Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
10



Nafas mereka saling memburu satu sama lain. Lumatan demi lumatan mereka nikmati. Aruna yang awalnya kaku mulai lihai dalam ciuman itu. Bahkan saat ini posisi Aruna berada di atas pangkuan Riega.


"Eennggh... Sayang..." lenguh Aruna semakin membuat Riega bernafsu. Riega **** bibir sexy kekasihnya itu semakin buas dan membuat Aruna hampir kehabisan nafas. Tapi Riega menyadarinya dan memberi jeda sedikit untuk Aruna mengambil nafas. Setelah itu ia langsung melahap habis bibir mungil itu kembali.


Lidahnya menerobos masuk kedalam mulut Aruna mengabsen dengan rinci setiap bagiannya. Membuat sensasi ciuman itu semakin memanas. Aruna semakin terpancing untuk membalas tiap gerakan yang Riega lakukan.


Perlahan bibir itu beralih ke pipi milik Aruna yang halus, lalu mulai merambah turun ke rahang milik Aruna. Ia bergetar dan mulai mencengkram bahu Riega lagi. Dengan perlahan dan sangat sensual, Riega mulai mencecapi leher Aruna. Menghisapnya pelan dan penuh kelembutan. Memberi tanda merah sebagai bukti kepemilikanya pada tubuh Aruna.


Aruna merasa ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di perut datarnya. Sensasinya begitu berbeda dengan yang Riega lakukan saat menghisap bibirnya. Aruna memejamkan matanya saat Riega semakin lama semakin berusaha menjelajahi tubuhnya. Tapi Aruna berusaha untuk menghentikan aktivitas Riega.


"Sayaaanghhh... emmmhh..." desah Aruna lagi sambil menahan tengkuk Riega agar dia berhenti.


"Apahh..." rengek Riega dengan nafas memburu yang menerpa kulit wajah Aruna. Riega tak terima kegiatan mencium dan menghisapi leher Aruna terhenti begitu saja.


"Udah sore Paaaak" ucap Aruna manja sambil menggelayutkan kedua tanganya pada tengkuk Riega. Manja-sangat manja. Membuat Riega semakin gemas dan benar-benar ingin melahapnya sampai habis. Tapi, ia sadar kalau Arunanya masih duduk di bangku sekolah.


Lagi-lagi ia terpaksa harus menahan nafsunya yang bergejolak.


"Hmmm, yasudah ayo pulang sayang... tapi malam nanti jangan sampai lupa yah temani aku show"


"Siap sayang. Tapi kamu yang harus izin ke mamah" jawab Aruna menoel hidung mancung kekasihnya.


"Hmm... oke siapa takut!"


"Oke deh" jawab Aruna hendak beranjak dari pangkuan Riega tetapi ia urungkan.


"Emm... sayang!?" panggil Riega


"Iyah?"


"Cepatlah lulus aku benar-benar ingin memilikimu seutuhnya sayang"


Belum sempat Aruna menjawab, Riega sudah melahap kembali bibir Aruna.


"Emmhh... Huft... Heummmpph.." desahan dan deru nafas mereka saling beradu memenuhi ruangan.


Lagi-lagi Riega menarik rahang Aruna dan mencecapi tiap inci bibir mungil yang indah nan nikmat itu. Riega menarik perlahan pinggang Aruna yang sedang dipangkuanya itu merapatkan jarak diantara keduanya. Aruna membalas pelukan Riega di tengkuknya. Tak ada jarak sedikutpun selain helaian baju yang mereka kenakan.


"Aaah, Paaaakkkh... emmmhh... sayaaaangghhh..." desah Aruna benar-benar membuat Riega semakin terangsang.


"Panggil namaku Na... emmmhhh... humpphh..." desah Riega disela-sela kecupanya di leher Nana.


"Rieghaaaa... Hummmmppph... Ga... emmhhhh..."


'Arrrggghh, nikmat sekali kekasihku ini. Rasanya tak sabar ingin memasukinya' batin Riega sambil terus menikmatinya.


Aruna benar-benar tak menyangka hubungan dengan gurunya sudah sampai seperti itu. Sejak dulu ia paling anti berdekatan dengan lelaki manapun. Tapi hanya Riega sajalah yang benar-benar bisa menaklukan hatinya dan juga tubuhnya itu.


Riega tak hanya bisa membuat hati Aruna hangat dan selalu berdesir saat bersamanya. Tapi ia juga mampu membuat tubuh Aruna takluk saat di sentuhnya. Aruna selalu melemah saat berada di samping Riega. Menikmati setiap sentuhan, kecupan dan cumbuan dari guru seninya itu. Riega. Tubuhnya tak bisa menolak bila Riega menyentuhnya. Bahkan suara desahanya yang indah pun hanya dimiliki oleh Riega.


"Gaaa.. please.. emmhh.. kita bhaaliikhh.. yaa.. emmmhhh... sayanghhhh..." ajak Aruna berusaha melepaskan diri dari kuncian tangan kekar kekasihnya. Ia bergerak tak karuan mendorong-dorong dada Riega.


