Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
24



Ceklek!


Caca membuka pintu ruang seni. Riega yang sedang bersenandung lagu yang baru saja siang tadi ia ciptakan khusus untuk Aruna, langsung berdiri dan berjalan mendekati Caca. Rencananya ia hari ini ingin mengajak Aruna pergi ke taman tempat mereka melihat senja waktu itu. Riega ingin menyanyikan lagu ciptaanya tadi yang didedikasikan untuk kekasih yang paling ia cintai itu. Tapi malah seperti ini kejadiannya.


"Dimana Nana Ca?" Tanya Riega.


"Dia balik Ka!"


"Sama siapa?" Tanya Riega kaget karena Aruna sudah pulang.


"Naik Ojol Ka. Lo kenapa sampe nyakitin dia Ka?"


"Kenapa lo biarin de? Gue ga bermaksud de. Tentang foto itu gue bisa jelasin dengan rinci dan gue beneran ga ada maksud lebih gue cuma mau nolong si Sharen de!"


"Udah gue bilang Ka! Lo jangan pernah deket-deket dia. Ini yang bakal terjadi kalau lo sampe nyakitin Aruna."


"Deeek.. lo jangan bikin gue makin takut dong. Gue sayang banget sama cewe gue de. Bantuin gue de.. Pleessse! Tadi Nana ngomong apa aja Ca sama lo?" Mohon Riega pada Caca dirinya benar-benar takut kehilangan Caca.


"Lo tadi lama dari mana sebelum ke ruang seni Ka?" Tanya Caca.


"Gue ke UKS jenguk Sharen ternyata dia udah balik kata Bu Zeze dan gue sempet ngobrol sama Bu Ze kalau Sharen baik-baik aja udah gitu doang de!" Jelas Riega pasrah.


"Lo bego yah Ka? Udah gue bilang cewe itu licik! Gue ga suka lo deket sama dia!" Geram Caca


"Iya terus Aruna bilang apa tadi ke lo?" Tanya Riega lagi.


"Dia cuma diem! Gue ga bisa berbuat apa-apa. Gue nemuin dia lagi nangis di toilet tadi. Pas gue datang, gue langsung meluk dia dan dia minta gue untuk pesenin ojol dan gue lakuin. Gue tau gimana perasaan Nana sekarang jadi gue ga mau ganggu dia dulu." Jelas Caca lugas kepada Riega.


"Gue emang bener-bener bego! Aaaarrrrrrgggghh!!" Teriak Riega frustasi mengacak-acak rambutnya


"Udah Ka! Bukan waktunya buat nyalahin diri sendiri dan teriak-teriak gitu! Sekarang lo ke rumah Nana anterin tuh tas sama handphone dia dan lo ngomong berdua sama Nana baik-baik!" Ujar Caca memberikan saran supaya Riega tidak terlambat meminta maaf kepada Aruna dan menjelaskan semuanya seacara rinci agar Kakaknya itu tidak menyesal dikemudian hari karena masalah seperti itu.


"Iyah de!"


"Jelasin semuanya tanpa ada yang lo sembunyiin! Gue bakal bantu lo kapanpun lo butih gue Ka!" Caca bergerak mendekat ke arah Riega dan menyerahkan barang milik Aruna kepada Kakanya dan memberikan semangat pada kakak tersayangnya itu.


Riega langsung menerima barang milim Aruna dan ia bersiap-siap mengenakan jaket dan tasnya. Mengambil kunci motor kesayangannya itu. Tak lupa pula ia membungkus gitar akustik miliknya dengan sarungnya dan memasukkan lembaran-lembaran lagu ciptaanya tadi kedalam sana. Ada hal yang amat sangat dan harus Riega lakukan saat itu juga.


"Makasih De! Gue pergi dulu." Pamit Riega dengan tatapan yakin dan berlalu meninggalkan Caca disana.


"Hati-hati Ka" saut Caca masih berdiri didalam ruang seni dan ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk membalas perbuatan wanita licik itu. Caca memang selalu memiliki intuisi yang tajam terhadap seseorang yang tak baik untuk orang-orang terdekat yang Caca sayangi.


****


Dilain tempat, Aruna pulang dengan tangan kosong menaiki Ojek online yang di pesan oleh Caca saat tadi dirinya ditemukan oleh Caca di toilet siswi. Tak membawa tas dan smartphonenya, Aruna menaiki ojol dengan tatapan kosong. Untung saja zaman sudah canggih, sehingga mamang ojol tidak perlu menanyakan kembali alamat yang dituju. Jika masih seperti dulu, bisa jadi mereka sekarang akan berputar-putar karena Aruna tak akan menyebutkan kemana arah tujuannya. Ia hanya melamun, tidak menangis, bergeming bahkan berkatapun tidak. Diam. Ia hanya diam menahan rasa sakitnya agar tidak ia tampakan pada orang lain.


