Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
9



Jam pelajaran terakhir masih berlangsung. Aruna yang hari ini tidak mendapatkan jam kosong merasa bosan karena dia sama sekali tidak bisa bertemu Pak Riega. Meskipun tadi pagi adalah jam pelajaranya, tapi dia tidak bisa begitu dekat dengannya. Membuat rasa kangenya semakin besar.



Jam terakhir ini adalah pelajaran matematika. Gurunya selalu santuy menurut para siswa sehingga saat jam berlangsung pun, bisa sambil berbincang. Sehingga Zein berusaha mendekati Aruna.



"Nana..!" Dengan nada bocah mengajak main, Zein menyapa Aruna.



"Apa Zein?" Tanya Aruna



"Balik sama siapa nih?" Tanya Zein



"Emm, aku balik di jemput supir ko"



"Sama aku aja yuk!" Ajak Zein



"Ga usah deh Zein. Nanti aku di marahin mamah"



"Yaah, sayang banget siig aku padahal mau ajak kamu looh makan kemana gitu"



"Hehe ga usah Zein makasih yah tawaranya" jawab Aruna dengan sopan.



"Oke, lain kali harus mau yah" ujar Zein mengedipkan sebelah matanya dan beranjak menuju ke kursinya.



'Hufffy, untung saja. Aku kan pulang sama Pa Riega. Kalau ga bisa ngambek dia.' batin Nana lega.




Sedangkan Riega hari ini hanya kebagian dua kali mengajar. Banyak sekali jam kosong hari ini untuk Riega. Ia hanya duduk-duduk santai di ruanganya sambil bermain smartphonenya. Itu pun ia hanya bolak-balik menscroll foto-foto bersama Aruna. Ia juga hanya menghabiskan satu puntung rokok saja, menurutnya itupun sudah banyak. Hanya itulah yang dia lakukan.



Saat jam pelajaran terakhir, Bu Sharen juga kosong. Jadilah Riega dan Sharen sedang berduaan di ruang seni.



"Riega" sapa Bu Sharen yang baru saja tiba.



"Yah?"



"Lagi apa?"



"Lagi duduk aja sambil main handphone"



"Ooh, udah ga ada jam ngajar lagi?" Tanya Sharen sambil mencuri kesempatan melirik handphone Riega.



'Eh, wallpaper di hpnya ko kaya Aruna? Apa jangan-jangan... Ah ga mungkin' Batin Sharen.



"Ga ada Sharen" jawab Riega menghentikan aktifitasnya memandangi foto Aruna.



"Oh gitu yah. Apa kalau ga ada jam ngajar lagi kita boleh pulang?"



"Itu terserah kamu Ren. Tapi kamu harus fingerprint dulu. Emang kenapa?"



"Hmm.. ada urusan siih. Riega?!"



"Iya?"



"Bisa tolong antar Aku pulang ga?"



"Mmm, rumah kamu di mana?"



"Rumah aku di Jl.alister no.3"



"Oh, lumayan dong"



"Iyah, apa kamu mau?"



"Mmm,," Riega berfikir sebentar. Ia takut Aruna akan menunggu lama jika dia mengantar Sharen.



"Atau kamu bisa tolong antar aku ke halte aja Ga?"



"Yaudah boleh. Maaf yah aku ga bisa antar kamu pulang lain kali deh yah" jawab Riega menampakan deretan giginya dan membuat wajah tampanya semakin meningkat beberapa persen.



"Oke ga apa-apa. Aku malah yang minta maaf jadi ngerepotin kamu"



"Santai aja"



"Oke aku siap-siap dulu Ga"



"Yaudh aku tunggu di parkiran Ren"



Riega langsung berjalan menuju parkiran dengan menggunakan jaketny seperti biasa ia akan mengendari motor. Banyak guru-guru yang bertanya pada Riega ingin kemana dia pergi. Ia hanya menjawab singkat.



"Mau antar Bu Sharen pulang" itulah jawaban dari Riega. Yang membuat guru-guru lain jadi bertanya dan menilai sesuka hatinya.



