
Selesai berlatih pada tahap pertama. Melewati segala rintangan yang telah Aslan siapkan membuat Aruna kelelahan. Ia harus mengulangi tiap rintangan itu hingga tak terhitung sudah berapa kali ia mengulang. Hari itu, hanya tahap pelatihan pertama yang Aruna lakukan.
Hal yang menurutnya paling sulit adalah menanjak pada papan terjal itu, hingga berkali-kali ia mengulang rintangan menanjak, Aruna hanya bisa 4 kali berhasil menanjak ke atas papan itu. Itu pun, harus dengan mengeluarkan seluruh energinya.
Sedangkan rintangan terakhir yaitu melompati semak-semak berduri sebenarnya adalah hal yang mudah bagi Aruna, hanya saja karena energinya lebih dulu terkuras di rintangan papan terjal. Alhasil Aruna jadi kesusahan untuk sekadar melompat. Jadilah ia harus menanggung sedikit rasa sakit karena duri-duri yang sedikit menancap pada baju nainjanya.
"Nih, minum dulu Na!" Aslan menyodorkan botol minum pada Aruna.
"Makasih Lan!" Aruna langsung meneguknya dengan cepat.
"Lumayan! Mungkin minggu depan lo bisa lancarin lagi, khususnya manjat tuh papan!" Aslan menunjuk ke arah rintangan kedua. Papan terjal yang tingginya hampir tiga meter dan di ujungnya ada tali yang panjangnya sekitar lima puluh centimeter dengan kemiringan sekitar empat puluh lima derajat.
"Semoga Lan." Sahut Aruna yang merasa letih.
"Cape?"
"Yah, lumayan tapi seru." Ujarnya senang.
"Bagus, lo jangan lupa istirahat yah. Besok lo bakal latihan panahan sama Caca. Ga serumit ini kok. Jadi santai." Ujar Aslan mengajak Aruna berjalan menuju ke arah Riega dan Caca yang sedang duduk di bangku.
"Oke deh. Maksih banget yah Aslan."
"Sama-sama, ga usah sungkan. Gue seneng ngajar lo. Semangat dan cepat tanggap."
"Hehe, iyah Aslan" Aruna terkekeh pelan.
Aslan dan Aruna sudah sampai dan mereka mengambil posisi duduk di sana. Berbincang sebentar, lalu mereka memutuskan untuk kembali masuk ke markas dan ke kamar masing-masing.
***
Karena di sana tak ada kamar kosong lagi, jadilah Aruna tidur bersama dengan Caca yang sama-sama perempuan.
"Na, lo hebat!"
"Hebat?"
"Ya, gue salut banget sama lo. Semangat dan lo mau berjuang padahal syarat dari Paman gue berat banget. Lo beneran cinta sama Ka Riega?" Tanya Caca yang sudah duduk di tepi ranjangnya bersiap untuk tidur.
"Makasih Ca, heheh. Kalau aku ga cinta sama Kakamu itu, aku ga mungkin ada disini Ca."Jawab Aruna dengan cengiran khasnya mengikuti Caca yang juga hendak mengistirahatkan tubuh.
"Hahah, iya juga yah. Ayo tidur Na, besok lo bakal latihan sama gue." Ajak Caca yang mulai merebahkan tubuhnya dan langsung menyelinap masuk ke dalam selimut hangatnya.
"Oke Ca. Ga sabar deh mau pegang busur, hehe" Gumam Aruna yang masih bisa terdengar oleh Caca. Aruna juga sudah merebahkan tubuhnya di sebelah Caca.
"Ya, jadi sekarang istirahat supaya energi lo penuh lagi Na!" Titah Caca yang sudah berusaha memejamkan matanya.
Aruna menoleh sebentar pada Caca dan melihatnya sudah memejamkan mata, Aruna juga memejamkan matanya berusaha masuk ke alam mimpinya. Tanpa menunggu lama, ia sudah terbuai oleh indahnya alam mimpi. Tak butuh waktu lama karena memang ia benar-benar kelelahan.
*****
Di dalam markas yang sama namun di ruangan yang berbeda. Sang pemimpin besar, Ketua paling ditakuti oleh seluruh anggota mafia lainnya. Ketua Al, bersama dengan sekretaris pribadinya, William.
"Tuan?" Sapa William sopan.
"Duduk!" Titahnya. "Bagaimana hari pertama ini?"
"Berjalan lancar tuan. Pantauan dari rekaman kamera tadi sudah saya lihat. Mungkin anda ingin melihat?" Tawar William.
"Tidak perlu, saya hanya ingin melihat hasilnya nanti!" Tolak Ketua Al.
"Baik tuan!"
"Lalu, bagaimana dengan keadaan di dermaga timur?"
"Dari informasi para anggota lainnya, di dermaga timur cukup stabil belum ada gerak-gerik dari para pemberontak yang terlihat mencurigakan" Terang William.
"Lalu, bagaimana dengan perusahaan, bank, dan sejumlah tempat investasi kita?"
