
"Stop yang stop!" Teriak Caca memerintahkan pada Aslan untuk memberhentikan motor yang sedang di kendarainya.
"Eh, ini toh rumah Aruna yang?" Tanya Aslan memutarkan kepalanya ke arah belakang untuk menjangkau wajah sang kekasih.
"Di alamat yang Nana kasih ke aku yah ini yang. No.022. Bener kok ini!" Ujar Caca memastikan kembali.
"Oke deh-oke deh sayang. Apa mau aku tunggu sampai selesai berbincang?" Tawar Aslan pada Caca.
"Ga usah yang. Aku balik sendiri aja nanti atau kalau aku sampe kemaleman minta jemput Ka Riega aja!" Ujar Caca memastikan pada Aslan agar kekasihnya itu tak khawatir padanya.
"Emmm, oke deh kalau gitu. Kabarin aku kalau sudah selesai. Pastiin kamu udah ada di rumah dengan utuh!" Tegas Aslan dengan nada posesifnya.
"Iyah sayang iyah... Kamu tenang aja deeh" Ujar Caca tersenyum senang melihat keposesifan dari Aslan kekasihnya itu.
"Yaudah aku balik yah sayang" ujar Aslan pamit pada Caca.
"Okey, hati-hati Sayang! Makasih buat Cd actionnya." Jawab Caca mengecup sekilas pipi Aslan. Aslan yang mendapati kecupan dari kekasihnya secara tiba-tiba langsung tersenyum, hatinya senang sekali.
"Sama-sama cantik!" Jawab Aslan tersenyum dan dia langsung tancap gas meninggalkan kekasihnya.
Caca segera masuk ke rumah Aruna setelah ia memastikan Aslan menghilang dari jangkauan matanya di tikungan komplek perumahan itu. Caca melangkahkan kakinya perlahan dan sampailah ia di depan pintu rumah Aruna.
(Ding-dong)
Bel rumah Aruna berbunyi saat Caca menekannya. Lalu, sahutan dari dalam terdengar dan pintupun terbuka. Tampak Aruna yang membukakan pintu itu dan Aruna langsung melontarkan senyumanya pada Caca.
"Eh sudah datang Ca. Ayo masuk!" Ajak Aruna ramah.
"Iyah Na sorry yah agak lama hehe Aslan ajak makan gue dulu soalnya!" Ujar Caca sambil berjalan membuntuti Aruna dari belakang.
"Iyah ga apa-apa. Duduk dulu Ca aku siapin minum dulu yah!" Tawa Aruna pada Caca.
"Eh, ga usah deh Na gue udah minum juga tadi ko" Jawab Caca sungkan pada Aruna.
"Ah tapi...." ucapan Nana terpotong karena Wisey telah datang sambil membawa beberapa camilan yang tadi dibelinya bersama.
"Hai guys... nih minuman dan cemilan untuk kalian!" Teriak Wisey memecahkan suasana canggung di antara Caca dan Aruna.
"Ya ampuun jadi ngerepotin kan!" Ujar Caca.
"Ga ko santuy aja Ca anggap aja ini rumah lo!" Sahut Wisey begitu friendly.
"Iyah Ca bener kata Wisey. Ah iyah boleh dong cerita sekarang Ca sama aku?" Ujar Aruna tak sabaran ingin mengetahui apa yang akan di sampaikan oleh adik kandung dari kekasihnya itu.
Aruna begitu penasaran dan saking nurutnya Aruna pada Caca untuk tidak mendekati Riega terlebih dahulu. Sampai-sampai Aruna seharian penuh tadi tidak bertemu sama sekali dengan Riega setelah pelajaran kesenian yang di ajar Riega. Bahkan handphone Arunapun sengaja di mode pesawat agar Riega tak menghubunginya sama sekali. Entah apa sekarang yang di rasakan oleh Riega. Rindu atau apa, yang pasti Aruna sangat merindukan Riega kekasihnya itu. apalagi tadi ia sempat membuat Riega cemburu. Ia takut Riega malah marah terhadapnya karena ia tidak meminta maaf sama sekali.
"Boleh aja kok. Tapi ga apa-apa sama Wisey Na?" Tanya Caca mengerutkan alisnya memastikan bahwa Aruna benar-benar ingin menceritakannya di depan Wisey.
"Ga apa-apa kok nanti aku bakal jelasin semuanya ke Wisey!" Ujar Aruna tersenyum pada Wisey dan juga Caca secara bergantian.
