
Di dalam kabin pesawat, para agent Macan Hitam berganti kostum dengan pakaian masing-masing. Mereka semua telah selesai menunaikan tugasnya. Berbincang bersama di dalam pesawat pribadi milik perkumpulan mereka. Merayakan kemenangan dan keberhasilan mereka menyelesaikan misi. Makan dan minum. Tidak ada yang melarang mereka melakukan apapun, asalkan sesuai dengan peraturan dan ketentuan.
Caca dan Aslan telah mengganti juga pakaian mereka. Caca sedang menikmati segelas Moccacino yang telah di buat oleh maid yang ada di sana. Sedangkan Aslan sedang menenggak segelas anggur yang berkadar alkohol paling rendah. Mereka duduk di kursi yang bersebelahan. Berbincang hangat layaknya seorang kekasih normal tengah pulang setelah liburan yang menyenangkan.
"Yang, udah dong jangan minum itu! Ga baik tau!" Larang Caca melihat Aslan sedang menenggak anggurnya.
"Sedikit yang, hehe!" Aslan terkekeh karena Caca melarangnya.
"Yaudah habis itu jangan lagi!"
"Iya pacarku yang bawel..." Ujar Aslan sambil mencubit Pipi Caca yang cubby itu.
"Aaw, sakit tau yang!" Rajuk Caca karena ulah Aslan.
"Ahahah, habis gemesin deh kamu. Minum anggur ga boleh tapi main pedang sama pistol ga dilarang, ahahah!" Aslan terbahak dengan sikap Caca yang posesifnya terkesan cukup aneh.
"Yah beda dong yang! Kalau anggur kan ga bisa lindungin kamu. Tapi kalau pedang sama pistol kan bisa jadi senjata yang lindungin kamu!" Elak Caca berusaha menegaskan pada Aslan.
"Ahaha iya deh sayang, aku paham ko maksud kamu. Emm, tadi seru juga yah mainya!" Ujar Aslan nyengir menunjukan deretan giginya seraya mengingat bagaimana tadi mereka menjalankan misi. Menurut Aslan itu seperti sebuah permainan saja. Sebuah misi yang penuh dengan drama meneganggkan dan menyedihkan juga.
"Ya gitu deh! Aku masih greget aja sma si nenek lampir itu. Tapi lumayan sih, bisa balikin semua kelakuan jahatnya. So, dia pantes dapetin itu. Tapi..." Ucap Caca sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Aslan.
"Tapi apa?" Tanya Aslan menunggu Caca melanjutkan ucapannya.
"Ya tapi, kasian Aruna ternyata Ayahnya udah ninggal dan dia harus terima kenyataan yang pahit banget menurut aku yang. Kalau aku jadi Aruna, mungkin aku ga akan kuat!" Terang Caca lagi.
"Iyah itu takdir yang harus Aruna terima dengan lapang dada Caca sayang. Menurut aku, Aruna kuat karena ada Bang Riega. Mungkin juga, dengan kejadian ini Aruna bisa jadi lebih dewasa lagi dan mengerti gimana kerasnya kehidupan yang sebenarnya. Dan itu tugas Bang Riega buat nguatin Nana!" Jelas Aslan mengemukakan pendapatnya.
"Iya bener banget yang. Ko, kamu tumben sih pinter gini?" Tanya Caca mengangkat kepalanya dan langsung menatap Aslan.
"Ahaha, ga tau aku juga yang" Aslan terkekeh.
"Huu, dasar yah kamu tuh aneh!" Caca memutarkan bola matanya pertanda tak mengerti dengan kekasihnya itu.
"Tapi cintakan? Em?" Goda Aslan mencolek dagu Caca.
"Iih, apaan sih yang..." Caca tersipu malu dan langsung menenggelamkan wajahnya di dada Aslan.
"Kalau cinta yah cinta aja sayang, ga usah ngatain aku aneh! Kan, jadi malu gitu kan?" Ledek Aslan lagi. Ia benar-benar senang melihat Caca seorang ahli Shuriken, pemanah yang jitu dan penembak handal tapi cepat sekali untuk tersipu. Wajahnya yang memerah seperti tomat, berbeda sekali seperti saat berada di medan pertarungan. 360 derajat berbeda.
