
Lima menit setelah Riega berhasil melihat Sharen masuk ke dalam dan menaiki anak tangga, Riega langsung dengan mantap menggenggam pistolnya di sebelah kanan, di satu tangan lainnya menggenggam erat 2 kartu shuriken hasil modifikasi pemberian dari team intelijen.
Ia berbisik di alat komunikasinya menyambungkan pada semua agent Macan Hitam yang ada di gedung Mr. Alexander Dex.
"Cek, semua sudah di posisi?"
"Sudah Kapten!"
"Jalankan sesuai skema! Plane A gagal, tanpa berfikir lagi, ubah haluan ke Plane B! Paham?" Ujar Riega menjelaskan.
"Paham Kapten!" Teriak mereka serempak penuh semangat peperangan.
"Seraaang!" Titah Riega membara di saluran komunikasi. Satu kata dari Riega mampu menggerakkan 68 orang pegulat unggulan Perkumpulan Mafia Macan Hitam. Mereka semua langsung beraksi bergerak maju membabi buta disana. Entah apa hasil akhirnya nanti.
Keadaan di rumah kosong tengah hutan. Aslan dan Caca yang sudah mendengar komando dari Kapten Riega langsung menjalankan misi.
Aslan yang sedari tadi bersembunyi di balik batu, mendengar satu kata perintah dari Riega, langsung menggerakkan satu tanganya.
(ZLAP!)
(ZLAP!)
(ZLAP!)
Tiga orang anak buah Sharen yang sedang berjaga di luar bagian depan pintu langsung tumbang seketika. Tanpa tahu apa yang telah membunuh mereka. Dalam hitungan tiga detik saja, Aslan sudah berhasil membunuh tiga anggota Sharen. Shuriken mata tiga telah menancap tepat di leher ketiga orang tak berguna itu.
"Bah, semudah itu ternyata mematikan lalat!" Gumam Aslan tersenyum menghina. Aslan langsung merayap ala-ala marinir berusaha mendekati 2 anak buah Sharen yang berjaga di samping kanan bangunan kosong itu.
(ZLAP!)
(ZLAP!)
Shuriken kembali menancap ke leher dua penjaga tak berguna itu. Aslan bergerak cepat ingin berpindah ke sisi sebelah kiri gedung, tapi ia melihat Kapten Riega sedang merayap mendekat ke sana. Ia tahu, Riega akan menangani 2 orang penjaga bagian luar yang tersisa.
Dalam satu kedipan mata, Riega berhasil menancapkan dua kartu nama miliknya di leher 2 penjaga tersisa itu. Tanpa suara, senjata kecil yang mematikan itu sangat berguna sekali. Pelatihan di Perkumpulan Macan Hitam memang selalu berguna. Tak sia-sia dirinya mengukuti jejak Pamanya, Ketua AL.
Aslan dan Riega saling tatap. Mereka berdiri mengubah posisi mengambil senjata pistol milik anak buah Sharen yang sudah mati bergelimpangan dalam hitungan detik saja.
Mereka berdua berpura-pura menjadi rekan mereka. Karena Riega dan Aslan menggunakan baju serba hitam. Mereka masuk dengan santainya ke dalam ruangan lantai satu. Ikut bergabung berjaga disana bersama 4 anak buah.
Aslan ke arah kanan, Riega ke arah kiri.
Salah satu dari mereka menegur Riega karena tidak menuruti tugas untuk berjaga di luar.
"Hei, Bung! Tugasmu berjaga di luar, ini area kami!" Ujar Salah satu anak buah Sharen itu tak mengenali Riega.
"Lihat saja Bung! Rekan kalian mati bergelimpangan disana dan kalian tidak sadar? Hem?" Ujar Riega menghina dan membuyarkan fokus mereka. Satu-dua detik saja sangat nerharga untuk mereka dalam pertarungan jarak dekat seperti itu.
Empat orang anak buah Sharen menoleh ke arah luar jendela kusam itu. Memastikan perkataan Riega itu benar. Belum sempat mereka kembali menoleh ke arah Riega, Shuriken milik Aslan sudah menancap indah, tepat Sasaran di leher ke dua penjaga sebelah kiri.
Tersisa dua penjaga lain yang masih melongo melihat kelincahan dan kecepatan tangan Aslan yang berdiri tepat di depan mereka. Kesempatan itu tak di sia-siakan oleh Riega yang berada di seberang mereka.
Riega langsung berlari, membuang senjata pistol yang tadi ia pungut di depan. Ia melompat dan menikam salah satu anak buah Sharen. Menguncinya dalam posisi telentang. Belati yang ia simpan di selipan ikat pinggangnya, ia tarik keluar dari sarungnya. Mengacungkan ke atas dan...
