Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
38



"Na, lo pokoknya harus tampil maksimal!" Wisey memberikan semangat kepada sahabatnya yang sebentar lagi akan tampil.


"Siap Sey!" Ujar Aruna mantap.


Kelompok Aruna sudah bersiap untuk tampil mempersembahkan dramanya. Mereka masih sibuk bersiap-siap untuk semuanya. Aruna sedang duduk berasama Wisey di depan kelas sambil berbincang santai. Tiba-tiba Caca menghampiri mereka.


"Hai Na, Hai Sey!" Sapa Caca kepada mereka berdua.


"Hai Ca!" Sahut mereka berdua serempak sambil memandang ke arah datangnya Caca.


"Semangat yah Na. Lo pasti bisa!" Ujar Caca menyemangati Aruna dan langsung duduk disebelah Aruna.


"Siap deh Ca. Makasih yah" ujar Nana menyunggingkan senyuman indahnya.


"Oke. Eh Na?"


"Iya Ca?"


"Ni ada sesuatu dari Ka Riega buat lo!" Ujar Caca menyodorkan kalung liontin pada Caca.


"Wah, beneran Ca?"


"Iyah masa boongan?"


"Em, kenapa ga dia yang ngasih?" Tanya Nana


"Diakan lagi jadi juri, tapi dia nitipin ini ke gue tadi supaya lo tampil lebih cantik lagi pake kalung dari dia katanya!" Jelas Caca berbohong.


"Ekhemm, cieee romantis banget yah Pa Riega?" Bisik Wisey di telinga Aruna membuat Aruna yang mendengarnya tersipu malu. Wajahnya yang sudah di poles dengan makeup semakin merona merah.


"Apaan sih Sey!" Ujar Aruna.


"Yaudah sini gue pakein ke lo Na sebagai perwakilan Ka Riega!" Ujar Caca tersenyum.


"Okey!" Gumam Nana terus tersenyum.


Caca memasangkan kalung liontin itu di leher Nana. Ia menekan tombol kecil pada liontin itu terlebih dahulu sebelum mengenakanya pada Aruna. Sebenarnya liontin itu bukan dari Riega, tetapi liontin itu adalah gps yang sudah di modifikasi sedemikian rupa oleh anggota perkumpulan yang lain. Liontin itu sengaja dipasangkan oleh Caca pada Aruna untuk melacak keberadaan Aruna jika memang rencana keempat orang misterius itu adalah menculik Aruna.


"Finish!" Ujar Caca.


"Waah, cantik banget Na!" Puji Wisey.


"Masa sih Sey?" Tanya Nana tak percaya dan ia terus tersipu malu mendengar pujian dari Wisey.


"Na, denger gue yah! Lo jangan pernah lepas kalung ini dalam keadaan apapun. Sebisa mungkin lo jaga kalung ini dimanapun lo berada nantinya. Jangan sampe lo kehilangan liontin ini, karena ini sangat berarti buat Ka Riega dan juga gue! Oke?!" Terang Caca serius membuat Aruna yang mendengarnya sedikit bingung tapi ia hanya mengiyakan saja karena memang itu harus ia jaga sebuah pemberian berharga dari sang kekasih.


Setelah proses pemasangan kalung liontin yang ternyata adalah gps yang telah di modifikasi oleh anggota perkumpulan Caca. Aruna langsung berlalu menuju ke panggung berjalan dengan anggun menggunakan kostumnya yang begitu indah dan semakin membuat Aruna tampak cantik.


Saatnya Kelompok Aruna untuk tampil kedepan mempersembahkan drama yang telah mereka persiapkan jauh-jauh waktu. Riega merasa tak tenang saat kelompok Aruna sudah di persilahkan oleh pembawa acara untuk maju. Rasanya Riega ingin maju dan membawa kekasihnya itu pergi jauh dari panggung itu.


Semua pasang mata merasa takjub dengan penampilan yang di persembahkan. Semua penonton memberikan tepuk tangan dan sorak sorai mengapresiasi penampilan kelompilok terakhir itu. Tanpa mereka sadari, ada dua orang diantara banyaknya penonton yang menyaksikan dengan rasa dan ekspresi yang berbeda. Riega dengan tatapan khawatirnya dan rasa takutnya akan keselamatan sang kekasih. Wanita yang menatap dengan tatapan penuh kemenangan.


Tak terasa, penampilan kelompok Aruna sudah sampai lima menit berjalan. Adegan demi adegan mereka perankan, permasalahan demi permasalahan mereka mainkan. Hingga saat terakhir penutup atau ending. Mereka semua tertegun dengan Adegan akhir yang begitu mengharukan.


Aruna yang berskting tewas mengenaskan di pelukan sang kekasih hatinya, sang pahlawan sejatinya yang diperankan oleh Zein. Semua penonton terharu dengan adegan yang mereka perankan. Sampai-sampai mereka semua tak sadar. Dibalik jubah hitam pemeran hero yang di kenakan bukanlah Zein. Melainkan seseorang misterius yang sejak awal pagelaran sudah mengintai.


