
Di suatu kota yang jauh dari keramaian. Kota K yang saat ini terpatok kokoh sebuah bangunan yang sering di sebut-sebut oleh warga sekitar adalah Gedung Putih A. Bisa di bilang seperti itu karena gedungnya yang seperti sebuah istana megah dengan dekorasi warna putih seperti sebuah gedung suci yang sakral. Di sekeliling gedung di batasi dengan tembok-tmbok tinggi yang menjulang sebagai pengamanan disana. Pemiliknya adalah seorang ketua gengster berinisial A. Itu adalah markasnya. Nama pemiliknya sering digaung-gaungkan di seluruh penjuru kota K. Sekali namanya di sebut, yang mendengar akan langsung lari terbirit-birit.
Gengster yang berdiri sejak lima belas tahun lamanya itu masih di ketuai oleh Tuan A. Para pengikutnya selalu menggunakan baju serba hitam. Tampak dari gedungnya memang tak menakutkan, tak ada sedikitpun sisi kegelapan disana. Tapi ketika seseorang masuk ke dalamnya, maka tampaklah seluruh sisi kegelapan itu disana. Tak hanya penghuninya yang menonjolkan sisi gelapnya, tetapi ternyata gedung itu hanya luarnya saja yang tampak putih bersih dan suci, tapi dalamnya begitu gelap bagaikan sebuah sisi yang bertolak belakang.
"Tuan, semua data Target B sudah saya temukan!"
"Jelaskan!" Teriak Tuanya dengan cepat.
"Siap Tuan. Target B adalah seorang guru di SMAN XIX sekaligus coach Vocal. Berasal dari salah satu keluarga terpandang dikota A. Ayahnya bernama Raffles Ali Daniel, Ibunya bernama Feronika Ila Daniel, Adiknya bernama Farissa Ali Daniel, dan target B sendiri bernama Riega Ali Daniel. Target B sejak dulu memang tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya di karenakan sejak kecil ia hidup mandiri, sedangkan adiknya bersekolah di SMA yang sama dengan Target B mengajar. Ia sering di panggil Caca!"
"Apa?!" Lengkingan suara dari sang Tuan bergemuruh kaget.
"Iya Tuan, adiknya Farissa sering di panggil Caca!"
"Ok. Lanjutkan!" Ujar sang Tuan dengan nada kembali datar berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Sampai saat ini, Target B ternyata adalah kekasih dari Target A yang akan kita sandera. Mereka berhubungan secara sembunyi-sembunyi dari publik. Target B sendiri ternyata juga bergabung dengan salah satu perkumpulan di Kota A tetapi dia menjadi anggota passif begitupun Adiknya Caca. Mereka berdua hanya sesekali datang ke markas untuk sekadar latihan. Tapi setelah saya telusuri tentang Perkumpulan di kota itu, semua akses yang saya coba gagal. Mereka benar-benar menyembunyikan semua informasi terkait anggotanya. Tugas, jabatan bahkan lokasi merekapun saya tidak mendapatkannya. Sistem mereka sulit sekali untuk diretas. Saya hanya sekadar menemukan kata perkumpulan saja, Tuan!"
"Jadi, mereka adalah sepasang kekasih? Dan kaka beradik itu juga anggota Geng?" Gumam sang Tuan yang misterius itu dengan tanganya yang terkepal kuat menunjukkan urat-urat yang menegang.
"Iya Tuan!" Jawab Anak buah.
"Ok kalau begitu kamu bisa pergi. Semua informasi yang kamu dapatkan sangat beguna. Sekarang kita fokus ke Target A nanti malam saat acara di sekolahnya. Saya akan atur dan kirim strategi!" Pungkas sang Tuan dengan nada piciknya.
"Siap Tuan!" Jawab sang anak buah dengan yakin.
*****
Sehari setelah kegiatan jogging dan latihan memanah mereka lakukan, mereka harus langsung kembali beraktivitas seperti biasanya. Hari ini di sekolah tidak ada kegiatan belajar mengajar. Seluruh murid dan guru mempersiapkan segala hal yang akan di butuhkan nanti malam. Acara pagelaran seni kelas sebelas. Semua penduduk sekolah ikut berpartisipasi di dalamnya.
