
Waktu menunjukkan pukul 23:40 malam. Suasana markas besar Macan Hitam masih terbilang cukup ramai. Disana ada beberapa anggota yang masih aktif berlatih. Baik latihan beberapa senjata, maupun hanya berlatih fisik saja.
Di taman belakang markas. Riega, Caca dan Aslan. Sedanga duduk dan berbincang santai menikmati malam dengan minuman favorite masing-masing.
"Bang?!" Aslan membuka pembicaraan.
"Ya?" Sahut Riega.
"Lo ga ngerasa Ketua AL nargetin Aruna terlalu cepet untuk masa pelatihanya?"
"Gue ngerasa juga. Tapi, pasti Paman punya alasan tersendiri. Yang gue tau, sebelum kita jalanin misi Paman bilang yang jadi anggota keluarga kita harus setangguh baja Lan!" Jawab Riega.
"Iya bener sih Bang! Tapi, kalau selama lima bulan belum mencapai target?" Tanya Aslan lagi.
"Gue ga tau Aslan. Tapi gue harap Nana bisa!" Harap Riega sambil menyeruput secangkir teh hangat.
"Semoga aja Bang!"
"Ka?!"
"Hem?!"Gumam Riega.
"Yang?!"
"Apa?!" Sahut Aslan.
"Apa gue terlalu lancang ya minta tanggung jawab ngajar Aruna? Kalo tau targetnya secepat itu, dan masa latihan cuma tiga hari dalam seminggu lebih baik gue ga ambil tadi!" Sesal Caca.
"De, lo jangan pesimis gitu dong!"
"Iyah Sayang jangan gitu!" Timpal Aslan.
"Tapi Ka, ini terlalu ga masuk akal!"
"Paman udah percaya sama kita bertiga, dan itu tugas kita untuk jalanin dan buktiin kalo kita bisa dan ga akan mengecewakan de!"
"Kata Bang Riega bener banget. Ca, kita harus latih Aruna tapi juga harus bisa jaga kondisi Aruna juga jangan sampai dia drop!" Uhar Aslan.
"Heemz, gue harap begitu Ka, Yang!" Harap Caca sambil bersandar di bahu Aslan dan merangkul lengannya.
"..." Tak ada jawaban lagi. Mereka bertiga hanya menyesap minuman masing-masing dan menikmati malam dengan fikiran masing-masing.
Tepat pukul satu dini hari, mereka memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. Meninggalkan taman belakang markas dan menjadi sepi. Riega masuk ke dalam kamarnya yang sudah ada Aruna disana sedang terbuai dalam mimpi-mimpi indahnya, mungkin.
Riega masuk dan hendak mengganti pakaiannya. Ia sejenak memandang ke arah ranjang dimana Aruna terlelap. Wanitanya begitu cantik, disana masih terdapat luka memar bekas tamparan. Perlahan ia mengelus pipi Aruna. Ia berlutut di samping ranjang, menikmati indah dan teduhnya wajah wanita kecilnya itu.
"Sayang... aku harap kamu bisa.." gumam Riega terus mengelus pipi Aruna dengan lembut. Matanya tak sedikitpun beranjak dari pemandangan indah di depan matanya itu.
Saat Riega hendak mencium pipi Aruna, tiba-tiba saja Aruna bergerak dan membalik tubuhnya membelakangi Riega. Hingga Riega tak bisa menjangkau kening Aruna.
"Saat tidurpun kamu ga mau aku cium sayang, hehehe! Yasudah besok aja!" Gumam Riega mengubah posisinya, berdiri dan membenarkan selimut yang menutupi tubuh Aruna.
Riega memutuskan untuk tidur di sofa saja. Ia tak mau tidru disamping Aruna karena pasti miliknya akan terus meronta-ronta jika ia nekat tidur di atas ranjangnya. Alhasil ia harus rela tidur di sofa untuk malam ini, menghindari suatu hal yang diinginkan terjadi :v
(*kalau hal tak di inginkan kenapa bisa terjadi kan? Hahahah) *Apa sih Thor, Apa? -_-
Ia membaringkan tubuhnya dengan telanjang dada seperti biasa dan mengambil selimut lain dilemarinya. Akhirnya Riegapun ikut menyusul terlelap dan terbuai dalam mimpi-mimpinya.
*****
Hari yang panjang telah berlalu, hari yang baru menyambut. Mentari pagi mulai bersinar dengan eloknya. Memberikan kehangatan bagi bumi dan seisinya. Kilauan cahaya itu menerobos masuk kecelah-celah gordin kamar Riega. Membuat Aruna terbangun dari tidurnya.
Aruna mulai membuka matanya perlahan. Ia mulai mengedarkan pandanganya dengan posisi masih tidur terlentang.
"Eennngghhh..." Aruna merenggangkan otot-otot tubuhnya. Ia melihat di samping tenpat ia tidur tak ada Riega.
"Pa Riega tidur dimana ya?" Gumam Aruna.
