Love the Sexy Coach

Love the Sexy Coach
48



Riega bersama Aruna, dan Aslan bersama Caca di mobil yang berbeda. Sedangkan Sharen, ia di ikat dan di letakkan di jok belakang mobil jip. Sharen sudah lemah dan kehabisan tenaga karena terlalu benyak meronta-ronta di tambah di rinya telah di paksa menelan kapsul racun yang seharusnya Aruna telan.


Saat di perjalanan keluar hutan untuk menuju ke gedung putih milik Gengster A. Aruna yang pingsan mulai kembali siuman. Kepalanya terasa sangat sakit, tubuhnya begitu lemah, penuh luka-luka dan terdapat banyak luka memar di sekitar wajahnya.


Tangan Riega yang terus menggenggam tangan Aruna mulai merasakan ada pergerakan di telapak tangan kekasihnya itu.


"Ehhmm.." Aruna mulai membuka matanya dan berusaha membenarkan posisi duduknya. Ia menahan rasa sakit di kepalanya.


"Sayang, kamu udah sadar?" Tanya Riega sambil terus fokus mengendarai mobil jipnya di tengah hutan belantara itu.


"Aaah,..." Aruna tiba-tiba memekik kuat. Ia ketakutan teringat akan kejadian tadi. Aruna berusaha melepaskan genggaman tangan Riega.


"Sayang, sayang kamu tenang yah.. Kita sebentar lagi sampai. Kita akan balas mereka!" Jawab Riega berusaha menenangkan Aruna sambil terus mengencangkan genggaman tanganya.


"..." Aruna hanya diam tak bergeming ia memijat pelipisnya yang terasa nyeri. Kepalanya sangat sakit dan pusing, tak tertahankan. Tubuhnya sangat lemah karena sejak semalam ia terus menangis dan tak sedikitpun makanan yang mengganjal perutnya.


Riega terus fokus Aruna hanya diam dan berusaha menenangkan dirinya. Mereka sudah berhasil keluar hutan. Hanya butuh waktu beberapa menit saja, mobil jip merek sudah sampai di depan gerbang Gedung Putih A. Keadaan di sana sudah kacau balau.


Darah yang mengalir kemana-mana. Tubuh dengan pakaian hitam dan berlumuran darah sudah bergelimpangan kesana-kemari. Saling bertumpuk. Mereka sudah tak berdaya dan tak bernyawa lagi. Aruna yang melihat itu semakin pusing dan lemah. Tapi ia berusaha sebisa mungkin untuk tetap bertahan.


"Sayang, ayo kita turun!" Ajak Riega.


"Ga, aku ga mau Pak" jawab Aruna. Aruna benar-benar tak kuasa melihat banyak darah disana. Wajahnya semakin pucat pasi.


"Ada aku sayang, kalau kamu ga kuat aku bisa..."


(Hup!) Riega langsung meraih tubuh Aruna yang mungil dan lemah itu. Seperti seorang pahlawan yang berhasil menyelamatkan seorang putri ia mulai menggendong Aruna ala bridal style. Riega mulai berjalan menginjak tubuh-tubuh penuh darah itu karena sudah tidak ada jalan kosong disana. Hampir seluruh pasukan gengster milik Mr.A telah kalah telak. Mereka bertumbangan.


Caca dan Aslan sudah berjalan mengikuti kemana Riega berjalan sambil menggendong Aruna. Sharen di tarik oleh Aslan dengan tali yang mengikat di tubuhnya. Sharen sudah seperti seorang tahanan yang tak lama lagi akan di eksekusi mati. Racun di tubuhnya sudah mulai bereaksi sejak di perjalanan tadi.


"Gak, ini ga mungkin!" Gumam Sharen yang mulai berjalan dan menyaksikan semua anak buahnya bertebaran dimana-mana dengan darah segar mengalir.


"Apa yang lo semua lakuin sama keluarga gue! Lo semua Licik!" Teriak Sharen tak terima


"DIAM!!! Cepetan! Jalan lo cewe jalang!" Bentak Caca kepada Sharen.


"Kenapa? Kenapa semuanya bisa kayak gini?! Sialan lo Aruna!" Teriak Sharen lagi.


