Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
12



"Silahkan masuk tuan putri!" Riega membukakan pintu mobil dan Aruna masuk dengan wajah tersipu malu.


Riega berlari menuju kursi kemudi dan duduk disamping Aruna.


"Udah siap sayang?" Tanya Riega


"Udah sayang. Tapi aku telpon mamah dulu yah kamu izin ke mamah!"


"Oh oke"


(Tuuut,,tuuut) suara sambungan telpon yang belum di angkat oleh mamah Aruna.


"Halo?!" Sapaan terdengar dari sebrang telpon.


"Halo Mah?" Sapa Aruna.


"Iyah sayang, sudah mau berangkat kah?"


"Iyah ini mah. Aku udh di dalem mobil sama Pa Riega. Dia mau izin nih sama Mamah"


"Oke mana sayang?" Tanya Mamah Riris.


"Nih Pak!"


Aruna menyerahkan Hpnya kepada Riega sambil berbisik. "Yang bener izinya Pa!"


"Oke" balas Riega dengan berbisik juga sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Halo?" Sapa Riega


"Iyah Halo?"


"Dengan Mamah Riris?"


"Iyah benar. Ini Pa Riega kan?"


"Iyah Mah"


"Ah, Pa Riega panggil saya nama saja ga apa-apa"


"Eh, saya masih umur 27 tahun ko Bu. Jadi, boleh kan saya panggil Mamah?"


"Oh, masih muda dong yah. Yaudah senyamanya mau panggil apa saja Nak!" ujar Mama Riris ramah sekali.


"Ah iyah Mah, Riega mau ajak Aruna buat nonton Kesenian Teater di Alun-Alun Kota. Kebetulan Riega akan tampil di sana dan juga Aruna sedang mempelajari kesenian itu. Disana juga akan ada teman-temanya Mah" ucap Riega panjang lebar.


"Oh, begitu Nak. Yasudah sebenarnya Aruna ga pernah Mamah izinin untuk keluar malam apalagi kalau ga ada tujuan penting. Kali ini Mamah izinin yah, karena ada tujuan penting dan itu kalian ga cuma berdua. Jadi Mamah percayain Aruna sama kamu yah Nak Riega!"


"Siap Mah. Riega akan jagain Aruna dengan baik ko Mah"


"Ya sudah jangan terlalu larut pulangnya. Salamin ke Aruna Mamah mungkin bakal pulang larut karena masih ada kerjaan tambahan juga diperjalanan ga tau bakal macet atau ga yah Nak Riega!"


"Oh, oke Mah siap!"


"Hati-hati Nak! Jangan ngebut-ngebut!"


"Oke Mah. Selamat malam!"


"Malam Nak. Pay-paaay!" Tutup Mamah Riris mengatakan kalimat penutup yang biasa digunakan Aruna dan Mamah Riris saat berpamitan ataupun menutup telpon.


"Emmm.." Gumama Riega bingung.


"Ehh, hehe yasudah Mamah tutup telponya yah Nak!" Kata Mamah Riris langsung menutup pembicaraan karena mengerti bahwa Riega tidak paham dengan kalimat penutup itu.


"Oke Mah"


(Tuut,, tuuut,,) sambungan telpon terputus. Riega langsung memberikan kembali handphone Arunanya.


"Gimana sayang?"


"Diizinin ko cantiikk..." ujar Riega menjiwit gemas pipi Aruna.


"Aaawwwhhh iiih, Bapak nakal banget siiih"


"Ahahhaah, aku seneng sayang. Yaudah kita berangkat?" Tanya Riega.


"Oke!"


Riega langsung tancap gas menuju ke tempat tujuan mereka. Aruna merasa senang sekali karena Riega berhasil mendapatkan Izin dari Mamahnya. Di sepanjang jalan, Aruna hanya tersenyum sambil bermain handphonenya tak jarang ia juga mencuri kesempatan melirik-lirik kekasih tampannya itu.


Riega hanya diam dan fokus menyetir sambil sedikit-sedikit bersenandung mengahafal lirik-lirik lagu yang akan ia nyanyikan. Hatinya sedang berbunga-bunga karena mendapat restu membawa Aruna pergi bersamanya. Untuk pertama kalinya juga ia berkomunikasi dengan calon mertuanya:v


'Ahahah senang sekali rasanya mendengar suara merdu calon mamah mertua' batinya berbunga-bunga.


Mereka sedang bahagia dengan fikiran dan batin masing-masing. Sehingga tak ada perbincangan yang berarti selama perjalanan.


****


Aruna dan Riega telah sampai di Alun-Alun Kota. Suasana disana sudah sangat ramai. Ternyata antusias para warga begitu besar untuk menyaksikan pertunjuan Seni Teater ini.


Aruna yang menggunakan dress selutut berwarna biru dongker yang ditambah sentuhan warna putih terlihat begitu mempesona, ditambah dengan wajahnya yabg cantik bak bidadari itu, membuat banyak mata yang tertuju padanya. Tidak hanya kaum pria saja, tapi beberapa wanitapun meliriknya. Mereka merasa kagum akan keayuan wajah Aruna. Tidak jarang juga ada yang merasa iri dengan kecantikannya.