Ia turun dari ranjang dan berdiri tepat di dekat meja nakas. Aruna melihat ke arah sofa dan dikejutkan dengan pemandangan yang mengocok perutnya di pagi hari.
"Pfffttt, ahahahahah!" Aruna tertawa dengan suara terpendam di balik tanganya yang sudah menutup mulutnya.
Disofa tempat Riega tertidur, Aruna melihat Riega tidur menghadap ke sandaran sofa. Dengan menggunakan celana boxer berwarna merah dan bertelanjang dada, selimut yang menjuntai kebawah tak menutupi tubuhnya. Riega menaikkan satu kakinya di sandaran sofa dan juga satu tangannya seperti sedang memeluk sebuah guling besar.
Pemandangan yang sangat kocak bagi Aruna. Ia berjalan mendekat ke tempat kekasihnya tertidur itu.
"Ya ampuun, kamu ga biasa tidur di tempat sempit begini malah maksain. Sampai sandaran sofa sebesar ini kamu jadiin guling Pa! Heheh" Aruna terkekeh sambil membenarkan selimut yang menjuntai acak-acakan itu dan menutupnya di tubuh Riega.
Aruna tidak tahu saja, jika semalaman Riega berkali-kali jatuh dari sofa hanya karena ia menghadap ke arah yang salah dan berkali-kali juga ia merutuki dirinya sendiri. Hingga akhirnya Riega menemukan posisi seperti itu. Sengaja menjadikan sandaran sofa menjadi seperti guling agar ia tak terjatuh dan memang Riega tak bisa tidur nyenyak jika tak ada sesuatu yang ia peluk seperti guling. :v
Ia memutuskan untuk tak membangunkan Riega, ia tahu jika kekasihnya itu pasti tidur sangat larut. Arunapun berjalan menuju kamar mandi untuk melaksanakan ritual mandi paginya. Tapi sebelum itu, Aruna memutuskan untuk menelpon Caca menggunakan handphone Riega untuk meminjam salah satu baju Caca agar ia tak menggunakan baju Riega yang kebesaran dan kedodoran lagi ditubuh mungilnya itu.
Setelah Aruna menerima pakaian dari Caca, ia memutuskan untuk segera mandi sebelum Riega terjaga dari tidurnya. Setengah jam lebih, ia menghabiskan waktunya untuk membersihkan dan memanjakan diri didalam kamar mandi.
"Huuffftt... seger bangeeet!" Gumam Aruna keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia berjalan dan melihat ke arah ranjang. Ternyata Riega sudah berpindah posisi di sana.
Riega memeluk gulingnya begitu erat dan melanjutkan tidurnya lagi. Aruna kembali terkekeh.
"Hehehe, Riega-Riega..." gumam Aruna sambil menggelengkan kepalanya dan ia berjalan menuju ke arah cermin.
Setelah selesai merapihkan diri, Aruna mendekat ke arah Riega tidur. Ia duduk di pinggiran ranjang sambil mengelus puncak kepala Riega yang membelakanginya. Merapihkan rambut kekasihnya yang berantakan.
"Sayang, ayo bangun udah pagi..." Aruna berbisik di telinga Riega dengan lembut.
"Emmh, Nana..." Riega bergumam dan membalikkan tubuhnya sambil terus memeluk guling.
"Ayo bangun sayang. Ini udah jam 7 loh!" Ujar Aruna masih terus mengelus-elus rambut Riega.
"Bentar lagi sayang, aku masih ngantuk..." Rengek Riega sambil menggenggam tangan Aruna yang satunya.
"Tidur jam berapa semalam? Hem?" Tanya Aruna lagi.
"Ngapain aja coba yang?" Tanya Aruna.
"Heeemm..." Riega hanya bergumam saja.
"Yaudah lanjutin bobonya sayang, aku keluar sama Caca mau sarapan laper banget kasih.." ujar Aruna mendekatkan wajahnya ke arah Riega dan mengecup lembut pipi Riega.
(Mmuuaacch)
"Eemmmhh..." Riega hanya merespon seperti itu tapi ia merasakan kehangatan yang seketika menjalar ditubuhnya.
Arunapun berjalan keluar dari kamar Riega. Sebelumnya ia sudah meminta Caca untuk menjemputnya melalui handphone Riega. Dan disana sudah ada Caca yang menunggu di depan kamar Riega sambil duduk di kursi putih yang disediakan disana sambil memainkan handphonenya.
"Eh, udah Na?" Sapa Caca.
"Udah ko Ca"
"Ka Riega mana?" Tanya Caca
"Masih ngebo Ca!"
"Ahahah, terus lo tidur satu ran..."
"Eh engga ko Ca!" Aruna langsung memotong ucapan Caca yang pasti akan menanyakan hal itu.
"Terus, Ka Riega tidur di sofa?"
"Iya, tadi pagi sih aku bangun dia tidur di sofa"
"Ooh, pasti dia ga enak tidur tuh" ujar Caca.
"Iya, kasian banget ga tega aku Ca." Sambung Nana.
