Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
65



Riega terbangun tepat pukul 5 pagi. Ia segera bergegas bersiap diri menemui Ketua Al sebelum menuju ke bandara.


Setelah selesai bersiap, Riega segera menuju ke ruangan pribadi Pamannya itu.


Tok tok tok. Pintu berukuran besar yang elegan itu terbuka begitu terdengar sahutan khas pmsang empunya ruangan. Riega berjalan dengan gagahnya, rasa percaya dirinya membumbung tinggi. Inilah saatnya untuk Riega beraksi. Sudah lama sekali ia tak bermain-main dengan kelompok mafia lain di negara yang berbeda.


Setelah pamannya memerintahkan untuk duduk, ia langsung saja menjatuhkan bokongnya di sofa empuk berharga ratusan juta itu.


"Apa rencanamu?" Tanya Ketua Al.


"Aku sudah menyusunnya dengan rapih. Mereka beberapa tahun ini sering menyinggung nama besar Macan Hitam. Kejadian kemarin sudah bisa menjadi alasan terbesar kita melawan secara halus. Aku akan menyiapkan hadiah di pesta perjamuan nanti. Kau tak perlu khawatir Paman!" Pungkas Riega dengan nada dingin khas seorang mafia.


"Bagus! Apapun yang kau butuhkan, katakan aku akan menyiapkannya."


"Aku sudah menyiapkannya, Paman. Tunggu saja kabar baiknya!" Riega langsung berdiri dan menaikkan sedikit sudut bibirnya.


"Baiklah, kirim kabar secepatnya!"


Riega hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi dari ruangan Pamannya itu. Ia mencari keberadaan William. Saat Riega tengah mencari Will, tiba-tiba saja ia teringat dengan Aruna. Sejak selesai latihan kemarin, ia tak bertemu dengan kekasih hatinya. Bahkan, sekadar mengobrolpun tidak.


Riega berniat untuk melihat keadaan Aruna. Ia segera bergegas menuju ke kamar Caca.


Tok tok. Ketukan pintu terdengar nyaring di telinga Caca. Ia segera bergegas bangun dengan perlahan, takut mengganggu Aruna yang masih begitu lelap tertidur.


Caca sekilas melihat jam, ternyata masih pukul lima pagi.


"Ah, siapa pagi-pagi begini?" Gumamnya segera memutar kunci pintu kamarnya.


Ceklek. Pintu terbukan perlahan. Menampakkan wajah Riega yang sudah segar dan mengenakan pakaian yang rapih.


"Mana Aruna?" Tanya Riega langsung.


"Masih tidur Ka. Ada apa? Sini masuk!" Ajak Caca.


"Ga usah di bangunin. Gue mau lihat dia aja." Ujar Riega berjalan mendahului Caca ke ranjang di mana Aruna terlelap dengan cantik.


Riega langsung menjadikan sebelah lututnya sebagai tumpuan. Perlahan ia merapikan rambut Aruna yang sedikit menutupi wajah cantiknya. Matanya tetap terpaku pada karya tuhan yang begitu indah di pandang mata.


"Aku pergi dulu ya sayang, kamu semangat latihannya.." Gumam Riega dengan lembut sambil mengelus pipi Aruna yang masih terlelap.


Aruna yang masih terbuai dengan alam mimpi, sedikit merasakan sentuhan hangat itu menggeliat sedikit dan mengubah posisinya. Tapi masih terus nyaman dengan alam mimpi.


Riega tersenyum sekilas. Ia lalu berdiri kembali dan melihat Caca sedang duduk di sofa dengan wajah kantuknya. Riega menghampiri Caca dan mendaratkan bokongnya si sofa.


"Titip Aruna ya, latih dia sampai jago!"


"Heeem.. Mau kemana lo Ka?" Tanya Caca masih dengan mata sepetnya.


"Gue ada misi dari Paman."


"Misi apa? Kenapa ga ajak gue sama Aslan?" Tanya Aruna mulai tertarik dengan pembicaraan.


"Ini berkaitan sama Keluarga Tao."


"Apa?" Caca tersentak.


"Iya, gue sendiri yang bakal berangkat kesana sama Will."


"Ka, apa ga seharusnya ajak gue sam-" Belum selesai Caca bicara, Riega memotongnya.


"Ga. Ini bukan hal yang gampang dan gue ga mau libatin kalian dalam misi kali ini. Lo tau kan, siapa Jun Tao Liau?" Ucap Riega.