Sampai di komplek perumahan Aruna, mamang ojol itu menanyakan dimana tepatnya no rumah Aruna agar driver mengantarkan Aruna sampai tempatnya. Tapi, bahkan hanya menjawab nomor rumahnya saja Aruna tak berkata. Ia hanya menjawab stop!. Driverpun langsung berhenti dan Aruna segera turun. Driver menyebutkan nominal harga yang ditaksir sesuai dengan jauh jarak tempuhnya.


"Lima belas ribu aja neng" ujar Driver ojol itu sopan dan tersenyum ramah.


Aruna bahkan tak menjawab.


Namun, dengan tatapan yang kosong dan mata yang sembab akibat menangis di toilet sekolah tadi, Aruna merogoh saku seragamnya, ia mengeluarkan selembar uang berwarna biru dan menyerahkanya pada driver dan ia langsung berlalu begitu saja.


"Neng, ini kembalianya dulu atuh neng!" Teriak driver itu dan menyalakan motor menghampiri Aruna pelan-pelan.


"Neng ini kembaliannya!"


"Ambil aja Mas!" Jawab Aruna dengan wajah datar.


"Oh, yaudah atuh neng makasih banyak" jawab Mamang Ojol itu dan akhirnya berlalu pergi.


Aruna yang diturunkan bukan di depan rumahnya masih melanjutkan perjalanan pulangnya dengan berjalan. Perlahan dengan tatapan yang nanar dan mata yang sembab. Ia ingin sekali menangis berteriak meluapkan segala rasa sedih dan sakit hatinya. Tetapi ia harus menahanya karena ia belum tiba di kamar kesayangannya itu.


Aruna terus berjalan cukup jauh karena memang rumah Aruna berbeda blok dengan tempat diturunkannya tadi. Rumah Aruna berada di blok sebelah dan letaknya berada di tengah-tengah komplek.


Keadaan komplek tempat Aruna tinggal memang sepi, sehingga jarang sekali ada orang yang berlalu lalang. Tiba-tiba saja.


"Tiin, tiin!" Suara klakson terdengar nyaring menyaut-nyaut dari arah belakang Aruna yang berjalan menundukkan kepalanya ia tak menoleh barang sedikitpun.


"Tiin,tiin,tiin!" Klakson itu berbunyi lagi masih terus mengikuti kemana Aruna melangkah. Bisa diketahui klakson itu berasal dari motor yang di tumpangi oleh Riega. Aruna hafal betul bagaimana suara knalpot motor dan suara klakson motor Riega kekasihnya itu. Tapi dirinya tidak mau menoleh kebelakangnya.


"..."


"Nana please!"


"..."


Tak ada jawaban. Riega akhirnya menyerah. Ia turun dari motornya dan langsung berlari mengejar Aruna dari arah belakang. (Hup!) Ia langsung merangkul tubuh kekasihnya itu dari belakang. Menghentikan langkah-langkah kecil Aruna.


Aruna yang dipaksa menghentikan langkahnya karena dekapan Riega mulai memberontak. Dirinya meronta-ronta minta dilepaskan dari pelukan kekasihnya itu.


"Sayang stop! Aku mau jelasin semuanya ke kamu! Stop it honey! Please!" Mohon Riega sambil terus memeluk Aruna dengan lembut tetapi karena lengan kekarnya, Aruna jadi sulit untuk melepaskannya.


"Mau apa lagi Pa? Semuanya sudah jelas!"


"Belum! Kamu bahkan belum dengar aku bicara sepatah katapun mengenai masalah ini sayang!" Sergah Riega dengan cepat.


"..."


(Tes!) Tetesan bening terjun dari pipi Aruna dan jatuh di tangan Riega yang sedang mendekap Aruna dari belakang.


"Jangan menangis sayang! Aku salah, aku memang salah! Tapi jangan menangis sayang! Kumohon jika kamu mau pukul aku, silahkan! Pukul aku Na, balas rasa sakit kamu ke aku Na!" Ujar Riega mulai terasa panas di area kelopak matanya.


