
"Kuingin kau.. hemhemhem.. dalam setiap waktuku..
Kuingin kau.. hemhemhem... hanya untukku..."
Aruna bersenandung merapalkan lirik-lirik lagu milik Riega yang diciptakan untuknya sambil mengenakan pakaian santainya untuk malam ini. Aruna sekali mendengar langsung benar-benar menyukainya.
'Aah, Riega selalu aja buat fikiranku mikirin dia terus' batin Aruna sambil tersenyum.
Selesai menggunakan kaos longgar dan hotpants, Aruna langsung keluar kamar dan menuju ruang tv menemui mamahnya. Niatnya ingin bercerita tentang hubungannya dengan Riega pada mamahnya gagal karena ternyata Mamah Riris tiba-tiba saja mendapat panggilan kerja dadakan.
"Mah mau kemana buru-buru banget? Bawa koper segala lagi?"
"Nana, maafin mamah ya. Mamah ada panggilan tugas buat ke luar kota selama seminggu"
"Lah, ko dadakan banget sih mah? Aku kan jadi sendiri di rumah" rengek Aruna tidak mau di tinggal oleh mamahnya.
"Sayang... anak mamah yang cantiik, bisa ngertiin mamah kan? Nana boleh ajak sahabat Nana buat nginep disini selama mamah ga ada. Tapi inget, cewe bukan cowo!"
"Yah, padahal baru kemarin mamah keluar kota"
"Sayang... jangan buat mamah berat untuk berangkat dong" pinta Mamah Riris lembut sambil mengusap puncak kepala Aruna.
"Iyah Mah.. ya sudah nanti aku ajak Wisey nginap disini. Mamah jaga diri disana. Kalau tugas sudah selesai langsung kembali!" Ujar Aruna dengan nada manjanya sambil merangkul-rangkul pinggang mamahnya itu.
Aruna memang begitu manja pada orang tua tunggalnya itu. Sejak kecil memang Aruna begitu dekat dengan mamahnya. Pa Ramikan sang supir pribadi keluarga Aruna pun sudah biasa melihat moment seperti itu. Saat inipun dirinya lagi-lagi melihat kejadian itu.
Pa Ramikan selalu memaklumi sifat manja anak majikannya itu, karena memang Aruna sejak kecil sudah di telantarkan oleh Ayahnya. Untung saja Mamah Riris selalu tegar dan mampu hingga bisa sesukses saat ini. Pa Ramikan begitu salut dengan Bosnya itu.
"Bu, semuanya sudah siap. Tiket pesawat juga sudah di pesan via online keberangkatan tepat pukul 21.00"
"Oh baik! Pak Ramikan bisa tunggu saya di dalam mobil Aruna masih ingin berbincang dengan saya beberapa menit"
"Siap Bu!" Pa Ramikan berlalu menuju mobil meninggalkan sepasang anak dan Ibu yang saling bermanja-manja.
Aruna masih dengan posisi memeluk pinggang Mamahnya.
"Na, kalau mau ada yang di bicarain nanti via telpon aja yah?"
"Ga mau!" Jawab Aruna mengerucutkan bibirnya.
"Sayang... sudah mau lulus sekolah ko masih manja?"
"Ga boleh ya mah?" Tanya Aruna.
"Ga ko, boleh banget. Tapi Mamah ada kerjaan, Aruna sayang bisa cerita sama mamah nanti saat mamah udah sampai tujuan yah?"
"Hmmm, ga enak kalau cerita via telpon mah, aku tunggu mamah balik aja deh nanti aku ceritain semuanya"
"Ya sudah sayang. Mamah usahakan secepatnya mamah bakal pulang"
"Oke deh Mah. Aku tunggu!"
"Siap sayang"
"Hati-hati mah. Pay-paaaaay!" Aruna memberikan salam perpisahan pada mamahnya dengan sangat manja.
"Paaay anak mamah yang paling cantiiiik. Muuaaachh!" Mama Riris mengecup kening Aruna dengan penuh cinta.
Aruna mengantar mamahnya sampai ke mobil dan membantu membawakan koper milik mamahnya. Pa Ramikan yang memasukkan ke dalam bagasi. Mamah Riris masuk ke dalam mobil dan Pa Ramikan menyusul.
Mobil itu segera pergi dan tinggallah Aruna sendiri di sana. Ia masuk dan langsung mengunci pintu rumahnya khawatir dirinya tertidur dan lupa mengunci pintu. Ia benar-benar takit hal buruk terjadi padanya.
