
Cuaca yang begitu cerah, mengiringi laju mobil yang Riega kendarai menuju tempat pelatihan Aruna. Riega begitu tak menyangka, jika kekasihnya yang manja akan diberi pelatihan yang berat oleh Pamannya sendiri.
Sebenarnya, Riega khawatir dengan Aruna. Pelatihan ini butuh kekuatan fisik yang luar biasa. Paman Al akan benar-benar memforsir Aruna pastinya, apalagi dengan target waktu yang hanya lima bulan. Dan yang lebih mengkhawatirkan bagi Riega adalah, ia tak tahu sama sekali perjanjian apa yang telah Aruna dan Pamanya itu sepakati.
Setiap Riega tanyakan, Aruna pasti tak akan menjawab atau dirinya akan menghindar dengan membicarakan topik lain. Caca sendiri tak bisa mencari tau karena memang Aruna juga tak membicarakan hal itu denganya.
Perjalanan menuju markas besar telah mereka tempuh bersama. Dengan satu mobil yang di kendarai oleh Riega selaku orang yang paling tua di antara mereka ber-empat. Tak ada beberapa hal penting yang bisa mereka bincangkan. Mereka berempat hanya saling menikmati pemandangan di sekeliling melalui kaca mobil.
Sesampainya di halaman markas, Riega langsung melajukan mobilnya menuju parking area yang telah di sediakan di sana. Paman Al sedaritadi sudah menunggu kedatangan mereka bersama dengan assistant pribadinya yaitu William.
Riega, Aruna, Caca dan Aslan langsung mebdekati tempat dimana Paman Al bersmaa Wiliiam menunggu. Mereka memberi salam penghormatan dan Paman Al mengajak mereka untuk masuk lebih dulu ke ruangannya. Ada beberapa hal yang harus ia bicarakan lebih dulu.
Berjalan saling beriringan, di lantai marmer mewah dengan hiasan barang-barang antik nan klasik. Ketua Al memimpin mereka menuju ke ruanganya.
"Mari masuk"
Pintu yang megah nan tinggi itu di buka bersamaan dengan finger print khusus pemiliknya. Riega, Aruna, Caca, Aslan serta William sang assistant Ketua Al melangkah masuk bersamaan.
Ketuka Ketua Al sudah mengambil posisi duduk dan diikuti dengan yang lainnya. Saat semua telah menempati posisi masing-masing, selama beberapa detik terjadi keheningan.
1 detik
2 detik
Hingga 5 detik berlalu, keheningan itu masih berlanjut. Tak ada yang berani angkat bicara. Di detik berikutnya..
"Ekhem.." Suara berat yang khas milik seorang pemimpin mafia yang paling di takuti seantero dunia gelapnya mafia. Ketua Al berdeham, membuat semua yang berada di dalam ruangan itu mengangkat pandangannya dan berfokus pada satu titik. Termasuk sang Assistant, William yang duduk tepat di sebelah kiri sang empunya suara.
"Ada satu hal yang belum kita semua sepakati. Ini baru saya bincangkan dengan Aruna saja--" Ketua Al menghentikan kalimatnya dan melirik ke arah Aruna, membuat mereka yang mendengarkan menunggu beberapa detik dengan perasaan bertanya-tanya.
"..." Aruna yang di beri tatapan oleh Ketua Al hanya diam.
"Saya dan Aruna telah melakukan perjanjian--" Potong Ketua Al lagi pada kalimatnya. Ia sengaja ingin memperlambat itu, agar Riega merespon sebuah pertanyaan pada dirinya.
"Em, maaf Paman. Kalau boleh tau, perjanjian apa itu?" Riega mulai bertanya sesuai dengan harapan Pamanya itu.
"Aruna?" Panggil Paman Al.
"Em, iya Paman?"
"Sudah di fikirkan?"
"U-udah Paman.." Jawab Aruna terbata-bata. Karena perjanjian yang di taqarkan oleh Paman Al harusnya juga di perbincangkan lebih dulu dengan mamahnya, tapi ia bahkan tak berani sedikitpun untuk bilang pada Mamahnya tadi.
"Baiklah--" Jeda Paman Al
"Alasan pertama saya meminta Aruna berlatih adalah karena dia sudah termasuk anggota perkumpulan, yang bisa saja nyawanya kapanpun dan di manapun terancam oleh musuh. DanAruna harus memiliki persiapan yang cukup untuk melindungi dirinya sendiri." Paman Al kembali mengambil nafas.
"Alasan kedua adalah, karena dia adalah kekasih Riega--" Paman Al menjeda, siapa tahu ada salah satu diantara anak-anaknya itu ingin menyela. Tapi, ternyata mereka hanya diam dan berusaha mendengar seksama.
"Jadi, ia harus sebisa mungkin memproteksi diri sendiri dan juga kelak keluarganya. Nah, pelatihan selama lima bulan ini juga yang menentukan apakah nantinya. Aruna. Bisa atau. Tidak. Menjadi. Calon Istri Riega!" Tutur Paman Al dengan penuh penekanan di tiap kata yang tersusun dalam akhir ucapannya.
Sontak Riega, Caca, Aslan dan termasuk William yang terkejut langsung membelalakkan matanya menatap Paman Al dengan penuh tanda tanya berusaha mencerna tiap kata demi kata yang barusan saja Paman Al ucapkan.
"Ja-jadi ma-maksud Paman?" Gumam Riega berusaha mengatur nada bicaranya agar tetap terdengar sopan.
"Maksud Paman, kalau target selama lima bulan yang saya berikan tidak tercapai. Maka, Aruna dan Kamu, Riega. Harus--"
"Ga, ga bisa Paman! Ini, ini, ini sama sekali ga bisa Paman!" Ujar Riega menolak syarat dan perjanjian dari Pamannya yang tak masuk akal itu.
"Apanya yang ga bisa? Ini perjanjian saya dengan Aruna, dan Aruna sudah menyanggupinya!"
"Nana, kamu ga bisa gini dong! Kenapa kamu ga bicarain ini sama aku?" Ujar Riega mulai tak bisa mengendalikan dirinya.
"A-aku, ga bilang sama kamu karena udah pasti kamu ga akan setuju, Ga!" Jawab Aruna gelagapan.
"Tapi kalau gini kamu sama aja mempertaruhkan hubungan kita!" Bentak Riega seraya berdiri dan memundurkan kursi tempatnya duduk lalu beranjak pergi dari ruangan Ketua Al dengan sangat tidak sopan.
Caca, Aslan, Aruna dan William merasa benar-benar tegang dengan atmosfir suasana di ruangan itu. Sedangkan Ketua Al berusaha memasang muka datar menahan sedikit amarahnya di dalam hati. Ia tak pernah melihat Riega sebegitu tak sopannya dengan dirinya. Tapi, Ketua Al bisa memaklumi Riega pasti sangat marah akan perjanjian dirinya dengan Aruna.
Mau bagaimana lagi, itu semua demi kebaikan Riega dan juga Aruna. Ia tak mau, kejadian masa lalu yang menimpa dirinya beserta keluarganya di alami juga oleh Riega ponakan kesayanganya itu. Sungguh tak bisa di bayangkan.
Ketua Al dengan menahan emosinya langsung berdiri.
"Kalian bisa bersiap-siap lebih dulu. Jalankan sesuai jadwal pelatihan. Silahkan!" Ketua Al langsung mempersilahkan semuanya keluar termasuk William dan langsung membalikkan badannya, berjalan menuju ke meja kerja pribadinya.
"Siap Ketua!" Jawab mereka serentak lalu berjalan keluar.
.
.
.
.
To be Continued...