"Diam!" Bentak Caca mulai mendekati Sharen dan...


(PLAK!) Caca menampar wajah Sharen dengan keras. Hingga wajah Sharen terpental ke samping.


"Ini semua karena perbuatan keji lo! Bukan karena Aruna! Inget itu!" Caca menekankan setiap kata yang ia ucapkan. Menegaskan kembali kepada Sharen.


"Bitch! Aahhhwww!" Geram Sharen dihadapan wajah Caca. Ia mulai merasakan reaksi dari racun yang ia telan.


"Ahahahaha, kenapa? Lo udah mulai rasain? Racun yang lo buat dan lo telan juga?" Ledek Caca.


"..." Sharen hanya diam dan mendelikan matanya ke arah Caca tak terima.


Sharen sudah merasakanya sejak tadi. Perutnya sudah mulai melilit-lilit. Kaki dan tanganya juga sudah mulai mati rasa. Hanya tinggal sedikit lagi fungsi dari semua anggota gerak di tubuhny tak akan berfungsi. Syaraf di otaknya mungkin akan perlahan-lahan mulai rusak.


Sharen terus di tarik untuk ikut masuk menuju ke dalam gedung. Riega dan Aruna sejak tadi sudah sampai di dalam. Caca dan Aslan menyusul dari belakang.


Di ruang tengah, tempat biasa Mr.R dan Mis.R berkumpul dengan Sharen. Telah banyak anak buah mereka yang tumbang. Darah mengotori keramik marmer mewah yang tertancap kuat di sana. Mr.A dan Mis.R penuh luka lebam dan sayatan pisau di lengan dan bagian tubuh lainya. Tangan dan kakinya terikat dengan posisi berlutut.


Seperti yang bisa mereka lihat, Mom dan Dady dari Sharen itu sepertinya sudah berusaha bertahan sebisa mungkin untuk menghindari setiap serangan yang datang dari kubu Macan Hitam. Tapi, semuanya sia-sia. Kekuatan Perkumpulan Macan Hitam sangat tak bisa di tandingi oleh mereka.


Mr. Alexander Dex dan Mis. Roselina telah menyerah. Mereka berdua bertekuk lutut di hadapan Riega yang sedang menggendong Aruna.


(Drap-drap-drap)


Langkah Kaki Riega berjalan dengan penuh wibawa. Menggendong Aruna sang kekasih hati yang masih lemah karena penyiksaan dari Sharen.


Caca dan Aslan langsung melemparkan Sharen kehadapan Mom dan Dad-nya itu.


"Mom, Dad?!" Panggil Sharen dengan wajah perihnya menahan sakit di tubuhnya karena racun.


"Baby..." Mis.R merangkak mendekati Sharen yang tubuhnya lemah dan terbanting ke lantai marmer itu karena di dorong oleh Caca.


"Kamu! Siapa kamu sebenarnya?" Teriak Mr.A yang berlutut di hadapan Riega yang terus menggendong Aruna.


"Diam!" (Buak! Duak!) Agent Riega memukuli Mr.A yang berani-beraninya membentak Kapten Riega.


"Stop!" Lerai Riega kepada para agentnya.


"Kalian bertiga lihat?" Riega menjeda kalimatnya dan bertanya pada Sharen, Mis.R dan Mr.A


"..." Mereka bertiga menatap ke arah Riega yang masih setia menggendong Aruna. Mereka bertiga menatap dengan tatapan kesal dan benci. Di dalam hati, mereka memaki-maki dan bergejolak rasa benci.


"Aruna, dia adalah wanitaku. Kalian menyakitinya! Maka, kalian semua harus merasakan akibatnya!" Pungkas Riega datar, tanpa ekspresi, dan terkesan mengerikan seperti seorang pembunuh kelas kakap yang akan secepat kilat membunuh mangsany.


"Dan.. Kalian lihat? Lima ratus anak buh kalian tumbang di hadapan kalian. Tak ada satupun yang tersisa selain kalian bertiga! Kalian hanya Gengster yang setara seperti lalat menjijikan di mata kami!" Decih Riega dihadapan mereka bertiga.