"Ya Ka, gue tau ko. Yaudah, lo hati-hati disana. Gue ga tau permasalahan apa yang terjadi antara kelompok kita sama keluarga Tao itu, tapi bakal gue cari tau. Yang pasti kalau lo butuh bantuan gue sama Aslan dan anggota lain akan segera kesana samper lo!" Ujar Caca yang sudah mulai menghilang rasa kantuknya.


"Yaudah, gue pamit. Jam enam udah harus check in dan salam untuk Aslan. Kalau Aruna nanyain gue, bilang gue ada urusan penting. Jangan sampai Aruna tau, Oke?!" Jelas Riega.


"Oke Ka" Sahut Caca melihat wajah kakanya yang tampan.


"Sip. Gue berangkat!" Pamit Riega mengelus puncak kepala adik kesayangannya itu.


Riega keluar dari kamar Caca dan bergegas menemui Will. Ternyata Will sudah bersiap sejak tadi di teras depan markas menunggu Riega dan telah membawa koper untuk keperluannya di sana.


"Ayo!" Ajak Riega berjalan mendahului Will ke mobil yang telah disiapkan.


William sekretaris pribadi Ketua Al berjalan mengekor di belakang Riega. Sedangkan koper tadi di masukan ke bagasi mobil oleh sopir. Mereka duduk di jok belakang.


"Apa rencanamu Riega?" Tanya Will membuka percakapan.


"Aku akan menjelaskannya nanti padamu jika sudah sampai di hotel"


"Oke" Jawab Will seadanya.


Perjalanan menuju bandara terasa begitu cepat karena saat itu jalanan masih terbilang sepi.


Sesampainya di bandara, Riega dan Will langsung menaiki pesawat pribadi milik Perkumpulan Macan Hitam. Erwin sang pilot langsung menyambut kedatangan mereka.


Riega memberikan kode agar segera berangkat. Setelah masuk ke dalam kabin pesawat, Riega mengambil posisi duduk yang berbeda dengan Will. Masih bersebelah-sebelahan.


Pramugari disana memberikan sebuah minuman untuk mereka berdua. Erwin sudah bersiap di bagian depan untuk mengemudiakn pesawat. Setelah mendapat persetujuan terbang dan melihat sinyal tanda untuk mengudara, Erwin segera mengendalikan tuas dengan cekatan. Pesawat itu berhasil mengudara.


Di dalam pesawat mereka berdua hanya menghabiskan perjalanan dengan saling fokus ke alat komunikasi masing-masing.


Will fokus dengan tabletnya yang di penuhi dengan laporan informasi dari berbagai perusahaan dan tempat-tempat yang dikuasai oleh Macan Hitam.


****


Keluarga Tao, yang di pimpin oleh Jun Tao Liau. Mereka adalah gembong mafia besar di Cina. Sama seperti perkumpulan Macan Hitam, mereka adalah pengendali utama dalam dunia hitam. Dan yang membuat Ketua Al, Riega serta Caca terkejut saat mendengar kabar itu adalah, Karena Jun Tao Liau adalah Ketua umum atau bisa di sebut pemimpin dari seluruh gembong-gembong mafia di seluruh jagat ini.


Jika di bayangkan dan di fikirkan, mungkin memang sangat menakutkan. Tapi, bagi Riega asalkan ia bisa bermain halus sudah pasti pemimpin Keluarga Tao akan tunduk padanya.


Permainan strategi Riega kali ini simple saja, ia akan melihat kondisi di perusahaan milik Macan Hitam lebih dulua, apakah masih ada gangguan datang atau tidak selama ia menetap disana. Kemudian jika itu terjadi ataupun tidak, ia akan tetap menjalankan rencana berikutnya.


Pada perjamuan tiga hari mendatang, sudah pasti pemimpin mafia dari berbagai negara akan datang. Ia yakini, mereka semua akan memberikan sebuah hadiah terbaik untuk Jun Tao. Dan Riega sudah tau, hadiah apa yang akan ia berikan untuknya. Sudah pasti, ia akan menyukainya. Dan hadiah itu pula, yang akan menjadi sebuah sogokan atau umpan agar dirinya bisa menyinggung kelakuan istri tak tahu diri Jun Tao itu, dan mempermalukannya di muka para petinggi mafia.


Tapi, yang menjadi hal paling menantang kali ini adalah mendapatkan hadiah itu. Hadiah yang akan Riega berikan pada Tuan Jun Tao adalah sebuah maha karya yang sangat terkenal di belahan bumi manapun. Itu adalah sebuah maha karya berupa patung yang bernilai fantastis.


Patung kelinci-Jeff Koons dibuat pada tahun 1986, patung baja berukuran 41 inci ini pernah dijual di Christie’s New York dengan harga lebih dari 20 juta dollar atau setara dengan 290 juta rupiah.