Riega yang menyadari Arunanya sudah merengek minta pulang akhirnya membebaskan kekasih cantiknya itu.


"Eemmhhh... kamu nikmat banget saayanngg.. huuufffft... yasudah kita pulang. Aku takut kelamaan disini berdua sama kamu bisa semakin ga kekontrol nafsuku yang.. Awww Ssssshhhh" desah Riega menahan miliknya yang semakin mengeras dan terasa semakin sakit karena Aruna tak bisa diam.


"Kenapa sayang? Ada yang sakit?"


"Ssssttt.. jangan gerak lagi yah sayang. Lebih baik kita segera pulang" jawab Riega mengalihkan pembicaraan.


'Karena miliku semakin tegang' batin Riega.


Aruna yang mendengar jawaban kekasihnya itu langsung turun dari pangkuan Riega. Ia mengambil tas kekelas untuk segera pulang bersama Pa Riega. Sedangkan Riega malah sedang berusaha menahan penetrasinya sebis mungkin sambil menyembunyikanya agar Aruna tak bertanya macam-macam.


Gadis itu terlalu lugu bila membahas hal semacam itu. Akhirnya Riega menjadikan jacket sebagai penutup bagian miliknya agar tak dilihat oleh siapapun. Ia berjalan menuju parkiran, tapi sebelum itu, tak lupa ia melakukan finger print.


Seperti biasa, Aruna lah yang sampai terlebih dulu di parkiran. Menunggu Riega dengan sabar.


"Udah Pak? Eh, tumben jaketnya ga di pake, malah di iketin di pinggang Pak?" Tanya Aruna.


"Udah donk. Ayo pake helmnya dulu sayang!" Titah Riega berusaha mengabaikan pertanyaan Aruna.


"Oke"


Setelah menggunakan helm, Aruna langsung naik ke atas jok belakang motor ninja itu. Riega menstater motor dan langsung tancap gas untuk mengantar Aruna pulang dan segera sampai ke rumah. Menetralkan kembali miliknya yang selalu tegang saat bersama Aruna kecilnya.


Aruna yang merasa aneh dengan tingkah Riega mulai bertanya-tanya dalam benaknya.


'Pa Riega kenapa sih? Ga biasanya ngebut begini' Batinya bingung.


(Cekiiiittt) Riega tiba-tiba saja ngerem mendadak.


"Aaaaaaaah...." (Bruk) triak melengking Aruna yang terpental ke depan menabrak keras punggung Riega dan tanganya merangkul kencang tubuh Riega dan tanpa sadar menggenggam benda keras di balik jaket Riega.


"Emmmh..." Riega berusaha menahan suaranya yang akan teriak karen miliknya tak sengaja tercengkram keras oleh tangan Aruna.


'Aaaaah.. Aruna kenapa malah kamu pegang!' Batin Riega semakin tak kuasa menahan nyeri pada bagian miliknya.


"PAAAK! kenapa ngerem mendadak gitu iih. Aku takut tau!"


"Iyah maaf sayang tadi tiba-tiba di depan ada kucing nyebrang. Aaarrrghhh..." erang Riega tak bisa menahan lagi nyerinya.


"Eh, kenapa? Makanya jangan ngebut-ngebut doong!"


"Iyah maaf yah sayang. Bisa lepasin gak sayang cengkramanya?" ujar Riega sambil terus berusaha fokus mengendarai.


"Oke. Eh iyah sayang kenapa? Emang yang aku pegang apa? Kenapa kamu kaya kesakitan gitu?" Tanya Aruna tak mengerti dan melepaskan peganganya itu.


"Udah sayang aku mau fokus nyetir dulu yah" elak Riega berusaha tak menjawab Aruna.


"Oh, oke"


Akhirnya Riega dan Aruna sampai di depan gerbang besar yang menutupi rumah mewah milik Aruna. Aruna segera melompat turun dari jok belakang dan seperti biasa Riega membantu melepas halmet yang Aruna kenakan.


"Oke siap sayang. Makasih banyak. Aku balik dulu yah" jawab Riega


"Okey. Daaaah..." ujar Aruna sambil melihat ke arah Riega yang semakin lama semakin menjauh dan akhirnya Aruna masuk ke rumahnya.


***


"Aaahhhh..." erangan Riega membantingkan tubuhnya ke sandaran sofa sambil menahan penetrasinya yang kali ini benar-benar parah. Nyeri yang ia rasakan semakin terasa karena Aruna memegangnya langsung.


"Aruna... Aruna... kamu bener-bener berpengaruh besar banget" gumam Riega bangkit dari posisinya dan segera berniat mendinginkan diri dan menidurkan kembali miliknya.


Kemericik air membasahi tubuh Riega. Hanya ini yang bisa ia lakukan agar ia bisa menahan nafsunya pada Aruna. Setelah selesai, Riega keluar dan segera mengenakan pakaian rumahanya dan membaringkan tubuh di atas ranjangnya.