Riega benar-benar ingin menangis. Matanya sudah seperti terasa banyak sekali yang mengganjal saling mendorong untuk terjun ke pipinya. Tapi Riega berusaha menahan air matanya. Ia tak boleh menangis. Dirinya tak boleh menangis. Dia harus menerima apapun hal yang ingin Aruna lakukan. Tapi ia menolak satu hal yang paling ia takuti. Berpisah. Ia takut jika Aruna menginginkan pisah dengannya. Ia tak bisa bayangkan bila kekasih hatinya pergi.


"..."


Aruna masih berdiam air matanya terus mengalir. Tangannya sudah mulai berusaha menutupi wajahnya. Ia menangis tanpa suara. Kebiasaan dirinya bila ia menahan rasa sakit dihatinya, ia akan menangis tanpa suara. Begitu sakit yang ia rasakan ini.


"Sayang..." panggil Riega pada Aruna dan Riega memutar tubuh Aruna menghadap ke arahnya dengan lembut mendekap pinggangnya penuh dengan kasih sayang.


"Apa aku diberi kesempatan untuk jelasin semuanya ke kamu?" Tanya Riega memandang wajah Aruna yang masih ditutupi oleh sepuluh jemari indah milik kekasihnya itu.


"..."


"Jawab aku sayang!"


"..."


"Setidaknya beri aku jawaban dengan isyarat bila kamu tak ingin bicara denganku Cinta..." bujuk Riega pada Aruna yang sedari tadi tak bergeming barang satu hurufpun.


(Mengangguk) Aruna memberi jawaban dengan menganggukkan kepalanya ke bawah masih dengan posisi di dalam dekapan Riega.


"Baiklah sayang.. apa mau bicara di sini, di rumah atau di tempat lain?" Tanya Riega memberikan beberapa pilihan tempat yang dimana Aruna bisa lebih tenang dan nyaman saat dirinya menjelaskan masalah ini.


"..."


"Jawab sayang, aku merindukan suaramu yang indah itu Arunaku" ujar Riega mengelus rambut kekasihnya dengan lembut.


"Dimanapun asal jangan di sini ataupun di rumah" jawab Aruna pelan sekali seperti suara bisikan hampir tak terdengar jika saja Riega tak memiliki telinga di hatinya. (Hahahah:v lebay Thor,Lebay! :v)


"Baiklah jika itu maumu aku akan bawa kamu ke suatu tempat." Ucap Riega seraya melepaskan pelukannya pada Aruna dan membuka kedua tangan Aruna yang menutup wajahnya itu.


Riega melihat betapa sembabnya mata Aruna. Merasa tak tega karena mata indah milik kekasihnya itu harus mengeluarkan air mata karena kesalahan dirinya. Riega merasa gagal menjaga keindahan manik mata indah milik kekasihnya itu. Riega perlahan menangkup pipi Aruna dan perlahan mengusap kedua kelopak mata yang basah itu. Perlahan dan penuh cinta.


"Maafkan aku sayang.." ujar Riega lambut mengusapnya dan ia mengecup kedua mata Aruna bergantian.


Aruna hanya memejamkan matanya merasakan kelembutan yang Riega lakukan. Hatinya yang terluka mulai perlahan-lahan kembali menghangat. Ia mulai sedikit tenang. Lubuk hatinya berbisik bahwa Riega tak bersalah. Tapi fikirannya selalu terngiang gambar yang tadi ia lihat dan berbagai ucapan-ucapan tentang Riega dan wanita itu.


Antara hati dan fikirannya saling bertolak belakang. Aruna merasa dilema dibuatnya. Apa ia harus mengikuti kata hatinya atau ia harus mengikuti jalan fikirannya yang sudah begitu jelas jika kekasihnya itu bersama wanita lain begitu mesra. Dirinya masih belum bisa mengambil keputusan jika kekasihnya itu belum memberikan penjelasan sedikitpun.


Akhirnya Riega berhasil mengajak Aruna untuk menyelesaikan masalah mengenai dirinya dan Sharen. Riega mengenakan helmetnya dan dia juga memasangkan untuk Aruna perlahan dan penuh cinta. Aruna mulai naik kejok dibelakang Riega.


To be Continue...


Salam sayang darikuu ๐Ÿ’›


Jangan lupa selalu berikan kesan terbaik untukku dengan menekan jempol dan ketikkan berbagai coment positive untukku supaya selalu semangat ketik-ketik ๐Ÿ’›๐Ÿค—๐Ÿ˜๐Ÿ’›


Salam sayang Author untuk kalian readerskuuu๐Ÿ’›