyo tergagap.
“Kami hajar orang itu, karena mereka berani mencatut nama Raden Rangga dan berusaha menarik keuntungan dengan memanfaatkan nama kami.”, ujar sosok tersebut.
“Oh... begitu... tapi aku.. tidak tahu.”, dengan jantung berdebaran pegawai Ki Waluyo itu menjawab.
“Nah, sekarang kau sudah tahu. Jika kau menyebarkan kabar bohong, tidak bisa menjaga mulutmu, maka jangan salahkan tanganku jika tiba-tiba dia mampir di mulutmu.”, sahut sosok tersebut kemudian.
“Ya..ya.. tentu kisanak, tentu.”, jawab pegawai Ki Waluyo dengan keringat bercucuran membasahi tubuhnya.
“Maafkan dia kisanak, dia hanya orang yang lugu, tidak ada maksud jahat darinya.”, Ki Waluyo dengan hati-hati berusaha membela pegawainya itu.
“Jangan kuatir Ki Waluyo, kami ini prajurit, bukan perampok.”, orang yang pertama menyapa Ki Waluyo menjawab.
“Aku tegaskan sekali lagi, keberadaan kami di sini bukan untuk mengancam keselamatan kalian, tapi untuk melindungi kalian dan melindungi nama baik kami. Memastikan tidak ada orang yang memancing di air keruh. Aku harap kalian semua yang ada di sini, mencamkan baik-baik kata-kataku ini.”, ujar laki-laki itu, sebelum dengan ringan melompat turun ke sisi lain dari rumah itu, menghilang dari pandangan Ki Waluyo dan orang-orangnya.
Satu per satu menyusul melompat pergi, ketika tinggal satu orang, tiba-tiba dia berbalik sebelum melompat pergi dan berkata, “Kalian tidak melihat kami, bukan berarti kami sudah pergi dari ini. Kapan kami datang dan kapan kami pergi, jangan harap kalian bisa tahu. Kami satuan khusus pasukan Raden Rangga.”
Setelah kelima orang itu menghilang cukup lama, Ki Waluyo dan orang-orangnya masih diam tak berani bergerak sedikitpun dari tempat mereka berdiri.
“Ki... apa mereka sudah benar-benar pergi?”, salah seorang dari mereka akhirnya memberanikan diri bertanya.
Ki Waluyo tersadar dari lamunannya dan menjawab, “Ya... ya... kukira begitu. Atau bisa juga tidak. Kalian masih di sini?”
“Ya.. bukankah Ki Waluyo juga masih di sini?”, tanya orang itu.
Ki Waluyo tercenung sejenak kemudian tertawa, “Hahahaha, ya...ya.. kau benar juga. Sudahlah, bubar, bubar, kembali ke tempat dan kegiatan kalian masing-masing. Seperti yang dikatakan orang tadi, keberadaan mereka, bukanlah sesuatu yang bisa ditangkap oleh orang biasa seperti kita.”
Tiba-tiba Ki Waluyo berhenti dan menoleh ke belakang, “Paman Jelanting, coba kau pergi menemui sahabatku Ki Tanumerta di Kademangan Buluksewu, jika mengikuti arah perjalanannya, bukankah beberapa bulan lagi, pasukan Raden Rangga ini akan melewati pula Kademangan Buluksewu? Nah coba kau ceritakan semua yang terjadi di sini. Aku ingin mendengar pendapatnya. Kau berkuda sendirian, tentunya bisa beberapa kali lebih cepat dari rombongan pasukan yang besar itu.”
Yang dipanggil Paman Jelanting itu mendengarkan perintah Ki Waluyo dengan seksama, kemudian setelah berpikir sejenak, dengan hati-hati bertanya, “Menurut Ki Waluyo, apakah boleh aku membawa beberapa kawan? Atau perlukah kepergianku ini dirahasiakan?”
Ki Waluyo menggeleng, “Tidak, tidak ada yang perlu dirahasiakan, yang aku inginkan adalah kau bisa menyampaikan berita ini dengan lengkap, tepat dan secepat-cepatnya ke Ki Tanumerta. Aku percaya pada pengamatanmu dalam melihat sesuatu, sampaikan apa adanya sesuai fakta, jangan kau tambahkan pendapatmu sendiri.”
“Siap ki, aku mengerti maksud Ki Waluyo.”, jawab Jelanting dengan penuh keyakinan.
“Bagus, kau berangkatlah secepatnya. Ambil bekal sebanyak yang kau perlukan, ingat, yang penting kabar yang tepat dan waktu yang cepat.”, ujar Ki Waluyo.
Setelah Jelanting pergi meninggalkan Ki Waluyo dan dua orang kepercayaan Ki Waluyo yang lain, salah seorang dari dua orang itu bertanya, “Apa yang Ki Waluyo pikirkan?”
Ki Waluyo tertawa kecil dan menjawab, “Hidungku mencium aroma uang.”
Ketiganya pun tertawa, dan orang kepercayaan Ki Waluyo menyahut, “Kalau Ki Waluyo sudah mencium bau uang, aku yakin sebentar lagi kita akan melihat keuntungan besar.”
Ki Waluyo tertawa, “Hahaha, jangan buru-buru, kali ini pertaruhannya cukup besar. Bisa untung, bisa juga buntung.”
“Mengapa begitu Ki?”, tanya mereka.
“Tunggu saja setelah kita mendengar pendapat Ki Tanumerta, umurnya jauh lebih muda dariku, tapi aku percaya indera-nya untuk mencium uang tak kalah tajam dari hidungku.”, sahut Ki Waluyo sambil berjalan masuk ke rumah.
