Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
52



Pesawat pribadi Perkumpulan Macan Hitam telah mendarat tepat di bandara Kota A. Kota dimana Aruna memulai kehidupan barunya waktu itu. Kota dimana Aruna di pertemukan dengan cinta sejatinya. Dan Kota dimana Ia dan Mamahnya merajut kembali asa.


Setelah pesawat mendarat dengan sempurna di landasan, seluruh anggota turun dan menempati mobil masing-masing. Caca dan Aslan juga ikut turun. Hanya tersisa Riega dan Aruna serta Erwin selaku pilot. Riega meminta bantuan kepada Caca untuk membawakan pakaian Aruna yang telah disiapkan oleh agent sebelum mereka mendarat tadi.


Caca langsung mengambilkan pakaian itu dan mengantarkannya ke ruang privat kabin pesawat.


"Ka? Ini gue!"


(Ceklek!) Pintu ruangan itu terbuka dan muncul Riega dari balik pintu itu.


"Nih baju Nana Ka. Lo keluar dulu gih, biar gue yang temenin Nana!" Ujar Caca tanpa ba bi bu.


"Yaudah lo bantuin dia buat pake bajunya!" Riega langsung mempersilahkan Caca untuk masuk ke dalam ruangan itu dan dia melenggang ke luar dari ruangan.


Saat Caca masuk ke dalam ruang privat itu, ia langsung mengedarkan pandangan mencari di mana Aruna berada.


"Na, lo dimana?" Caca mulai bersuara memanggil sang empunya nama.


"Hem,?!" Sebuah suara yang terdengar tak begitu jelas dan memendam. Seperti sedang bersembunyi.


"Aruna, ini gue Caca! Lo dimana?" Teriak Caca lagi.


"Caca?!" Teriak Nana langsung muncul tiba-tiba dari gulungan selimut di ranjang itu.


"Ehh, Nana ngapain sih lo di situ Na?" Tanya Caca kebingungan dan langsung mendekati Aruna yang masih terduduk di atas ranjang dengan selimut yang membalut setengah tubuhnya.


"Kakamu nakal!" Ujar Aruna


"Nakal gimana?" Tanya Caca bingung.


"Yah nakal Ca! Ih, ngeselin tauu!" Kesal Nana.


"Ahaha, minta jatah ke lo Na?" Tanya Caca dengan cengiran khasnya dan ia menyodorkan pakaian yang sudah di persiapkan untuk Aruna.


"Aah, mesum banget tau kakakmu Ca!" Dumel Aruna sambil mengambil alih pakaian yang Caca berikan untuknya.


"Tapi lo cinta kan, Na?"


"Emmm, cinta banget Ca!" Jawab Aruna sambil berusaha keluar dari gulungan selimut tebal itu.


"Nah, dari kemarin dia setress mikirin lo Na. Mungkin dia kangen jadi begitu. Maklumin aja, tapi jangan sampe lepas kendali juga. Lo masih sekolah Na!" Nasihat Caca pada Aruna yang sudah berhasil duduk dengan sempurna dipinggiran ranjang itu.


"Oke Ca. Aku ganti pakaian dulu yah" ujar Aruna bangun dari posisi duduknya dan langsung berjalan menuju ke kamar mandi untuk segera mengganti pakaian.


"Oka Na. Gue sama yang lainnya nunggu di luar pesawat kalau udah langsung keluar aja yah!" Jelas Caca.


"Oke sip!" Aruna dan Caca sama-sama menghilang di pintu yang berbeda.


Setelah beberapa menit Aruna berkutat di kamar mandi kabin dengan pakaianya itu, akhirnya ia berjalan keluar dari pesawat. Sesampainya ia di pintu pesawat dengan beberapa anak tangga yang sudah tersedia untuknya berjalan menuju ke bawah, ia melihat pemandangan yang sungguh di luar dugaan.


