
Sesampainya di Markas besar Macan Hitam, Caca, Aslan, Riega dan 4 orang Agent Team Pegulat membawa salah satu pelaku itu dengan kasar. Caca memerintahkan 4 orang agent membawa orang itu ke ruang interogasi di bawah.
Riega, Caca dan Aslan langsung masuk ke dalam dan menemui Ketua AL. Mereka berjalan bersama tetapi Riega sudah tak sabaran untuk membicarakan hal ini. Dia sungguh khawatir dengan kekasihnya, Aruna. Riega menarik lengan Caca untuk segera masuk ke ruang Ketua AL.
(Ceklek)
Pintu terbuka dan mereka bertiga masuk. Disana sudah ada Ketua AL yang menunggu sambil duduk dan menghisap cerutu dengan asap yang mengepul.
"Bagaimana? Duduklah dulu!" Titah Ketua AL dengan nada ramah namun tegas. Sebuah gaya bicara yang hanya di miliki oleh seorang ketua mafia besar yang memiliki ribuan anak buah yang terlatih. Berwibawa dan sangat mengintimidasi.
"Siap Ketua!" Jawab mereka serempak dan mereka bertiga duduk di sofa putih dan bersih beraksen elegan dan klasik. Sebuah dekorasi tingkat tinggi yang hanya di miliki oleh Perkumpulan Macan Hitam.
"Jadi, apa yang begitu mendesak sampai Caca memaksa minta bantuan dari perkumpulan? Apa lagi sampai ke sekolah. Itu bisa membahayakan!" Tanya Sang Ketua dengan tenang.
"Sebelumnya saya mohon maaf Ketua. Ini mendesak. Saya hanya bisa memikirkan cara supaya orang yang menjadi target sanderaan ini terpasang gps aktif. Saya meminta Team pegulat Level 10 untuk turun dan membawakan alat modifikasi berupa gps ke sekolah. Saya juga tidak memerintahkan mereka menggunakan senjata. Hanya saya yang menggunakanya itupun saat di luar sekolah mengejar para pelaku Ketua!" Terang Caca sambil berlutut di hadapan Ketua AL mengaku bersalah mengambil tindakan begitu gegabah.
"Tidak masalah kamu sudah begitu cerdik dan menahan emosi. Lalu siapa yang begitu penting sampai kalian mau lindungi?!" Tanya ketua lagi.
"Aruna. Dia kekasih saya Ketua!" Jawab Riega dengan air muka dingin dan datar.
(Prok prok prok!") Suara tepukan tangan dari sang Ketua menggema memenuhi ruangan.
"Bagus sekali! Wanita seperti apa dia?" Tanya ketua lagi.
"Dia hanya gadis biasa Ketua!" Jawab Riega sambil menunduk.
"Wah wah. Sepertinya bukan."
"..." mereka bertiga hanya diam dan saling mengerutkan dahi masing-masing.
"Kalian masih belum paham! Baiklah akan saya jelaskan!" Ujar Ketua AL sambil menghisap cerutunya.
"Kalau wanita itu hanya seorang perempuan biasa, tidak mungkin seseorang akan rela bersusah payah menculiknya. Ada sesuatu terselubung dibalik motif penculikannya. Dendam atau keuntungan. Kita masih belum tahu apa maksud mereka. Tapi sekarang kita bisa mencari tahu dimana keberadaan mereka melalui gps aktif itu, dan kita juga harus mencari tahu siapa pelaku sebenarnya!"
"Betul ketua! Saya tahu siapa dalangnya dan saya berhasil menangkap salah satu diantara mereka!" Sahut Caca. Riega yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Caca ia terkejut.
"Kenapa lo ga bilang Ca?" Tanya Riega kaget.
"Gue harus cerita di waktu yang tepat!" Tutur Caca.
"Bang, Caca ga cerita saat di mobil karena orang yang berlumuran darah di kakinya tadi adalah salah satu pelakunya bisa jadi dia bakal ngasih informasi juga!" Jelas Aslan membela Caca.
