Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
58



"Halo?!" Sapa seseorang di sebrang telpon.


"Wisey?!" Panggil Aruna yang sedari tadi sudah menunggu sahabat satu-satunya itu mengangkat telponya.


"A-aruna? I-ini benaran lo Na?" Tanya Wisey gelagapan sambil berusaha menyadarkan dirinya yang baru saja tersadar dari tidurnya.


"Iya Sey, ini aku Aruna sahabat kamu Sey! Temen sebangku kamu!" Jawab Aruna semangat.


"Aaah, Arunaaaaaaaaa! Lo selamat kan? Baik-baik aja kan ga ada yang luka atau.."


"Wisey, aku ga apa-apa sehat wal-afiat kok! Kamu ga usah khawatir!" Jelas Aruna meyakinkan Wisey sahabt tercintanya.


"Gimana gue ga khawatir Na? Lo ngilang, di culik gitu aja sama orang jahat yang ga di kenal dan lo ga ada kabar sama sekali. Nyokap lo lagi ke luar kota dan gue tanya Pa Ramikan dia juga nyuruh gue tenang! Gimana bisa tenang, Pa Riega bahkan ngilang sejak lo juga ngilang! Pihak sekolah bahkan gue tanya ga tau apa-apa! Gue takut ga bisa ketemu lo lagi Na.... hiks-hiks-hiks..." Cerocos Wisey penuh dengan emosi dan perasaan yang tak bisa di kendalikan.


"Cup cup cup.. jangan sedih Wiseyku sayang. Sekarang aku selamat dengan lengkap. Pa Riega ngilang karna nyelamatin aku Sey dan nanti aku bakal ceritain juga ke kamu tentang..."


"Cerita Na! Lo harus cerita sama gue!" Potong Wisey dengan cepat.


"Iya Sey tapi ga di telpon, pulsaku mana cukup.. hihihi!" Kekeh Aruna karena sikap sahabatnya yang berlebihan itu.


"Yaudah jam 8 nanti gue ke rumah lo! Tunggu gue siap-siap!" Ujar Wisey dengan cepat.


"O-oke!" Jawab Aruna terkejut karena tiba-tiba saja sambungan telponya terputus dengan Wisey.


Saat itu waktu menunjukkan pukul 18:36 Aruna baru saja selesai membersihkan tubuhnya dan mengenakan pakaian. Setelah sambungan telepon dengan Wisey terputus, Aruna langsung turun ke bawah untuk menyantap makanan yang pastinya sudah di siapkan oleh Bi Sumi.


"Non udah bangun? Ayo makan Non!" Sapa Bi Sumi dan langsung menyediakan makanan untuk Aruna.


"Iyah Bi.. Em, nanti Wisey mau ke sini Bi" ujar Aruna dan mengambil posisi duduk di kursi makan.


"Eh, Non Wisey mau kesini? Bukanya kemarin Non udah nginep lama banget di rumahnya Non Wisey?" Tanya Bi Sumi bingung.


"Eh, em... I-iya Bi Aruna ga nyaman tidur sendirian." Jawab Aruna sembarangan.


"Oh begitu Non.. yasudah makan yang nikmat Non, Bibi mau ke belakang.."


"Eh eh Bi.. ngomong-ngomong Bi Sumi tau dari mana saya nginap di rumah Wisey?" Tanya Aruna penasaran.


"Pa Ramikan yang bilang Non. Katanya Non mau nginap sementara waktu di sana sampai Nyonya pulang.." jawab Bi Sumi.


"Oh iya Bi saya lupa kalau Pa Ramikan tau, hehe. Yaudah Bi saya makan dulu Bi Sumi juga disini aja makanya bareng saya.." jawab Aruna lagi dan mengajak Bi Sumi makan bersama.


"Ah, ga usah Non saya di belakang aja. Masih ada yang harus Bibi kerjain dulu Non.."


"Emm yaudah deh Bi.."


"Iya Non.. Selamat makan..." Bi Sumipun berlalu menuju dapur.


Selesai makan Aruna menuju ke ruang tv untuk bersantai sejenak sambil mengutak-atik handphone miliknya. Ia melihat ada banyak sekali notifikasi yang masuk di handphone. Khusunya Whatsapp. Ia membuka dan melihat-lihat pesan apa saja yang masuk dan ada beberapa panghilan tak terjawab.


"Emm, cuma dari grup aja. Kalau telpo..." Aruna mulai membuka riwayat panggilan.


"Ah, Mamah telpon aku sampai sepuluh kali?!" Aruna terkejut ia tak melihat ada pesan masuk dari mamahnya tapi ada sepuluh panggilan tak terjawab dari mamahnya itu.


"Ah, pasti mamah khawatir banget nih..." Aruna langsung menekan opsi panggil pada layar handpohonenya dan tak menunggu lama sambungan telepon itu terhubung.


"Halo Mah?!"


"Halo sayang? Nana kamu kemana aja kemarin? Mamah telpon ga kamu angkat sama sekali? Mamah khawatir banget! Pa Ramikan bilang kamu tidur di rumah Wisey apa benar?" Tanya Mamah Riris bertubi-tubi.


"Mah aku em, kemarin nginap di rumah Wisey dan batre hp Nana low dan lupa bawa charger. Wisey ga ada charger yang sama kaya hp Nana alhasil kemarin seharian sampai tadi baru aku charge dan sekarang baru aku liat notif dari Mamah.." jelas Aruna panjang lebar berusaha meyakinkan Mamahnya dengan alasan yang menurut dia masuk akal.


"Lain kali jangan buat Mamah khawatir yah sayang. Mamah ga tenang buat jalanin kerjaan. Selalu kepikiran kamu. Apalagi kemarin malam Mamah ada kejadian aneh.."