"Yah, ga apa lah Na. Daripada dia ga bisa tahan nafsunya dan gangguin lo kan?"
"Eh, iya juga sih ya Ca!" Ujar Aruna yang baru sadar karena ia tak memikirkan sampai kesana.
"Iya, yaudh biarin dia istirahat aja. Nanti selesai makan, lo bawain dia makanan yah Na!" Ujar Caca
"Siap Ca!" Jawab Aruna dengan cengiranya.
Mereka menuruni tangga dengan berbincang santai. Saat sampai di ruang makan, Aruna merasa takjub kembali. Ternyata di sana sudah ramai sekali. Ruang makan itu dipenuhi dengan ratusan orang. Bisa di bayangkan seberapa luasnya ruang makan itu. Itupun, baru ruang makan utama. Masih ada ruang makan kedua yang terletak di bangunan sayap kiri khusus untuk para anggota-anggota pegulat.
Caca berjalan di depan Aruna dan mengajaknya untuk duduk di meja makan tempat biasa Riega makan. Bersebelahan dengan Ketua AL dan juga Caca.
"Pagi Paman.." sapa Caca pada Ketua AL.
"Pagi Nak! Kalian sudah sampai. Duduk sarapan yang kenyang..." Ketua AL mempersilahkan mereka berdua duduk. Aruna masih merasa canggung dengan pria tua yang ia belum sempat berkenalan denganya.
Arunapun duduk bersebelahan dengan Ketua AL ia benar-benar tak bisa banyak bergerak. Bahkan untuk mengambil lauk dan nasi saja ia benar-benar kikuk.
"Aruna..."
"Eh, emmm. I-iya Ke-ketua!" Sahut Aruna dengan terbata-bata.
"Santai saja Nak. Tidak usah terlalu formal. Panggil saja Paman" Ketua AL berusaha sebisa mungkin membuat Aruna santai.
"Emm, iya Paman?"
"Dimana Riega?"
"Masih tidur, Paman. Nanti Aruna saja yang antar makanan buat Riega sarapan" uhar Aruna.
"Anak itu. Yasudah jangan sampai dia ga sarapan ya, Nak!" Kata Ketua AL dan ia melanjutkan sarapanya debgan khidmat.
"Iya Paman!" Jawab Aruna yang sudah selesai mengambil makananya dan ia menikmati sarapan juga.
Setelah beberapa menit menghabiskan makanan, prosesi sarapan pagi hari itu di selesaikan dengan beberapa perbincangan yang memang semuanya membahas tentang Riega dan Aruna saja. Tapi, itupun Aruna masih banyak malu dan Caca lah yang harus menjadi juru bicaranya. Dari situ, Ketua AL bisa melihat siapa Aruna yang sebenarnya.
Selesai sarapan dan berbincang, Ketua AL lebih dulu meninggalkan meja makan. Disusul Aruna, Caca dan juga beberapa anggota lainnya yang akan menjalankan aktivitasnya. Aruna sebelum meninggalkan ruang makan, mengambil beberapa makanan untuk Riega sarapan.
"Ca, kalau mau duluan ga apa ko. Aku mau siapin makanan buat Riega." Ujar Aruna.
"Bener?"
"Iya Ca, aku udah tau ko jalan ke kamar hehe jadi ga perlu di pandu lagi" jawab Aruna dengan sengiran khasnya.
"Yaudah oke deh gue duluan yah Na!" Pamit Caca.
"Oke Ca"
Setelah Caca pergi, Aruna dengan segers meminta bantuan maid untuk menyiapkan makanan apa saja yang biasa Riega makan. Setelah itu, ia berjalan menuju ke kamar Riega. Sesampainya di depan pintu, ia kesulitan untuk membukanya karena ia membawa nampan di tanganya. Dengan celingak-celinguk, ia mencari seseorang untuk membantunya membukakan pintu. Tapi tidak ada siapapun disana. Akhirnya Aruna memutuskan membuka sendiri pintu kamarnya dan meletakkan nampan makanan itu di atas kursi
Aruna membuka knop pintu itu dan membukanya sedikit. Saat ia sudah mengambil nampanya kembali, ia dikejutkan dengan pemandangan yang sungguh diluar dugaan. Ia menjatuhkan nampannya, dan langsung menutup kedua matanya.
"AAAAAAAAAAAAA......." Aruna berteriak sekencang-kencangnya hingga terdengar sampai lantai bawah. Semua orang terkejut dan langsung berlarian menuju ke sumber suara.
"AAAAAAAAAAA....." Satu lagi suara teriakkan dari Riega juga semakin membuat suasana gaduh. Ia terkejut karena Aruna berteriak sekencang itu.
To be Continue...
Hayooo, apa yang Aruna lihat? Kenapa sampe teriak sekencang ituuπππ
Sudah jangan bertanya-tanya terus, mari lanjut baca.
Eiiiitttss, tapi sebelum lanjut mari beri likenya guysss β€
Jangan lupa beri aku vote juga dalam contest kali ini supaya aku bisa menjadi yang terbaik π π€