Riega yang merasa tak suka dengan pandangan mereka pada Aruna yang semakin membuas, langsung menggenggam tangan Aruna dan menuntunya agar segera ke belakang panggung menemani Riega. Mereka berdua duduk di sebuah kursi panjang di belakang panggung.


"Sayang, aku ga suka sama mereka!"


"Kenapa?"


"Kamu udah kaya bahan tontonan aja bagi mereka"


"Sayang, kamu cemburu yah?"


"Iyah aku ga suka kamu diliatin begitu"


"Ya sudah sayang. Mereka cuma bisa liatin aku. Tapi cuma kamu yang bisa milikin aku kan?"


"Hmm, iya deh sayang.. kamu selalu aja bisa buat rasa khawatirku sirna sama kata-kata kamu" ujar Riega mengelus pipi Aruna dengan penuh kasih sayang.


"Iyah sayang, yaudah sana siap-siap dulu"


"Oke sayang. Tunggu disini yah jangan kemana-mana. Aku cuma sebentar, nanti aku balik lagi. Aku titip Handphone dan dompetku sama kamu yah sayang" ujar Riega bangun dari posisi duduknya dan membungkuk sedikit mencium kening Aruna.


Cup.


Aruna memejamkan matanya menikmati kecupan singkat dari Riega dan membukanya lagi saat itu Riega sudah pergi berjalan menuju ruang ganti untuk bersiap-siap.


Aruna menunggu Riega dengan memainkan ponsel pintarnya. Melihat-lihat ke aplikasi sosial media barang kali ada hal menarik yang bisa ia baca. Tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menyentuh pundaknya.


"Aruna?!" Panggilnya


"Eh..." Aruna terkejut melihat siapa yang mengagetkanya itu.


"Bu Sharen?"


"Lagi apa disini Aruna?"


"Eem.. eh.. anu Bu saya lagi mau nonton aja" jawab Aruna gugup.


"Oh, kenapa duduk disini? Kalau mau nonton yah duduk di kursi penontonlah Aruna. Atau kalau kamu ga punya tiket bisa berdiri aja di pembatas penonton sana!" Ujar Sharen dengan nada tak suka.


"Ah, iya Bu maaf saya sedang tunggu teman aja di sini ko. Saya juga punya tiket sudah ada nomornya juga jadi saya ga perlu khawatir kehabisan kursi Bu"


"Oh begitu. Tapi disini untuk para pemain buakn untuk penonton. Lebih baik kamu disana saja Na!" Perintah Bu Sharen sinis.


"Hmm, yasudah Bu, saya kesana saja. Lagi pula saya juga ga betah disini!" Ujar Aruna langsung pergi meninggalkan Bu Sharen.


"Dasar gadis sialan!" Geram Sharen yang bisa di pastikan tidak akan terdengar Aruna karena ia sudah belari menuju ke tempat duduk dimana ia mendapatkan nomor kursinya.


Setelah itu Sharen segera menuju masuk ke ruangan khusus pemain. Karena ternyata Sharen adalah salah satu pemeran teater itu. Knop pintu sudah Sharen pegang dan


(Cklek!)


Ada seseorang juga yang membuka pintu itu. Ternyata setelah pintu itu terbuka ada sosok pria yang Sharen kenal. Ternyata dia adalah Riega.


"Eh, Riega?!" Sapa Sharen


"Bu Sharen?!" Balas Riega bingung.


"Sharen Ga. Aku bukan Ibu mu" ujar Sharen kesal.


"Ah iyah. Sharen sedang apa di sini?"


"Saya ngisi teater Ga. Kamu ngapain juga disini?"


"Saya ngisi Backsoundnya. Saya baru tau kalau kamu ikut ini"


"Ahahah iyah nih Ga. Lagian saat latihan aku juga jarang liat kamu Ga dan waktu itu aku belum kenal kamu"


"Ah iyah, aki juga waktu itu jarang ikut latihan karena sibuk juga sih. Yasudah kamu ganti baju dulu sana. Aku mau keluar cari temanku" ujar Riega.


"Oh iyah aku belum ganti baju. Yasudah aku masuk dulu yah Ga"


"Oke"


Setelah Sharen masuk untuk bersiap-siap, Riega langsung berlalu untuk menemui Arunanya di tempat duduk tadi. Saat ia kembali untuk melihat Aruna, ternyata yang sedang dicari sudah lenyap tak tersisa. Riega yang terkejut larena kekasihnya menghilang langsung mencari Handphonenya untuk menghubungi Aruna.


Riega meraba-raba seluruh saku baju dan celananya. Ternyata tak ada handphone miliknya.


"Ah, iya handphoneku ada di Aruna. Haiiisssh, kemana kamu sayang?" Gumam Riega khawatir.


Riega akhirnya memutuskan untuk segera mencari keberadaan Aruna. Tapi saat ia hendak melangkahkan kakinya, ada seseorang yang menggandeng tangannya.


"Riega, Ayo bersiap!" Ujar seseorang itu.


To Be Continue..


Jangan lupa Like yah guys.. ๐Ÿ’› aku merasa khawatir dengan jumlah readers dan likenya niicchh๐Ÿ˜Š


Tetap enjoy membaca ceritaku yah.... ๐Ÿค—


๐Ÿ’›