"Mah, mah.. udah ah jangan mikir yang gak-gak. Aku baik-baik aja dan Mamah ayo cepat pulang.. Malam ini Wisey yang tidur di rumah" ujar Aruna berusaha mengalihkan pembicaraan agar tak membahas hal yang berkaitan dengan kemarin malam.


"Yasudah sayang.. hati-hati di rumah yah.."


"Love you to sayang.. Pay-pay.."


"Pay Maaaah.." Aruna langsung mengakhiri sambungan telpon itu.


Saat Aruna hendak mengambil cemilan ke dapur, terdengar bel rumahnya bedering. Ia langsung mengubah haluan dan berlari kecil ke arah pintu utama untuk melihat siapa yang datang.


Tepat saja seperti dugaanya bahwa Wiseylah yang datang. Tanpa ba-bi-bu Wisey langsung menyerang sahabatnya itu dengan pelukan yang erat.


"Aahh... Na! Lo baik-baik aja kan? Lo ga ada lecet lan? Ga ada luka kan? Lo sehat? Lo--- (hup!)"


"Ssstt.. Wisey kamu berisik banget ih! Ayo masuk dulu baru aku cerita!" Ujar Aruna dan menarik Wisey setelah menutup pintu rumahnya.


Aruna menyeret Wisey dengan tergesa-gesa menuju kamarnya. Wisey benar-benar tak sabaran untuk mendengar cerita apa yang akan Nana sampaikan padanya.


Sesampainya di kamar Aruna dan ia menutup serta mengunci pintu kamarnya, Wisey kembali tancap gas untuk terus mengoceh.


"Sstt! Ssst! Ssst! Sey, kamu sabaran dikit dong! Kalau Bi Sumi sampai tau aku di culik bisa-bisa Mamah juga bakal tau. Oke, sekarang aku bakal ceritain semuanya ke kamu Sey! Tapi, harus janji!"


"Janji?"


"Iya.."


"Oke, apa janjinya?"


"Janji sama aku kalau kamu ga akan kasih tau semuanya ke siapapun dan janji kamu jangan nyela perkataanku sedikitpun, oke?" Aruna langsung mengacungkan kelingkingnya tepat di depan wajah Wisey.


"Emm, oke I promise Nana!" Wisey membalas acungan kelingking Aruna dan menautkanya seraya mengucap janji itu.


"Jadi, awalnya..."


Aruna mulai menceritakan setiap detil kejadian yang ia alami dan bagaimana ia menderitanya berada di genggaman Sharen yang ternyata adalah Kakak tirinya itu.


Saat menceritakan kejadian itu, sesekali Aruna meneteskan air matanya mengingat begitu menyakitkannya kehilangan seorang Ayah hingga bagaimana ia mengetahui Sharen yang ternyata begitu menderita hidupnya karena jalan takdir yang Tuhan berikan. Begitu rumit semua kejadian itu.


Wisey yang mendengarkannya begitu tercengang mendapati bahwa Sharen adalah kakak tiri Aruna dan mengetahui bahwa Tn. Defandra yang adalah Ayah Aruna dan juga Sharen malah tewas di tangan Sharen. Ia begitu tercengang hingga yang biasanya Wisey sangat cerewet dan selalu mencekal perkataan Aruna menjadi bungkam seribu bahasa.


Wisey juga sesekali merangkul dan memberikan sentuhan hangat pada pundak Aruna seraya memberikan kekuatan pada sahabatnya. Hingga pada saat Aruna menceritakan bagaimana Riega menyelamatkannya, Wisey mulai heboh dan ia mulai sedikit demi sedikit terkagum-kagum juga tercengang ia tak menyangka bahwa Pa Riega dan Caca yang adalah adik kandung dari gurunya adalah seorang penyelamat yang sungguh keren sekali.


Wisey bahkan berteriak histeris karena mendengar Aruna pingsan melihat Riega menusukkan sebuah pisau dalam satu kedipan.


"Aaaaaah... Nanaaaa.... Kenapa? Kenapa lo harus pingsan? Lo kan jadi ga bisa tau kelanjutannya Naaaaa?!" Teriak Wisey dengan histeris.


"Ssssstt! Wisey aaaah, jangan teriak-teriak udah malem ih!"


"Iya abisnya lo kenapa harus pingsan coba, kenapa?"


"Ya aku ga tau Sey. Aku takut liat begituan dan aku juga waktu itu laper banget dari malam sampe ketemu sore hari ga sedikitpun makan. Kepala aku juga pusing dan.."


"Cup-cup-cup.. Sini Nana sayang aku puk-puk.." Wisey langsung memeluk Aruna dan meletakkan kepalanya di bawah ketiaknya sambil menepuk-nepuk pelan kepala Aruna.


"Wisey, ah kamu lebay deh!"


"Uuh, Nana disayang malah ga mau. Ya udah gue laper Na bangun tidur langsung siap-siap terus packing buat nginep. Ga sempet makan ayo makan!" Ajak Wisey dan menarik tangan Aruna.


"Eh-eh iya Sey pelan-pelan dong!"


Akhirnya mereka berdua turun untuk makan. Aruna hanya menemani Wisey saja karena dirinya sudah makan malam sebelum Wisey datang.


Kedua sahabat yang memang suadah dekat sejak pertemuannya di sekolah sebagai teman sebangku itu menghabiskan malam dengan keseruan dan kehangatan yang semakin menambah keeratan hubungan tak kasat mata itu.


Baik Aruna maupun Wisey menyadari mereka saling membutuhkan satu sama lain. Dimana saat dirinya dirundung masalah maka salah satu diantara keduanya pasti menguatkan.


To be Continue...


😙😙😙😙😙