"Kenapa ga bilang? Biar gue hajar sampe mati dia!" Geram Riega mengepalkan kedua tangannya hingga urat-urat tanganya menonjol.
"Riega! Tenang ini bukan kamu yang saya Kenal!" Ujar Ketua AL dengan penuh penekanan.
"Meskipun orang yang disandera itu adalah kekasihmu, tapi kamu harus menggunakan akal dan strategi jangan terbawa emosi!" Uhar Ketua AL.
"Maaf Ketua!" Ujar Riega pasrah.
"Caca ceritakan!" Titah Ketua.
"Jadi, setelah saya memasang Gps aktif itu, saya selalu memantau mereka. Sebenarnya saya tidak tau apa strategi mereka. Setelah saya dan Aslan telaah sepertinya mereka memang mau menculik Aruna. Ternyata dugaan kami benar. Aslan sempat melihat salah satu diantara orang berpakaian hitam itu berlari cepat ke arah titik pembangkit listrik sekolah. Akhirnya saya dan Aslan menetap di sana dan berusaha menguntit. Tapi kami sempat kehilangan arah karena begitu gelap. Kami memanggil salah satu Agent pegulat untuk membantu dan memberikan salah satu senjata milik saya. Dia datang dan kami mengecek di mana titik merah tanda Aruna itu berada. Ternyata ke arah belakang sekolah. Kami mengejar dan sampai kami melihat 5 orang berlari-lari saya melesatkan anak panah tapi meleset. Saya tau pelaku itu ternyata adalah Sharen..."
"APA?!" Teriak Riega menggema di ruangan.
"..." Riega tak bisa berkata-kata karena memang benar Sharen menggunakan syal merah yang melingkar di lehernya. Ternyata dialah pelakunya. Tapi apa yang sebenarnya Sharen inginkan dari Aruna sampai dia tega menyandera Aruna apakah ini karena dirinya? Kenapa harus Nana? Fikiran Riega mulai penuh dan dirinya tak bisa berfikir dengan baik lagi rasanya sangat lelah untuk hari ini.
"Dan terakhir saat gue manah anggota itu dia lari ke arah lahan kosong. Setelah itu gue liat ada helikopter yang terbang ke atas. Gue liat terakhir kali, Sharen cuma senyum licik ke arah gue. Gue benci bangwt liat muka dia!" Geram Caca sambil mengepalkan tanganya.
"Jadi, dia di bawa menggunakan helikopter? Apa kalian liat spesifikasinya? Atau ciri-ciri dari helinya?" Tanya Ketua.
"Maaf ketua, saya hanya terfokus pada Sharen!" Jawab Caca.
"Saya ketu. Dilihat dari ujung baling baling helikopter disana ada bendera hitam. Tapi saya melihat samar karena tanpa pencahayaan, di badan dan ekor dari helikopter ada lambang yang sama dengan bendera. Tertulis huruf A dan X besar disana. Saya rasa itu semacam inisial. Tapi saya kurang paham Ketua!" Jelas Aslan mengingat-ingat kejadian tadi.
"Baik! Semua keterangan kalian sudah saya rekam dan kedua Team Intelijen akan sesegera mungkin mendapatkan informasi. Caca dan Aslan boleh keluar dan interogasi pelaku tertangkap. Riega tetap disini!"
"Tapi ketua? Saya ingin ikut interogasi!" Pinta Riega.
"Tidak! Kamu hanya akan membunuh dia!" Ujar Ketua AL.
Caca dan Aslanpun keluar dan segera menuju ke ruang interogasi. Sedangkan Riega hanya menetap disana bersama Ketua AL. Ketua tau betul sifat dari keponakan sekaligus penasihat pribadinya itu. Riega pasti akan mengambil tindakanya sendiri dia akan menghabisi siapapun yang menyakiti orang tersayangnya apalagi dia adalah belahan jiwanya, kekasih hatinya. Ketua khawatir jika pelaku tertangkap itu di interogasi oleh Riega, malah tidak akan mendapatkan apa-apa. Oleh karena itu, Ketua AL menahan Riega, mengajaknya berbincang dan sekaligus menyusun strategi.