Aruna langsung menuju ke kamarnya. Mancari keberadaan smartphonenya dan mulai mencari kontak Wisey di penyimpanan telponnya. Ia menelpon Wisey.
Tuuut,, tuuuut,, tuuut,,
"Halo?" Terdengar suara dari sebrang telpon.
"Hai sey?"
"Ada apa Na? Tumben lo malam-malam telpon?"
"Ah, sory Sey. Aku ganggu yah?"
"Lebay lo Na. Gue lagi santuy aja!"
"Ooh, oke. Sey, aku sendiri di rumah. So..."
"Apa? Lo sendiri Na?" Teriak Wisey dari tempatnya berada memutus ucapan Aruna dan benar-benar memekakan telinga. Aruna langsung menjauhkan handphone dari telinganya.
"Aduuh, jangan teriam dong Sey. Iyah aku sendiri Mamah ada dinas dadakan selama seminggu malam ini dihubungin malam ini juga otw" jawab Aruna dengan nada kesal.
"Ya ampuun ko bisa lama banget dan dadakan gitu yah, padahal kalo jauh-jauh waktu gue bisa temenin lo nginep disana" ujar Wisey.
"Iya nih. Jadi aku mau minta kamu temenin aku di rumah Sey. Kamu tau aja deh maksud aku telpon kamu. Heheheh" ujar Aruna terkekeh.
"Alah lo Na. Gue ini sahabat lo. Yaudh gue besok ke rumah lo. Sekarang ga bisa lagi ada acara di rumah gue ni. Sorry yah. Sekalian sekolah gue bawa barang-barang buat nginep di rumah lo" cerocos Wisey tanpa jeda.
"Iyah iyah ga apa-apa ko Sey. Besok pokonya jangan lupa. Yaudh aku tutup dulu yah telponya. Maaf ganggu Sey"
"Santuy Na. Yaudh lo tiati di rumah jangan lupa makan!" Uhar Wisey.
"Oke Sey tencuuuuu sayangkuuu"
"Sama-sama sayaang. Bye-bye"
"Bye"..
Tuuut,tuuut.
Sambungan telepon terputus dan tinggallah Aruna sendiri di kamar. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Bete sendiri. Ia tak tenang tidur sendiri. Takut-takut terjadi apa-apa di rumahnya.
"Hmmmzz, Pa Riega lagi apa yah? Tumben ga ngontek aku sama sekali." Gumam Aruna.
Ia kembali membuka handphonenya mengecek siapa tahu ada pesan masuk dari guru tercintanya itu.
(1 pesan Whatsapp dari Riega 💛)
Nada dering pesan di handphone Aruna tiba-tiba berbunyi.
"Eh, baru aja di omongin"
Aruna langsung membuka pesan whatsapp yang masuk dari Riega.
"Sayang, lagi apa?" (Read)
"Aku lagi tiduran aja nih. Pa, aku sendiri di rumah ga bisa tidur nih :')" (send)
"Kenapa sendiri? Mamah kemana?" (Read)
"Mamah ada dinas keluar kota selama seminggu Pa" (send)
"Ah, kekasihku sendirian di rumah. Berani ga, atau mau aku temani?" (Read)
"Aku berani Ga. Cuman, aku ga bisa bobo." (Send)
"Hmmz, kalau aku kesana dan tidur bareng, aku takut khilaf sayang. [-,-]" (Read)
"Ga ah, aku juga ga mau Pa. Kamu kan jmannya lemah kalau dekat aku, hihihi :v" (Send)
"Ahahah, iyah sayang. Gimana kalau Riega temenin Aruna video call sampe sengantuk-ngantuknya Aruna dan bobo?" (Read)
"Hmmz, tapi kalau aku masih ga bisa bobo? :p" (Send)
"Aku nyanyiin biar bobo (°>°)" (Read)
"Ahahah yaudah kita coba aja deh Pa (~,~)" (Read)
Tanpa berfikir lama, Riega langsung mendial nomor Whatsapp Aruna dengan video call. Tak butuh waktu lama, Aruna langsung mengangkatnya.
"Malam sayang?"
"Hm.. malam juga Pa" jawab Aruna malu-malu. Karena itu adalah pertama kalinya mereka bervideo callan.
"Kenapa gugup sayang? Hemm?" Tanya Riega menyunggingkan senyum nakal.
"Aah, apa Bapak ga punya baju?" Ujar Aruna benar-benar merasa malu karena Riega saat itu hanya menggunakan kaos dalamnya.