-------------------------------
Di tengah perjalanan, Senapati Kalapati tiba-tiba bertanya pada prajurit yang berjalan mengikuti dia, “Apa kalian merasa kecewa, atau bertanya-tanya dengan keputusan yang diambil Raden Rangga akhir-akhir ini?”
Para prajurit saling berpandangan, mereka bukanlah prajurit-prajurit veteran yang sempat mengikuti para senapati hidup di alam liar selama puluhan tahun. Mereka adalah anak-anak muda kademangan, yang hidup sebagai bagian dari keluarga petani, pedagang atau perajin, sebelum kemudian bergabung ke dalam pasukan Raden Rangga.
Pertempuran-pertempuran yang mereka lalui membuat sifat-sifat mereka mengeras, tak mudah goyah dan tak mudah berubah-ubah. Bahkan dalam situasi tertentu bisa dikatakan mereka akan berubah ganas.
Namun tidak sepenuhnya menjadi liar, selalu ada garis-garis batas yang membatasi keliaran dan keganasan mereka.
Ketika muncul perkataan-perkataan orang yang menyamakan perbuatan mereka dengan perampok dan pencuri, tentu saja itu menyentuh perasaan dan harga diri mereka. Antara marah, tersinggung, tapi juga malu dan bertanya-tanya atas dasar landasan perbuatan mereka.
Salah seorang dari prajurit itu memberanikan diri menyahut, “Maksud Ki Senapati, keputusan Raden Rangga untuk meminjam makanan dan harta dari orang-orang kaya yang hidup di dekat jalur yang kita lewati?”
“Benar.”, sahut Senapati Kalapati singkat.
Para prajurit itu sekali lagi saling berpandangan, ragu-ragu untuk mengungkapkan pendapat.
“Jangan ragu, jawab dengan jujur pertanyaanku. Ini perintah dariku sebagai pimpinan kalian.”, dengan tegas Senapati Kalapati berujar, setengah membentak melihat mereka belum berani menjawab terus terang.
Akhirnya salah seorang dari mereka memberanikan diri untuk menjawab, “Keputusan Raden Rangga itu demi menyelamatkan nyawa penduduk kademangan yang jumlahnya puluhan ribu orang. Yang diambil hartanya, tidak berkurang sampai kemudian mengancam kehidupan mereka, sebaliknya dengan harta itu, kita menyelamatkan nyawa puluhan ribu orang.”
“Kita mengambil harta orang bukan untuk bersenang-senang atau bermewah-mewah, tapi menyelamatkan nyawa.”, seorang yang lain menyahut.
“Selain itu, Raden Rangga selalu mencatat dengan teliti, dari siapa kita mengambil dan berapa banyak kita mengambil. Ki Senapati, bukankah nantinya kita juga akan mengembalikan apa yang kita ambil?”. Prajurit yang lain ikut menyahut.
Senapati Kalapati menganggukkan kepala, “Benar! Bagus kalau kalian bisa berpikiran terbuka. Dunia ini bukan tempat yang sempurna, terkadang sebagai pimpinan yang keputusannya dapat mempengaruhi nasib hidup puluhan ribu, bahkan mungkin suatu saat nanti jutaan orang, seorang raja akan dihadapkan pada pilihan yang sulit dan tidak selalu ideal.”
“Kami bisa memahami kesulitan Raden Rangga Ki Senapati.”
“Benar”
“Benar”
Bersahutan terdengar jawaban dari para prajurit. Senapati Kalapati mengangguk dengan puas, bukan hanya para prajurit di bawah pimpinannya saja, suasana tertekan ini terasa. Di kesatuan-kesatuan yang lain pun, perasaan bersalah dan marah karena merasa sudah melanggar nilai-nilai yang mereka percayai itu juga diam-diam menyebar. Sehingga menjadi tugas para pimpinan, para senapati, untuk meluruskan masalah dan meredam gejolak yang timbul.
Demikian juga di antara penduduk, di mana menjadi tugas Ki Demang dan para bebahu kademangan untuk menjelaskan duduk permasalahannya.
Satu hal yang ditegaskan berulang-ulang oleh Raden Rangga, bahwa setiap apa yang mereka ambil akan dikembalikan, sebulir beras pun tidak boleh terlewat tak tercatat, apalagi tidak dikembalikan.
Bahwa kenyataannya mereka meminjam dengan membawa pasukan bersenjata, hal itu tidak terelakkan. Selain memberikan tekanan pada orang-orang kaya yang mereka datangi, juga untuk mengamankan barang-barang itu sendiri.
Sepanjang perjalanan, belasan kali terjadi pertempuran kecil-kecilan melawan kelompok begal dan pencuri yang berusaha mengambil keuntungan dengan menyerang diam-diam.
Pasukan Rangga pun mendapatkan tempaan melewati berbagai macam kesulitan. Bukan hanya para prajurit, para penduduk desa pun tertempa oleh perjalanan yang panjang ini. Hidup dalam keadaan serba terbatas dan harus mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Mengikuti perintah dari pimpinan mereka, yang tujuannya lebih luas, meskipun terkadang merugikan diri mereka sebagai individu.
Senapati Kalapati pun menyambung, “Kuatkan hati kalian, tidak lama lagi kita akan sampai di tempat yang sudah dipilih oleh Raden Rangga untuk mendirikan kerajaan. Di sana kita akan membangun kembali kehidupan kita. Mengembalikan apa yang sudah kita pinjam dan meluruskan kesalahan yang saat ini terpaksa kita lakukan.”
“Siap Ki Senapati!”, hampir secara serempak terdengar jawaban dari arah para prajurit.
“Itu yang kalian tidak boleh pernah lupakan, jangan sampai kalian terhanyut oleh keadaan, kemudian kehilangan pegangan dan arah.”, demikian Senapati Kalapati memberikan petuah demi petuah, untuk mengingatkan dan menguatkan mereka.