"Yaaaanggg.. ih!" Caca masih menenggelamkan wajahnya di dada Aslan sambil memukul-mukul lengan Aslan yang sekarang sudah dengan erat merangkul Caca dengan penuh kehangatan.
"AHAHAHAHHAH!" Aslan terus terbahak-bahak sambil memeluk Caca semakin erat dan penuh cinta.
****
Di ruang Private Kabin Pesawat.
Riega dan Aruna sedang duduk di kursi di sana terdapat satu buah ranjang serta beberapa fasilitas lainya.
"Aw, perih yang!" Pekik Riega.
"Ini aku udah pelan-pelan ko, dikit lagi bersih semua" ujar Aruna lembut.
"Yaudh. Habis itu ambil perban terus di iket yah kasih"
"Oke Pak!" Aruna segera mengambil perban yang ada di kotak P3K. Ia bergerak cepat mengikat bahu Riega agar darahnya tidak mengalir terus.
"Finish" ucap Aruna tersenyum lebar menatap wajah Riega yang penuh dengan keringat karena menahan perih di lukanya itu. Saat ini Riega sedang menyandarkan tubuhnya di sofa berusaha relax.
"Makasih sayang.." Ujar Riega menggenggam tangan Aruna.
"Kembali kasih Pa.. Emm, aku mau bersih-bersih badan dulu yah kamu jangan kemana-mana" tutur Aruna sambil mengusap dengan lembut keringat di dahi Riega yang terus mengucur.
"Iyah sayang. Disini ga ada pakaian cewe yang, tapi kamu bisa pake baju aku aja udah di sediain di dalam" jelas Riega menatap Aruna lekat.
"Em, yaudh aku mandi dulu yah Ga?!" Aruna dengan segera beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi di ruangan privat kabin pesawat itu.
Sambil menahan rasa sakit dan perih yang ia rasakan di setiap kulitnya yang lecet, Aruna mulai membuka pakaian yang terakhir kali ia kenakan saat malam pentas drama kemarin. Perlahan ia memutar kran shower dan mulai mengisi bathup untuk berendam.
Tubuhnya serasa lengket dan kotor. Ia bercermin sejenak sebelum membuka pakaianya. Aruna melihat pantulan dirinya disana. Wajah yang biasanya mulus tanpa luka sedikitpun, sekarang lebam dan memerah, matanya benar-benar bengkak karena ia terus menangis. Tanganya memerah lecet karena ikatan tali, rambutnya benar-benar berantakan. Ia terlihat buruk. Tapi, Riega bahkan tak sedikitpun menyindir bahkan, Riega malah memeluk dan memperlakukannya dengan amat sangat lembut.
Tanpa sadar, air matanya kembali terjatuh. Menetes begitu saja. Mengingat bagaimana perjuangan dari Caca, Aslan dan juga Riega tadi menyelamatkanya dari kematian. Mereka benar-benar sangat peduli denganya. Aruna sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan Riega.
Aruna mengusap air matanya, berusaha untuk tidak menangis lagi. Ia tak mau membuat Riega khawatir lagi, ia harus kuat dan tegar. Ia harus bisa menjadi wanita yang kuat. Hatinya berdesir, merasakan ada gejolak yang berbeda. Seperti ada sesuatu yang mulai tumbuh di sana. Rasa berani untuk melakukan hal baru.
Perlahan, Nana mulai membuka pakaianya. Satu persatu kancing itu tertanggal dari pengaitnya. Dengan satu gerakan saja, gaun itu mulai terjun kelantai. Aruna mulai membuka pakaian dalamnya. Tubuhnya yang mulus dan seputih susu sudah tanpa sedikitpun benang. Ia mulai berjalan menuju bathup dan mulai merendamkan tubuhnya di air dengan campuran susu dan bunga.
Kulitnya yang lecet terasa perih, namun ia menahanya dan mulai menikmati ritual mandinya dengan khidmat. Sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya. Relax.
Riega yang sedang mengistirahatkan tubuhnya tiba-tiba saja teringat dengan Pa Ramikan. Ia segera mengambil handphonenya di saku celana dan mendial nomor Pa Ramikan.
(Tuut,,tuut,,) beberapa detik kemudian sambungan telepon terhubung.
"Halo Nak?"
