
Jam istirahat berdering nyaring. Membuat seluruh murid bersuka ria menyambutnya. Setelah guru mengakhiri pelajaran mereka semua langsung berhambur keluar kelas dengan tujuan mereka masing-masing. Ada yang ke kantin, ke perpus, ke lapangan untuk sekadar bermain cabang olah raga favorite mereka dan sekadar menonton permainan itu.
Berbeda dengan Aruna, kali ini ia hanya menghabiskan waktu istirahat di kelas. Ia di bawakan bekal oleh Mamahnya lumayan banyak. Wisey yang awalnya ingin mengajak Aruna ke kantin akhirnya mengurungkan niatnya karena Aruna mengajak Wisey makan bekalnya bersama dan berdalih menghemat uang jajan. Benar sekali memang apa yang di katakan Aruna.
"Makan yang kenyang Sey!"
"Iyah Na. Nih lo makan juga gih. Bekel punya lo masa gue habisin. Sini gue suapin!" Tawar Wisey sudah mengambil sesendok nasi dan lauk untuk menyuapi Aruna.
"Ga ah ga mau. Kamu makan aja Sey aku udah kenyang juga"
"Lah, lo tuh ga ngehargain nyokap lo yang pagi-pagi udah masak buat lo" cecar Wisey kesal karena Aruna susah sekali untuk di ajak makan.
"Iyah iyah Sey bukan gitu. Aku cuma lagi ga nafsu makan aja" jawab Aruna lesu.
"Kenapa? Lo kepikiran sama gosip tadi pagi? Em?"
"Yah... ga juga si Sey. Lagi ga enak hati aja sama Pa Riega gara-gara dia nganter aku, malah dia jadi bahan gosip" terang Aruna.
"Yah Pa Riega ga akan nyalahin lo juga ko Na. Dia pasti bakal jelasin ke guru-guru lain ko tenang aja Nana sayang.... sekarang kamu makan dulu yah, Pa Riega pasti marah kalo kamu ga makan gara-gara mikirin dia loh"
"Ah, sok tau kamu Sey!" Kilah Aruna.
"Eh ga percaya, kalau kamu mikirin Pa Riega, pasti ga cuma dia yang marah, tapi cewenya juga bakalan marah! Udah mendingan sekarang makan yah, aku suapin kamu Nana!" Jelas Wisey menakut-nakuti Aruna.
Tetapi jelas sekali Aruna tak akan merasa takut karena yang sebenarnya Wisey maksud sebagai cewe Riega adalah dirinya, mana mungkin dia marah pada dirinya sendiri karena dia memikirkan kekasihnya itu.
'Ah, lucu sekali yah. Wisey tidak tahu kalau aku lah yang sedang dia bicarakan sekaligus dia takut-takuti' batin Aruna terkekeh.
"Buruan ini loh makan Nana!"
"Iyah-iyah Wisey sayang aku makan koo"
Arunapun menyendokkan makanan ke mulutnya dan mereka akhirnya menghabiskan waktu istirahat berdua di kelas. Memakan satu bekal berasama.
Wisey bercerita banyak mengenai hal semalam kenapa ia bisa pergi menonton bersama Zein, perasaan Zein pada Arunapun Wisey ceritakan. Zein sebenarnya sangat menyukai Aruna. Tak hanya sampai situ saja, Wisey memberitahu Aruna jikalau Zein minder sebenarnya jika dekat dengan Aruna, ia benar-benar ingin memiliki Aruna hanya saja rasanya saingan Zein banyak sekali.
Aruna yang mengetahui hal itu merasa tak enak hati karena Zein memiliki rasa terhadap dirinya. Aruna sebenarnya tahu hal itu, hanya saja dirinya lebih memilih bodo amat dan tak memperdulikan siapapun cowo yang mengejarnya.
Aruna merasa semua lelaki yang mengejarnya hanya sebatas melihat paras dirinya yang plus. Mereka tak tau sebenarnya keadaan Aruna itu seperti apa. Hal yang Aruna takutkan adalah jika mereka mengetahui tentang kisah hidup Aruna seperti itu, lalu suatu saat nanti paras cantiknya hilang maka mereka semua atau lelaki yang mengejar dirinya akan pergi membuangnya begitu saja.
