
"Riega, Ayo bersiap!" Ujar seseorang sambil menggenggam tanganya erat seolah tak mau terlepas darinya.
"Eh, Say... Bu Sharen!?" Ujar Riega sedikit teriak karena kaget melihat bukan Aruna yang menggelayut di lengan kekarnya itu.
"Loh ko kaget gitu sih Riega? Panggil 'Say' maksudnya sayang? Ahahha aku kan bukan kekasih kamu Ga" jawab Sharen santai.
"Eh, bukan Sharen. Coba dong lepasin tangan aku dulu ga bisa gerak nih"
"Ya ampun Riega... Kamu ga lihat aku pake rok sempit gini di tambah pake hils yang tinggi juga. Apa kamu tega nih, liat aku jatuh tersungkur. Nanti kalau aku jatuhkan aku ga bisa tampil. Terus siapa yang mau gantiin aku?" Ujar Sharen dengan nada manjanya.
"Ya ampuun, Sharen! Kalau kamu ga bisa jalan ngapain pake begituan sih?" Kesal Riega.
"Yah ini kan kostum yang aku pake buat tampil Ga. Lagian aku cuma minta tolong kamu buat gandeng aku aja kan Ga, ga macem-macem?" Rajuk Sharen.
"Iyah kamu kalo sekarang aja minta aku gandeng gimana nanti tampil di depan? Masa mau minta properti buat kasih kamu tongkat, biar kamu jadi nenek-nenek gitu? Dasar aneh kamu nih Sharen. Awas, aku mau latihan dulu!" Ujar Riega kesal sambil melepaskan genggaman tangan Sharen dilengannya dengan kasar.
"Uuuuh, Riega! Tunggu doong. Akukan cuma mau jalan bareng berdua sama kamu aja. Jangan tinggalin aku dong!" Jerit Sharen mengejar Riega sambil tertatih-tatih karena ia menggunakan rok sempit.
"Ah, ribet banget sih kamu tuh Sharen! Kalau mau jalan, ya jalan aja. Ga usah gandeng-gandeng. Yaudah buruan! Ga usah sentuh-sentuh!" Tegas Riega merasa tak senang dengan sikap manja Sharen itu.
"Iya deh iya Ga, aku minta maaf ya?" Rajuk Aruna .
"Iyah"
"Makasih Riega!" Ujar Aruna sambil menyunggingkan senyuman manisnya berharap Riega melihatnya dan terpesona dengannya.
Tapi nyatanya Riega malah kesal melihat senyuman Sharen. Ia membuang muka seolah merasa enek dengan wajah Sharen. Difikirannya sekarang hanya ada Aruna. Ia berusaha mengedarkan pandangan mencari dimana keberadaan kekasih cantiknya itu. Ia khawatir sekali jika Arunanya di sambar lelaki lain. Apalagi sekarang dirinya tidak bisa berkutik karena selalu dibuntuti oleh Sharen.
'Ah, dasar wanita gatal!"
Alhasil Riega hanya bisa berpasrah melanjutkan latihan dengan fikiran yang tidak fokus memikirkan Arunanya.
****
Disisi lain, Aruna yang merasa kesal karena tiba-tiba saja bertemu dengan guru baru yang menyebalkan itu, ia langsung menduduki kursi khusus penonton. Letaknya di barisan ketiga bagian tengah. Ia duduk dengan penuh rasa bingung dan kesal karena tidak ada teman menonton.
(Puuk!)
"Aaww... sakit iih!" Geram Aruna.
"Aruna?!" Sapa Wisey dengan antusias.
"Wisey! Sakit tau ah!" Geram Aruna karena selalu merasa sakit jika ditepuk oleh sahabatnya yang mengesalkan itu. Meskipun begitu, Aruna benar-benar sayang terhadap Wisey.
"Ahahah, sory-sory gue terlalu semangat Na. Lo ada disini, tumben?"
"Ahahaha iyah aku penasaran banget Sey sama teaternya. Makanya aku dadakan gini nonton."
"Oh, sama doong. Kamu sama siapa kesini? Ko ga ajak aku sih? Padahal kan kita sahabatan looh!"
"Sory deh, kan aku udah bilang ini juga dadakan. Kamu duduk dimana Sey?"
"Iya deh, lain kali ajak aku biar ada teman yang jagain kamu yah Na! Aku duduk disini, di belakang kamu loh Na"
"Oh gitu yah. Wah kebetulan banget yah Sey, jadi aku ada temen juga. Sendirian atau ajak yang lain Sey?"
"Iyah Na. Hmmm, kebetulan gue ke sini di ajak sama Zein"
"Waah, ternyata kalian deket juga yah.. padahal kalo di kelas sering cekcok kan niiiih!" Goda Aruna pada Wisey.