"Aaaaaah... Arunaaa.... sampai bertemu malam nanti sayang.." gumam Riega memejamkan matanya dan terbayang wajah Aruna.


Ia selalu begitu karena Aruna. Sejak ia kenal Aruna, hanya dialah yang ada di hati dan fikiranya. Perlahan Riega mulai terlelap dan terbuai dalam mimpi-mimpi indahnya. Tak lupa ia memasang alarm agar jika ia tertidur, akan ada yang membangunkanya.


***


Aruna memasuki rumahnya dengan sangat semangat karena malam ini ia akan jalan bersama Pa Riega untuk pertama kalinya. Aruna mencari di mana keberadaan mamahnya tapi tidak ia temukan sama sekali, ternyata asisten rumah tangganya bilang mamah Riris sedang pergi bersama Pak Ramikan atau supirnya.


Setelah mencari mamahnya, Aruna langsung bergegas menuju ke kamarnya untuk mengganti seragam dan beristirahat.


"Hemmm.. Riegaku sedang apa yah?" Gumamnya sambil membaringkan tubuh di atas ranjang.


"Ah, tadi Riega menghisap leherku, apa ada bercak merah yah?" Tanya Aruna pada dirinya sendiri dan bergegas bangun mendekati cermin.


Ia mulai melihat leher bagian mana yang kira-kira tadi Riega hisap. Ternyata memang benar ada bekas merah di lehernya. Ia menyentuhnya perlahan. Ada tiga kira-kira tanda itu.


'Emmmhhh.. kenapa aku selalu takluk yah kalau Riega mulai sentuh aku? Selalu aja aku lemah dan terbuai setiap inci sentuhanya' batin Aruna sambil memejamkan matanya dan kembali membayangkan rasa nikmat yang Riega berikan setiap ia di sentuh olehnya.


'Apa ini yang disebut kecanduan?' Batin Riega.


"Huumm, lebih baik aku istirahat aja deh sambil tunggu mamah balik. Semoga mamah ga lihat bekas merah ini" harap Aruna.


Aruna pun mulai membaringkan tubuhnya di ranjang menaikkan selimut sebatas dada dan memejamkan matanya berusaha terbuai mimpi.


(Kriiing, Kriiing, Kriiing,) dering telpon terdengar dari atas nakasnya. Aruna kembali terbangun dan melihat siapa yang menelponya.


"Ah, mamah!" Aruna langsung mengangkatnya


"Halo mah?!"


"Udah pulang, sayang?"


"Udah mah. Mamah kemana sih? Aku cari, kata Bi Sumi, mamah pergi sama Pak Ramikan?"


"Iyah sayang nanti malam mamah pulang kooo"


"Jam berapa mah?"


"Jam delapan kalau ga macet"


"Memang mamah dimana?"


"Mamah lagi ada tugas kerja mendadak di luar kota sayang" ujar Mamah Riris sayang.


"Emm... Mah... Ap.. apa aku boleh pergi mah nanti malam?" Tanya Aruna takut-takut. Karena memang selama ini ia tidak pernah pergi keluar malam-malam apa lagi sama cowo.


"Kemana dan sama siapa sayang?" Tanya mamahnya.


"Ada pentas show teater mah di Alun-alun kota. Pak Riega tampil dan aku mau nonton mah"


"Iyah lalu kamu pergi sama siapa sayang?"


"Denganya Mah"


"Apa yang kamu maksud Pak Riega?"


"I... iyah mah" jawab Aruna ragu.


"Apa ga sebaiknya tunggu mamah pulang, sayang?"


"Tapi acaranya jam tujuh malam mah"


"Oke,oke sayang. Mamah harap Pak Riega bisa bertemu dengan mamah dulu yah sayang sebelum pulang nanti" ujar mamah Riris dengan lembut penuh kasih sayang.


"Siap Mah, sebelum berangkat aku telpon mamah biar Pak Riega izin dulu yah"


"Oke sayang. Nana janji kan jaga diri baik-baik?"


"Iyah siap Mah. Aku akan jaga diri dan pasti Pak Riega akan jaga aku Mah"


"Syukurlah kalau begitu mamah percaya sama kamu sayang"


"Makasih Mamah. Muaaach. Cepat pulang mamah sayang. Hati-hati Mah!" kecupan jauh Aruna berikan untuk mamahnya


"Muuuaach.. iyah sayang makasih banyak anak mamah tersayang" balas Mamah Riris.


"Pay-pay Mamah"


"Pay Nana cantik"


Aruna dan Mamah Riris saling berpamitan dan akhirnya sambungan telpon itu terputus. Aruna merasa lega kalau ia sudah berusaha izin dengan mamahnya dan di izinkan.Aruna kembali menenggelamkan wajahnya di balik selimut untuk tidur dan tak menunggu lama Aruna mulai terlelap tidur.


To be Continue...


Like, coment, dan vote๐Ÿ’›


Enjoy this story yang abal-abal ini yah ๐Ÿ˜‚


Salam sayangku untuk kalian semua....