Sharen sudah mulai lemah, tubuhnya tiba-tiba saja tersungkur jatuh di samping Momynya dan terbentur di lantai marmer.


"Mom... Uhuk-uhhk..! A-aku dijebak.. Mom!" Jelas Sharen sambil terbatuk-batuk berusaha menjelaskan kepada Momynya itu.


"Dijebak maksudnya apa sayang?!" Tanya Mis.R tak percaya.


Sharen sudah tak mampu bicara lagi. Racunya semakin ganas menyerang tubuhnya, mulutnya sudah mulai memuntahkan darah dan cairan putih. Kulitnya semakin terlihat mengenaskan.


"Dia.. dia sepertinya menelan racun!" Pekik Mr. Alexander.


"Hahahahahah.. Itu karena kebodohan dari putri kalian! Sharen, terlalu kalap dengan dendamnya itu karena kalian! Kalian yang menanamkan kebencian di hatinya! Kalian adalah orang tua tak berguna!" Teriak Caca menyambar ucapan Alexander.


"Apa? Sayang.. sayang kamu bertahan yah. Momy ga mau kehilangan kamu!" Tangis Mis. Roselina mendekati Sharen sebisa mungkin.


"Kalian akan berkumpul di neraka sana!" Teriak Caca lagi dan mulai mendekati mereka bertiga.


"Sekarang!" Ucap Caca terjeda dan meraup wajah Sharen dengan kasar dan mencengkeramnya yang semakin tersiksa karena racun.


"Kalian bertiga pilih, mau mati dengan cara perlahan atau dengan cara cepat!?" Tawar Caca menatap ketiganya bergantian dengan penuh amarah.


"Ca...!" Panggil Aruna yang masih berada di rengkuhan Riega. Cacapun menghentikan kegiatanya dan melepaskan tanganya dari wajah Sharen.


"Sayang, kamu mau apa?" Tanya Riega terkejut karena Aruna bereaksi di dalam gendonganya itu.


"Turunin aku Pak!"


"Tapi..!" Riega ragu-ragu.


"Turunin Pak..." Pinta Aruna dengan lemah.


Riega mulai menurunkan Aruna. Perlahan dan penuh kasih sayang. Riega terus menggenggam tangan Aruna. Tapi Aruna menolak, dan melepaskan genggaman tangan kekasihnya itu. Aruna mulai berjalan mendekati Caca dan Sharen serta Mom dan Dadnya Sharen.


Aruna berdiri dengan jarak yang lumayan dekat dengan mereka bertiga dab Caca berdiri di samping Aruna, dengan sigap sambil berjaga-jaga jikalau Aruna kembali pingsan.


"..." Aruna meneteskan air mata tanpa suara.


"Sharen, Tante.." ucap Aruna terputus.


"Jangan paggil saya!" Teriak Mis. Roselin.


"Terserah! Terserah kalian mau membenci saya. Terserah kalian mau anggap saya ini adalah sumber kesialan kalian, sumber penderitaan kalian! Saya dan Sharen! Sama-sama berasal dari Ayah yang sama! Takdir sudah menentukanya. Tante, sebagai seorang ibu, ga seharusnya menebar benih kebencian di hati Sharen. Kita bisa menjadi saudara. Ga semua bisa di tuntaskan dan di selesaikan dengan emosi, amarah, benci dan balas dendam. Saya dan Sharen hanya korban. Masa lalu kalian, sudah menjebak kita. Menjerumuskan kita ke jurang kehancuran. Maaf, kalau saya merebut kebahagiaan Tante dan juga Sharen. Saya dan Mamah saya juga ga pernah bermaksud untuk menyengsarakan kalian. Saya, Aruna Melati Defandra! Memaafkan semua perbuatan kalian yang telah membunuh Tuan Defandra secara keji. Semoga kalian mendapat balasan yang setimpal!" Aruna berbicara dengan mata yang sembab dan sesenggukan. Ia tak kuasa menahan tangis. Aruna merasakan sakit yang teramat dalam di hatinya.