"Oke-oke" Caca menjeda kalimatnya.
"Jadi gini Na. Gue mau kasih tau lo tentang Ka Riega. Ada orang yang suka sama dia.."
"Siapa Ca? Kasih tau aku!" Potong Aruna sangat penasaran.
"Nanti dong Na aku belum selesain kalimatku" ujar Caca sabar.
"Iyah Na sabar dulu yah!" Ujar Wisey menenangkan Aruna. Padahal sebenarbya Wisey masih belum mengerti maksud ucapan Caca dan sahabatnya itu. Kenapa begitu aneh sekali membicarakan tentang gurunya.
"Oke, orang yang suka sama dia ini sebenarnya lumayan licik. Gue khawatir sama lo Na" Caca memegang tangan Aruna yang saat ini wajahnya berubah murung.
"Gue tau lo terlalu polos buat ngadepin dia. Gue mau bantuin lo. Sebagai adik Ka Riega, gue harus bantu dia buat merjuangin perasaanya ke lo. Nah, sebelum gue cerita lebih lanjut gue mau tanya ke lo tentang keluarga lo dulu nih, boleh gak?" Tanya Caca memastikan.
"Emm, boleh kok Ca. Memangnya kenapa?" Tanya Aruna dengan suara yang pelan.
"Ga Na. Jadi apa lo punya saudara kandung? Kaya Ade atau Kaka lo gitu?"
"Ga ada Ca" jawab Aruna dengan cepat.
"Ko aneh?" Ujar Caca kebingungan. Membuat Aruna dan Wisey juga ikut kebingungan dengan ucapan Caca.
"Kenapa Ca? Setahu gue, Aruna anak tunggal" Tanya Wisey angkat bicara.
"Emm, iya Sey. Jadi lo ga punya saudara kandung? Terus kalau saudara tiri?"
"Aku ga tau Ca. Setahuku sejak Mamah sama Ayah aku pisah. Mamah ga pernah dekat dengan laki-laki lain selain Pa Ramikan dan rekan kerja." Ujar Aruna semakin murung dan hatinya mulai bersedih mengingat kejadian masa lalunya. Matanya hampir saja meneteskan air mata. Tapi Wisey mendekat dan merangkul bahu Aruna mengusapnya perlahan seraya menguatkan Aruna agar tetap tegar.
"Jadi, kemungkinan besar Ayah kamu Na. Sorry yah aku malah ngebuka luka lama kamu Na. Aku minta maaf banget!" Ujar Caca menggenggam tangan Aruna.
"Ga apa-apa Ca. Maksud kamu nanya begitu apa ada hubungannya sama Pa Riega Ca?" Tanya Aruna.
"Em., sebenernya Na orang yang suka sama Ka Riega itu Bu Sharen dan hubungannya sama silsilah keluarga lo itu..." Caca menjeda perkataanya takut hal itu mengganggu fikiran Aruna.
"Apa? Bu Sharen?" Ucap Aruna tak menyangka.
"Iyah Aruna.. dan hubungannya sama pertanyaan gue tadi itu nama lengkap Bu Sharen hampir sama kaya nama lo" jelas Caca semakin membuat Aruna tak menyangka.
"Yang bener Ca? Lo ga ngarang kan?" Ujar Wisey tak percaya.
"Ga ngarang gue Sey. Gue dapet info itu dari temenya Aslan, ternyata dia kenal sama Sharen."
"Terus apa yang di bilang sama temanya Aslan Ca?" Tanya Nana penasaran hatinya sudah sangat sakit sekaligus terkejut dengan semua perkataan Caca.
"Namanya Rico dia temen nongkrong Aslan. Rico bilang kalau Sharen adalah teman masa kecilnya. Dia sering di bully sama teman-teman sepermainanya karena dia anak haram. Rico bilang begitu tapi gue ga tau alasan lebih jelasnya kenapa Sharen sampe di bully dan di sebut anak haram begitu. Gue ngerasa biasa aja pas Rico cerita begitu. Pas Rico lanjutin ceritanya, dia bilang Rico selalu bantuin ngelawan para pembully itu, Rico sayang sama Sharen sejak kecil. Dia selalu jadi teman terbaik dan cuma ada Sharen di hatinya. Sampai Sharen harus ninggalin Rico karena harus pindah sekolah. Tapi gue kaget banget pas dia sempet nyebutin nama lengkap Sharen yaitu. Sharenina Roselin Defandra dan nama lo kan Aruna Melati Defandra. Panggilan masa kecil Rico untuk Sharen adalah Nina. Sedangkan panggilan lo Nana. Defandra udah pasti nama Ayah lo gue tau itu Na. Makanya gue langsung kepikiran sama lo." Caca menceritakan semuanya pada Nana secara singkat pada Aruna dan Wisey.
