Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
57



Sesampainya di ruangan Ketua AL. Mereka berempat masuk bersamaan. Disana sudah ada Ketua AL dan juga William selaku salah satu sekretaris pribadinya.


"Masuklah Nak dan Duduk!" Ketua AL mempersilahkan mereka semua masuk.


"Terima kasih Paman!" Sahut mereka berbarengan.


Mereka berempat termasuk William tak mengeluarkan suara sedikitpun. Sudah menjadi aturan baku di Perkumpulan Macan Hitam. Jika Ketua AL belum angkat bicara, maka semua anggita tak diizinkan sedikitpun mengeluarkan suara.


Begitupun saat itu juga. Bahkan Aruna yang tak mengetahui aturan baku itu tak berani berbicara barang sehurufpun. Aura kepemimpinan Ketua AL benar-benar kuat dan pekat sekali di ruangan itu. Ketua AL benar-benar berjiwa seorang pemimpin ulung seorabg Mafia Macan Hitam. Disegani, ditakuti, penuh wibawa dan sangat berjiwa kepemimpinan. Meskipun begitu, ia memiliki tutur bicara yang santai dan lembut. Walaupun diwaktu dan jam tertentu ia bisa berubah menjadi seorang Singa yang mematikan tergantung keadaan dan situasinya.


"Ekhem.." Ketua AL berdeham pertanda akan memulai sebuah pembicaraan.


"Baiklah, beberapa jam lagi Aruna anggota baru kita akan kembali ke rumahnya. Benar?"


"I-iya Paman" Jawab Aruna dengan cepat.


"Bagaimana Nak? Apa ada yang ingin Aruna sampaikan dulu?" Tanya Ketua AL pada Aruna karena jelas sekali Ketua AL bisa membaca gerak tubuh Aruna yang gusar karna hendak menyampaikan sesuatu pada dirinya.


"Iya Paman.. Aruna mau ucapin terima kasih banyak sama Paman dan seluruh anggota perkumpulan Macan Hitam ini karena sudah menyelamatkan Aruna. Aruna ga bisa bayangin kalau seandainya Riega, Caca, Aslan dan anggota lain ga datang Aruna mungkin udah ga ada di dunia ini lagi.. hiks hiks.." Aruna mulai sesenggukan dan meneteskan air matanya.


Caca yang berada di sebelahnya mulai merangkul bahu Aruna dan mengusap-usapkan tanganya seraya menguatkan Aruna.


"Dan.. Aruna juga berterima kasih untuk Paman yang sudah bersedia menerima saya sebagai keluarga di sini dan menyambut serta menperlakukan saya selayaknya seorang anak untuk Paman.. sekali lagi Aruna ucapin terima kasih.." tutur Aruna dengan lembut dan mulai menyunggingkan senyumnya.


"Sama-sama Nak.. emm.. apa Paman boleh bicara berdua dengan Aruna saja?" Tanya Ketua AL pada Aruna dan juga meminta Riega, Caca, Aslan, juga William untuk keluar terlebih dahulu dari ruangan itu.


"B-boleh Paman.." Jawab Aruna ragu-ragu sambil menatap Riega dan Riega membalas tatapan Aruna dengan mantap.


Tanpa harus Ketua AL minta mereka keluar, mereka sudah paham jikalau Paman AL meminta waktu dan tempat berdua sjaa untuk berbincang dengan Aruna.


Pintu sudah di tutup oleh Riega dari luar. Riega, Caca dan juga Aslan menunggu di bangku dekat ruangan Paman AL. Sedangkan William pamit untuk pergi keluar sebentar mengurus beberapa pekerjaan lainya.


"De, apa yang Paman obrolin sama Nana ya?" Riega bertanya pada Caca.


"Ya gue ga tau lah Ka. Emang kenapa lo kepo banget!" Jawab Caca.


"Iya ga apa-apa. Cuma gue penasaran aja sih.."


"Mungkin lagi bahas tentang latihan untuk Aruna kali Bang!" Sahut Aslan.


"Iya kali tuh Ka." Timpal Caca lagi.


"Mungkin sih.. gue takut Aruna ga setuju sama keinginan Paman deh Ca, Lan!" Ujar Riega cemas.


"Em, gue yakin Aruna mau deh Bang!" Aslan memberikan pendapat.


"Iya gue juga yakin Aruna mau Ka!" Sambung Caca.


"Iya gue harap gitu juga sih. Tapi..."


"Tapi apa Bang?" Tanya Aslan.


"Tapi Aruna kan takut sama senjata-senjata begitu.. Apa lagi gue sempet liat ekpresi dia waktu bunuh anak buah Sharen bahkan dia sampe pinsan gitu kan?" Riega berasumsi.


"Iya juga sih Bang!" Sahut Aslan tak konsisten.