Mereka menjalankan siasat dengan begitu mulus tanpa ada seorangpun yang menghambat. Riega tak menyadari jikalau Aruna yang di depan bukanlah sedang berakting tewas, melainkan pingsan karena dibius. Salah satu mata tajam penuh dengan kelicikan yang tersirat di matanya, tersenyum menampakkan kemenangan.


Semua bertepuk tangan dengan gemuruh. Mata mereka sembab karena terharu dan ada juga yang bersorak meneriaki nama sang hero. Namun semua berubah seketika menjadi kericuhan.


"Aaaahhh ada apa ini?"


"Kenapa gelap sekali?"


"Kenapa semua kampu mati?"


"Toolooong! Kenapa semuanya gelap?"


Suara teriakan panik terdengar dari semua pengunjung. Tak ada satu titikpun cahaya yang bersinar. Hanya samar-samar cahaya rembulan dan bintang redup yang terlihat di langit yang gelap.


Semua di sebabkan lighting mulai mati menggelap. Suasana panggung tiba-tiba saja gelap gulita dan seluruh sekolah tiba-tiba saja padam. Tak ada sedikitpun cahaya yang menerangi. Malam itu semua yang hadir kebingungan dan kelimpungan kesana-kemari. Semua adalah ulah dari para orang misteruis itu.


*****


Beberapa jam sebelum kejadian....


(Biip!)


"Terhubung ke 01! Tuan saya sudah siap di balik panggung!"


"Ok!"


(Biip!)


"Terhubung ke 02! Tuan saya sudah siap di area lighting! Penanggung jawab sudah saya bereskan!"


"Bagus!"


(Biip!)


"Terhubung 03! Tuan saya sudah standby di titik pembangkit listrik gedung sekolah! Semua aman terkendali!"


"Ok. Lihat sinyal pantulan dari lighting 02 maka padamkan semua gedung sekolah!"


"Siap Tuan!"


(Biip!)


"Apa? Siapa mereka?!" Bisik sang tuan dengan alat komunikasi yang sedari tadi melekat di tubuhnya yang tersembunyi.


"Perawakan mereka sedikit lebih besar dari pada kita. Mereka berjaga membawa beberapa senjata."


"Shit! Atur ulang strategi keluar gedung! Cepat cari jalan keluar!" Titah sang Tuan dengan air muka yang begitu marah.


"Siap Tuan!" Jawab sang anak buah.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah saling terhubung kembali. Agent 04 telah menemukan jalan keluar dan plane A berubah menjadi plane B.


(Biip!)


"Terhubung 01! Terhubung 02! Terhubung 03! Terhubung Ketua! Saya sudah menamukan jalur belakang. Lumayan jauh dari area panggung. Strategi hanya berubah jalur dan pemadaman listrik sedikit lebih di persulit. Kunci ruangan titik pembangkit listrik, rusak kabel saluranya supaya penjaga lebih kesulitan dan kita bisa memiliki waktu lebih lama beberapa menit menuju ke lahan terbuka luar gedung! Setelah semua selesai, berkumpul di belakang gedung saya akan menjadi petunjuk arah!" Jelas Agent 04 dengan cermat.


"Oke!" Jawab mereka serempak.


"Tunggu! Helikopter A008 standby di lahan terbuka beberapa meter dari belakang gedung sekolah. Dengan semua strategi kita, saya rasa itu cukup dan 95% akan berhasil. Untuk beberapa orang tak di kenal tadi jangan dihiraukan!" Tegas sang ketua yang sekarang sedang duduk bersantai sambil menikmati buah yang di suguhkan untuk para juri.


"Siap Tuan!" Jawab para anak buahnya dengan serempak.


Hati sang tuan begitu senang. Semua siasatnya sebentar lagi akan terlaksana dan dia yakin semuanya sudah pasti akan berjalan lancar. Tidak ada yang menyadari akan hal itu.


'Hahaha, lihat saja! Kamu akan hidup menderita berada di genggamanku!' Batinnya penuh dengan senyum sinis menyombongkan diri.


Penampilan terakhir dari kelompok 12 yang didalamnya adalah Aruna sebagai pemeran wanita utamanya. Mereka mengincar gadis itu. Target A yang selama ini mereka incar dan ini adalah sata yang paling tepat untuk mereka beraksi.


Keempat orang musterius itu sudah bersiap di posisi masing-masing.


01 bertugas meringkus Zein yang menjadi pemeran utama dan 01 akan menggantikan Zein memerankan adegan terakhir mengendong Aruna yang berpura-pura tewas. Sedangkan Zein di ikat dan di tutup mulut serta matanya dengan kain dipojok panggung tempat pengoperasian lighting bersama dengan sang operator lighting yang asli.


Setelah berhasil meringkus Zein, 01 naik ke atas panggung menggendong Target A dan membiusnya dengan sapu tangan. Jadilah Aruna yang menjadi target A itu bukan berpura-pura yewas, melainkan pingsan karena obat bius.