"Apa.. apa Ayah punya anak selain aku Sey? Ca, apa itu semua bener?" Tanya Aruna memastikan kembali cerita Caca tadi. Hatinya tidak hanya sakit, rasanya hatinya yang sudah kembali tertata sebegitu rapihnya dengan susah payah, kembali hancur berkeping-keping mendengar hal itu. Aruna benar-benar tak menyangka. Hati dan otaknya belum bisa menerima kebenaran akan hal itu. Ia sakit bahkan sangat sakit. Hingga air matanya menetes perlahan. Membuat Wisey dan Caca yang melihatnya ikut bersedih mendengar hal itu.
"Sorry Na. Gue ga bermaksud buat lo sedih kaya begini. Tapi gue khawatir sama lo. Gue takut Sharen ada niat jahat sama lo dan Kaka gue. Aruna, untuk sementara di mata Sharen, gue yang jadi pacar Riega bukan lo. Gue masih mau cari tau tentang dia..."
"Kenapa?" Sergah Aruna dengan cepat.
"Iyah Na, inget ga waktu pertama Bu Sharen itu dateng, masa iyah tiba-tiba ga sengaja nabrak lo sampe jatoh gitu? Gue jadi ikut curiga nih kalau dia ada dendam sama lo." Telisik Wisey.
"Iyah, tapi aku ga bisa jauhin Riega gitu aja Ca, Sey!" Ujar Aruna kembali meneteskan air matanya.
"Lo ga harus jauhin dia Na, untuk di sekolah lo harus jaga jarak sama Ka Riega, tapi di tempat lain itu terserah kalian!" Jelas Caca meyakinkan Caca.
"Ca? Apa yang mau kamu lakuin selanjutnya?" Tanya Aruna.
"Gue masih mau cari tau tentang Sharen ke Rico" jawab Caca.
"Aku juga mau cari tau tentang dia. Aku mau denger semuanya dari Ayah langsung." ucap Aruna dengan cepat.
"Na, lo jangan maksain diri gitu Na. Gue tau ayah lo gimana Na. Lo pernah cerita ke gue Na!" Ujar Wisey melarang Aruna. Takut sahabatnya kenapa-kenapa dan terjadi sesuatu pada Aruna.
"Ga Sey. Aku harus bantu Caca. Sekarang semuanya akan jelas kalau Ayah aku yang ceritain semuanya tentang siapa Sharen sebenarnya"
"Kamu ga akan tau dimana keberadaan ayah kamu Na dan kita masih belum tau isi pikiran Sharen sebenarnya apa!" ujar Wisey lagi.
"Aku bukan anak kecil lagi Sey! Aku bisa cari tahu semuanya!" Ujar Aruna meninggikan nada suaranya.
"Iya iya Na, tapi kamu jangan gegabah. Aku khawatir!" Tegas Wisey pada Aruna.
"Iyah Aruna, Wisey bener. Lo jangan kebawa emosi dulu. Biar gue sama Aslan yang cari tau kebenaranya dulu dari Rico. Kalau emang semua itu pasti, kita bisa minta penjelasan dari Ayah lo Na. Rico bisa bantu kita meskipun ga sampai tuntas!" Ujar Caca meyakinkan Aruna.
"Tapi Ca.."
"Na, lo percaya sama gue!" Tegas Caca.
"Iya Ca. Makasih banyak udah mau bantu aku" jawab Aruna murung sambil mengusap sisa-sisa air matanya. Ia berusaha tegar menghadapi semua itu. Ada Wisey sahabatnya dan juga Caca adik dari kekasihnya itu. Ia bersyukur sekali masih ada yang sayang dan peduli padanya.
"Sama-sama Na."
"Apa Pa Riega sudah tau?" Tanya Wisey penasaran.
"Dia belum tau perihal nama Sharen. Tapi masalah perasaan Sharen dia udah tau dari gue dan...." Caca menjedanya ia takut menceritakan kalau Sharen berani menyatakan cinta pada kakanya itu.