"Ah, apaan sih Na. Dia ngajak gue kesini karena dia mau ngomongin sesuatu tentang Lo!" Ujar Wisey berbisik pada Aruna.
"Ah, apaan sih Sey. Terus si Zein mana?"
"Dia lagi beli camilan. Eh, itu tuh dia lagi jalan arah sini" ujar Wisey menunjuk ke arah Zein yang sebentar lagi sampai.
"Hei.. Sey lama yah, sory loh!" Ucap Zein masih belum sadar jika ada Aruna di depan tempat duduk Wisey.
"ARUNAA?!" Pekik Zein tercengan melihat wajah cantik Aruna pujaan hatinya, membuat beberapa pasang mata melihat padanya.
"Ih, apaan sih Zein" ujar Wisey memukul keras lengan Zein.
"Aw.. iyah sory-sory gue kaget liat ada Pujaan Hatiku di depan mata nih. Kaya mimpi yang kenyataan gituuuuu" ucap Zein menduduki kursinya dan dengan mata yang berbinar-binar memandang Aruna.
"Eh, Na. Kamu sama siapa kesini? Tau gitu aku ajak kamu aja, jangan dia nih!" Ujar Zein menyesal mengajak Wisey.
"Apaan sih Zein. Lo tuh kalo ada maunya aja baik sama gue. Giliran ada Aruna aja, gue udah kaya musuh lo!"
"Eeh, udah dong jangan ribut. Ga dikelas, ga dimana-mana ribuuuuut mulu! Akur doong!" Lerai Aruna.
"Tau nih. Si Zein aja mulutnya kaya netijen. Pedesss!" Gerutu Wisey.
"Lonya aja yang bapern Sey!"
"Udah yah.. tuh bentar lagi acaranya mau di mulai siap-siap jangan ribut mulu"
"Para Hadirin.. Kami dari Sanggar Seni Puspa Sailendra mempersembahkan sebuah Karya Seni Teater bergendre Modern yang berjudul 'Bak Rambut di Belah Tujuh (Tipisnya Jarak, antara Cinta dan Nafsu)'. Kisah ini menceritakan tentang perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, rasa cinta yang tulus dan kesetiaan. Selamat menyaksikan."
Persembahan dimulai dengan prolog cerita yang begitu menohok hati. Bagaimana kisah seorang gadis yang terlahir sebagai anak seorang petani. Ia tinggal di sebuah kampung yang begitu penuh dengan kemaksiatan. Kampung yang dipenuhi dengan pemuda-pemudi tak berpendidikan. Kecuali Zarimah. Ia anak seorang petani yang terus berusaha menepis semua asumsi masyarakat bahwa wanita hanya akan berakhir didapur, kasur, dan sumur. Ia berhasil meraih gelar S1nya dan membuat bangga kedua orang tua dan sebagian warga desanya.
Lambat laun dengan segala kecerdasannya, ia memiliki sebuah inovasi membangun lapangan pekerjaan bagi penduduk desa. Seiring berjalanya waktu, sebuah fakta yang selama ini tak pernah ia ketahuipun terungkap bahwa kedua orang tua yang ia kenal bukanlah orang tua kandungnya. Terbukti dari Ayahnya yang bersikap pada Zarimah.
Satu waktu dimana Zarimah yang cantik bak bidadari ini sedang sendirian di rumah bersama Ayahnya. Ibunya sedang pergi kerumah tetangga untuk beberapa hal penting. Zarimah yang memiliki kulit putih nan elok, saking putihnya bahkan kulitnya hampir berwarna kemerah-merahan seperti wanita-wanita luar. Berbeda dengan kedua orang tuanya yang sangat hitam legam.
Saat itu, Zarimah sedang di dapur menyeduhkan kopi untuk Ayahnya. Tiba-tiba saja Ayahnya masuk ke dapur dan tak sengaja menyentuh kulit tangan Zarimah yang seputih susu dan selembut sutera. Ayahnya yang terbawa suasana malah semakin bernafsu menjelajahi tangan Zarimah. Saat itu juga Zarimah menepisnya dengan kuat Ayahnya malah tidak terima dan langsung membentak Zarimah dengan kalimat yang benar-benar membuktikan bahwa Zarimah bukan anak kandung mereka.
Ibunya datang dan terjadilah pertengkaran antara Ayah dan Ibu angkatnya tersebut. Dengan berberat hati, Ibunya menceritakan bagaimana Zarimah bisa berada bersama kedua orang tua angkatnya itu. Ternyata Mamah kandung Zarimah adalah seorang wanit cantik, sama seperti Zarimah yang berperilaku baik-baik yang mendapat ketidak adilan dari masyarakat. Mamah kandung Zarimah bahkan sempat di jual oleh seorang mucikari tak berprikemanusiaan.