Guru mempersiapkan panggung dan sebagainya, ada juga guru yang mempersiapkan stand-stand penjualan hasil karya dan makanan. Murid-murid yang tergabung dalam anggota organisasi mempersiapkan dekorasi dan juga beberapa tiket masuk yang akan mereka jual agar bisa mendapat pundi-pundi rupiah untuk beramal. Ada juga murid-murid yang tidak ikut berpartisipasi pagi ini, tapi nanti malam mereka akan tampil dan memeriahkan acara. Mereka sibuk berlatih dan berlatih agar tampil dengan maksimal.
Salah satu kelas yang begitu ramai dan sangat antusias dengan adanya acara ini adalah kelas yang Aruna tempati. Mereka sangat bersemangat dengan acara malam nanti. Segala properti, kostum dan hal lainnya yang mereka butuhkan sudah di persiapkan dengan sempurna. Baik dari kelompok Wisey maupun kelompok Zein. Kelas penuh dengan segala-galanya. Jadilah tempat latihan mereka menjadi sempit.
Akhirnya setelah berunding, mereka memutuskan untuk berlatih di sanggar sekolah mereka. Disana tempatnya sangat luas. Mereka akan meminjam tempat itu untuk kelas mereka. Kalau latihan disanggar mungkin mereka bisa langsung latihan sekaligus dua kelompok. Akhirnya mereka memutuskan hal itu.
Aruna dan Wisey yang bertugas mengambil kunci sanggar ke ruang seni yang di pegang oleh Pa Riega dan yang lainnya menunggu di depan sanggar supaya tidak tercerai berai. Sesampainya di ruang seni, Aruna dan Wisey begitu terkejut melihat disana tidak hanya ada Riega, tetapi ada Sharen sedang duduk disofa sebelah Pa Riega.
"Permisi Pak, saya mau minjem sanggar buat latihan karna kelas kita penuh sama properti dan kostum juga jadi tempat latihan cuma tersisa sedikit." Ujar Wisey angkat bicara
"Oh boleh ko, sebentar saya ambil di loker" uhar Riega sedikit canggung karena ada Aruna yang melihatnya sedang berbincang dengan Sharen.
"Eh, Aruna dan Wisey kalian nampilin apa buat pagelaran teater nanti malam?"
"Kita beda Bu. Kalau saya kisah perjuangan!" Jawab Wisey cepat.
"Em, kalau kelompok saya nampilin kisah cinta Bu" jawab Aruna berusaha bersikap biasa saja dalam.menjawab pertanyaan Sharen.
"Waah kayanya seru. Saya jadi penasaran sama penampilan kalian. Boleh saya liat proses latihannya?"
"Boleh ko Bu!" Jawab Aruna menyunggingkan senyuman.
"Oke, nanti saya nyusul kesana sama Pa Riega yah Aruna dan Wisey"
"Nih kuncinya Sey" Riega menyerahkan kunci sanggar kepada Wisey.
"Oke Pa makasih" ujar Wisey.
"Iyah, nanti saya dan Bu Sharen ke sanggar buat liat proses latihan kalian sudah meningkat berapa persen" jelas Pa Riega sambil memandang manik mata Aruna dan begitupun sebaliknya.
"Oke Pa, Bu, kita pamit yah!" Ujar Wisey.
"Iya!" Jawab Riega dan Sharen setempak.
Wisey dan Aruna berjalan bersama menuju ke sanggar yang letaknya lumayan jauh dari ruang seni. Mereka sudah melihat dari kejauhan disekitar sanggar sudah di penuhi dengan teman-teman sekelas mereka.
"Eh guys dapet nih kuncinya!" Teriak Wisey senang.
"Yaudah buruan buka-buka" Titah Zein tak sabaran.
"Iya sabar Zein!" Ujar Wisey langsung memutar kunci dan Pintu sanggarpun terbuka.
Mereka semua langsung merangsek masuk secara bersamaan ke dalam. Seketika, sanggarpun menjadi ramai dan bergemuruh. Aruna masuk dan berdiri di tengah bersama Wisey.
"Teman-teman, kita atur posisi sesuai kelompok masing-masing yah!" Titah Aruna.
Semua temannya langsung bergerak mencari posisi.
"Waah, jadi deg-degan!" Celetuk Fajar
"Nah, biar ga ada kesalahan kalian semua latihan dulu yah!" Titah Wisey.
"Siap!" Jawab semua teman sekelas itu serempak.
Aruna dan Wiseypun langsung ikut bergabung ke kelompok masing-masing. Setiap orang sibuk melafalkan bagian dialog masing-masing. Tak terasa, lima menit sudah berlalu. Pa Riega dan Bu Sharen akhirnya sampai dengan bersamaan. Mereka masuk dan duduk bersama di hadapan murid-murid kelas Aruna.