"Semuanya aman terkendali tuan. Tapi..."
"Tapi apa?" Tanya Ketua Al cepat.
"Ada masalah besar yang bersangkutan dengan.." William ragu mengatakannya.
"Dengan SIAPA?!" Tanya Ketua Al lagi tak sabaran hingga nadanya meninggi.
"Dengan Keluarga Tao!" Jawab William tegas.
"Masalah apa?" Tanyanya lagi berusaha mengontrol emosinya.
"Istri dari tuan Liau mengganggu jalannya aktivitas dari salah satu anak perusahaan kita di Tiongkok sana. Kami semua sudah berusaha menghentikannya, menegur dengan sebaik mungkin, tapi Nyonya Lin Tao melakukan tindak kekerasan pada salah satu pekerja kita bahkan dia mengancam perusahaan kita, Ketua!" Jelas William.
"Baik, saya mengerti. Lalu, bagaimana kondisi pekerja itu?"
"Dia mendapatkan penanganan medis, tak ada yang berani melawannya karena dia mengancam dengan menggunakan nama suaminya. Tuan Jun Tao."
"Oke, berikan intruksi pada semua pekerja di perusahaan sana agar tetap waspada. Jangan mengambil tindakan gegabah jika mereka kembali datang."
"Siap Tuan!"
"Siapkan juga pesawat untuk penerbangan ke Tiongkok. Jam enam tepat. Riega dan kau lihat kondisi di perusahaan. Tiga hari lagi, akan ada pesta perjamuan di markas Keluarga Tao. Bawalah sesuatu untuknya. Rieg pasti tau apa yang ku maksud. Sebelum berangkat, temui aku!" Titah Ketua Al dengan tegas dan aura mafianya sudah terlihat sejak tadi oleh William.
"Baik Tuan!"
"Kau boleh keluar!" Titah Ketua Al.
"Saya permisi." William undur diri dan segera menuju ke kamar Riega untuk memberitahukan hal penting yang tadi ia bahas dengan pemimpinnya.
Tok tok tok pintu kamar Riega di ketuk oleh William. Sang empunya kamar langsung melangkah untuk membukakannya. Dengan semangat Riega membuka knop pintu berharap yang datang adalah Aruna, tapi ternyat bukan.
"Ada apa?" Tanyanya datar.
"Ada hal penting yang harus anda ketahui!"
"Masuklah!" Ajak Riega membuka lebar pintu kamarnya. Williampun mengekor di belakang.
"Hal penting apa?" Tanya Riega lagi to the point.
"Besok, jam enam pagi kita harus berangkat ke Tiongkok." Ujar William langsung.
"Ada apa? Apa ada hal yang begitu mendesak?" Riega mengerutkan dahinya.
"Ya, ada masalah yang harus di selesaikan disana. Ketua yang meminta." Terang Will.
"Perihal apa?" Tanyanya lagi
"Keluarga Tao!" Jawab Will singkat padat dan jelas. Itu berhasil membuat Riega seketika menegang. Ada apa hingga Keluarga Tao di bawa-bawa?, fikirnya.
"Masalah apa?" Tanya Riega langsung.
"Jadi..." William menjelaskan dan menceritakan dengan rinci apa yang terjadi di Tiongkok sana, seperti yang tadi baru saja ia sampaikan pada ketua Al. Riega yang mendengarnya angguk-angguk saja sambil berusaha memikirkan cara menyelesaikannya.
Hingga Will mengatakan.
"Akan ada pesta perjamuan di Keluarga Tao tiga hari berikutnya. Kau di perintahkan datang mewakili Ketua." Ujar Will.
"Ah, baiklah. Itu waktu yang tepat untukku membalaskan kelancangan istri si Tao itu!" Umpat Riega dengan wajah di penuhi dengan ekspresi menghina.
"Ya, Ketua menyuruhmu memberikan hadiah untuknya. Ketua bilang kau tahu hadiah yang tepat" Ujar Will lagi.
"Ya, kau tenang saja, Will. Aku sudah mempersiapkannya." Gumam Riega dengan seringaian khas seorang capten mafia. Seketika air mukanya berubah drastis.
Will akhirnya undur diri karena waktu sudah menunjukkan tepat pukul dua belas tengah malam. Riega juga ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum esok ia akan mempersiapkan rencana besar. Otaknya mulai berfikir. Setiap detil-detil tempat di Tiongkok sana ia sudah hafal. Bagaimana celah-celah nya ia sudah tau. Sekecil apapun kesempatan akan dia gunakan dengan baik.
Esok, ia akan merencanakan strategi untuk membalas ketidak sopanan istri si Tao sialan itu.
Sambil berusaha memejamkan mata, Riega terus berfikir. Hingga akhirnya ia berhasil terlelap dan masuk ke dalam alam mimpi nan indah bersama sang kekasih hatinya. Aruna.
.
.
.
.
.
.
To be Continue....