Sudah ada banyak mobil jip dan dua mobil sedan hitam mengkilat. Dan juga banyak sekali orang-orang dengan badan kekar dan tegapnya berdiri dengan gagah berani, menghadap ke arah pesawat dimana Aruna keluar. Seolah seperti menyambut dirinya, mereka semua menundukkan kepala ke arahnya.


Aruna hanya bisa berdiri mematung melihat mereka memberi salam hormat ke arahnya. Riega yang melihat kecanggungan dari kekasihnya itu langsung berjalan mendekat menaiki satu demi satu anak tangga di sana.


"Sayang, balas salam mereka!" Titah Riega berbisik lembut di telinga Aruna sambil merangkul pinggang Aruna dengan begitu lembut dan intens, seolah menunjukkan bahwa Aruna wanita cantik yang sedang di beri salam hormat oleh puluhan orang di hadapanya itu adalah miliknya seorang.


"..." Aruna hanya menganggukkan kepalanya dan membalas salam hormat dari puluhan pria berbadan besar dan kekar itu dengan menyunggingkan senyuman di bibirnya.


"Oke, karena hari semakin larut, kita bisa kembali ke markas!"


"Siap!" Jawab mereka semua serempak.


Semua pria berbadan kekar itu memasuki mobil jip masing-masing. Sedangkan Caca Aslan dan kedua team intelijen memasuki mobil sedan hitam yang satu. Mobil sedan satu laginya sudah di siapkan khusus untuk Aruna dan Riega saja dengan satu sopir di dalamnya.


"Ayo kasih, kita kembali.." Ajak Riega dengan mempersilahkan Aruna untuk menuruni anak tangga itu dan menggandeng satu tangannya.


Erwin sang pilot pesawat membuntuti dari belakang Riega dan Aruna. Setelah sampai di dekat mobil, ia berjalan cepat mendahului Riega dan Aruna. Erwim membuka pintu mobil itu dan mempersilahkan keduanya masuk.


"Silahkan Kapt!" Erwin membuka pintu mobil dan mempersilahkan Aruna serta Riega sang Kapten untuk masuk ke mobil.


"Terima kasih Erwin! Terima kasih atas kesediaanmu untuk menjalankan misi ini!" Ujar Riega dengan senyuman sumringah


"Kembali Kapt! Saya lebih berterima kasih pada Kapt, karen telah di libatkan dalam misi ini.." jawab Erwin dengan membungkukan kepalanya.


"Baiklah, kamu bisa berlibur setelah ini Erwin!" Ujar Riega membalas salam dari sang pilotnya itu.


"Terima kasih Kapt!" Jawab Erwin dengan senyumannya lagi.


"Ok!"


Erwin menutup pintu mobil itu dan mobil segera berangkat menuju ke markas besar perkumpulan macan hitam.


Erwin memang seorang pilot pribadi Macan Hitam. Ia di rekrut oleh Riega sendiri dua tahun yang lalu tepatnya saat Erwin bertemu dengan Riega di bandara negara S. Saat itu Erwin sedang menjadi seorang tahanan imigrasi. Ia di sangka teroris oleh negara S karena wajah bulenya serta namanya yang hampir persis oleh seorang tersangka. Di saat itulah Riega menolong Erwin. Bakat menjadi pilot sudah Erwin miliki sejak ia sekolah di Akademi penerbangan. Hanya saja, dia adalah orang yang nyeleneh. Erwin dan Riega saling bertukar cerita, mereka juga sudah sangat akrab. Erwinpun menceritakan kisahnya di keluarkan dari Akademi penerbangan.


Erwin pernah menerbangkan sebuah pesawat sendiri tanpa izin dari para senior dan persetujuan dari menara. Dan yang paling membuat para petinggi marah besar hingga Erwin di pecat secara tidak terhormat adalah alasan Erwin menerbangkan pesawat itu adalah hanya untuk berjalan-jalan untuk beberapa bari bersama keluarganya. Memang itu adalah satu alasan yang tak terduga dan membuat setiap orang dari anggota penerbangan di negara tempat Erwin dilahirkan sangat marah.