"Ya halo Pak!" Jawab Riega sambil membenarkan posisinya dengan baik.
"Bagaimana Nak? Aruna sudah di temukan? Apa dia baik-baik aja?" Tanya Pa Ramikan tergesa.
"Sudah Pak. Dia baik cuma ada beberapa luka lecet dan lebam Pak. Maaf!" Ujar Riega.
"Syukurlaaah... Ga perlu minta maaf nak, Non Aruna sudah ditemukan Bapak sudah seneng banget. Masalah luka lecet bisa di obatin asalkan Non Aruna kembali, saya sudah sangat berterima kasih Nak!" Uhar Pa Ramikan di sebrang telpon sana.
"Ga usah berterima kasih Pak. Ini juga salah saya yang ga bisa jaga Aruna. Beberapa jam lagi kita sampai di kota Pak. Biar saya yang antar Aruna kembali Bapak tunggu saja di rumah!" Terang Riega.
"Iya Nak. Hati-hati saya titip Non Aruna." Ujaf Pa Ramikan lega.
"Siap Pak!" Jawab Riega dan ia langsung menutup sambungan telepon itu.
Tepat saat sambungan telepon terputus, Aruna keluar dari balik pintu kamar mandi. Riega melihat ke arah datangnya Aruna.
"Iiih, Bapak nakal tau. Malah ngetawain aku lagi!" Aruna mengerucutkan bibirnya dan perlahan berjalan mendekat ke Riega yang masih terus melancarkan aksi tertawanya melihat penampilan Aruna yang saat ini menggunakan kemejanya yang berwarna putih dan kebesaran. Panjangnya hingga ke paha Aruna, lengan bajunya hingga menutupi beberapa centi telapak tanganya. Siapa yang tidak tertawa melihat gadis kecil seperti Aruna itu.
"Aw-aw-aw sayang aku lagi sakit kamu masih tega mukulin aku gini? Heuh?" Riega mengaduh sambil terkekeh geli dan mengunci pergerakan tangan Aruna.
"Yah kamu ngapain ngetawain aku begitu coba? Ini tuh gara-gara badan kamu yang besar jadi bajunya kedodoran di aku tau!" Aruna berusaha membela dirinya.
"Itu bukan salah aku sayang. Tapi kamu yang terlalu kecil!" Goda Riega dan ia memeluk Aruna dari belakang dengan satu tanganya.
"Ya kamu, ga nyiapin pakaian untuk aku!" Aruna mengerucutkan bibirnya.
"Aduuh, aku ga kepikiran itu sayang! Udah gini aja dulu sampai nanti di bandara aku minta anggotaku buat siapin baju untuk kamu yah sayang!" Ujar Riega membujuk Aruna agar tak ngambek.
"Uuh, yaudah yaudah!" Ketus Aruna membelakangi Riega.
"Jangan ngambek dong sayang..." Riega memeluk Aruna dengan intens.
Aruna benar-benar terkejut dengan pelukan mendadak dari Riega. Bukan karena tak biasa, tapi saat ini Aruna sama sekali tak menggunakan dalaman apapun. Bahkan Brapun tak ia kenakan.
"Emm, Riega... Bisa lepasin ga pelukannya?"
"Loh loh, kenapa ga mau aku peluk?" Riega semakin mengencangkan pelukanya.
"Bu-bukan Riega. Tapi..." Aruna terbata-bata bingung ingin menjawab apa.
"Tapi apa sayang?"
"Emm, lepasin aku Riega!" Aruna langsung melepaskan tangan Riega yang melingkar di pinggangnya dengan intens.
"Kamu nih kenapa sih sayang? Ko berubah gitu?" Tanya Riega memutar tubuh Aruna menghadapnya dan menyelidik serta menatap Aruna dengan lekat
"Be-berubah gimana?" Aruna menjadi salah tingkah ia berusaha menutupi aibnya yang seharusnya Riega tak boleh mengetahui kalau Aruna tak menggunakan dalaman sama sekali.
"Emmm,..." Riega berusaha berpikir menautkan kedua alisnya dan dahinya dikerutkan.
"Kenapa?" Tanya Aruna salah tingkah.
"Sini!" Riega langsung menggapai pinggang Aruna dan mengangkatnya untuk pindah duduk di pangkuan Riega.
