
Riega sudah selesai mengenakan pakaianya. Ia keluar dari kamar mandi dan segera berjalan keluar menuju ruang makan.
"Sayang, aku makan dulu yah.. kamu disini aja, oke?!" Ujar Riega sambil berjalan mendekati Aruna yang masih duduk di sofa sambil membaca salah satu buku disana. Riega berhenti sejenak dan mengecup puncak kepala Aruna sekilas.
"Siap Bosque.." jawab Aruna sambil menyunggingkan senyumannya.
"Oke!"sahut Riega mengedipkan sebelah matanya dan melenggang keluar untuk menuju ke meja makan.
Aruna yang tengah menunggu kekasihnya selesai menyelesaikan makan, berusaha mengusir rasa jenuh dengan bermain game. Ia menggunakan handphone Riega untuk menghibur diri. Disana tak ada permainan untuk perempuan. Hanya ada permainan perang-perangan yang bahkan ia tak tau bagaimana cara bermainya. Akhirnya ia memutuskan untuk mendownload permainan kesukaanya yaitu POU.
Ya, permainan Pou itu sangat mengasyikkan bagu Aruna. Meskipun itu adalah permainan membesarkan sebuah kotoran 💩 tapi itu sangat mengasyikkan. Saatcia sedang asyik-asyiknya bermain, tiba-tiba saja ada panggilan masuk dari seseorang. Di sana tertera nama Pa Ramikan. Supir pribadi Aruna. Sontak ia langsung men-swipenya ke kanan untuk mengangkat.
"Halo?!" Sapa seseorang dengan suara khas yang Aruna kenal.
"Iya halo. Pa Ramikan?!" Sahut Aruna dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Non-Non Aruna?! Ini bener Non Aruna?!"
"I-iya Pa ini saya Aruna..." jawab Aruna dengan menjatuhkan sebulir air mata di pipinya.
"Non, baik-baik aja kan? Bapak khawatir.. kenapa Non Aruna nangis?" Pa Ramikan bertanya dengan penuh nada khawatir.
"Baik Pak.. Aruna selamat Pak.. hiks hiks.." ujar Aruna sesenggukan.
"Syukurlah Non... Bapak khawatir sekali. Cepat pulang Non, Ibu Riris besok akan segera pulang."
"Iya Pak Aruna bersyukur banget. Sekarang masih bisa dengar suara Bapak.. Apa Mamah tau saya di culik Pak?" Tanya Aruna takut.
"Ndak Non.. Saya ga boleh ngabarin Ibu Riris kata Nak Riega"
"Syukurlah kalau Mamah ga tau.. Bapak jangan kasih tau Mamah ya Pak, Aruna takut Mamah malah khawatirin Aruna."
"Iya Non siap. Kapan pulang Non?" Tanya Pa Ramikan lagi.
"Emm, Aruna pulang kalau urusan di sini udah selesai Pak sama Riega nanti." Terang Aruna.
"Aah, yasudah Non. Kalau begitu istirahat saja. Bapak tunggu kedatanganya. Salam untuk Nak Riega yah?!" Ujar Pa Ramikan.
"Iya Pak siap.. hehe"
Pa Ramikanpun memutus sambungan telepon tepat di saat pintu kamar itu terbuka. Aruna langsung mengusap bekas air matanya yang tadi sempat menetes karena merasa sedih mengingat kejadian yang menimpa dirinya. Aruna berusaha bersikap seperti biasa dihadapan Riega.
"Sayang?" Panggil Riega dengan lembut sambil berjalan mendekati Aruna.
"Hemm?"
"Lagi apa sayang?" Tanya Riega yang sudah mendaratkan bokongnya di sofa empuk sebelah Aruna dan merangkul bahu gadis cantik miliknya itu.
"Ng-ga. Tadi ada telpon masuk di handphone kamu terus aku angkat." Jawab Aruna.
"Siapa?"
"Menurut kamu siapa Ga?" Aruna balik bertanya dengan suara pelan.
"Em.. aku ga tau sayang kan kamu yang terima telponya cantik.." ujar Riega sambil mengangkat dagu Aruna perlahan agar ia bisa menatap manik mata milik Aruna. Belum sempat Aruna menjawab, Riega langsung bertanya lagi.
"Eh-eh pacarku habis nangis?" Tanyanya.
"He'em.." Aruna mengangguk.
"Kenapa? Nangis karna apa cantik?" Tanya Riega lagi masih terus memegang ujung dagu Aruna.
"Karna orang yang telpon tadi.." jawab Aruna sambil berpura-pura menampakkan wajah sedihnya.
"Si-siapa yang telpon Na?" Tanya Riega takut-takut.
"Menurut kamu siapa?"
"Em.. a-aku gak tau sayang.." sahut Riega lagi.
"Ko kamu gagap gitu jawabnya?" Tanya Aruna mulai merubah ekspresinya jadi curiga.
'Ahaha, aku kerjain loh Pak!' Batin Aruna merasa puas bisa mendapatkan ide semacam itu.
"Eng-ga. Enggak ko aku biasa aja sayang.. Memang siapa yang tadi telepon?" Tanya Riega lagi.