Tapi, Riega menjanjikan pada Erwin jikalau ia mau di rekrut menjadi pilot pribadi Prekumpulan Macan Hitam; Erwin bisa kapan saja membawa keluarganya pergi berjalan-jalan tanpa izin darinya sekalipun. Asalkan, saat ada Misi yang harus dijalankan, Erwin harus siap sedia kapanpun dan dimanapun. Dan menurut Erwin itu adalah sebuah tawaran yang sungguh mengesankan, tanpa berpikir lama-lama, Erwin langsung menerima tawaran Riega.


Back to Topik...


Setelah beberapa menit perjalanan dari bandara menuju Markas Besar Macan Hitam, semua mobil Jip dan dua sedan hitam yang menjemput mereka telah terparkir rapih di tempat khusus parkir mobil masing-masing. Semua anggota turun dengan tertib dan mereka langsung berbaris dan berjejer rapih di depan pelataran Markas besar yang benar-benar megah itu menurut Aruna.


Di atas sebuah podium yang lumayan terlihat megah seperti di sebuah istana kenegaraan, telah berdiri seorang pria berbadan tinggi, besar namum sedikit gempal. Di rambut, kumis dan janggutnya yang lumayan tipis, sudah terlihat satu dua yang berwarna putih. Menandakan bahwa pria tersebut sudah berusia lanjut. Bisa dipastikan bahwa dia adalah orang yang sangat berpengaruh diantara semuanya.


Aruna bisa mengetahui hal itu karena saat semua sudah berbaris dengan rapih, mereka semua memberikan salam hormat ke arah pria tersebut. Termasuk Riega kekasihnya itu. Aruna masih terlihat kebingungan dan ia hanya berdiri diam dan mematung. Setelah semua memberi salam hormat, Pria tersebut turun dari podium.


Berjalan perlahan, mendekat ke arah Aruna yang berdiri di antara Riega dan Caca. Pria yang belum Aruna kenal itu mendekatinya. Berhenti di hadapannya sekitar jarak satu setengah meter darinya. Melihat dengan begitu seksama, seperti sedang meneliti dengan rinci setiap bagian tubuh Aruna. Dan yang dilihat hanya bisa berdiri diam mematung dan menyunggingkan senyuman canggungnya merasa tidak enak dipandang sedemikian rinci oleh pria tua yang tak ia kenal.


Setelah beberapa detik memperhatikan, pria itu beralih ke samping Aruna mendekati Riega.


"Nak, kamu menepati janji! Sekarang, kamu perekenalkan dia sebagai anggota baru kita!" Titah Ketua AL Paman kandung dari Riega yang penuh dengan wibawa dan kebijaksanaanya.


"Siap Paman!" Jawab Riega dengan penuh keyakinan.


Riega menggandeng tangan Aruna dengan lembut dan menuntunnya untuk berjalan perlahan dan menaiki podium yang sebelumnya adalah tempat berdiri lelaki yang belum Aruna kenal itu. Aruna hanya menurut dan berjalan di samping Riega sambil membalas genggaman tangan Riega.


Sampai di podium, genggaman tangan Riega semakin erat padanya. Membuat Aruna semakin bingung dan sedikit merasakan takut.


"Untuk seluruh anggota Macan Hitam. Saya, Riega Ali Daniel. Selaku Penasihat pribadi Ketua AL telah berjanji untuk menyelesaikan misi dan memenuhi semua syarat dari Ketua. Disamping saya, Aruna Melati Defandra. Target yang kita selamatkan. Dia adalah kekasih sekaligus wanita yang saya cintai, oleh karena itu!..." Riega menjeda ucapanya. Ia menggenggam tangan Aruna dan mengacungkannya ke atas bersamaan dengan ia kembali melanjutkan ucapanya.


