Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
55



"AAAAAAAAAAAA...." Suara teriakan bersahutan antara Riega dan Aruna.


Makanan untuk sarapan Riega telah berantakan di lantai. Riega yang baru saja selesai mandi, dikejutkan dengan teriakan Aruna yang melenggang masuk begitu saja dari pintu kamarnya membuat ia juga ikut berteriak.


Dengan segera, Riega berlari masuk kembali ke dalam kamar mandi sebelum para penghuni markas melihatnya dalam keadaan telanjang bulat. Cukup Aruna saja yang mengambil kesucian tubuhnya untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Jantungnya berdebar begitu kuat, nafasnya pun tersengal-sengal. Jika ia terlambat beberapa detik saja untuk berlari masuk ke kamar mandi, tak bisa ia bayangkan. Harga dirinya sebagai kapten kemarin pasti akan hancur begitu saja. 😂


Ia bersandar di pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Terdengar samar-samar di luar suara para penghuni markas Macan Hitam yang telah berkumpul. Mereka bertanya pada Aruna yang masih menutupi matanya dengan kedua tangan.


"Ada apa Na?" Tanya Caca.


"Lo kenapa Nana?" Tanya Aslan lagi terlihat khawatir sekaligus terkejut.


"Apa liat makhluk halus?" Celetuk salah satu anggota.


"..." Aruna menggeleng tapi masih menutupi kadua matanya.


"Iya lo kenapa Na? Liat setan? Atau apa?" Tanya Caca khawatir dan berusaha menyingkirkan kedua tangan Aruna dari wajahnya.


"..." Aruna masih diam dan tak mengeluarkan suara. Ia hanya menatap lurus ke arah depan dimana Riega tadi berdiri dengan keadaan telanjang bulat.


"Na, lo masih sadar kan?" Tanya Aslan sambil menguncang-guncangkan bahu Aruna.


"..." Aruna tetap diam. Ia bingung harus memberitahu pada mereka semua apa yang terjadi tadi. Ia benar-benar malu. Aruna tak tahu harus menjelaskan bagaimana. Apa dia harus bilang kalau tadi dirinya melihat Riega sedang telanjang.


'Ah, ah, ga mungkin! Masa kasih tau begitu!?' Batinya berkecamuk.


"Na!?" Panggil Caca. Banyak mata memandang di belakang dan sampingnya.


"Huh? Iya Ca?!" Sahut Aruna mulai membuk mulutnya.


"Huufft!" Mereka semua yang menyaksikan bernafas lega mendengar Aruna bersuara.


"Aku ga kenapa-kenapa Caca, Aslan dan yang lainya maaf kalau aku mengganggu ketenangan kalian!" Ujar Aruna dengan lembut berusaha mengontrol nada bicaranya.


"Syukurlah..." sahut mereka semua.


"Yaudah kalian bisa balik ke aktivitas kalian lagi. Biar Maid yang bersihin tumpahan makanan ini!" Ujar Caca sambil menuntun Aruna untuk masuk ke kamar Riega.


Aslan memanggil Maid dan kembali ke kamar Riega menyusul Caca dan Aruna.


"Na, lo ga apa-apa kan?" Tanya Caca serius.


"He'em.. aku ga apa-apa!"


"Tapi ga mungkin sih sampe lo teriak kenceng begitu Na!" Sahut Aslan.


"Em..." gumam Aruna pelan.


"Cerita aja Na!" Desak Caca.


Riega yang sedari tadi menguping dari balik kamar mandi harap-harap cemas. Ia berharap Aruna tak menceritakan yang sebenarnya pada Caca ataupun Aslan. Karena jika Aruna menceritakan hal itu, sudah pasti dirinya akan di bully terus-terusan oleh kedua anak itu. Dan sudah pasti imagenya akan turun drastis.


"Emm... a-aku.. tadi.." Ujar Aruna terbata-bata.


"Kenapa Na, jangan buat penasaran dong! Apa ada hantu di sini? Atau apa?!"


"Ah, eh.. i-iya tadi aku sekilas liat bayangan gitu Ca" ucap Aruna berusaha berbohong mencari alasan lain yang lebih masuk akal.


'Huufft, sory Ga aku ga tau cari alasan apa..' Batin Aruna.


"Ah, masa sih? Bayangan apa deh Na? Gue ga pernah liat begituan tuh!" Sangkal Aslan.


"Em, i-itu bayangan deh pokoknya mengerikan banget deh...!" Jawab Aruna berusaha meyakinkan mereka berdua dengan dibantu ekspresi yang berpura-pura takut.


"Haaah? Masa sih... ah, jangan-jangan kamar Ka Riega angker lagi?" Saut Caca terkejut.


"Eh, em.. Ca, ga ko ga. Kayanya aku cuma salah liat aja atau gimana deh. Aku juga udah ga apa-apa ko" Jelas Aruna meyakinkan Caca dan Aslan, sekaligus mengusir mereka berdua secara halus.