(Zret!) Belati yang tajamnya luar biasa itu menyobek kulit leher dari anak buah Sharen mengeluarkan darah segar disana. Mengalir deras bercampur dengan debu dan membasahi keramik usang. Terkapar lagi satu anak buah Sharen.
Tinggal satu lagi, berada ditangan Aslan. Anak buah itu terkunci di genggaman Aslan. Ia menyaksikan temanya mati terkapar karena perbuatan Riega. Sadis sangat sadis. Riega bangun mengubah posisi menjadi berdiri tegap. Ia menatap tajam mata anak buah Sharen yang sekarang mulutnya sudah di bekap oleh Aslan.
"Kenapa? Kamu gentar melihat belati ini? Huh?" Riega mengangkat belatinya yang berlumuran darah segar. Mengusapkanya ke pipi anak buah yang tersisa itu, membuatnya semakin ngeri. Anak buah itu menggeleng.
"Tidak? Baiklah, rasakan ini!"
(Set!) Belati menancap di perut anak buah itu. Ia meraung kesakitan. Tapi tertahan karena tangan Aslan membekap mulutnya kuat.
"Rasakan itu! Berani sekali kalian menyiksa kekasihku? Huh! Rasakan penderitaanya!" Riega berlalu meninggalkan anak buah Sharen yang suda lemah tak berdaya, ia masih sadar. Tapi tak lama lagi mungkin akan mati. Aslan mendorong tubuh bersimbah darah itu dengan kasar dan langsung terkulai lemah di lantai penuh debu.
Riega dan Aslan langsung berjalan menaiki anak tangga dengan perlahan. Tanpa suara meskipun tangga itu sudah reot. Setelah sampai di lantai atas, mereka langsung di suguhkan dengan pemandangan yang sangat membuat hati Riega sakit.
(PLAK!) Tamparan keras mendarat di pipi kekasihnya itu. Merah, bahkan sudut bibir Aruna berdarah. Riega tak tega. Sakit melihatnya, saat ini ia sedang memegang pistol Glock 20nya. Riega hendak menarik pelatuknya namun di tahan oleh Aslan dan berbisik melalui alat komunikasi.
"Tahan Kapten! Kita tidak bisa gegabah! Dia akan menguak masa lalunya" Ujar Aslan berbisik. Caca yang sedang berada di atap telah melihat posisi mereka.
Saat Sharen memerintahkan anak buahnya memaksa Aruna menenggak susu pun, Riega sudah ada di lantai atas. Menyaksikannya dengan mata merah menyala, seperti seorang induk yang melihat anaknya di sakiti. Tapi ia berusaha menahan semuanya. Caca juga terlihat tak terima tapi Riega menahanya. Ia bersyukur Caca adiknya itu sangat cerdik. Berhasil mengganti racun di susu putih menjadi suplemen nafsu makan.
Kesabaran Riega semakin tipis. Ia hanya bisa menyaksikan kekasihnya menangis di sana, menahan sakit, hatinya juga sakit melihatnya. Ia diam disana menunggu Sharen melanjutkan pembicaraan.
****
"Bagus! Anak yang penurut!" Ujar Sharen.
Aruna meneteskan air matanya. Tak berkata apapun. Riega dan Aslan, serta Caca yang berada di atas atap menahan nafas. Mereka tak tahu hal gila apa lagi yang akan Sharen lakukan.
Sharen mendekati Aruna yang menangis, telah pasrah pada takdirnya. Ia berlutut di depan Aruna menatapnya tajam. Tiba-tiba mimik wajah Sharen berubah. Sedih, Sharen mulai meneteskan air matanya.
"Dulu.." Sharen mulai bercerita tentang masa lalunya yang pahit dan menyedihkan.
"Momy! Momyku, Roselina! Dia adalah kekasih dari Tuan Defandra! Ayahmu, Ayah kita Aruna!" Ujar Sharen menjeda kalimatnya dan ia mengubah posisi menjadi berdiri dan membelakangi Aruna
"Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Bahagia, terbuai dalam alunan melody cinta. Kisah cintanya dimulai dari saat mereka sekolah menengah atas, hingga kuliah dan mereka menamatkan pendidikanya. Momy dan Ayahmu, mereka saling melampiaskan cinta di atas ranjang! Mereka memadu kasih, bercinta dengan penuh gairah. Ayahmu berjanji akan menikahi Momyku. Hidup berdua hingga menua bersama dan membesarkan benih yang sudah Ayahmu tanam dalam rahim Momyku. Merajut mimpi dan asa bersama di atas ranjang. Mereka berdua di balut dengan api cinta dan api asmara. Malam itu di kamar hotel yang Ayahmu sewa, mereka terlelap tidur. Berkemul dengan selimut putih bersih tanpa sehelai benangpun di tubuh mereka, yang di atas sepreinya terdapat darah perawan milik Momyku telah di renggut oleh Ayahmu.." Sharen berhenti membalikkan badan ke arah Aruna menatap dengan tatapan yang tak dapat Aruna tafsirkan.