"...Dia adalah anggota baru kita! Anggota Perkumpulan Macan Hitam!" Teriak Riega.


"Hidup Macan Hitam!" Teriak seluruh anggota membuat seisi halaman markas itu bergemuruh dengan suara mereka.


"Hidup Ketua AL!" Sahut mereka lagi dengan penuh semangat yang membara.


"Hidup Ketua AL!" Sahut mereka lagi.


Ketua AL yang sedari tadi berdiri ditempat Riega tadi, perlahan mulai berjalan mendekati podium. Ia menangkup kedua pipi Riega dengan bangga sambil berkata...


"Paman Bangga, Nak!" Dengan senyuman yang dikembangkan diraut wajahnya yang semakin menua.


"..." Riega hanya membalas dengan senyuman.


Lelaki tua itu mulai mendekati Aruna yang berada di sebelah Riega.


"Dan, selamat datang untuk Aruna. Sebagai anggota baru kita!" Kata Katua AL dengan tersenyum sambil memegang erat kedua lengan atas Aruna dan menyunggingkan senyum mantap.


"..." Aruna tak bisa berkata apapun ia hanya tersenyum.


"Paman harap, kamu bisa setangguh mereka semua, Nak! Karena sekarang, kamu adalah anggota keluarga kami, sekaligus wanita yang Riega CINTAI!" Ujar Ketua AL dengan wajah serius, tatapannya begitu lurus menembus retina mata Aruna hingga tapat kehatinya. Ia menekankan kalimat terakhirnya.


Membuat Aruna yang di tatap sebegitu yakinya oleh lelaki tua itu seketika berubah. Ada sedikit rasa berani yang muncul, ada kekuatan yang mulai timbul perlahan-lahan di dalam hatinya. Karena tatapan lelaki tua dihadapanya itu, mampu merubah rasa takutnya menjadi rasa berani. Merubah rasa ragunya menjadi sebuah keyakinan yang begitu kuat.


"Si-siap!" Jawab Aruna sedikit gemetar, tapi dengan nada yang mantap.


"Bagus!" Ketua AL mengusap puncak kepala Aruna dengan lembut dan ia berbalik badan menghadap ke arah semua anggota Perkumpulan Macan Hitam.


"...Kalian semua beristirahatlah! Akan ada hari esok yang akan kita lewati. Entah apapun itu, yang pasti kita harus sejenak mengistirahatkan tubuh kita. Mempersiapkan segalanya menghadapi esok yang mungkin tantanganya jauh lebih berat lagi!" Ujar Ketua AL dengan nada yang begitu rendah, namun penuh dengan kewibawaan. Sehingga, mereka semua selalu merasa patuh dan mengikuti setiap perkataan Ketua AL itu.


Semua anggota memberikan salam perghormatan kepadanya. Dengan santai, Ketua AL turun dari podium itu dan berjalan masuk di ikuti oleh kedua Assistant pribadinya. Semua anggota mulai membubarkan diri dan kembali ke tempatnya masing-masing.


"Ka, Na?!! Gue sama Aslan istirahat dulu ya?!" Pamit Caca sambil menggandeng tangan Aslan.


Aruna hanya bisa melihat kepergian sepasang kekasih itu berjalan menaiki tangga dan berpisah saat anak tanggayang mereka naiki habis. Mereka berjalan di lorong yang berbeda.


Dan tersisalah Riega dan Aruna yang saat itu sedang berada di ruangan yang begitu megah dan mewah. Sekelilingnya di penuhi dengan dekorasi bernuansa American classic. Berwarna putih yang di padupadankan dengan hitam serta ada sedikit corak gold yang menghiasi setiap tangga dan tiang-tiang penopang markas besar itu. Aruna yang melihatnya merasa begitu takjub.