Kemudian berhasil memecahkan rekor harga, dan terjual lagi seharga 71 juta euro atau sekitar 1,3 triliun rupiah.


Maha karya yang dikenal imut, seram, hampa, seksi, dingin, dazzling dan ikonik ini lah yang selama ini di inginkan oleh Tuan Jun Tao si medit dari Tiongkok itu.


Ia menginginkannya tapi tak mau mengeluarkan sedikitpun duitnya untuk maha karya itu. Ia menyuruh beberapa anak buahnya untuk mencuri patung itu, tapi tak ada satupun yang berhasil. Mereka menyerah di tengah jalan karena penjagaan yang ketat di sekitar patung itu.


Jelas saja, patung itu adalah barang investasi terbesar bagi para gembong mafia seperti mereka.


Dan sekarang, patung Kelinci-Jeff Koons itu sedang di pamerkan di sebuah Pameran Seni kelas internasional di salah satu negara terdekat dengan Tiongkok.


Sebelumnya juga Riega sudah mencari dan mengetahui informasi mengenai pameran seni itu bersama Ketua Al. Yah, Riega dan Pamannya tentu saja tak mau mengeluarkan duit sebesar itu atau lebih hanya untuk memberi kado sebuah perjamuan, apalagi jika tujuannya hanya untuk mempermalukan si-Tuan Tao sialan itu. Riega akan mengambilnya. Itu adalah sebuah hal yang menyenangkan dan menantang bagi dirinya.


****


Setelah menempuh 4 jam penerbangan, pesawat yang dikendalikan oleh Erwin berhasil lepas landas di bandara Tiongkok, Riega dan Will segera masuk ke dalam mobil hitam andalan perkumpulannya dan berpisah dengan Erwin.


Sebelumnya, Riega memberikan pesan bahwa malam nanti, Erwin harus standby di bandara karena Riega akan kembali terbang menuju Singapura. Tempat di mana Pameran Seni Internasional itu di selenggarakan.


---Perbedaan waktu hanya satu jam. Jika tadi Riega berangkat pukul 6 pagi, maka di Tiongkok sudah pukul 7 pagi. Sedangkan waktu Tiongkok dan Singapura itu sama.---


Pukul 11 lewat mereka sampai di hotel, Riega dan Will berpisah menuju kamar masing-masing. Setelah mengistirahatkan tubuh sejenak, Riega menghubungi William melalui alat komunikasi yang dirancang khusus, supaya Will segera ke kamarnya.


Tak menunggu lama, Will datang dan di persilahkan masuk oleh Riega.


"Ada apa?" Tanya William tanpa basa-basi.


"Pukul 1 siang nanti, kita pergi ke perusahaan. Minta para pekerja disana untuk melakukan perkumpulan. Aku akan memberikan arahan. Kau malam nanti tetap disini tunggu aku kembali setelah menjalankan tugasku."


"Baiklah. Apa ada yang perlu aku lakukan lagi selain itu?" Tanya William lagi.


"Em,,," Riega tampak berpikir. "Bisakah kau membantuku?"


"Apa?"


"Kau pandai meretas,kan?" Tanya Riega lagi.


"Ya, meretas apa? Apa ini berkaitan dengan jaringan? Atau apa?" Tanya Will mulai serius.


"Entahlah aku tak paham betul apa berkaitan dengan jaringan atau tidak. Tapi aku ingin mengambil sebuah benda penting dan benda itu disimpan dalam sebuah box kaca anti peluru dan ada sebuah kode rahasia."


"Oh, kode rahasia.." Timpal Will dengan ekspresi enteng saja.


"Iya iya. Apa kau bisa?"


"Gampang. Apa kau punya email dari organisasi yang ingin kau bobol itu?" Tanya Will.


"Sebentar!" Riega mulai meh-scroll layar handphonenya.


Ah, beruntung sekali ada Will di sini, batin Riega. Ia dan Will terus berusaha agar bisa membobol pertahanan dari sistem keamanan Maha karya yang akan ia curi.


Sambil melakukan pekerjaannya dengan serius, William berbincang santai dengan Riega menanyakan rencana apa yang berkaitan dengan kode-kode rahasia itu.


Riegapun menceritakannya secara singkat namun, Will sudah tau apa yang akan Riega lakukan.


Sampai tepat pukul satu siang waktu Cina, mereka segera meluncur ke perusahaan milik Ketua Al. Namun, proses meng-hack kode keamanan itu harus di tunda. Mereka berduapun berangkat menuju lokasi


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


To be Continue...