"Keesokan paginya. Dengan wajah yang berbinar-binar namun tubuh yang rasanya seperti tak bertulang. Momy dan Ayahmu pergi dengan mobil ke rumah Tn. Defandra. Mereka meminta untuk segera melangsungkan pernikahan. Dengan harapan yang menggembung di hati Momyku, kepercayaan diri yang selangit, ia menginjak masuk ke dalam rumah lantai tiga milik Ayahmu. Menghadap Kakek dan Nenekmu Aruna. Momyku di perkenalkan oleh Ayahmu. Tapi di sana sudah ada Wanita jalang bernama Riris! Wanita murahan yang detik itu juga telah merenggut semua kebahagiaan Momyku hingga saat ini Aruna!" Teriak Sharen membara ke hadapan Aruna. Tangan Sharen sudah teracung ke atas hendak menampar Aruna lagi. Aruna sudah memejamkan mata siap menerima tamparan Sharen. Begitupun Riega sudah hampir melepaskan tembakan. Tapi Sharen menahan gerakannya dan melanjutkan ceritanya lagi.
"Ya, Momy berasal dari keluarga biasa. Sedangkan Mamahmu adalah anak dari seorang kolega rekan keluarga Ayahmu. Wajah Momyku seakan tertampar dengan kata-kata busuk dari Nenekmu itu. Dia menolak mentah-mentah menjadikan Momyku sebagai menantunya. Momy hanya bisa menangis, ia memikirkan aku yang masih menjadi benih tak bernyawa di rahimnya. Ayahmu mendesak, tapi itu tak berguna, keputusan Kakekmu adalah mutlak. Momy ku terusir dengan hinanya dari sana. Ayahmu mengejar dan mencari Momy kemana-mana tapi Momy selalu menghindar hingga kabar pernikahan Wanita Jalang bernama Riris dan Tn. Defandra itu terdengar. Aku sudah berusia 3 bulan dalam kandungan. Bisa di bayangkan betapa sedihnya Momyku dan aku jika aku sudah mengerti" Sharen menangis meneteskan air matanya. Begitupun Aruna. Aruna memang sedari tadi sudah menangis. Matanya semakin lebam, wajahnya semakin kusut. Riega yak tega. Begitupun Caca dan Aslan. Tapi itu semua harus ia tahan. Semuanya harus terungkap lebih dulu sebelum Sharen di habiskan.
"Waktu berjalan begitu cepat. Aku di lahirkan oleh Momyku di rumah kecilnya yang hanya berukuran satu petak. Momy diam-diam selalu mengetahui berita-berita mengenai keluargamu. Saat usiaku terbilang 4 tahun lebih, wanita jalang itu mengandung. Dan tepat di usiaku menginjak 5 tahun dia melahirkanmu. Aku masih belum mengerti saat itu. Seiring berjalanya waktu, aku mulai menginjak bangku sekolah. Masa kanak-kanakku di penuhi dengan cacian dan makian. Aku orang biasa yang tak punya harta dan apapun di tambah aku adalah anak haram. Semua temanku, tetanggaku, mereka menghinaku. Aku awalnya abai dan acuh. Hingga usiaku menginjak kelas satu sekolah dasar, ada satu temanku menyiram dengan air kotor. Menghinaku dengan sebutan anak haram, tak punya ayah! Anak tak berguna! Semua cacian dan makian mereka selalu terngiang di kepalaku. Aku memberanikan diri bertanya pada Momy. Waktu itu aku masih kecil aku hanya di suruh bersabar tak ada sedikitpun kisah yang Momy ceritakan" Sharen meneteskan air matanya Aruna menatap Sharen iba. Aruna benar-benar tak menyangka kalau Sharen adalah saudara tirinya yang terbuang dan hidup menderita.