Tapi, Arun masih sangat bingung dengan keberadaanya saat itu. Ia harus mempertanyakannya pada kekasihnya, sebenarnya ada apa dengan kehidupan Riega yang sangat misterius? Bahkan Aruna tidak mengetahui kalau Riega bisa melakukan taktik begitu apik saat menyelamatkanya begitupun Caca dan Aslan. Macan Hitam? Geng apa sebenarnya mereka? Semua pertanyaan itu seketika memenuhi pikiran Aruna.


"Riega?!" Panggil Aruna dengan suara yang tiba-tiba langsung tinggi.


"Eh,,,Apa sayang? Ko ngagetin?" Tanya Riega yang sedang berdiri di samping Aruna.


"Dimana tempat istirahat kamu?" Tanya Aruna to the point.


"Aih, kenapa? Jangan-jangan...." ujar Riega dengan nada yang begitu menggoda Aruna dan sebelah matanya yang berkedip-kedip membuat Aruna merasa tergelitik.


"..." Aruna hanya mengerutkan dahinya sambil tersenyum tipis menahan gengsinya.


"Mau lanjut lagi? Hemm?" Goda Riega sambil merangkul pinggul Aruna dengan sexy. Membuat Aruna semakin merasa malu.


"Bukan, ih!" Jawab Aruna langsung.


"Emm, terus mau apa doong?" Tanya Riega berusaha sepolos mungkin di hadapan Aruna kekasihnya itu.


"Ayo tunjukin mana kamarmu Pak!" Ujar Aruna to the point.


"Em, oke-oke ayo ikut aku sayang!" Ajak Riega kembali menggenggam tangan Aruna, seraya menuntunya untuk berjalan perlahan mendekat ke arah anak-anak tangga yang di lapisi dengan marmer bercorak gold itu.


"..." Aruna hanya diam mengikuti setiap arahan dari Riega. Ia kira akan menaiki satu-demi satu anak tangga itu. Tapi, Riega malah beralih kearah sebelah kiri tangga. Ada sebuah lift yang di design sedemikian rupa hingga hanya terlihat seperti sebuah lemari pajangan saja. Riega mulai menekan tombol tersembunyi disana.


(TING!) Lift itu terbuka perlahan. Riega kembali menuntun Aruna untuk masuk. Ya, mereka menuju ke lantai tiga dimana kamar Riega berada. Riega sempat berbibcabg mebgenai lift itu. Lift yang mereka gunakan adalah hasil usulan dari Riega jika sewaktu-waktu ada hal darurat terjadi, itu bisa menjadi salah satu dari sekian banyak cara untuk mencari jalan keluar yang aman.


(Setelah sampai)


"Ini kamarnya?"


"He'em" Riega menjawab sambil membuka pintunya.


"..." Aruna hanya terdiam memandang ke sekeliling ruang kamar Riega yang begitu menakjubkan.


"Sayang ayo masuk!" Ajak Riega yang ternyata sudah lebih dulu masuk dan memanjakan bokongnya di sofa empuk miliknya itu


"Eh, iya Ga!" Sahut Aruna lalu melangkah masuk.


"Na...?!" Riega menarik tangan Aruna untuk duduk di sofa bersamanya.


"Eh, yaampun!"


"Kenapa bengong, huh?!" Tanya Riega pada Aruna.


"Em, ga papah Pak. Indah banget, aku terpana!" Jawab Aruna dengan pandangan yang masih mengedar di seluruh ruang kamar Riega itu.


"Ah, sama ruangan aja sampe segitunya. Harusnya kamu terpana sama yang punya ruanganya dong!" Gerutu Riega merasa kesal.


"Eh-eh. Ko malah ngambek?!" Tanya Aruna.


"..." Riega hanya diam, ia membelakangi Aruna dan melipatkan kedua lengan kekarnya di depan dada seolah-olah sedang benar-benar marah.


"Riega sayang, gitu aja ko marah?"