Itulah alasan mengapa Mamah Zarimah memilih pergi bekerja menjadi TKW ke luar negeri. Tapi bukan berarti Mamah Zarimah lepas tanggung jawab terhadap biaya hidup Zarimah. Mamahnya setiap bulan selalu mengirim pundi-pundi rupiah hasil bekerjanya untuk membiayai pendidikan Zarimah selama ini.
Zarimah yang memiliki teman satu kampus bernama Baqry selalu membantunya dan selalu mensupportnya. Hingga satu waktu Baqry menyatakan cinta pada Zarimah, tapi ia berusaha menghindari Baqry.
Baqry tiga tahun lebih muda dari Zarimah. Ia adalah seorang anak dari kolega besar di daerahnya. Ayahnya seorang yang terpandang. Ibunya adalah wanita sosialita bergelimang harta. Keluarganya sedang berada di ambang kehancuran. Ibunya ternyata berselingkuh dengan Ujang orang kepercayaan Ayahnya. Ibunya dan Ujang ternyata telah menggelapkan uang perusahaan dan bahkan ingin menjual rumah Ayahnya.
Sedangkan Ayah Baqry, Pa Rush tidak mempedulikan istrinya yang bejad itu. Ayahnya malah sedang mencari seseorang yang benar-benar ia cintai. Orang yang dulu pernah ia sakiti dengan kelakuannya yang juga bejad. Mungkin inilah balasan atas kebejadan yang telah ia lakukan.
Baqry benar-benar kesal dengan keadaan keluarganya hingga ia gagal membatalkan transaksi jual beli rumah milik Ayahnya itu. Baqry yang kesal melampiaskan semua kekesalannya dengan menyetir mobil dengan brutal dan ia tiba-tiba menabrak seorang wanita.
Singkat waktu wanita itu dioperasi oleh dokter setelah itu, ia melihat ternyata yang ditabraknya adalah seorang wanita cantik yang diperkirakan sudah berumur empat puluhan. Wajahnya ayu persis sekali dengan wajah cantik Zarimah.
Akhirnya ia menemukan Ibu itu dengan Ayahnya. Saat Ayahnya melihat wanita itu, langsung menangis dan menyebut-nyebut nama Nirmala. Benar saja saat di lihat identitasnya wanita itu adalah Nirmala. Wanita yang selama ini dia cari, wanita yang selama ini ia sakiti dan ia zolimi karena prilaku bejadnya itu.
Selama satu minggu wanita itu tak siuman. Ayahnya Baqry selalu menemaninya dan tepat pada hari ke 10 wanita itu siuman dan Ayah Baqry dengan ketulusan dan keikhlasan merawatnya hingga sampai hari ke 20 Pa Rush mulai berani menanyakan masa lalu Nirmala itu dan benar saja. Pa Rush akhirnya berhasil membujuk Nirmala dengan berbagai kisah Religi dan Nirmala pun memaafkan semua perlakuan Pa Rush dengan syarat mau bertanggungbjawab menikahinya dan bertanggung jawab pada anaknya.
Pernikahan telah berlangsung dan mereka hidup dengan penuh cinta. Tapi, mereka belum bertemu dengan anak Nirmala dan Rush yang sering ia panggil Imah. Nirmala bilang ia menitipkan Imah dengan seseorang yang telah menyelamatkannya dulu saat ia sedang mengandung Imah.
Rush sangat ingin bertemu dengan anaknya dan mengajak Baqry bertemu dengan kakanya. Tapi, Baqry menolak dengan alasan ia ingin berlibur ke rumah neneknya di kampung. Benar saja Pa Rush dan Nirmala pergi menemui anaknya Imah.
Sedangkan Baqry pergike rumah neneknya. Masih dengan perasaan rindu pada Zarimah sudah lama ia tidak bertemu dengan gadis itu. Tanpa berpikir lama ia langsung tancap gas untuk menemui Zarimah.
Saat itu Pa Rush dan Ibu Nirmalapun sampai dan terjadilah adegan sedih yang berhasil membuat seluruh penonton di Alun -Alun Kota termehek-mehek. Bahkan Aruna yang awalnya membawa persediaan tisu banyak. Habis dalam seketika karena air matanya timpah meruah membanjiri pipinya yang halus itu. Tak kalah dari Aruna, Wisey juga nangis sejadi-jadinya karena adegan endingny.
Kalian tahu apa endingnya?.......
To be Continue...
Terima kasih bagi yang telah Like, coment dan Subscribe. Vote juga yah ππ
Like Like Like... π
Mohon maaf nih yah guyss... aku kesringan lama updatenya. Tapi jujur nih yah aku selalu berusaha buat update terus kooo untuk kalian π€
Jangan pernah lupa beri aku dukungan supaya aku terus termotivasi dan semangat untuk ngetik-ngetik manjaaahππ