
Hari kemarin telah terlewati dengan begitu lancar tanpa sedikitpun gangguan yang berarti.
Hari ini adalah jadwal pertama untuk Aruna berlatih di markas Macan Hitam. Ia sudah mengambil izin sekolah setiap hari jumat selama lima bulan kedepan, begitupun Aslan yang mendapatkan jadwal melatih Aruna setiap jumat. Permohonan izin itu jelas saja bisa di setujui oleh pihak sekolah karena Pa Riega langsung yang memberikan suratnya. Semua penjelasan yang logis mengenai pelatihan kewirausahaan bisa di terima oleh Pa Agus selaku kepala sekolah di sana.
Hari pertama pelatihan. Riega, Caca, dan juga Aslan ikut ambil izin dan mereka berangkat ke markas bersama-sama dengan Aruna.
Tapi, sebelum pergi ke markas. Mereka mendapatkan beberapa hambatan yang memang benar-benar sulit untuk di taklukan. Hambatan itu benar-benar datang tidak tepat.
Hari ini adalah hari di mana Mamah Riris tiba setelah perjalanan kerja di lusr kota selama beberapa hari. Aruna harus menyambutnya sekaligus meminta izin untuk pergi selama tiga hari kedepan. Jumat-Sabtu-Minggu. Entah reaksi apa yang akan Mamah Riris berikan setelah mendengar penjelasan dari Riega dan juga Aruna.
Jadwal latihan dimulai jam sepuluh nanti. Sedangkan, Mamah Riris akan tiba pagi ini jam enam bersama dengan Pa Ramikan.
Aruna meminta Riega, Caca dan Aslan akmgar datang lebih dulu sebelum Mamahnya tiba di rumah. Alhasil, jam setengah enam mereka sudah tiba di rumah Aruna untuk membantu Aruna meminta izin sekaligus menyambut calon mertua dari Riega.
"Mamaaaah.." Pekik Aruna ketika sang Mamah yang baru saja tiba san turun dari mobil. Ia langsung berlari dan menghambur dalam pelukan sang mamah.
"Iyah sayang.." Mamah Riris membalas pelukan Aruna dan mengecup berkali-kali puncak kepala Nana.
"Aku rindu Maaaah.. Mamah lama banget perginya.." Ujar Aruna dengan begitu pelan ia sebisa mungkin menahan tangisnya.
"Maafin mamah ya sayang.." (muaach!) Kembali kecupan kasih Mamah Riris berikan pada Aruna. Aruna hanya mengangguk dalam pelukan sang ibu.
"Eeh, ramai sekali. Ada acara apa ini sayang? Hem?" Tanya Mamah Riris pada Aruna karena ia melihat di sana ada Guru Aruna dan juga kedua teman Aruna yang tidak ia kenal.
"Iya Mah, aku sengaja ajak mereka buat sambut mamah pulang.." Tutur Aruna.
"Aah, begitu yah. Ayo masuk kita bincang-bincang di dalam.." Ajak Mamah Riris kepada semuanya.
"Pa Ramikan, barang-barang yang di mobil biar saja disitu dulu. Nanti setelah mereka pulang kita angkat bareng-bareng Pak!" Ujar Mamah Riris dengan penuh sopan santun.
"Siap, Nya!" sahut Pa Ramikan.
Mereka semua berjalan bersamaan menuju ke dalam rumah. Riega sebenarnya harap-harap cemas apakah ia dan Aruna akan mendapatkan izin dengan begitu mudah? batinnya terus bertanya-tanya dan berusaha memikirkan kalimat apa yang harus ia lontarkan.
"Bi Sumi..."
"Eh-eh.. Mah, udah di siapin ko sama Bi Sumi makanan sama minuman. Nanti jam sembilan kita mau keluar, Mah.." ujar Aruna memotong ucapan Mamahnya.
"Yaudah kalau gitu silahkan diminum dong, Nak.. Loh, mau kemana sayang? " Tanya Mamah Riris.