"Hingga aku masuk ke sekolah menengah pertama, Momy sudah menikah dengan seorang penguasa kota K ini. Sekarang dia menjadi Dady ku tersayang. Aku berpindah ke sini dari kota asal. Merasakan kasih sayang. Momy akhirnya menceritakan kisah kelamnya. Aku mengerti semuanya. Dadyku melatihku, membesarkanku dengan dendam dan kebencian dalam hatiku. Dady sangat keras, tapi berkat dia aku bisa sekuat sekarang dan aku bisa membalaskan dendamku yang pertama. Pada Ayah kandung yang membuangku. Tepat hari dimana kamu terusir aku sudah genap berusia 18 tahun dan kamu berusia tiga belas tahun. Kami menjalankan misi balas dendam kami. Merebut Ayahmu, merenggut kebahagiaanmu, malam itu di balik pintu rumahmu, aku menyaksikan Jalang bernama Riris itu di pukul dan di tendang oleh Tn. Defandra. Kamu menangis bahkan melawan. Aku menyaksikan semua itu. Aku merasa bangga telah merebut Ayah bajingan itu darimu. Tapi, aku bukan ingin hidup bersamamya. Bukan. Sama sekali bukan. Aku ingin mengirimnya keneraka secepatnya. Secepat yang aku bisa!" Tariak Sharen penuh dengan aura menyeramkan. Aruna menatap dengan tatapan takut, ia benar-benar tak menyangka kalau Sharen adalah seorang wanita kejam. Ia juga bingung kenapa tubuhnya sedari tadi tidak merasakan sakit sama sekali, padahal ia tau kalau susu yang sudah ia telan itu beracun. Aruna juga sakit, tidak hanya Sharen yang merasakanya.
"Bagaimana? Apa kamu mau tau kelanjutannya? Bagaimana cara ayahmu meregang nyawa? Hem?" Tawar Sharen mencengkeram dagu Aruna kasar.
Aruna hanya diam menatap wajah Sahren tajam. Riega kembali bereaksi menggenggam pistolnya. Tapi di tahan oleh Aslan.
"Baik, sambil menunggu racun itu merenggut nyawamu, aku akan bersedia melanjutkan ceritanya!" Lagi-lagi Sharen mendorong wajah Aruna kasar.
"Panto?"
"Ya Tuan!" Sahutnya.
"Cambuk!"
"Siap, ini Tuan!" Panto menyerahkan sutas Cambuk. Tak terlalu panjang, hanya berukuran 1 meter dan berujung tipis. Tapi, sekali sabetan akan membuat kulit terkelupas parah berdarah dan koyak. Sharen mengambilnya mencengkeram dengan kuat. Matanya berpendar merah bekas menangis sekaligus bercampur emosi.
Aruna mendelik, terkejut ketakutan. Riega, Caca dan Aslan bergidik ngeri dan sudah tak sabaran mereka bertiga sudah mengarahkan semua senjata masing-masing dari posisinya.
Tangannya sudah bersiap untuk menyabetkan cambuk itu dan...
(CLTAAR!) Suara cambuk beradu dengan lantai memenuhi ruangan lantai dua itu. Sharen tidak memecut Aruna, tapi lantailah yang dia pecut. Caca, Aslan, Riega dan Aruna bernafas lega.
Aruna masih menunggu Sharen untuk melanjutkan ceritanya, jantungnya berdebar, matanya sudah banjir penuh dengan air mata. Aruna mendongakkan kepala ke atas. Tepat di salah satu celah atap ia melihat ada sebuah tatapan mata yang ia kenal.
'Caca!' batinnya terkejut.
Caca menyadari kalau Aruna telah mengetahui keberadaanya, ia mengacungkan telunjuk ke depan bibirnya memberi kode pada Aruna agar terus mengikuti kemauan Sharen. Aruna mengerti.
Aruna mengedarkan pandangan ke seluruh isi ruangan. Matanya tertuju pada satu tatapan yang ia rindukan.
'Riega?'
'Aruna?'
Tatapan mata mereka bertemu seolah saling memanggil dari hati ke hati. Riega mengedipkan mata kepada Aruna seolah memberikan kekuatan dan keyakinan bahwa penyelamatnya telah tiba.
To be Continue...
Haiissshh, mood ku sedang anjlok! 😢
Sudahlah readers baca yah, aku berharap ceritaku selalu menghibur kalian :')
Berikan aku kesan dan pesan kalian dong di kolom komentar, bagaimana ceritaku ini? Apakah jelek, bagus, biasa saja, atau sangat tidak menarik? Apakah kontenya buruk, membosankan, atau yang lainya? Banyak typo, kalimat ga jelas? atau apa?
Ayooo, beri aku kesan dan pesan yah Readersku :') aku membutuhkannya 😔
Terima kasih :')
Salam sayangku untuk kalian semua pembaca setia :)