"Nah, Kalian kan belum pada tau karena beliau ga ngajar kalian. Jadi saya perkenalkan dia adalah guru seni di sini. Namanya Bu Sharen!" Terang Riega.
"Hai saya Sharen!" Ujar Sharen memperkenalkan diri.
"Hai Bu Sharen" seluruh murid menyapanya.
"Hai!" Jawab Sharen dengan senyumannya.
"Oke, karena kalian udah kenal. Sekarang langsung aja yah kalian latihan. Untuk latihan ini karena ruanganya luas, jadi bisa sekaligus dua kelompok."
"Iya Pak!" Jawab Zein bersemangat.
"Nah, kelompok Wisey dengan saya dan kelompok Zein dengan Bu Sharen!" Ujar Pa Riega.
"Oke Pak!" Jawab seluruh siswa dan siswi dengan bersemangat.
Mereka mengambil posisi masing-masing dan mulai menampilkan semuanya dengan baik dan sempurna dari awal hingga akhir cerita. Drama yang mereka suguhkan sungguh memukau. Itupun belum menggunakan properti dan kostum, bagaimana jika nanti sudah menggunakannya, apalagi nanti di tambah dengan lighting dan backsound pasti akan lebih spektakuler sekali.
Sharen begitu mengamati dengan jeli. Matanya tak lepas dari gerak-gerik yang Aruna lakukan. Ia tak begitu memedulikan penampilan yang lain, ia hanya fokus pada Aruna. Ia melihat setiap celah yang bisa ia lihat. Ia terus memperhatikan dengan jeli dimana ia bisa mengambil kesempatan itu dengan sempurna.
'Boom! Itu dia!' Batin Sharen merasa begitu bangga. Ia tersenyum licik sambil membuka smartphonenya dan mengetikkan sesuatu.
Akhirnya teater yang di mainkan oleh grup Zein dan Wisey sudah selesai. Mereka kembali ke posisi berbaur dengan sesama. Pa Riega dan Bu Sharen juga kembali duduk berdampingan dan mulai memberikan penilaian.
Untuk penilaian sudah lumayan bagus diantara kedua kelompok. Sharen hanya menyebutkan secara asal-asalan karena dia tidak begitu memperhatikan secara keseluruhan. Dirinya hanya memperhatikan semua gerak-gerik Aruna.
Akhirnya, mereka semua selesai berlatih dan mulai merangsek keluar dari sanggar untuk kembali ke kelas dan beristirahat. Ada yang pergi ke kantin dan juga ada yang pergi ke kelas lain untuk sekadar melihat proses latihan kelas lain.
Aruna, Wisey, Zein dan Aslan pergi menuju kantin untuk membeli minuman dingin. Tenggorokan mereka rasanya sudah kering karena latihan tadi.
"Em, Nana?"
"Iya Zein?"
"Lo mau minum apa?"
"Eh, mau nraktir?" Tanya Nana tersenyum
"Iya lah untuk Nana!" Ujar Zein membalas senyuman Aruna.
"Eh eh, Nana doang yang di traktir?" Tanya Wisey nge-gas.
"Iya lah!" Jawab Zein lebih nge-gas.
"Eh ga boleh gitu! Satu traktir, ya semua traktir!"
"Iya bener Zein!" Aslan ikut campur dalam perdebatan Zein dan Wisey.
"Iyah Zein kalo cuma traktir aku, yah mending ga usah!" Ujar Aruna.
"Heheh iya deh kalian aku traktir!" Jawab Zein pasrah karena Aruna sudah angkat bicara.
"Gitu dong Zein!" Ucap Wisey sumringah dan ia langsung menarik tangan Aruna menuju kestand penjual minuman dan memesan empat gelas jus untuk mereka.
Akhirnya mereka duduk berempat di kantin sambil meminum jus masing-masing dan berbincang santai. Begitu santai sampai-sampai mereka tak menyadari akan ada bahaya yang akan mereka alami nanti malam. Khususnya Aruna.
To be Continue...
Sory banget readersss 😳
Semalam aku... kuotaku habissss 😭 😭
Baru siang ini sempat ngisi dan ini aku udah ketik kemarin ceritanya koo tinggal kirim ke pihak MT tapi kuotanya tak berpihak padaku 😢
Jadi sekali lagi maaf yaaaah 🙁