****
Dilain tempat. Zein dan operator lighting yang tadi diselamatkan oleh Riega sempat ia bawa ke ruang UKS dan ia titipkan pada Bu Zeze sang penjagga disana. Riega tak menjelaskan pada Bi Zeze mengapa Zein dan Orang tak dikenal itu bisa lemah begitu. Riega langsung berlari saja, membuat Bu Zeze kebingungan, tetapi ia tetap saja menangani keduanya memberikan oksigen dan memberikan teh hangat.
Zein yang merasa pusing terus memejamkan matanya selama beberapa menit. Hingga Bu Zeze memberikan oksigen untuknya, akhirnya ia tersadar. Zein merasa ketakutan dan dirinya trauma akan kejadian tadi. Ia di bekap dengan kiat di belakang panggung. Ingin berteriaktapi tak bisa, tanganya di ikat, kakinya di ikat, mulutnya di bekap di ikat oleh kain, matanyapun di tutup dengan kain hitam tubuhnya di seret paksa entah menuju kemana. Ia berusaha melepaskan diri tapi tak bisa, tenaganya lemah dan matanya yang tertutup kain akhirnya benar-benar terpejam dan ia pingsan.
Saat Zein membuka mata, ia langsung meneriaki nama Aruna. Membuat Bu Zeze merasa kebingungan. Zein semakin histeris karena diribya ternyata sekarang berada di UKS.
"ARUNA... DIMANA NANA? ARUNA DIMANA BU?!" Teriak Zein memekakan telinga.
"Zein, Aruna pasti sudah pulang dan tidur nyenyak!" Ujar Bu Zeze tenang.
"GA GA MUNGKIN ARUNA DALAM BAHAY BU! ARUNA! CARI ARUNA SEKARANG!" Teriak Zein lagi semakin histeris dan berusaha turun dari brankar UKS namun di tahan oleh Bu Zeze.
"Zein, kamu tenang dulu yah. Kamu ceritain dulu sama Ibu, baru kita cari dimana Aruna!" Ujar Bu Zeze menenangkan Zein.
"Jadi tadi saya...." Zein menceritakan semuanya dengan jeli dan sesuai dengan apa yang ia alami.
Bu Zeze yang mendengar itu sangat terkejut. Akhirnya Bu Zeze memberitahu semua guru yang masih berada di area sekolah sekaligus Pa Kepala Sekolah. Semuanya bingung dan ketakutan. Akhirnya mereka memutuskan mencari Wisey ke kelas Aruna, menanyakan keberadaan Aruna.
Dan benar saja, Aruna ternyata tidak ada. Wisey malah sedang mencari-cari keberadaan Aruna, karena ia belum mengganti kostumnya, handphone, tas, dan juga seragamnya masih di kelas. Masih ada juga beberapa teman sekelas Aruna yang masih menetap. Mereka juga bingung dan akhirnya kepala sekolah menenangkan mereka dan memberikan arahan jangan beri tahu siapapun dulu sampai hal ini bisa di pastikan.
Wisey menghubungi Pa Ramikan menggunakan handphone Aruna. Sambungan terhubung dan Pa Ramikan hanya Wisey suruh datang ke sekolah agar biaa berbincang dengan Kepsek sebagai perwakilan Mamah Riris yang sedang di luar kota. Semua teman Arunapun pulang kecuali Wisey yang sedang ingin menunggu kabar dari sahabatnya itu.
To be Continue...
Guyss... 😊
Tetap ikutin Alurnya yaaah 😍
Sabar dan telaten membaca ☺
Jangan lupa selalu beri aku semangat dengan Like dan berikan Coment kalian yah tentang cerita aku ini 😘