Begitupun dengan Riega, Aruna benar-benar takut Riega akan meninggalkanya. Awal bertemu Riega, Aruna benar-benar tak ada rasa sedikitpun dengan gurunya itu. Sama seperti kebanyakan cowo-cowo sepantaran yang mengejarnya, Riega juga berusaha mendekati Aruna. Terlebih lagi Riega memiliki modus meminta maaf karena kejadian di trotoar saat Riega yang sedang terburu-buru waktu itu menabrak Aruna hingga membuat dirinya kesal.
Aruna membenci Riega saat itu, karena dia penyebab dirinya jatuh dan terluka. Yah, meskipun luka itu kecil tak seberapa tapi dia pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab mengobati lukanya. Awal Aruna mengetahui Riega adalah pelaku tabrakan itu saat ia mengikuti seleksi Vocal Group.
Ternyata yang menilai seleksi itu adalah Riega. Mas-mas yang waktu itu tak bertanggung jawab pada luka Nana. Jelas, Aruna merasa kesal. Ia mengikuti seleksi dengan asal-asalan supaya dirinya tidak lolos dan tidak bertemu lagi dengan Mas-mas ngeselin itu yang ternyata dia adalah gurunya.
Tapi tak disangka-sangka, dengan semua tes seleksi yang Aruna ikuti dengan asal-asalan itu ia termasuk dalam daftar nama peserta yang lolos seleksi menjadi anggota Vocal Group. Nana benar-benar tak menduga. Setiap kali latihan, Riega selalu berusaha menyampaikan kata maaf pada Aruna. Saat selesai latihan pun, Riega sempat memaksa Aruna untuk tinggal sebentar dan berbicara perihal kejadian tabrakan itu.
Dan saat itulah Riega berusaha menguak kisah hidup Aruna yang ternyata seperti itu. Terkadanh Aruna terlihat murung dan Riega peka terhadap perubahan sikap Aruna. Ia perlahan-lahan menarik ulur pembicaraan bersama Aruna supaya gadis itu mau untuk menceritakan kelub kesahnya.
Bahkan pernah di satu waktu. Aruna memiliki masalah. Ia murung dan tak sedikitpun bersemangat latihan. Sepulang semua anggota vocal group, Aruna masih berada di sana berdua bersama Riega.
Riega memulai pembicaraan, tapi Aruna merasa ragu untuk bercerita. Aruna bingung ingin mulai bercerita dari bagian mana. Hatinya kalut, masalah yang ia hadapi saat itu benar-benar berat baginya. Nana hanya diam tak bergemung sedikitpun. Ia menatap mata guruny itu. Ada gumpalan bening yang mulai berusaha memenuhi kelopak matanya dan siap meluncur indah di pipi halusnya itu.
Riega yang mengerti bagaimana perasaan Nana mulai membalas tatapan yang berkaca-kaca itu dengan lembut sambil mengelus puncak kepala Aruna, Riega berkata "Menangislah Na. Luapkan semuanya. Jangan ditahan itu cuma bakal jadi beban. Bapak siap mendengar keluh kesah kamu. Berbagilah jangan pendam semuanya sendiri kamu ga akan mampu Na, Bapak cuma takut sewaktu-waktu semua emosi yang kamu pendam akan jadi boomerang buat diri kamu sendiri Nana!"
Mendengar setiap kata semi kata yang Riega ucapkan, Aruna tak mampu membendung air mata yang sudah dengan kencang mendorong untuk keluar dari kelopak mata indahnya. Menangislah Aruna sejadi-jadinya, deras-begitu deras bagai air bah. Tapi Aruna tak mengeluarkan suara sedikitpun. Hanya air mata yang menggambarkan betapa pilu hatinya menahan semua beban hidup, menghadapi setiap masalah di hidupnya.