Tak beberapa lama kemudian Sharen menghampiri Riega dan guru lainya yang sedang bertanya.



"Udah?" Tanya Riega.



"Udah ko ayo"



"Waah, kalian udah akrab aja yah"



"Bu Sharen dan saya sama-sama guru seni jadi bisa saling sharing"



"Heheh iyah Bu Ratih, Pa Riega easy going"



"Waaah bagus dong yah. Kalian cantik dan ganteng. Sama-sama lajang juga kan yah" celetuk Bu Rini.



"Ah, Ibu bisa aja, ga kok. Yaudah Bu saya pulang duluan yah." jawab Sharen kelagapan dan langsung pamit pulang.



"Iyah hati-hati Bu Sharen dan Pa Riega" saut mereka semua.



Riega dan Sharen berjalan menuju parkiran dan mereka menaiki motor Ninja milik Riega. Tak ada hambatan sama sekali saat mengantar Sharen hanya butuh waktu dua pukuh menit saja karena Riega membawa dengan kecepatan 60km/jam.



Selesaj mengantar Sharen, Riega langsung kembali menuju sekolah dan ternyata jam pulang tinggal lima menit lagi.



Riega menutup pintu riang seni dan baru saja ia menempelkan bokongnya di sofa tiba-tiba saja.


(BRAKK!)



"EH!?" Teriak Riega terkejut membulatkan matanya melihat siapa yang datang dan langsung berdiri lagi lantas berlari menuju arah datangnya seseorang itu.



(Huupp!)



Riega langsung memeluk erat kekasihnya yang sedari tadi memenuhi ruang hati dan fikirannya itu. Aruna yang datang dengan tergesa-gesa dan langsung membuka pintu dengan kasar benar-benar membuat Riega tersentak. Apalagi dengan ekpresi Nana yang tampak bersedih.



"Kenapa kasihku menangis?" Tanya Riega sambil terus memeluk Aruna



"Aku rindu kamu"



"Aku lebih merindukanmu" jawab Riega mengeratkan pelukannya.



"Kalau rindu aku jangan menangis seperti itu. Harus tersenyum biar aku yang di rindukan juga senang."




"Kenapa? Ah, ayo duduk dulu sayang" ajak Riega.



Aruna pun menurut dan Riega langsung memberikan segelas air mineral untuk Nana minum.



"Riega.." panggil Aruna setelah menenggak air yang Riega berikan.



"Hmm?"



"Tadi ngapain keluar gerbang sama Bu Sharen?"



"Ah, kamu liat yah sayang?"



"Kalo aku ga liat ngapain tanya kamu?"



"Hehe iyah deh. Aku tadi antar Sharen pulang"



"Oh"



"Oh doang?"



"Apa dong?"



"Ya tanyain kek, aku nganter kemana? Atau.. ga kenapa-kenapa kan di jalanya sayangku?"



"Iih males"



"Ngambek yah aku boncengin cewe lain?" Goda Riega.



"Iih"



"Hayooo kalo ga suka bilang aja sayang...." goda Riega lagi kali ini ia mengedip-ngedipkan sebelah matanya membuat wajah Aruna merah padam.



"Iih, aku tuh cemburu tauu" jawab Aruna melipatkan kedua tanganya di dada dan memalingkan wajah.



"Aaah, pacarku lagi cemburu gini lucu deeh" goda Riega lagi.



"Kamu tuh yah. Iih, ngeselin tau ga sih!" Geram Aruna membalikkan badanya dan memukul-mukul dada kekasihnya.



"Aaw.. aaw.. aaw.. sakit sayang. Iya iya iya Aku bercanda aja cintaku, kasihku, manisku. Aku antar Sharen tadi karena dia ada urusan dan aku ga antar dia sampai rumahnya karena jauh. Aku ga mau kamu nunggu aku lama-lama karena aku antar wanita lain. Jadi aku cuma antar dia sampe ke halte aja ko" jelas Riega sambil menatap manik mata Aruna yang sedang pundung dan menangkup kedua pipi milik Aruna berusaha meyakinkan kekasihnya yang sedang cemburu.