"Ya aku ga tau kan.." ucapan Riega terputus.
"Mantan kamu!" Potong Aruna dnengan cepat dan dengan nada yang benar-benar ketus.
"Masa?" Tanya Riega kaget.
"Iyah!" Sahut Aruna cepat.
"Ga percaya aku sama kamu Na!" Tegas Riega.
"Ko ga percaya? Orang emang iya kok mantan kamu telpon!" Aruna juga tak kalah tegas.
"Iya ga percaya dong sayang.. orang aku ga punya mantan kok! Wleeee" Ledek Riega dengan memeletkan lidahnya.
"Ih bohong. Kamu bohong bohong bohong. Ga mungkin kamu ga punya mantan kan?" Aruna memukul-mukul tangan Riega.
"Aw-aw-aw.. aku ga bohong sayang, aku memang ga ada mantan. Aku ga pernah pacaran selain sama kamu. Cuma kamu wanita yang bisa nyulik hati aku, cantiiik..." (Cup!) Riega menjawab Aruna dan mengakhirinya dengan mengecup pipi kanan Aruna.
"..." Aruna terkejut sekaligus tersipu malu karna jawaban dari Riega tadi.
"Masih ga percaya? Hem?"
"..."Aruna menggeleng perlahan sambil menutupi wajahnya yang mulai memerah.
"Kamu bisa pastiin hal itu ke Caca. Aku ga suka bohong apa lagi sama kamu sayang.. Jadi, siapa tadi yang telpon di handphoneku?" Tanya Riega lagi sambil memeluk Aruna dengan erat dan menyandarkan kepalanya di bahu Aruna dengan begitu manja.
"Emm... iya aku percaya sama kamu ko Riega sayang.. T-tadi yang telpon Pa Ramikan" Jawab Aruna dengan suara pelan.
"Pa Ramikan? Terus kenapa kamu nangis sayang?" Tanya Riega.
"Aku.. aku cuma rindu Mama dan juga Pa Ramikan dia yang dari dulu selalu ada untuk aku dan Mamah. Aku juga jadi keinget kejadian itu, kalau kamu waktu itu ga datang mungkin aku..."
"Sssssst! Udah sayang jangan di bahas lagi yah.. kamu ga usah ingat hal itu lagi. Yang terpenting saat ini kamu kembali lagi kepelukan aku sayang!" Ujar Riega menenangkan Aruna yang mulai kembali akan menangis dengan memeluk dan mengelus lembut rambut Aruna.
Riega jelas tau bahwa kekasihnya itu masih merasa trauma dengan kejadian penculikan yang menimpa Aruna. Riega tak mau Aruna terus-terusan menangis bila mengingat hal itu. Riega akan sebisa mungkin membuat Aruna bahagia dan selalu tersenyum sampai rasa trauma itu hilang.
"Makasaih sayang..." Aruna membalas pelukan Riega dengan erat
****
Setelah menghabiskan waktu berdua di kamar milik Riega. Kini tepat pukul 11.45 sudah waktunya untuk mengajak Aruna bertemu dengan Ketua AL dan membicarakan mengenai pelatihan yang akan Aruna ikuti selama lima bulan kedepan. Riega harap-harap cemas. Ia khawatir sekali jika Aruna menolak permintaan Ketua AL. Ia juga tak berani menanyai dan membahas tentang pelatihan itu pada Aruna.
Riega tajut jikalau dirinya membahas mengenai pelatihan itu Aruna malah menjadi sedih lagi dan mengingat kejadian penculikan itu. Jadi, ia tak membahas hal itu sama sekali saat menghabiskan waktu berdua tadi. Riega hanya ingin Aruna yang memutuskan semuanya. Ia tak mau memaksa kehendak Aruna. Biarkan Aruna yang memilihnya sendiri atas keinginanya sendiri.
"Sayang, jam satu siang nanti kita pulang. Tapi sekarang kita temui Paman dulu. Masih ada satu hal lagi yang mau Paman kasih tau ke kamu, sayang.."
"Ah, oke sayang. Ayo aku mau bilang makasih juga sama Paman AL dia baik banget.."
"Hmm, oke ayo sayang.." Ajak Riega sambil menggandeng tangan Aruna.
'Aku harap kamu bisa nerima pelatihan itu sayang' Batin Riega sambil menatap wajah Aruna yang sedang menebarkan senyuman indahnya pada beberapa anggota Perkumpulan yang mereka temui saat berjalan menuju ke ruangan Ketua AL.
Aruna begitu senangnya karena ia akan kembali ke rumahnya. Bertemu dengan Mamahnya dan juga akan menjalani hidup dengan tenang seperti biasanya tanpa ada yang mengganggunya.
Mereka berdua berjalan sambil terus berpegangan tangan dan bertemu dengan Caca juga Aslan yang hendak menuju ke ruangan Ketua AL juga.
"Ka, Na.. Ayi bareng gue sama Aslan juga di panggil Ketua!" Ajak Caca.
"Ayo Ca!" Sahut Aruna.
Mereka ber empatpun bersama-sama menuju ke ruanagan Ketua AL.
To Be Continue...
😍
🤗
🙏
😙
👍