Perlahan Riega mulai menarik pundak Aruna mendekat pada dirinya. Menyandarkan wajah Aruna di dada bidang Riega, mebuat kemeja yang awalnya kering menjadi basah seketika dengan air mata Aruna. Aruna menangis tanpa suara, tubuhnya benar-benar terguncang kuat meluapkan segala emosinya dengan tangisa tanpa suara. Riega semakin khawatir. Ditengah-tengah dekapannya, Riega berkata kembali dengan nada begitu lembut dan menyentuh "Ungkapkan Na. Jangan seperti itu Na, itu menyiksa dirimu sendiri sayang. Teriaklah jika itu melegakan hatimu! Meskipun tak menghilangkan, setidaknya bisa meringankan bebanmu"
Aruna mendengar ucapan Riega seperti itu mulai berusaha menghentikan tangisanya, ia merasa sudah cukup dirinya meluapka kesedihan pada pria yang berstatus gurunya itu. Riega mulai mengendurkan dekapanya memberikan Aruna ruang gerak dan Aruna berusaha kembali duduk tegap. Dengan mata yang sedikit membengkak dan air mata yang belum kering, Aruna mulai menceritakanya.
Berbagi keluh kesah, keresahan, dan setiap permasalahn hidupnya. Baru kali itu ia berbagi dengan seseorang. Riega orang yang pertama membuat Aruna merasa terlindungi, nyaman, merasa dikasihi sebagai seorang wanita. Ia merasa bahwa Riega benar-benar peduli padanya.
Sejak saat itu dirinya mulai membuka diri untuk Riega. Hatinya terutama. Begitupun Riega ia mulai merasa ingin melindungi gadis kecil itu, melindungi gadis cantiknya itu. Sejak pertama bertemu ia sudah terpesona. Saat ia mengetahuo semua kisahnya, rasa dihatinya, debaran jantungnya untuk Aruna sudah berbeda. Dilubuk hatinya selalu ingin melindungi Aruna. Otaknya selalu berfikir mecari-cari bagaimana caranya untuk membuatnya bahagia, membuatnya selalu tersenyum dan membuat Aruna merasa selalu nyaman bila ada di sampingnya.
****
Setelah Bel istirahat selesai murid-murid termasuk Aruna dan Wisey kembali mengikuti pelajaran dengan khidmat.
Riega yang berada di ruang seni menghabiskan harinya tanpa mengisi jam pelajaran. Hari inu hanya ada dua jadwal mengajarnya. Di awal dan di akhir. Ia menghabiskan waktu-waktu kosongnya dengan memainkan beberapa alat musik. Memainkan chord-chord gitar dan juga keyboardnya mencocokkan berbagai macam nada. Manjadikan sebuah irama dan terciptalah sebuah lagu. Dalam kurun waktu beberapa jam saja, Riega mampu membuat satu lagu.
Fikiranya sedang sedih, memikirkan kekasih hati. Sejak pagi tadi setelah melepaskan helmet yang Aruna kenakan, dirinya tak melihat sedikitpun batang hidung Aruna. Hatinya benar-benar merindukan kekasih hatinya itu.
"Aruna Melati Defandra" gumamnya perlahan mengikuti gerakan tangan yang juga mengukirkan huruf-huruf kecil di sabuah kertas putih. Sebagai penanda dirinya sedang benar-benar rindu gadis kecilnya itu.
"Pulang nanti akan kubawa kamu kesuatu tempat sayang! Aku ingin menghabiskan waktu berdua bersamamu meskipun hanya sebentar!" Gumamnya sambil meletakkan gitar sembarang tempat dan menyandarkan tubuhnya di atas sofa empuk di ruang seni itu.
To be Continue...
Beri jejak like setelah membaca 😊 aku hanya meminta itu saja sebagai penyemangatku..
Ah iyah, kemarin aku lupa menulis alamat E-mailku supaya kalian bisa mengirim gambar Aruna dan Riega sebagai saran untukku.
Ini e-mailku: Adellajelek2@gmail.com
Terima kasih sekali lagi yah atas antusias para readers..
Maaf sekali aku lama update..
Aku sedang dikejar deadline simulasi-simulasi UKOM untuk mendapat sertifikasi BNSP🙃
Doakan aku yah kawan supaya aku lulus 🤗😇 aku jadi curhat kan maaf yah sekali lagi 😇🙏