"Ga deh ga mungkin. Gue yakin Aruna bakal mau dan gue yakin Aruna punya alasan sendiri untuk nerima pelatihan itu dan Paman bakal yakinin Aruna!" ujar Caca yakin seyakin-yakinya.


Sepuluh menit waktu berselang. Belum ada tanda-tanda pembicaraan antara Aruna dan Pamanya itu selesai. Riega sangat penasaran sebenarnya apa yang sedang mereka perbincangkan berdua di dalam sana.


"Lama banget sih mereka?" Gumam Riega bosan.


"Sabar Bang.. mungkin Aruna udah mulai nyaman tuh sama Ketua!" Sahut Aslan sembarangan.


"Iyah kali udah nyaman Ka!" Timpal Caca juga.


"Hmm, iya kali yah moga aja Aruna mau.." Harap Riega.


"Semoga..." saut Caca dan Aslan berbarengan.


Tepat saat itu juga pintu ruangan Ketua AL terbuka. Aruna keluar dari ruangan itu sendirian dan ia kembali menutup pintu itu kembali. Riega langsung mengambil langkah seribu mendekati Aruna.


"Gimana sayang?"


"Emm, kalian di panggil sama Paman!" Ucap Aruna tak meladeni pertanyaan Riega.


"Oh, Oke Na! Thanks.." sahut Caca langsung berdiri dari posisi duduknya dan berjalan masuk bersama Aslan ke ruangan Pamanya itu.


"Na,..?!" Panggil Riega.


"Hem?"


"Tadi apa yang kalian bicarain?" Tanya Riega penasaran.


"Udah masuk aja dulu Riega.. nanti aku janji cerita ke kamu kok!" Jawab Aruna tersenyum ke arah Riega dan Riega juga membalas senyuman itu lalu masuk.


****


13.00


Riega, Aruna, Caca dan Aslan sudah berada di depan halaman Markas. Bersama Ketua AL, William dan beberapa anggota lainya yang akan mengawal mereka menuju rumah Aruna.


Ketua AL melepas kepulangan mereka. Aruna berpamitan pada Paman AL dengan sebuah pelukan.


"Ingat nasihat Paman, Nak!" Ujar Ketua AL berbisik pada Aruna disela-sela pelukan mereka.


"Siap Paman!" Jawab Aruna membalas pelukan hangat itu.


Setelah itu, mereka berempat memasuki mobil. Ketua AL melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan yang sementara itu. Ketua AL menyunggingkan sebuah senyuman yang begitu menampakkan kepuasan di hatinya.


Aruna, kekasih dari Riega keponakan yang sudah ia anggap sebagai anaknya menyetujui mengenai pelatihan yang akan ia berikan pada Aruna. Tanpa perlu tawar menawar lagi. Tak bisa di tebak, Aruna malah sangat bersemangat tentang tawaran latihan itu.


"Paman harap, kamu bisa menjaga Riega dan juga dirinu sendiri, Aruna!" Gumam Ketua AL pada dirunya sendiri.


****


Di perjalanan menuju ke rumah masing-masing mereka banyak berbincang dan menanyakan pada Aruna apa yang Ketua AL dan Aruna perbincangkan tadi.


"Iya Na, gue penasaran banget nih!" Sambung Aslan dan Caca hanya manggut-manggut saja.


"Emmm, banyak banget tadi yang kita bicarain. Ternyata Paman asyik yah kalau di ajak bicara." Ujar Nana dengan tersenyum sumringah.


"Iya Paman emang asyik kalau nasihatin kita. Tapi kalau udah marah.."


"Ssst, jangan gosipin Paman Ca!" Potong Riega.


"Iya deh Ka!" Jawab Caca.


"Jadi, apa yang kalian bicarain Na?" Tanya Riega lagi.


"Em, Paman kan udah angkat aku jadi anggota kalian juga. Jadi, aku harus ikut pelatihan gitu deeh Ga" Jawab Aruna.


"Terus kamu mau?"


"Mau dong, emang kenapa?"


"Apa siap?" Tanya Riega lagi.


"Siap ko Riega. Ko kamu meragukan aku sih?" Tanya Aruna balik.


"Bukan gitu sayang, tapi kamu harus ambil izin buat ga sekolah tiap hari jumat apa Paman udah bilang?"


"Udah.." jawab Aruna cepat.


"Terus kamu bakal ketinggalan pelajaran sayang.." ujar Riega.


"Aku bisa kejar itu dan pasti Wissey bakal bantu aku kok" jawab Aruna mantap.


"Lo semanget banget kayaknya Na?!" Timpal Caca di sela-sela perbincangan Riega dan Aruna yang hampir memanas.


"Iya Paman kasih sesuatu buat aku kalau aku mau dan bisa ikutin latihan itu sampai bisa Ca!" Jawab Aruna sambil nyengir.


"Apa Na? Apa yang Paman janjiin?" Tanya Riega dan Caca bersemangat benar-benar penasaran.