"Ah, yaudah kalo gitu Na. Kalau ada apa-apa panggil gue sama Caca aja yah!" Ucap Aslan sambil menatap Caca yang masih memasang tampang ngeri.


"Eh, tapi lo ga papa Na di tinggal disini sendiri? Ka Riega mana sih?"


"Eh, umm... ga apa-apa ko aku juga mau isturahat!"


"Yaudah kalo gitu kita keluar ya, Na! Lo istirahat!" Ujar Aslan dan Caca sambil berjalan keluar.


Makanan yang berantakan karena kejadian tadi telah di bersihkan oleh Maid yang Aslan panggil. Aruna langsung menutup pintu kamar Riega dan langsung mebgambil posisi duduk di sofa.


Sedangkan Riega yang sedari tadi menguping dari balik pintu kamar mandi sudah memberanikan diri keluar dengan menggunakan bathrobe berwarna merah. Aruna yang duduk di sofa kaget mendengar pintu kamar mandi di buka, ia kembali menutup kedua matanya dengan tangan.


"Ga sayang! Aku udah pake ini..." ujar Riega berjalan mendekati Aruna.


"..." Aruna tak menjawab ia perlahan menurunkan tanganya.


"..." Riega sudah duduk disebelah Aruna.


"..." Aruna melirik ke arah Riega seolah sedang memastikan kalau kekasihnya yang konyol itu sudah mengenakan sesuatu yang menutupi tabuhnya itu.


"Kenapa?" Ujar Riega.


"Kamu tanya kenapa?"


"Iya kenapa memang?" Sahut Riega lagi.


"Kamu ni gila yah? Habis mandi ga pake apa-apa!"


"Emm, tadi aku pakai handuk sayang..."


"Terus? Kenapa bisa handuknya ngilang?" Kesal Aruna. Riega yang dimarahi hanya bisa terkekeh geli.


"Hahah, handuknya ga ngilang sayang... Tapi udah aku gantung tadi aku mau pakai dalaman" jelas Riega sambil terus terkekeh.


"Iyah harusnya kamu kunci pintu. Atau ga kamu pakai baju di kamar mandi kan bisa?"


"Huuh, aku ga biasa sayang.. lagian kan aku begitu di kamarku sendiri.. " Riega berusaha membela diri.


"Iya tapi kalau orang lain yang buka gimana? Kamu harus tanggung jawab!"


"Ya kalo orang lain ga mungkin, karena kalo yang lain ketuk pintu dulu sayang..." ujar Riega lagi berusaha ingin menjuarai perdebatan dengan Aruna.


"Aah, tapi kamu harus tanggung jawab!"


"Loh, tanggung jawab kenapa sayang?"


"Aih, kamu nih ya! Serasa ga ada dosa! Mataku jadi ga suci lagi nih udah liat hal-hal porno gitu Riega!" Jawab Aruna sambil memukul-mukuli lengan Riega yang kekar.


"Aw sakit sayang.. eh-eh, ada juga aku yang minta tanggung jawab begitu Nana. Tubuhku merasa tidak sesuci dulu... sudah terjamah oleh mata cantikmu sayang.. hiks hiks hiks.." Riega memutar balikkan keadaan dan ia berusaha berakting seperti orang yang baru saja ternodai.


"Iih, Pa Riega! Apaan sih ah malas aku tuh masih di bawah umur ga seharusnya liat begituan!" Aruna ngambek dan membelakangi Riega.


'Huufft, bagaimanapun caranya selalu wanita yang benar meskipun dia salah!' Batin Riega.


"Iya deh iyah sayang... aku minta maaf ga akan lagi-lagi begitu.. tapi, suatu saat kan kamu jadi istri aku jadi ga perlu khawatir sampai kapanpun cuma mata kamu yang boleh lihat tubuh aku dan cuma tubuh aku yang boleh kamu lihat sayang. Begitupun sebaliknya!" Terang Riega sambil memeluk Aruna dari belakang.


"Heumm... Iya tapi kan Pa.." ujar Aruna


"Tapi apa sayang.. udah yah ga perlu di bahas lagi."


"Iya deh.. tapi kamu nanti makan sendiri yah. Tadi makanan yang aku bawa buat kamu jatoh berantakan juga!" Terang Aruna.


"Iya sayang oke deh..."


"Yaudah sana kamu pakai baju dulu di kamar mandi!" Titah Aruna.


"Oke sayang..." Riega langsung melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kemari untuk mengambil pakaian lalu berjalan menuju kamar mandi.


Aruna yang sedang duduk di sofa kembali mengeluarkan suara ketika Riega selangkah lagi hendak masuk kamar mandi.


"Ga, kapan aku bisa pulang?" Tanya Aruna.


"Setelah kita menyelesaikan urusan disini sayang" Jawab Riega yang langsung melangkah masuk dan menutup pintu.


Aruna merasa bosan dan ingin kembali pulang ke rumah ternyamanya dan juga ia merindukan Mamahnya.


'Urusan apa lagi yang belum selesai yah?' Batin Aruna.


To Be Continue...


😶


🙏



😍


😘