"Eh,eh,eh. Riegaa... Mau apa?" Tanya Aruna berusaha melindungi benda sintal miliknya itu agar tak tersentuh oleh Riega.
"Sayang..." Goda Riega berbisik lembut di telinga Aruna yang sekarang sudah berada tepat di atas pangkuan Riega.
"A-apa?" Aruna tersipu malu, wajahnya memerah dan jantungnya berdegup tak beraturan.
"Kamu pastii.." Bisik Riega lagi semakin mendekatkan tubuhnya oada Aruna
"Pasti apa sayang?" Tanya Aruna mulai kesal.
"Pasti kamu mau aku cium kan? Heum?" Tanya Ruega berusaha menggoda.
'Heuuh, untung aja Pa Riega ga sadar!' Batin Aruna lega.
"Ih, ga ko! G-R!" Aruna mendorong dada Riega dengan kuat hingga terkena sandaran sofa. Riega yang sedang sakitpun memanfaatkan situasi.
"Ah, aw sayang.. ini sakit banget aaww.." Riega berakting agar dirinya bisa mendapatkan ciuman dari kekasihnya itu.
"Aduh, ih aku ga sengaja Pak. Man yang sakit sayang?" Aruna langsung berubah menjadi khawatir mendengar Riega merintih kesakitan karena ulahnya yang nakal mendorong tubuh Riega dengan keras.
"Ini sayang, aduh-aduh. Sakit bangeeet sayaaaang" Riega semakin merengek kesakitan.
"Sayang, terus aku harus apa? Mau di obatin lagi? Yaudah aku ambil kotak P3K dulu yah sayang, bentar!" Ujar Aruna panik.
"Eh-eh!" Riega menahan lengan Aruna yang hendak bangun dari pangkuanya.
"Kenapa sayang?" Tanya Aruna lagi.
"Aku.. aku cuma butuh ciuman kamu sayang.." ucap Riega dengan suara yang pelan hampir tak terdengar, seperti seorang anak kecil yang takut meminta beli permen pada ibunya yang galak.
"Apa?" Tanya Aruna ngegas.
"Aku mau di cium sama kamu Nana...." Rajuk Riega lagi.
"..." Aruna tak bisa menjawab dalam beberapa detik.
"AHAHHAHAHHA" dan beberapa detik kemudian Aruna mulai terbahak-bahak sambil mencubit pipi Riega dengan kencang.
"Aw kenapa sih sayang ko malah ketawa?"
"Ya kamu, kaya anak kecil banget sih! Udah tua juga! Hahahahhaha" Aruna masih terus tertawa dengan terbahak-bahak di hadapan Riega. Membuat Riega yang sedari tadi ingin melahap bibir pink nan sexy milik Aruna, semakin gemas.
Tanpa butuh waktu lama, Riega tak sabar lagi dan ia mengunci pinggang Aruna yang ramping itu dengan sangat lembut dan intens. Membuat sang pemilik seketika terdiam dan langsung menatap Riega dengan wajah yang memerah seperti tomat.
"Eenngghh" Tanpa Aruna sadari, suara desahan khas miliknya, yang membuat Riega dengan seketika begitu mabuk dan bagaikan sebuah obat perangsang yang sangat kuat bagi miliknya.
"Itu tandanya kamu bersedia sayang..." Bisik Riega dengan suara seraknya yang begitu sexy semakin membuat Aruna terbuai. Seketika itu juga, Riega mulai menautkan bibirnya pada bibir Aruna.
Riega dengan perlahan mulai melumat setiap inchi bibir Aruna. Sungguh rasa yang selalu membuat jiwa kejantananya meronta-ronta. Aruna mulai membalas lumatan-lumatan halus yang Riega lakukan. Aruna perlahan-lahan mulai mengikuti alunan indah permainan bersilat bibir antara kedunya. Sungguh suatu hal yang saaaangat memabukkan, jauh lebih memabukkan dari sebotol anggur.
To be Continue...
Bagaimana? Ini juga termasuk kompensasinya yah :v
Mau lanjut adegan ciumanya atau di skip aja :v
Ahahahha yaudah deeeeh guys yg penting like dulu dan coment positive yah readerskuuuuuuh 😍 😘
I love you all ❤