"Iya tante.." jawab mereka bertiga serempak.
"Emm, kita mau ada acara Mah.." jawab Aruna ragu-ragu. Ia bingung harus izin apa pada Mamahnya.
"Acara apa sayang?" Tanya Mamah Riris lagi.
"..." Aruna terdiam.
"Emm, acara sekolah Mah.." jawab Riega mengambil alih pembicaraan.
"Acara sekolah apa, Nak Riega?" Tanya Mamah Riris yang sudah familiar dengan Guru Aruna yang satu ini.
"Acara pelatihan kewirausahaan Mah. Ini di adain sama pihak luar dan beberapa anak yang terpilih termasuk Aruna di beri dispensasi untuk mengikuti pelatihan ini.." terang Riega berusaha menjelaskan.
"Iya Mah.. semoga saja.." sahut mereka berbarengan.
"Sampai kapan pelatihanya, Nana?"
"Emm.. sampai kapan yah, Pak? " Aruna melempar pertanyaan Mamahnya pada Riega karena ia takut jika ia yang bicara akan salah ucap.
"Tante, pelatihanya itu sampai lima bulan kedepan.." jawab Caca mengambil alih percakapan.
"Lima bulan? Lama banget, Nak?" Mamah Riris terkejut dengan jawaban dari Caca.
"Tante, lima bulan itu kita hanya ambil 3 hari saja. Jumat, sabtu dan minggu. Jadi untuk dispen sekolah cuma setiap hari jumat aja kok. Sengaja pilih weekend supaya ga banyak pelajaran yang kita lewatin, Tante.." Terang Caca berusaha menjelaskan pada Mamah Riris.
"Jadi, dimana tempat pelatihannya? Supaya Mamah bisa jenguk Aruna saat weekend?" Tanya Mamah Riris.
'Gawat!' batin mereka semua berbarengan. Caca, Aslan dan Riega saling melirik memberikan kode melalui mata. Jawaban apa yang harus mereka berikan. Sangat tak mungkin jika Mamah Aruna mengetahui markas besar Macan Hitam.
Setelah saling melirik satu sama lain, akhirnya Riega lah yang memutuskan untuk menjawab.
"Tempatnya masih di kota ini, Mah. Nanti, kalau memang mau kesana untuk lihat Aruna, biar Riega yang tunjukkin tempatnya." tutur Riega dengan begitu sopan dan berhati-hati.
"Ah, baiklah kalau begitu, Nak Riega!"
"Mah.." Panggil Aruna dengan manja pada Mamahnya sambil menggelayut di lengan ibu yang paling ia cintai.
"Heum?" sahut Mamah Riris
"Mamah kan baru pulang. Mamah istirahat aja yah, Nanti kalau Aruna mau berangkat baru Aruna pamit ke Mamah yah.." Ujar Aruna dengan lembut.
"Euum, yasudah kalau gitu Mamah ke kamar dulu yah sayang. Maaf yah semuanya, Mamah tinggal dulu..." ujar Mamah Riris menyunggingkan senyumannya.
"Aah, ga apa-apa tante.." sahut mereka berbarengan.
Akhirnya ruang tamu itu kembalu ke suasana seperti semula. Ketegangan itu sirna seiring dengan langkah kaki Mamah Aruna yang berjalan menuju ke kamarnya untuk beristirahat.
Riega, Caca, Aslan dan Aruna merasa lega. Mereka bersama-sama menghembuskan nafas panjang.
"Bang, terus gimana kalau Tante Riris ke markas?" Tanya Aslan khawatir.
"Iya Kak" Timpal Caca.
"He'eum Pak!" Sambung Aruna.
"Nanti gue kabarin dulu ke Paman AL! Gue juga bingung!" Sahut Riega yang sekarang dimintai pendapat.
"Yaudah semoga semua berjalan lancar deh Bang!" Harap Aslan.
To be Continue...
💕