"Dan apa Ca?" Tanya Aruna tak sabaran.
"Dan... Bu Sharen nembak Ka Riega!" Jawab Caca.
"Apa? Dia nyatain cinta ke Riega?" Gumam Aruna tak menyangka dengan suara pelan dan ia membekap mulutnya.
"Jadi, Bu Sharen nyatain cinta ke Pa Riega Ca? Ih, ga nyangka gue. Berani banget dia!" Ujar Wisey.
"Iyah, tapi kalian ga usah khawatir. Ka Riega nolak dia dan ga mungkin dia ninggalin kekasih hatinya!" Ujar Caca mantap sekali dengan tersenyum ke arah Aruna memberikan semangat pada Aruna agar dia tidak bersedih.
"Hehe semoga saja Ca" jawab Aruna pelan dan tersenyum sekilas.
"Yakin deh Aruna. Gue yang tau kaka gue gimana!" Ujar Caca.
"Oke!" Jawab Aruna.
"Nah, sekarang gue pamit pulang yah udah malem nanti bonyok gue nyariin" Caca berpamitan pulang sambik nyengir ke arah sepasang sahabat itu.
"Ahahah. Bokap nyokap woe jangan lo singkat napa Ca!" Sahut Wisey terkekeh dan Aruna pun ikut tertawa meskipun hatinya saat ini sedang sedih.
"Yaudah hati-hati yah Caca"
"Ahahah ga apa-apa Sey biar Aruna ketawa kan tuh! Oke deh, Nana jangan sedih yah?!" Ujar Caca menggenggam tangan Aruna dan tersenyum.
"Siap Ca!" Jawab Nana.
Aruna dan Wiseypun mengantar Caca sampai pintu gerbang. Sebelumnya Caca memesan gojek terlebih dahulu. Ia tak mau merepotkan kakanya tercinta yang sudah pasti sedang uring-uringan menanyakan Aruna. Caca tau, Aruna sempat bilang pada dirinya bahwa Aruna mengatur smartphonenya dengan mode pesawat agar Riega tak menghubunginya. Jelas saja Riega pasti sedang uring-uringan karena rindunya meningkat seratus persen pada kekasihnya itu.
*****
Setelah kepergian Caca, Aruna dan Wisey kembali masuk ke dalam rumah. Wisey yang sedari tadi sangat penasaran dengan hubungan sahabat dan juga gurunya itu akhirnya mengajukan pertanyaan beruntun.
"Nana, kenapa lo ga pernah cerita sama gue sih? Kapan kalian pacaran? Gue penasaran nih! Pantes aja lo waktu liat foto itu langsung ngilang!" Cerocos Wisey pada Aruna.
"Wisey sahabatku sayang... aku bakal ceritain semuanya sama kamu! Tapi sekarang aku benar-benar lapar. Jadi kamu masak dulu sana, baru aku ceritain! Hihihi" ujar Aruna terkekeh geli. Ia mengerjai sahabatnya itu karena dirinya sudah sangat lapar sejak tadi. Hari ini hanya batagor Mang Idin yang masuk kedalam perutnya.
"Iya deh iya gue masak banyak nih buat lo. Biar ga sedih lagi dan cerita ke guenya semangat yah Nana zeyeng!" Ujar Wisey semangat dan mencubit kedua pipi Aruna yang masih ada sisa jejak air matanya.
"Aw aw aw. Wiseeey sakiiit!" Teriak Nana kencang merasakan sakit di kedua pipinya tadi dan Wisey yang menjadi pelakunya itu kabur berlari dengan cepat menuju ke dapur untuk segera masak meninggalkan Aruna sendiri berdiri di ruang tv.
"Haiish, aku jadi tetep bisa seneng gini karena ada mereka! Makasih tuhan telah mendekatkan aku dengan orang-orang baik seperti mereka" gumam Aruna tersenyum begitu tulus mengucapkan syukur pada Sang Kuasa.
'Mamah, apa mamah tau perihal ini?' Batin Aruna bersedih.
To be Continue...
Hai hai..... 🌝
Aku up lagi nih...
Bagaimana? Penasaran?
Maaf yah aku belum bisa crazy up 😶
Salam sayang dari ku...
Beri like jika kalian suka yah ☺
Rasanya semakin kesini likenya semakin menurun, aku jadi syediiih 😔
Coment dong berikan pendapat kalian untuk cerita ini yh guysss 🌞