Aruna berbalik berjalan perlahan untuk kembali ke arah Riega. Dengan penuh air mata, Aruna menatap wajah Riega. Berjalan ke arahnya dan memeluk Riega dengan erat. Ia benar-benar butuh sandaran yang kokoh saat ini. Hanya Riega yang ia miliki. Mamahnya, saat ini jauh darinya bahkan mungkin sama sekali tidak tahu kalau Aruna di culik dan dalam keadaan seperti itu.


Aruna menangis di pelukan Riega dan Riega merengkuh tubuh mungil dan lemah milik Aruna. Seolah menyalurkan kekuatan dan kehangatan. Riega yang mendengar ucapan Aruna barusan, seperti sudah menangkap maksud darinya. Aruna telah mengizinkan untuk mengakhiri semuanya. Dan itu adalah ucapan terakhir yang ingin Aruna sampaikan kepada mereka.


"Sayang, kamu harus kuat yah!" Bisik Riega yang hanya bisa di dengar oleh Aruna. Riegapun menatap ke arah Caca dan memberikan kode melalui mata. Caca dengan sigap mengambil Shuriken di sakunya dan dengan sekuat tenaga melemparkannha ke arah Mr. Alexander.


(ZLAP!) Shuriken Caca menancap di leher Mr. Alexander dan dia tumbang seketika.


(ZLAP!) Shuriken Aslan menancap di leher Mis. Roselina tanpa suara dan tanpa kebisingan. Dalam satu kedipan mata, tubuh wanita yang sudah berumur itu tumbang dan tak bernyawa.


Aruna sedari tadi sudah bersiap di dalam pelukan Riega, mendengar suara ledakan pistol. Tapi, ia sama sekali tidak mendengarnya. Ia berusaha sebisa mungkin meredam suara ledakan pistol yang memekik telinga dengan memeluk Riega.


Saat Caca mulai mengacungkan pistolnya ke arah kepala Sharen, Riega mulai semakin mengeratkan pelukannya pada Aruna. Riega tak mau Aruna ketakutan lagi. Caca memilih pistol untuk membunuh Sharen alasanya adalah karena Sharen harus merasakan penderitaan yang Aruna rasakan, dan juga mendapat balasan karena telah membunuh Ayah Aruna.


(DOR!) Suara peluru yang menembus tepat di kepala Sharen yang sudah lemah. Tepat bersarang di dahinya. Sharen mati dalam sekejap.


Aruna mendengar suara yang memekakan telinga itu langsung terkejut dan memeluk Riega semakin kencang.


"Tenang sayang!" Riega mengelus puncak kepala Aruna.


"Bereskan semuanya! Urus rumah kosong di tengah hutan, di salah satu tembok ada jasad laki-laki yang di awetkan. Bawa dan siapkan pemakamannya nanti setelah dapat persetujuan dari kekasih saya! Urus secara rapih, jangan sampai ada yang tersisa! Mengerti?!" Titah Riega pada semua Agent yang ada di sana.


"Siap Kapten!" Jawab Mereka semua serempak.


"Sayang, sekarang kamu pejamin mata dan jangan buka sampai aku suruh buka yah! Tetap pegangan erat dan aku akan gendong kamu sampai nanti tiba di mobil. Oke?!" Riega memberikan intuksi pada Aruna agar kekasihnya itu tak melihat ke arah keluarga Sharen yang sudah tak bernyawa lagi.


Aruna menuruti setiap perkataan Riega. Saat ini tubuhnya sudah berada di dekapan kekasihnya lagi. Aruna merasakan kehangatan di setiap inchi pelukan dari Riega. Ia merindukan kekasihnya itu. Sungguh sangat merindu.


To be Continue..


Lama banget yah aku ga update 😔


Maafkan akuuu🙏


Mau pindahin account ke handphone satunya ga bisa-bisa ternyata ya sudah susah deh ☹


Dan sumpah ini aku pindah rumah, terus ga ada sinyal sama sekaliiiiii 😳 Pelosok banget emang 😶


I'm so sorry guyss ☻


Kalian mau minta kompensasi apa ke aku nih, atas keterlambatan aku mengupdate cerita ini? Coment di bawah yah aku akan usahakan 😙