Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
18



Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah kekasihnya karena Riega membawa Ninja kesayanganya. Riega langsung memasuki halman rumah Aruna memarkirkan motornya di dekat garasi mobilnya dan ia segera turun untuk masuk ke rumah Aruna dan meminta izin pada Mamah Riris.


Ia yakin sekali bahwa ia akan mendapat restu dari Camernya jika menelisik dari perbincangan Riega dan Mamah Riris semalam.


"Permisi?" (Tok,,tok) Riega mengetuk pintu rumah kekasihnya.


"Iya tunggu sebentar" jawab Aruna dari dalam dan berlari menuju pintu untuk membukakanya.


"Eh, udah sampai Pa?"


"Udah Nana Sayang" jawab Riega dengan suara sedikit keras.


"Ssst.. jangan keras-keras ada Mamah di dalam takut kedengar! Mau masuk dulu? Atau langsungan aja Pak?" Ujar Aruna mengangkat telunjuk dan meletakkannya di depan bibir mungilnya itu.


"Ga papah biar Mamah tau. Yaudah masuk dulu deh" goda Riega.


"Iih, bapak nih! Yaudh ayo masuk" ajak Aruna.


Riega dan Aruna masuk bersamaan dengan Mamah Riris yang baru saja keluar dari dapur membawakan dua gelas susu coklat untuk Sepasang kekasih itu.


"Eh, Nak Riega. Mari sini duduk dulu Mamah buatkan susu untuk kalian berdua nih" ujar Mamah Riris meletakkan dua gelas susu itu di atas meja ruang tamu dan dengan sumringah melihat Riega kembali berkunjung ke rumahnya.


"Ya ampun Mah, makasih yah. Jadi ngerepotin kan." Ujar Riega duduk di sofa dan diikuti Aruna yang merasa aneh melihat kekasihnya yang tampan itu sudah begitu akrab dengan Mamahnya.


"Ga ah, ga sama sekali Nak. Ayo di minum"


"Iyah Mah" Riega langsung mengambil segelas susu coklat yang ada di atas meja itu dan menenggaknya perlahan.


"Nana? Kenapa ga diminum?" Tanya Riega memecahkan lamunan Aruna.


"Eh, iyah Pak ini mau aku minum" Aruna langsung meminum susu yang dibuatkan mamahnya itu. Perlahan dan pasti. Setelah itu, Aruna melihat ke arah Riega yang sedang tersenyum kecil melihat ke arahnya.


"Kenapa?" Tanya Aruna bingung.


"Heheheh ga apa-apa ko, kamu minum susunya belepotan Nana" jawab Riega sambil terkekeh dan langsung mengusap sisa susu di atas bibir mungil Arunanya.


Aruna merasa canggung sekali dan ia langsung mengelak menjauhi tangan Riega. Karena hal itu dilihat oleh Mamahnya. Arunapun mengelap bibirnya sendiri dengan punggung tangannya.


Mamah Riris yang melihat kemesraan Riega dan putri kesayangannya itu merasa senang sekali. Ia tidak mau mengganggu kedekatan kedua insan yang saling cinta itu, tapi salah satunya masih merasa canggung. Mamah Riris pun langsung mencari alasan untuk beranjak dari ruang tamu.


"Mamah ambilkan sweater untuk Nana dulu yah?"


"Eh, emm... iyah Mah" jawab Aruna yang masih tersipu malu dan canggung karena perlakuan Riega di depan Mamahnya itu.


Setelah Mamah Riris berjalan menuju ke atas, Aruna langsung melihat ke arah Riega dengan tatapan tajam yang tak bisa di artikan oleh Riega.


"Ada apa sayang? Hem?" Tanya Riega melihat kekasihnya


"Kamu nakal ih, kalau Mamahku marah gimana?"


"Percaya ga sama aku?"


"Percaya apa?"


"Dengan ketampananku ini, Mamahmu akan seceptnya jadi Mamahku juga!?" Ujar Riega dengan mantap menyunggingkan senyum menggoda pada Aruna.


"Aah, kamu terlalu percaya diri Pak!" Ujar Aruna kesal tetapi ia tak bisa menahan senyumanya melihat betapa percaya dirinya kekasih tampanya itu.


"Apa kamu ga mau?" Tanya Riega dengan menyunggingkan senyuman.


"Ya aku mau, tapi kamu ngeselin Ah!" Jawab Aruna kesal sekali.


"Iyah iyah sayang aku minta maaf deh hehehe" ujar Riega terkekeh geli dan Arunapun hanya menjawab dengan anggukan.


Mamah Riris menuruni tangga dengan perlahan sambil membawa sweater rajut berwarna pink yang paling Aruna sukai. Aruna langsung beranjak dari sofa dan mendekati mamahnya.


"Makasih Mah. Yasudah aku berangkat dulu yah Mamah sayang" ujar Aruna menerima sweaternya saat Mamah Riris sudah di anal tangga terakhirnya.


"Sama-sama sayang. Belajar yang pintar. Mamah sayang sekali sama kamu. Jaga diri baik-baik dan jangan nakal sama Pa Riega. Oke?" Ujar Mamahnya


"Siap deh Mah. Tapi aku ga pernah nakal sama Pa Riega loh" jawab Aruna mengerucutkan bibirnya.


Riega berjalan mendekat ke arah Ibu dan anak yang sama memiliki kecantikan yang mempesona.


"Iya sayang Mamah percaya. Ya sudah pakai sweaternya" titah Mamah Riris pada Aruna.


"Nak Riega, hati-hati ngendarain motornya. Jaga Aruna yah!" Ujar Mamah


"Siap Mah. Itu pasti Aruna akan Riega jaga"


"Hati-hati Nak!" Ujar Mamah Riris pada Riega dan iapun mencium punggung tangan calon mertuanya.