"Kepo!" Jawab Aruna singkat dan terkekeh.


"Yaah, hahahahah kasian deh lo!" Ledek Aslan terbahak-bahak melihat ekspresi kedua Kakak baradik itu menampilkan wajah kecewa karena jawaban Aruna itu menjatuhkan harapan mereka.


"Sayang kasih tau aku doong..." Pinta Riega.


"Iya Na.. apa yang Paman janjiin?" Tanya Caca merayu Aruna.


"Rahasia! Itu cuma aku dan Paman AL yang boleh tau!" Jawab Aruna.


"Yaaaah.." Riega dan Caca kecewa berbarengan.


"Emm, liat aja nanti apa yang Paman AL kasih untuk aku. Kalian bakal tau kalau aku bisa penuhin semua keinginan Paman!" Ujar Aruna mantap.


"Ok-ok..." Sahut Caca.


"Yaudah sayang kalau ga mau bilang ga apa-apa asalkan kamu suka dan bisa penuhin kemauan Paman aku tetap dukung kamu kok, Na!" Ucap Riega mengusap puncak kepala Aruna dengan lembut.


"Makasih Ga.." jawab Aruna tersenyum.


Akhirnya perbincangan singkat mereka itu berakhir saat mobil berhenti untuk mengantar Caca dan Aslan ke rumahnya. Tersisa Riega dan Aruna serta supir yang mengantar mereka menuju ke rumah Aruna.


Tak butuh waktu lama, mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Aruna. Pa Ramikan sebelumnya sudah mengetahui jika Aruna akan pulang siang ini. Ia sudah menunggu beberapa menit lalu di teras rumah sambil membaca koran dan menyesap kopi. Saat bubyi klakson terdengar Pa Ramikan langsung berlari menuju ke gerbang untuk menyambut anak dari majikanya yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.


"Pa Ramikan?!" Panggil Nana langsung berlari dan memeluk supir pribadinya itu.


"Iya Non.." sahut Pa Ramikan.


"Mamah ymudah pulang Pa?" Tanya Aruna melepaskan pelukanya pada Pa Ramikan.


"Belum Non.." jawab Pa Ramikan.


"Huufft, syukurlah.."


"Iya Non.. Ayo masuk Non! Nak Riega ayo masuk!" Ajak Pa Ramikan.


"Iya Pa.." Jawab Riega dan ia berjalan mensejajarkan dengan Aruna dan Pa Ramikan.


Mobil yang mereka tumpangi telah berjalan pergi dari depan rumah Aruna.


Riega, Aruna dan Pa Ramikan duduk di ruang tamu. Bi Sumi sudah menyajikan minuman untuk mereka.


Pa Ramikan mulai menanyakan siapa, bagaimana dan alasan apa yang sampai bisa Aruna di culik seperti itu. Dan Aruna juga Riega bersama-sama menceritakan kejadian yang menimpa Aruna dengan detail dan rinci. Bahkan mengenai Macan Hitampun sempat Riega ceritakan hanya sedikit saja tapi. Ia tak mau mengekspos banyak tentang perkumpulanya.


"...Jadi begitu Pa kejadiannya" Ujar Riega menyelesaikan ceritanya.


"Oh, gitu Nak! Jadi Non Tn. Defandra Ayah Non Aruna sudah meninggal dan itu ulah anaknya sendiri? Lalu bagaimana jasadnya Nak?" Tanya Pa Ramikan.


"Aruna sudah menyetujui untuk memakamkan Ayahnya di dekat markas kami Pa!" Jawab Riega.


"Syukurlah Tn. Defandra sudah mendapat tempat yang layak dan lebih bersyukur lagi Aruna bisa kembali dengan selamat.." Tutur Pa Ramikan dengan lembut.


"Iyah Pa.." Jawab Riega dan Aruna berbarengan.


Setelah perbincangan itu, Pa Ramikan mengundurkan diri. Ia memberi Aruna dan Riega ruang dan waktu untuk saling berbincang disana. Hingga tepat pukul 15.00 tepar Riega pamit pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


Arunapun begitu. Ia butuh beristirahat. Setelah Riega pergi Aruna langsung menuju kamarnya. Ia rindu sekali berbaring di atas ranjang ternyamanya itu. Ia langsung melihat ke arah nakasnya. Ada handphone dan tas miliknya yang terakhir kali ia kenakan saat pentas drama itu.


"Haiish, ini pasti Wisey! Aku jadi rindu dia. Nanti aku telpon deh setelah batrainya full" Ia langsung mencharger hanphonenya yang sudah mati itu.


Setelahnya Aruna langsung membaringkan tubuhnya dan tertidur nyenyak di ranjang empuknya.


To Be Continue....


Biu Biu a Danmuuuu 😙


Salam sayang darikuu 🤗