"Hmm, aku gerah sayang. Lagipula aku kalau tidur memang begini"
"Tapi kan.. em.. yaudah deh Pa" Aruna gugup karena tak biasa melihat Riega dengan pakaian terbuka seperti itu. Tubuhnya benar-benar bagus atletis dan sexy. Ah, buat Aruna jadi benar-benar semakin malu. Karena Aruna memang tak sering melihat hal seperti itu apa lagi dia adalah kekasihnya. Biasanya saja ia melihat lelaki tanpa baju hanya saat dia renang saja. Selainnya, ia tak pernah.
"Kenapa, kamu ga suka, atau....kamu tergoda yah? Hayoooo..."
"Ah, gak ko Pak. Ih, aku ga biasa liat Pa Riega begitu."
"Hmmz, nanti sudah jadi istriku pasti tiap hari liat ko sayang" ujar Riega terus menggoda Aruna. Ia sangat suka dengan wajah Aruna yang malu-malu begitu.
"Iih, mikirnya terlalu jauh deh Pak"
"Ahahah, yaudah iyah sayang maaf yah. Hmmm, dari tadi panggilnya Pak mulu. Aku nih pacar kamu, kekasih hati kamu, bukan bapak-bapak apalagi aku belum punya anak dari kamu kan? Hehehe" ujar Riega terkekeh terus menggoda kekasihnya itu.
"Iih, iya iya sayang iya udh jangan bahas itu ah, masih lama Riega"
"Heheh iyah deh iyah cantikku. Hmm, jadi Mamah kenapa bisa pergi dadakan gitu?"
"Iya, tadi mamah dapet telpon sih kayanya, ga tau aku juga pas aku baru turun habis mandi mamah udah bawa-bawa koper gitu. Au sempet ngambek tadi, tapi mamah akhirnya pergi juga Ga..." jelas Aruna manja.
"Uuh, sayangku kasian banget sih. Kalau gitu besok aku temenin deeh"
"Eh, ga usah Riega. Besok Wisey nginep di rumah aku"
"Masa? Ko ga ngajak aku aja sih cantiik" goda Riega mengedip-ngedipkan sebelah matanya.
"Ih, aku ga mau sayang. Kamu tuh nakal!" Ujar Aruna.
"Ahahaha iya deh iyah sayang aku memang nakal, tapi kamu sayangkan?"
"Hoooaamm.. iyah aku sayang banget malahan Ga. Aduuh aku mulai ngantuk niih"
"Makasih sayang. Eh, yaudah bobo gah sayang besok sekolah. Nanti aku jemput aja yah?"
"Eh, ga usah di jemput deh Pa. Ada Pa Ramikan aku sama dia aja di antar"
"Hmm... yaudah deh sayang.." jawab Riega dengan wajah murung.
"Jangan si tekuk dong wajahnya Riegaku."
"Hihihi iyah sayangkuuu. Yaudah geh sayang bobo aja duluan aku masih ada yang mau dikerjain."
"Siap Pak. Makasih yah udah mau temenin aku Pak"
"Iyah sama-sama sayang. Selamat tidur cantikku.. Mimpi Indah, jangan lupa mimpiin aku selalu sayang.. I love you so much much much Nana!" Ujar Riega dengan nada manjanya.
"Ahahah iyah sayang kamu juga jangan tidur terlalu malam. Tubuh kamu butuh istirahat. Yaudah sayang I love you more more more kasihku.. mmmuaaachh" balas Aruna tak kalah manja dan begitu mesranya mereka.
"Oke sayang, aku matiin yah. Bye sayang mmuuuaaachhh" Riega pun langsung mematikan sambungannya pada Aruna.
Aruna langsung meletakkan smartphonenya di nakas samping ranjangnya dan mulai menaikkan selimutnya memejamkan matanya dan mulai tertidur. Terlelap sendiri dan terbuai dalam mimpi-mimpi indahnya.
Sedangkan Riega di tempatnya sana. Ia berbaring dengan hati yang berbunga-bunga. Untuk pertama kalinya Aruna mau di ajak dirinya video call (VC).
"Ah, rasanya ingin segera menikahinya. Memiliki Aruna seutuhnya adalah impian terbesarku. Cepatlah lulus sayang" gumam Riega memejamkan matanya membayangkan betapa indahnya nanti jika Riega berhasil memiliki Aruna tanpa ada yang bisa mengganggu hubungannya.
To be Continue...
Jangan lupa berikan jejak setelah membaca dengan klik tombol jempol yah sayang-sayangkuuuu😘😘😘