02 bertugas memberikan kode sinyal kepada 03, memadamkan lighting panggung dan merusaknya. 02 juga meringkus sang operator lighting yang asli dan setelah adegan selesai, 02 membantu 01 membawa Target A menuju ke jalur belakang yang telah di tentukan tadi.


03 bertugas merusak pembangkit listrik gedung sekolah setelah mendapat sinyal dari 02. 03 juga segera berlari menuju ke arah gedung belakang sekolah dan membantu mengawal sanderaan.


04 berjaga di jalur keluar menuju helikopter dan menunggu para rekan Agent berkumpul termasuk ketuanya. Ia akan menjadi petunjuk arah.


Masing masing dari mereka berempat termasuk sang ketua memakai alat khusus yang berbentuk eyeglasses atau kacamata pencahayaan yang bisa melihat saat keadaan gelap gulita. Sehingga mereka tak kesusahan saat berlari menuju arah tujuan.


Disaat semua ricuh dan ketakutan karena keadaan yang begitu gelap gulit, Sharen berlari dengan sekuat tenaga menyusul para anak buahnya menuju gedung belakang sekolah. Ia sangat bahagia atas keberhasilanya untuk menyandera Aruna. Hatinya begitu bergemuruh menampakkan kebahagian bercampur sebuah emosi dan dendam yang sejak dulu ia pendam.


Ia terus berlari mendekat ke arah anak buahnya yang sedang menunggu. Sedikit lagi mereka menuju keluar ke arah gedung sekolah. Tiba-tiba saja.


(Blam!) Suara anak panah menembus gerbang belakang sekolah. Hampir mengenai tubuh salah satu diantara anak buah Sharen.


Mereka terus berlari tak mempedulikan darimana asal datangnya anak panah itu. Yabg mereka fikirkan sekarang adalah segera menuju ke helikopter A008. Mereka terus berlari. Aruna yang mereka bopong dengan susah payah hampir saja terpental jatuh. Tapi untungnya Sharen dengan sigap menumpu tubuh Aruna. Mereka begitu susah payah.


Beberapa orang yang mengejar mereka adalah Caca dan Aslan. Mereka berdua di bantu dengan salah satu angent mereka mengejar rombongan Sharen ke tempat tujuan. Caca bisa mengetahui keberadaan mereka karena gps yang di pasangkan di tubuh Aruna. Benar saja, ia langsung menemukan sang pelaku di gelapnya susasana malam itu.


Caca tak begitu memperhatikan siapa dalangnya tapi ia hanya melihat samar-samar di bawah cahaya bulan salah satu diantara mereka berlima menggunakan syal merah. Tepat sekali dia adalah Sharen.


Caca langsung melesatkan anak panahnya yang ke dua setelah tadi gagal dan mengenai gerbang. Anak panah kedua itu berhasil menancap tepat di engkel salah satu anak buah Sharen.


'Ah, tepat!' Batin Caca bahagia.


"Aaarrrgh!" Agent 03 tertancap anak panah milik Caca. Ia merintih kesakitan merasakanya. Langkahnya semakin melambat. Rombongannya membantu memapah, tetapi iti membuat pergerakan mereka semakin lambat menuju A008.


"03 bertahan!" Teriak Sharen.


"Tuan tinggalkan saja saya!"


"Tidak!" Teriak Sharen.


"Tuan tolong lepas saya bisa menyelesaikanya!"


"Oke saya percaya kamu!"


"Siap Tuan!" Teriak anak buah itu sambil berjalan tertatih-tatih sedangkan Sharen dan ketiga abggota lainnya berlari membawa Aruna yang sebentar lagi sampai menuju A008.


Rombongan Sharen berhasil naik ke atas helikopter dan mereka perlahan mengudara. Pergi dengan meninggalkan kesunyian di lahan terbuka itu. Tersisa Caca, Aslan, Agent perkumpulan dan salah satu anggota Sharen yang tertancap anak panah tadi. Ia sudah lemah dan menyerah tidak berdaya untuk berlari lagi.


Aslan dan agent membawa pelaku itu dengan sangat kasar menuju kembali ke gedung sekolah dan mereka membawanya ke mobil. Caca segera menghubungi Riega yang dari tadi sedang berusaha membantu menyalakan listrik di sekolah.


"Kak, gue tunggu di mobil!" (Send)


Riega membacanya dan segera menuju ke lokasi dimana mobilnya berada. Ia sesegera mungkin menuju ke sana. Listrik di sekolah sudah kembali menyala. Semua orang kembali tenang dan hal itu membuat pihak sekolah kelimpungan acara pagelaran seni teater kali ini selesai dan di akhiri dengan tragedi aneh. Tapi mereka semua tak menyadari jikalau Aruna di sandera.


Zein dan operator lighting diselamatkan oleh Riega dan mereka di perintahkan oleh Riega untuk merahasiakan hal ini terlebih dahulu sampai semua terungkap.


To be Continue...


😳 😳 😳


Guyss... 😥


Like aja deh aku ga bisa berkata-kata 😶