"Yang design ruangan dan semua property ini aku, harusnya yang di puji aku, yang kamu pandangin terus itu aku sayang! Bukan ruanganya!"


"Pfffft! Childist banget sih?..." Aruna terkekeh melihat tingkah Riega yang begitu kekanakan.


"Ya memang kenapa?!" Sahut Riega ketus.


"Aku bosen liat kamu Pak!" Balas Aruna lebih ketus lagi. Membuat Riega yang awalnya ngambek langsung dengan sigap meraih tubuh Aruna untuk mendekat dan kedua tanganya menangkup wajah Aruna dengan erat hingga terlihat bibir Aruna terjepit kedua tangan Riega membuatnya manyun seperti bebek.


"Kamu ya?! Kenapa kamu ngomong gitu, huh?! Jadi kamu bosen sama aku Na? Kamu males liatin aku terus? Jawab Na! Jawab!" Cerocos Riega dengan terus menangkup pipi Aruna.


"Eeemm..." Aruna hanya berusaha memberontak dan melepaskan kedua tangan Riega. Ia akhirnya berhasil dan langsung menarik nafas kemudian menjawab Riega.


"Aku bercanda sayang! Bercanda!" Jawab Aruna.


"Ga lucu!" Riega kembali dalam mode ngambeknya membelakangi Aruna.


"Iih, yaudah-yaudah aku minta maaf deeh... Riega cuma satu-satunya ko yang ada di hati Nana ga ada yang lain!" Ujar Aruna menggoyang-goyangkan lengan Riega berusaha membujuk Riega yang sedang dalam mode ngambek.


"..." Riega hanya diam.


"Sayang..." Aruna perlahan memeluk Riega dari belakang.


Jujur, Riega benar-benar kesal dengan kekasihnya itu. Tapi, ia hanya berpura-pura ngambek saja. Tak menyangka jika Aruna akan memberikan respon seperti itu. Hatinya senang sekali.


"..." Riega tak bergeming. Namun, di dalam hatinya ia sudah jingkrak-jingkrak kegirangan.


"Sayang, maafin Nana deeh! Aku candaan aja Riega..." ucap Aruna manja terus merabgkul Riega dari belakang.


"Heemm" sahut Riega berusaha jutek. Padahal sebenarnya ia sedang menahan tawanya.


"Jangan marah?!" Pinta Aruna.


"Ga!" Hawab Riega jutek.


"Iiih, yaudah Riega mau apa?" Tawar Aruna berusaha membujuk kekasihnya lagi.


'Yippppiiiiyyyy, berhasil-berhasil-berhasil. Horeee!' Dalam hatinya seketika bersenandung salah satu lagu di film kartun itu :v


"..." Riega membalikkan tubuhnya perlahan menghadap ke arah Aruna dan Aruba mengendurkan rangkulanya.


Tepat saat Riega sempurna menghadap Aruna, ia langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Aruna.


"Aku mau bibirmu sayang!" Ujar Riega berbisik indah.


"..." Aruna hanya diam sambil menatap Riega.


'Dasar ya, mengambil kesempatan!' Batin Aruna kesal karena ia tahu kalau Riega sengaja melakukan itu.


"Mau kasih ga?!" Ancam Riega.


"Iya-iya sayang iyaaaa,,," sahut Aruna mulai mendekatkan wajahnya.


Perlahan,


Mulai dekat,


Semakin mendekat,


Tersisa hanya beberapa centi saja,


Ujung hidung mereka mulai saling menempel,


Riega mulai memejamkan matanya,


Dan.......


To be Continue...


Hai hai vote aku yah! 😊


Terima kasih.


Baca teruuuusss maafkeun lama bangeeeet.


Banyak kendala saat mengetik, setiap aku hendak melakukannya, pasti saja terhambat. 😶


Sudahlah itu urusanku ya guys, kalian hanya tinggal menanti dan menikmati... 😍


Happy Reading❤❤❤❤