Aruna yang mendapat perlakuan seperti itu dari Riega merasa senang dan juga tenang. Ternyata kekasihnya tak berpaling seperti yang ia pikirkan. Tapi Aruna tidak mau kalah hanya dengan bujukan Riega yang seperti itu. Ia akan kerjain Riega.



"Ah, ga peduli" kata Aruna menarik diri dan kembali memalingkan wajah dan tubuhnya ke arah berlawanan dari Riega.



"Aih, sayang kamu ga percaya sama aku?" Bujuk Riega memegang pundak Aruna sayang.



"Ga"



"Iiih, sayang ayo lah aku jujur ko sama kamu" rajuk Riega pada Aruna sambil memeluk dari belakang.



"Terserah!"



"Tuh kan, cewe nih gini. Cowonya ngambek ga dipeduliin giliran cewe ngambek selalu maunya di peduliin. Egois ih!" Melepaskan pelukanya dari tubuh Nana dan bersandar disofa.



"Apaan sih Riega!" Ia membalikkan badanya



"Iyah iyah terus sekarang sayangku mau apa?" Tanya Riega pasrah.



'Nah, ini nih. Berhasil kan?!' Batin Aruna.



"Ga mau apa-apa!" Jawab Aruna tegas sok jual mahal.



"Ya sudah, kalau gitu nanti malam ikut aku mau yah?"



"Ga"



"Yang bener? Ga mau tanya dulu gitu, pergi kemana?" Goda Riega.



"Ish, yaudh mau kemana?" Tanya Aruna masih dengan nada ngambek.



'Ahahahah pacarku lucu sekali tuhaaaan!' Batin Riega dan ia menyunggingkan senyum selebar-lebarnya tanpa Aruna sadari.



"Temani aku pentas teater di Alun-Alun Kota. Tapi itupun kalau kamu Ma..."



"Mau mau mau sayang... aku mau yaaaah?!" Potong Aruna langsung berubah ekspresi memohon dan mengalungkan kedua lengannya di tengkuk Riega.



"Hmmmm,," Riega pura-pura berpikir.



'Tuhaaaan, lucu sekali diaaa. Terima kasih tuhaaan' batin Riega lagi dan kali ini ia menahan senyumnya karena Aruna sedang memandangnya dengan sangat dekat.



"Ayo lah sayang Ayooo!" Desak Aruna



'Ah, kesempatan nih' batinnya lagi menyeringai puas.



"Cium aku dulu sayang" tawar Riega.



"Aaah, ga mau!" Tolak Aruna.



"Ya sudah kalau ga mau. Ga akan aku aj..."



(Hummmppphh...) Aruna langsung menempelkan bibirnya ke bibir Riega. Tanpa berpikir lama, Riega langsung menyambut ciuman dari Arunanya. Ia melumat perlahan demi perlahan berusaha mengambil alih permainan memagut bibir antara keduanya.



Saat lidah Riega mulai berhasil menerobos masuk dan saling membelit, Aruna tidak bisa tahan lagi untuk meremas pundak Riega. Ia mendesah di tengah-tengah kegiatanya itu dan mulai menikmatinya. Tubuh Aruna bergetar saat tangan kekar milik Riega mulai menelusup masuk ke dalam seragam sekolah miliknya.



"Pak..." lirih Aruna saat ciuman itu terhenti "Jangan!" Ia menggeleng pasrah dengan tatapan sendunya.



"Maaf. Tapi Aku masih boleh cium kan, sayang?" Tanya Riega ngos-ngosan penuh gairah sampai akhirnya Aruna mengangguk dan berkata "Boleh".



Riega tersenyum manis menatap binar sendu milik Arunanya yang begitu indah sambil menempelkan bibirnya di atas bibir mungil gadis kecilnya itu. Menekannya sebelum kemudian Riega mulai ******** bibir Aruna bergantian.









To be Continue...



Mon maaf aku belum berpengalaman 😥


Jadi beri aku masukan dong harus begimana ini ceritanya 🤔




Beri aku like like like 💛