"Pay-pay Maaaah" ujar Aruna seperti biasa melakukan salam perpisahan dengan mamahnya.


"Paaay Nana sayang" balas Mamah Riris.


Riega dan Aruna berjalan keluar menuju motor Riega dan mereka berdua segera berangkat menuju sekolah karena waktu sudah menunjukan pukul 06.45. Riega tancap gas menuju sekolahnya.


****


Sesampainya di sekolah, Riega langsung memarkirkan motornya dan membantu Aruna melepaskan helmet kekasihnya itu. Perlahan dan penuh cinta ia menatap wajah cantik kekasihnya dan berkata.


"Jangan dengarkan ucapan mereka, jika ada yang bertanya jawab seadanya saja sayang" ujar Riega setelah melepaskan helmet Aruna.


"Oke Pak siap! Makasih Pak. I love you!" jawab Aruna berbisik dengan senyuman manisnya. Senyum yang selalu Riega rekam dalam memori otaknya yang sewaktu-waktu bila ia sedang merindukan gadis itu, maka memori otaknya akan selalu memutar kembali bagaimana manisnya senyuman kekasih hatinya itu.


"I love you to sayang" balas Riega dan Aruna langsung berjalan cepat menuju kelasnya menghiraukan tatapan-tatapan aneh dari teman-teman dan juga gurunya.


Aruna yang tidak biasanya berangkat bersama Riega menjadi bahan perbincangan murid dan guru-guru yang melihatnya.


"Eh, Na? Lo ko berangkat sama Pa Riega sih?" Tanya Wisey yang tiba-tiba datang dari belakang.


"Ga sengaja ketemu tadi soalnya ban mobil aku bocor. Jadi, Pa Ramikan ke bengkel dan aku pergi sama Pa Riega ke sekolah. Memangnya kenapa?"


"Kamu jadi perbincangan guru-guru dan temen lain"


"Memangnya aku salah?"


"Bukan Aruna sayang lo ga salah. Mereka semua gosipin lo sama Pa Riega ada hubungan gitu deh gue dengernya agak kesel"


"Biarin aja deh Sey mereka mikir apa aku ga peduli"


"Hmm, yasudah deh Na gue percaya sama lo" ujar Wisey memeluk Aruna sahabatnya yang paling ia sayang.


"Makasih Wisey" balas Aruna memeluk sahabatnya juga.


'Maaf Sey. Aku belum bisa cerita sama kamu' batin Aruna sedih merasa bersalah telah berbohong pada sahabatnya. Mereka berjalan menuju ruang kelasnya dengan santai seperti biasanya.


Sedangkan di ruang guru, masih banyak perbincangan mengenai Pa Riega.


"Eh, ko Pa Riega bisa berangkat bareng sama Aruna itu yah?" Ujar Bu Ningsih.


"Iyah ga tau yah, jangan-jangan ada apa-apa tuh?" Sahut Bu Ratih.


"Ah, palingan ga sengaja ketemu di jalan kali Bu jangan gosip-gosip deh gabaik pagi-pagi juga" ujar Bu Rini melihat Pa Riega memasuki ruang guru untuk melakukan fingerprint.


"Eh, iyah Bu Rini hehe" jawab Bu Ningsih langsung berpura-pura merubah topik perbincangan setelah melihat Pa Riega datang.


Setelah Pa Riega pergi datanglah Bu Sharen yang baru saja datang dan langsung masuk ke ruang guru untuk melakukan finger print.


"Eh eh Bu Sharen datang tuh dia liat ga yah?" Tanya Bu Ningsih.


Sharen yang mendengar dirinya di sebut-sebut langsung mendekat ke arah Ibu-ibu guru yang hoby menggosip itu.


"Ada apa Bu sebut nama saya?" Tanya Sharen penasaran.


"Ga ko Bu Sharen. Tadi Pa Riega berangkat ke skolah bareng sama murid namanya Aruna" jelas Bu Rini.


"Oh gitu yah Bu. Terus apa hubunganya sama saya?" Tanya Sharen pura-pura merasa biasa saja padahal di dalam hatinya ia merasa kesal dan benar-benar tak suka mendengar nama Aruna terdengar di telinganya.


"Kan Pa Riega dekat dengan Bu Sharen. Apa ga merasa cemburu?" Tanya Bu Ratih berusaha memanas-manasi Sharen yang sebenarnya dengan mendengar nama Aruna saja dirinya sudah merasakan panas.


"Ah, saya sama Riega hanya rekan kerja aja Bu Ratih. Ya sudah saya mau ke ruangan seni dulu ya semuanya" pamit Sharen menahan rasa kesalnya.


Sharen berjalan tak santai ia ingin memastikan mengenai kabar burung pagi ini benar atau tidak. Ia kesal sekali mendengar nama gadis sialan itu. Aruna. Gadis yang selama ini ternyata telah merebut kebahagiaanya.


'Dia memang benar-benar gadis sialan! Bahkan Riega pun ia dekati. Dia adalah pria yang harus aku miliki! Gadis itu sama saja seperti ibunya! Shit!' Geram Sharen sambil berjalan menuju ruang seni.


To be Continue...


Maafkan aku lama sekali Upnya 🙏


Jangan lupa like yah di episode selanjutnya aku akan berikan visual Aruna dan Riega. Tingkatkan jumlah likenya yah aku berharap dengan aku memberikan visual sepasang kekasih ini kalian semakin semangat membaca dan semakin senang memberi apresiasi untukku. 😍😘


Salam sayang dari Author Aish 😍😊😇